
Saat mobil sudah terparkir di halaman rumah Dion, Mia segera keluar dan berlari. Tidak menunggu Dion, Mia lebih memilih untuk masuk duluan.
"Mi, mana Dion?" tanya Nyonya Helen.
"Masih di mobil Ma," jawab Mia.
"Terus kamu kenapa lari-lari begitu?" tanya Nyonya Helen.
"Mau lihat Narendra sama Naura. Udah kangen," bohong Mia.
"Mereka udah tidur. Besok aja," ucap Nyonya Helen.
"Oh iya Ma," jawab Mia.
"Mendingan sekarang kamu mandi terus istirahat," ucap Nyonya Helen.
"Iya Ma," ucap Mia.
Setelah mendengar derap langkah Dion, Mia segera pamit untuk masuk ke dalam kamar. Mia tidak mau Dion membahas semua kejadian tadi di hadapan Nyonya Helen.
"Mi," panggil Dion.
"Hemmm," jawab Mia.
Khas Mia saat ia sedang tak ingin bicara dengan Dion. Matanya masih fokus dengan layar ponselnya.
"Mi, aku kan gak tahu kalau minta pulang itu artinya minta makan," ucap Dion.
Mia diam. Ia semakin kesal saat Dion seolah menyudutkannya. Dion membuat semua tejadi karena salah Mia. Tapi dia sendiri tidak tahu kalau awal mula semua itu karena ucapan Dion yang menyinggung berat badan Mia.
Itulah Mia. Selalu bertanya tentang berat badannya. Giliran Dion membahasnya, justru membuat Mia badmood.
Dion sudah berkali-kali membujuk Mia. Meminta maaf dan menjelaskan apa yang ia rasakan. Namun sayangnya Mia masih diam. Dion menyerah. Rasa lelahnya membuat Dion beranjak lebih dulu ke atas ranjang.
Mata Mia berkali-kali melihat ke arah Dion. Memastikan kalau suaminya sudah benar-benar tidur dengan nyenyak. Dengkuran kecil membuat Mia yakin kalau Dion memang sudah tidur.
Mia menyimpan ponselnya dan ikut berbaring di samping Dion. Menatap wajah suaminya yang tengah tertidur.
"Aa kenapa sih gak peka? Padahal kan Mia mau makan di luar. Mia mau kayak orang pacaran gitu A. Mia kan belum pernah pacaran. Tapi Aa bikin Mia kesel. Udah tahu mau makan, pakai bahas badan Mia lebar. Kan kesel," ucap Mia.
Setelah mengusap pipi Dion dan mengecupnya Mia memejamkan matanya dan tidur nyenyak di samping Dion. Tanpa Mia sadari ternyata Dion mendengar apa yang Mia ucapkan. Rasa bersalah menyelimuti perasaan Dion.
Maafin aku Mi. Aku gak tahu kalau ucapanku itu menyakitimu. Tidurlah! Aku janji besok akan mengajakmu pacaran seperti yang kamu mau.
Pagi ini Dion sudah tidak ada di kamarnya. Mia mencari Dion sampai ke kamar bayi kembarnya.
"Mba, lihat A Dion gak?" tanya Mia.
"Tuan Dion sudah berangkat ke kantor lima menit yang lalu, Nyonya." Mba itu memberi jawaban yang membuat Mia bingung.
"Ini bahkan belum jam tujuh," ucap Mia.
"Tuan bilang hari ini ada urusan penting," ucap Mba.
__ADS_1
Mia kembali ke kamar dengan wajah yang cemberut.
"Bisa-bisanya Aa bilang ada urusan penting sama Mba. Kenapa aku gak di kasih tahu?" gerutu Mia.
Mia yang kesal memilih untuk membalas sikap Dion. Ia akan diam dan mengacuhkan Dion seperti pagi ini Dion mengacuhkan Mia. Bahkan meninggalkannya tanpa memberi tahu apapun.
Seharian ini Mia melewati hari yang berat. Hatinya berharap jika Dion meminta maaf meskipun hanya dalam sebuah panggilan telepon. Tapi nyatanya ini sudah jam makan siang, tapi Dion sama sekali tidak menghubunginya.
"Mi, kamu kenapa?" tanya Sindi yang baru saja bertemu dengan Mia hari ini.
"Gak apa-apa," jawab Mia.
Mia berusaha membuat dirinya tersenyum. Sulit memang menutupi masalah yang tengah dihadapinya. Ini pertama kalinya Dion mendiamkannya begini. Sindi yang mengenal Mia, tahu kalau sahabatnya itu tidak baik-baik saja.
"Mi, kamu bisa cerita semuanya sama aku. Jangan sungkan. Karena nanti, aku juga akan memilihmu jadi teman ceritaku." Sindi menggenggam tangan Mia.
Perlahan, Mia mulai menceritakan apa yang ia rasakan. Sakit, bahkan Mia sampai meneteskan air mata.
"Mungkin karena Mia udah gak cantik lagi kali ya Sin?" tanya Mia.
"Siapa bilang kamu gak cantik? Kamu cantik Mi. Bahkan aku iri sama kamu. Meskipun kamu udah punya anak kembar, tapi kamu masih terlihat cantik. Jarang loh bisa kayak gini Mi," ucap Sindi.
"Jangan bohong! Mia kan gendut. Mana ada perempuan gendut begini dibilang cantik," ucap Mia.
Mia selalu tidak percaya diri dengan badannya yang sedikit berubah. Padahal berat badan Mia sudah turun sejak saat itu. Namun ia memang tidak seramping saat sebelum melahirkan. Sebenarnya kalau Mia tidak sedang memberi ASI, dokter bisa membantunya. Tapi Mi sengaja menunda sampai ia selesai menyusui bayi kembarnya.
"Mi, kamu gak gendut. Memang lebih berisi dari waktu itu. Tapi ini masih aman kok. Gak masuk kriteria gendut Mi," ucap Sindi.
"Ya ampun. Kamu kan banyak duit. Ngapain mikirin baju jaman dulu? Tinggal beli lagi," ucap Sindi dengan begitu entengnya.
"Bukan masalah beli lagi Sin. Itu artinya Mia itu gendut," ucap Mia.
"Mi, emangnya patokan cantik itu gimana sih menurut kamu?" tanya Sindi.
"Yang tinggi, langsing, putih," jawab Mia.
"Bihun kali ah tinggi langsing putih," ucap Sindi.
"Sin, Mia serius." Mia cemberut.
"Aku juga serius Mi. Kalau kamu patokannya cantik itu yang kayak bihun begitu, kamu nyiksa diri kamu sendiri. Cantik itu adalah saat kita menerima dan memelihara apa yang Tuhan kasih sama kita. Ini dan ini juga sangat berpengaruh sama kecantikan seseorang," ucap Sindi sembari menunjuk kepala dan dadanya.
Mia diam saat Sindi menjelaskan kalau cantik itu bisa dipengaruhi oleh pikiran dan hati seseorang. Akhirnya penjelasan itu menggiring Mia untuk menyimpulkan perubahan sikap Dion.
"Apa karena Mia marah dan kesel terus ya sama A Dion, makanya A Dion lihat Mia jelek. Terus dia gak mau ketemu sama Mia?" ucap Mia.
Sindi menggelengkan kepalanya.
"Gak gitu juga Mi. Mungkin Tuan Dion memang lagi sibuk hari ini," ucap Sindi.
"Tapi kok gak bilang sama Mia sih kalau lagi sibuk?" tanya Mia.
"Udah dong jangan negatif terus pikirannya. Ingat ya Mi, seucap kata kan doa. Kamu sering loh ngomong gitu. Makanya kalau ngomong itu yang baik-baik. Mikir itu yang positif-positif aja ya!" ucap Sindi.
__ADS_1
"Iya Sin. Eh gimana nih persiapan pernikahan kamu? Tinggal menghitung hari loh Sin," ucap Mia.
"Iya Mi. Aku makin deg-degan. Mana Danu gak jadi pindah rumah pas udah nikah," ucap Sindi.
Nampak sekali jika Sindi terbebani dengan semua itu. Mia memang sudah berusaha membantu Sindi, tapi ia tidak tahu nanti akan seperti apa.
"Ya udah lah. Dinikmatin aja. Kan kamu yang mau punya ibu. Mama Helen kan nanti jauh, jadi Nyonya Nathalie bisa jadi ibu baru buat kamu. Dia baik, pasti sayang banget sama kamu Sin." Mia meyakinkan Sindi.
"Aku tahu itu Mi. Tapi aku takut nanti Mama Helen jadi susah mau ketemu sama aku," jawab Sindi.
"Ya kamu kan bisa izin buat ketemu sama Mama," ucap Mia.
"Kalau gak diizinin keluar rumah gimana?" tanya Sindi.
"Masa iya gak boleh ketemu sama Mama sendiri sih. Nyonya Nathalie itu baik. Dia juga seorang ibu. Pasti ngizinin kok. Gampang lah itu," ucap Mia.
"Kamu janji kan akan selalu ada buat aku?" tanya Sindi.
"Mia akan selalu ada buat kamu Sin," ucap Mia.
Sindi tersenyum senang, karena setidaknya ada Mia yang selalu menemaninya nanti. Memberinya dukungan saat ia merasa sendiri.
Sindi banyak belajar rumah tangga dengan Mia. Meskipun Sindi tahu kalau Mia dua kali gagal dalam berumah tangga, tapi ia yakin kalau Mia adalah wanita baik. Ia selalu menjadi istri dan menantu yang memang bisa dibanggakan.
"Terima kasih ya Mi buat semua cerita pengalamannya," ucap Sindi.
"Sama-sama Sin. Kamu bisa ambil yang baiknya aja ya," ucap Mia.
"Semuanya baik. Tapi ada saatnya Tuhan nguji kamu dan ternyata kamu berhasil ngelewatin semua itu," ucap Sindi.
"Kamu memang selalu bisa bikin aku seneng. Aku selalu ngerasa jadi wanita kuat dan hebat," ucap Mia.
"Ya karena kamu memang wanita kuat dan hebat. Aku pasti belajar banyak dari semua perjalanan kamu," ucap Sindi.
Mia dan Sindi semakin dekat apalagi setelah pernikahan Sindi hanya beberapa hari lagi. Tanpa sungkan Sindi mencari tahu tentang Danu pada Mia. Tanpa ragu, Mia juga menceritakan tentang semua kebaikan Danu.
"Aku harap kamu tidak menganggap Danu sebagai mantan suami kamu. Anggap dia teman kamu ya Mi. Biar sewaktu-waktu, aku bisa ajak Danu buat ketemu sama kamu. Kamu bisa kan?" tanya Sindi.
"Gak masalah Sin. Mia gak keberatan sama sekali. Tapi Mia tetap harus jaga perasaan A Dion," ucap Mia.
Sindi mengangguk dan menyudahi obrolannya. Ia sudah tahu kalau Mia memang mulai membuka diri sebagai sahabat. Namun seperti yang Sindi tahu kalai Dion masih menyimpan cemburu pada Danu.
#####################
Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
__ADS_1