Janda Bersegel

Janda Bersegel
Nanti malam


__ADS_3

"Mia, kamu baik-baik aja kan?" tanya Dion.


"Baik A," ucap Mia.


Hampir saja ia meneteskan air mata. Tidak dipungkiri, keberangkatannya yang telat dan ketidakhadiran Nyonya Helen dan Tuan Wira membuatnya sakit. Seberapa besar Mia menepisnya, tapi hatinya tidak bisa dibohongi.


"Sayang, kamu pusing?" tanya Dion.


"Mia baik-baik aja A," jawab Mia.


"Kamu pasti udah kangen sama Ibu, kan? Sabar ya! Sebentar lagi kita sampai kok," ucap Tuan Felix.


"Iya Pah," jawab Mia.


"Kak Mia sini biar Narendra aku yang gendong," ucap Rian.


"Gak usah Ri. Aku bisa sendiri," jawab Mia.


"Kakak marah sama aku ya?" tanya Rian.


"Kok marah sih? Ya gak lah Ri," jawab Mia.


"Gara-gara aku ngerjain tugas dulu, kita jadi telat berangkatnya. Makanya dari tadi Kakak diam aja," ucap Rian.


Rian mempertegas apa yang menjadi penyebab rasa sakitnya. Mia menelan salivanya. Menahan tenggorokannya yang sudah panas karena air mata yang tak bisa ia keluarkan.


"Gak kok. Udah ah jangan begitu. Mia gak kenapa-kenapa kok," ucap Mia.


Setelah itu semuanya bungkam. Suasana dalam mobil begitu sepi dan sunyi.


"Pelan-pelan sayang!" ucap Dion saat melihat Mia keluar dari mobil dan berlari dengan menggendong Narendra.


"Wah, rumah ibu jadi bagus begini." Mia nampak terkejut dengan perubahan besar pada rumah itu.


Ya, Tuan Felix memang tidak hanya meminta orang untuk membersihkan rumah itu. Ia juga sedikit merenovasi beberapa bagian depan rumah.


"Kamu gak marah kan Papa buat seperti ini?" tanya Tuan Felix.


"Gak Pah. Terima kasih ya!" ucap Mia dengan air mata yang mengalir di pipinya.


Narendra yang ada dalam gendongannya nampak menatapnya bingung. Sementara tangan mungil itu mengusap pipi Mia. Seolah anak kecil itu mengisyaratkan jika ibunya tidak boleh bersedih.


"Gak Nak, Mama gak sedih. Mama nangis bahagia. Rumah nenek jadi bagus. Mama terharu sayang," ucap Mia sembari memeluk Narendra.


"Kamu suka?" tanya Tuan Felix.


"Suka," jawab Mia sembari mengangguk.


"Gak mau masuk nih?" tanya Dion yang sudah berdiri di samping Mia sembari menggendong Naura.


"Eh, ayo A. Pah kuncinya dimana?" tanya Mia.


"Oh iya sebentar," ucap Tuan Felix.


Ia maju dan membuka pintu rumah itu.


"Silahkan masuk Mia," ucap Tuan Felix.

__ADS_1


"Selamat datang Miaaaaa," teriak orang-orang yang ada di dalam rumah.


Mia membelalakkan matanya saat melihat begitu banyak orang di dalam rumah itu. Bukan hanya Nyonya Helen dan Tuan Wira, tetapi beberapa orang warga di sana juga menyambut kedatangan Mia.


Mia tersenyum bahagia saat melihat adanya Nyonya Helen dan Tuan Wira. Tapi ia tersenyum miris saat melihat banyak warga yang berkumpul di rumah itu.


Dibayar berapa kalian? Begitu mungkin yang ada di kepala Mia. Namun secara keseluruhan, ia bahagia dengan kejutan yang dipersiapkan untuknya.


"Ayo sini Mia," panggil Nyonya Helen sembari melambaikan tangannya.


"Iya Ma," jawab Mia.


Mia segera mendekat dan duduk di dekat Nyonya Helen. Narendra segera digendong oleh Nyonya Helen.


"Ma, terima kasih ya!" ucap Mia sembari merangkul bahu Nyonya Helen.


"Mama yang seharusnya terima kasih. Kamu sudah menjadi ibu, istri dan anak yang baik buat kami. Maafin Mama kalau selama ini Mama belum bisa ngasih yang terbaik buat kamu," ucap Nyonya Helen.


"Ah Mama bikin Mia malu aja," ucap Mia.


Dengan begitu bangganya, Nyonya Helen mengenalkan Mia pada warga di sana. Mereka semua begitu terkejut dengan banyak sekali sanjungan dari Nyonya Helen untuk Mia.


"Mama, udah. Jangan berlebihan begitu," ucap Mia mengingatkan.


Mia malu sendiri saat banyak orang yang tiba-tiba menjadi takjub padanya. Entah itu benar-benar ekspresi atas sebuah kekaguman, atau justru hanya sebuah cara mereka untuk menjilat. Yang Mia tahu, Tuan Felix banyak menggelontorkan dana untuk perawatan rumah itu pada warga di sana.


"Ini gak berlebihan Mia. Ini ada sebuah hadiah kecil dari Papa dan Mama untuk kamu. Memang tidak sebanding dengan apa yang kamu berikan untukmu. Ini hanya sebuah simbol saja," ucap Tuan Wira.


"Pah, ini apa? Mia jadi terharu banget," ucap Mia.


"Buka saja," ucap Nyonya Helen.


"Boleh. Itu kan sudah menjadi milik kamu," ucap Nyonya Helen.


Dengan bibir yang tersenyum mengembang, Mia membuka kotak kecil yang diberikan oleh mertuanya. Saat ia melihat isinya, Mia membuka matanya lebar-lebar.


"Suka?" tanya Nyonya Helen.


"Ini cantik sekali Ma," jawab Mia sembari mengangguk.


"Sini biar Mama pakaikan," ucap Nyonya Helen.


Sembari memakaikan cincin berlian di jari Mia, Nyonya Helen juga mengumumkan bahwa cincin itu adalah berlian terbaik yang didesain khusus untuk Mia.


"Ma, terima kasih banyak." Mia menatap jemarinya yang terisi dengan berlian mahal.


"Ini hanya sebagian kecil ungkapan rasa terima kasih kami saja," ucap Tuan Wira.


"Papa," ucap Mia penuh haru.


"Papa juga punya ini!" ucap Tuan Felix tidak mau kalah.


"Apa ini?" tanya Mia.


"Buka dong," jawab Tuan Felix.


Membuka kado itu dan segera memeluk Tuan Felix.

__ADS_1


"Papa, terima kasih banyak." Mia nampak meneteskan air mata.


Kado dari Tuan Felix adalah sebuah surat yang menyatakan bahwa perusahaan itu sudah resmi atas nama Mia.


"Simpan baik-baik dan berikan yang terbaik untuk apa yang Papa berikan untukmu," ucap Tuan Felix.


"Siap Pah," ucap Mia.


"Aku juga punya ini buat Kakak," ucap Rian.


"Apa lagi ini?" tanya Mia.


"Buka aja," ucap Rian.


Mia cemberut saat membuka kado Rian.


"Rian, kamu jahat!" ucap Mia sembari memukul Rian.


"Makanya Kakak jangan ngambek, kalau ngambek ya cemberut begitu." Rian menutup wajahnya karena takut kena pukul lagi oleh Mia.


"Memangnya Mia kalau cemberut begini ya?" tanya Mia pada Dion.


"Kamu lebih jelek dari itu," jawab Dion.


"Aa," ucap Mia.


"Ya udah makanya jangan cemberut dong," ucap Dion.


"Tapi tenang Kak, aku masih punya ini." Rian memberikan kembali sebuah kado untuk Mia.


"Apa lagi ini?" tanya Mia.


"Dibuka aja. Siapa tahu kejutan. Dapat kulkas dua pintu," ucap Tuan Wira.


Dengan penuh keraguan, Mia membuka kado itu. Kali ini wajahnya berseri. Ada tiga lukisan. Lukisan pernikahan Mia dan Dion, lukisan saat Narendra dan Naura baru lahir, serta lukisan saat mereka berempat menghadiri pesta pernikahan Sindi dan Danu.


"Ini bagus," ucap Mia sembari memeluk kado dari Rian.


"Terus kamu mau ngasih apa?" tanya Tuan Wira pada Dion.


Dion menatap Mia dengan gugup. Ia meraba saku baju dan celananya, mencari sesuatu.


"Ini buat kamu!" ucap Dion memberi sebuah kartu ATM untuk Mia.


"Ada isinya gak tuh?" tanya Nyonya Helen.


"Dih, isinya gak usah tanya. Nolnya gak bisa kehitung," jawab Dion.


"Gak kehitung apa gak ada nolnya nih?" ucap Nyonya Helen.


"Gak kehitung Ma," ucap Dion.


"Kamu kok gak romantis banget sih?" ejek Tuan Wira.


Aduh ini Mama sama Papa kok bikin malu aja. Lagian kok ada acara bikin kejutan kok gak ada yang ngasih tahu aku sih? Aku kan gak nyiapin apa-apa.


"Kalau kado yang romantis, itu hanya aku dan Mia yang tahu. Nanti malam," ucap Dion.

__ADS_1


Mia membuka matanya dengan lebar. Ia memberi kode untuk menjaga ucapannya. Dion lupa kalau ada Rian di sana.


"Maaf," bisik Dion.


__ADS_2