Janda Bersegel

Janda Bersegel
Obat kuat


__ADS_3

Pagi hari Nyonya Helen terkejut saat Tuan Wira sudah duduk di sofa.


"Papa?" tanya Nyonya Helen.


"Mana kuncinya?" tanya Tuan Wira.


Tuan Wira menengadahkan tangannya, meminta kunci kamarnya.


"Masih terlalu pagi. Nanti juga ketemu di ruang makan kok Pa," ucap Nyonya Helen dengan santainya.


"Ma, ayolah. Papa khawatir sama Mia," ucap Tuan Wira.


"Nanti ya! Mama mau mandi dulu," ucap Nyonya Helen.


Dengan begitu percaya diri, Nyonya Helen berlenggang dengan santai di depan Tuan Wira yang menatapnya dengan rasa gemas luar biasa. Menuju kamar mandi dan melambaikan tangan sebelum kamar mandi benar-benar tertutup. Tuan Wira sampai menggelengkan kepalanya saat melihat kelakuan istrinya.


"Mama kerasukan apa sih? Kelakuannya bikin kesal deh dari semalam," gerutu Tuan Wira.


Saat Nyonya Helen mandi, Tuan Wira mencari kunci kamarnya. Matanya membulat sempurna saat melihat kunci kamarnya ada di bawah bantal Nyonya Helen.


"Astaga Mamaaaa, benar-benar keterlaluan. Kenapa gak sekalian di brankas aja sih? Sampe segitunya ngumpetin kunci di bawah bantal," ucap Tuan Wira geram.


Dengan rasa kesal, Tuan Wira segera keluar dari kamar dan menemui Mia.


"Hey, siapa kamu?" tanya Tuan Wira saat melihat seorang perawat berada di sekitar kamar Mia.


"Saya Susi, Tuan. Perawat Nyonya Mia," ucap perawat itu dengan penuh hormat.


"Ah iya. Aku lupa, istriku sudah bercerita tentangmu. Apakah Mia sudah bangun?" tanya Tuan Wira.


"Saya tidak tahu Tuan. Sampai sekarang Nyonya Mia dan Tuan Dion belum keluar kamar," jawab Susi.


"Ya sudah aku masuk saja," ucap Tuan Wira.


"Silahkan Tuan," jawab Susi.


Pintu diketuk berkali-kali tapi tidak ada sahutan. Panggilan Tuan Wira juga terabaikan. Tuan Wira mendorong pintu Kamar Dion juga masih dikunci.


"Dion, sedang apa kamu? Kenapa kamu tidak menjawab panggilan Papa?" tanya Tuan Wira sembari mengetuk kembali pintu kamar Dion.


Tuan Wira yang mulai kesal kini sedang melampiaskan kemarahannya pada perawat yang ada di depan kamar Dion.


"Maaf Tuan, tapi saya tidak tahu. Tuan Dion berkata bahwa saya hanya boleh masuk jika Tuan Dion atau Nyonya Mia mengabari saya," ucap Susi.


"Ah, kamu ini. Kalau buat berjaga kenapa Dion gak pakai satpam saja sih? Gak usah perawat begini," gerutu Tuan Wira.


Tak lama, Dion keluar saat mendengar ribut-ribut dari luar kamar.


"Ada apa Pa?" tanya Dion.


Dengan cepat Tuan Wira menoleh ke arah sumber suara. Antara marah dan senang, ia segera masuk dan melihat Mia.


"Mia, kamu baik-baik saja? Kata Mama kamu sudah mules-mules? Gimana sekarang? Masih ada mules?" tanya Tuan Wira.


Mia hanya menatap Dion saat ayah mertuanya menghujani Mia dengan berbagai pertanyaan. Dion hanya menggelengkan kepala. Ia tidak tahu apa-apa tentang kepanikan Tuan Wira.


"Pa, Mia baik-baik saja kok. Papa gak perlu khawatir. Kata dokter, mules yang kemari baru kontraksi palsu. Makanya Mia minta pulang saja," ucap Mia.


"Maafin Papa ya. Papa gak ada di samping kamu saat kamu sedang merasakan sakit karena ulah cucu kembar Papa. Kamu yang kuat ya berjuang demi mereka. Papa selalu berdoa semoga kamu selalu kuat dan sabar," ucap Tuan Wira.


Mia menghela nafas panjang. Matanya berkaca. Ia tidak pernah mendapatkan perhatian sebesar ini dari seorang ayah. Pria yang ada di hadapannya ini adalah orang asing yang baru ia temui setahun lalu. Namun kasih sayangnya sudah Mia rasakan dengan begitu tulus.


"Mia kamu kok nangis? Mules lagi?" tanya Dion panik. "Pa, makanya jangan banyak nanya, kan Mia jadi mules lagi." Lanjut Dion.


"Hah? Kok Papa? Emang ngaruh ya dari banyak nanya jadi bikin mules?" tanya Tuan Wira.


"Ah, Papa banyak ngomong. Ayo panggil Susi Pa cepat!" ucap Dion panik.


"Jangan! Mia baik-baik aja kok. Gak mules sama sekali," ucap Mia.


"Terus kamu kenapa nangis begitu?" tanya Dion.


"Mia cuma terharu. Mia benar-benar merasa punya sosok ayah dalam hidup Mia. Makasih ya Pa," ucap Mia.


"Ya ampun Mia. Aku pikir kamu kenapa," ucap Dion.


"Tuh kamu dengar itu, Dion?" tanya Tuan Wira dengan begitu bangga.


"Iya, aku dengar kok. Aku dengar kalau semuanya karena Papa," jawab Dion.


"Tapi kan karena terharu Di," ucap Tuan Wira.


"Ya intinya Mia menangis karena Papa," ucap Dion.


"Tapi alasan menangisnya karena tangis haru. Bukan tangis sedih, Di." Tuan Wira membela diri.


"Tapi kan tetep nangis, Pa." Dion tetap pada pernyataan awalnya.


"Sudah A, sudah. Ayo sarapan. Mia lapar!" ucap Mia.


Sebenarnya belum terlalu lapar, namun Mia berusaha untuk melerai perdebatan anak dan ayah di pagi hari. Mia bingung harus bersikap seperti apa. Hingga ia menggunakan alasan laparnya untuk melerai keduanya. Dan berhasil. Keduanya segera mengajak Mia untuk ke ruang makan.


"Ayo Mi. Kamu mau makan apa?" tanya Dion.


"Roti saja dulu A," jawab Mia.


"Minum susu juga ya! Biar bayi kembarnya sehat," ucap Tuan Wira.


"Iya Pa," jawab Mia.


Mia menerima roti tawar yang sudah diberi selai cokelat oleh Dion, namun ia menghentikan suapannya.


"Kenapa?" tanya Dion.


"Mama mana?" tanya Mia.

__ADS_1


"Mama? Ya ampun Papa lupa," ucap Tuan Wira. "Sebentar ya!" lanjutnya sembari pergi meninggalkan ruang makan.


"Lupa apa A?" tanya Mia.


"Gak tahu. Udah kamu makan aja dulu," jawab Dion.


Mia mengangguk. Ia mulai memakan roti yang sudah ia pegang sejak tadi. Belum juga roti itu habis, Mia menghentikan kembali sarapannya setelab mendengar omelan dari Nyonya Helen.


"Benar-benar keterlaluan memang ya Papa. Mama gak mau maafin Papa," gerutu Nyonya Helen.


"Ma, maaf dong. Kan satu sama," ucap Tuan Wira.


"Mama itu menyembunyikan kunci karena ada alasannya. Terus Papa ngunci Mama di kamar apa alasannya?" tanya Nyonya Helen penuh amarah.


"Kan biar satu sama," jawab Tuan Wira pasrah.


Tuan Wira pasrah karena apapun alasannya itu pasti akan selalu salah di mata Nyonya Helen. Makanya ia sudah pasrah dari awal.


"Balas dendam? Begitu? Awas ya Mama bakal buat perhitungan sama Papa," ucap Nyonya Helen.


Nyonya Helen duduk dan membawa roti serta selai strawberry kesukaannya. Melupakan diet sementara waktu karena emosinya. Ia butuh banyak energi untuk menggerutu suaminya.


"Ma, maafin Papa ya!" ucap Tuan Wira.


Pria yang selalu meminta maaf karena tidak ingin setiap masalah berlarut-larut itu diabaikan. Nyonya Helen lebih memilih untuk menyapa Mia dan Dion.


"Ayo lanjutkan sarapannya Mi. Maaf ya atas gangguan teknis pagi ini. Semua itu gara-gara Papa. Papa adalah sumber kekacauan di pagi ini," ucap Nyonya Helen kesal.


Merasa tersudutkan, Tuan Wira menceritakan apa yang Nyonya Helen lakukan malam tadi padanya. Dengan dalih melakukan hal yang sama, agar istrinya itu tahu apa yang ia rasakan, Mia dan Dion justru menertawakannya.


"Memangnya lucu?" tanya Tuan Wira.


"Mama dan Papa kayak tom and jerry," jawab Mia dengan polosnya.


Nyonya Helen mengerucutkan bibirnya. Ia sudah sangat kesal dengan kelakuan suaminya yang menguncinya di kamar. Kekesalannya ditambah lagi saat Mia tidak membelanya sama sekali.


Suasana sarapan berlangsung hening. Bahkan hingga sarapan sudah selesai pun, Nyonya Helen dan Tuan Wira masih bungkam. Hanya Mia dan Dion yang saling menatap, sembari mengamati tingkah Nyonya Helen dan Tuan Wira yang seperti anak kecil.


"Papa berangkat sekarang?" tanya Dion memecah keheningan.


"Iya," jawab Tuan Wira singkat.


"Mau bareng sama aku, Pa?" tanya Dion.


"Kamu mau kemana?" tanya Tuan Wira.


"Ke kantor," jawab Dion.


"Gak. Kamu di sini aja. Biar urusan kantor Papa yang 'handle," ucap Tuan Wira.


"Tapi aku ada meeting hari ini," ucap Dion.


"Terus Mia?" tanya Tuan Wira.


"Kok jadi perawat yang siaga? Kan yang bikin anaknya juga kamu. Ya kamu dong yang harus siaga," ucap Tuan Wira.


"Pa, gak apa-apa. Mia yang minta A Dion buat masuk. Mia ada perawat yang siap menemani Mia kok. Jadi Papa gak perlu khawatir. Papa tenang aja. Nanti kalau Mia mules lagi, Mia pasti ngabarin Papa juga kok," ucap Mia.


"Iya, lagi pula di sini ada Mama juga kok." Nyonya Helen masih terdengar sangat ketus.


"Iya deh iya. Papa percaya kalau ada Mama," ucap Tuan Wira.


Kali ini Tuan Wira harus mengalah dari pada nanti urusan semakin panjang, bisa pusing. Dion dan Tuan Wira berangkat ke kantor. Hampir setiap jam Dion menghubungi Mia untuk mengecek kondisi istrinya. Memastikan kalau Mia baik-baik saja. Dion ingin selalu menjadi suami dan ayah siaga meskipun kondisinya sedang bergelut dengan pekerjaan.


HPL masih dua minggu. Mia yang mengalami kontraksi palsu sempat gelisah dan cemas. Namun setelah seminggu berjalan, kontraksi itu tidak Mia rasakan lagi. Perawat masih tetap bertugas di sana. Dion dan Tuan Wira masih tetap ke kantor, karena memang masih banyak pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan.


"Mi, gak mules lagi?" tanya Dion.


"Gak A. Masih seminggu lagi HPL nya. Aa tenang aja. Lagian kan ada Susi yang jaga Mia. Aa fokus aja kerjanya," ucap Mia.


Seperti mendapat sebuah firasat, hari ini Dion malas sekali pergi ke kantor. Padahal Tuan Wira sedang ke Surabaya. Memantau proyek baru di sana.


"Aku bolos aja ya hari ini," ucap Dion.


"Loh, kan Papa ke Surabaya. Bukannya hari ini ada tamu spesial? Ini pemetaan proyek Aa. Proyek pertama Aa tanpa Papa. Masa Aa gak semangat? Ingat kesempatan gak datang dua kali," ucap Mia mengingatkan.


Dion tersenyum. Benar apa yang Mia katakan. Ini yang ia harapkan sejak dulu. Tapi entah mengapa Dion malas sekali. Ia merasa sangat khawatir saat jauh dari Mia. Namun Mia selalu meyakinkan Dion, kalau ia akan tetap baik-baik saja.


Sebelum berangkat, Dion menerima telepon dari Reza. Reza menanyakan kabar Mia. Reza juga mengabari kalau istrinya sudah jauh lebih baik dan sudah boleh pulang dua hari ke depan. Dion dan Mia turut senang dengan berita tentang kesembuhan Maya. Hal pertama yang akan Maya lakukan saat ia sembuh adalah bertemu dengan Mia. Itu keinginannya dan direspon sangat baik oleh Mia.


Tak lupa, Dion juga membagikan kabar bahagia pada Reza tentang proyek barunya. Reza mengucapkan selamat dan memberikan pujian pada Dion.


"Kamu memang pantas mendapatkan proyek itu Di," ucap Reza.


Dion sangat tersanjung dengan pujian Reza. Melihat jam terus bergerak dan waktu sudah semakin siang, Dion mengakhiri panggilannya dan segera berangkat ke kantor. Diantar Mia sampai ke pintu depan membuat Dion semakin semangat untuk menyambut proyek barunya itu.


Sesampainya di kantor, Dion berdebar. Menunggu tamu itu sama tegangnya seperti ia menunggu Mia melahirkan. Wajahnya yang tampan terlihat semakin gelisah, saat waktu terus berlalu mendekati jadwal meeting itu.


Satu jam sebelum meeting, Dion menerima panggilan dari Mia. Kontraksi itu terjadi lagi. Kali ini lebih hebat, bahkan menurut pemeriksaan Susi, sudah terjadi pembukaan.


Tanpa peduli dengan meeting pentingnya itu, Dion segera menuju rumah sakit. Jarak tempuh dari kantor ke rumah, akan memakan waktu yang cukup lama. Dion meminta sopir mengantar Mia ke rumah sakit dan bertemu dengannya di sana.


Proyek pertamaku? Apa kabar? Ah tapi aku tidak peduli. Mia dan bayi kembarku jauh lebih penting.


Dengan penuh kepanikan Dion menunggu Mia yang belum sampai. Ia mondar mandir tidak jelas saat menunggu di parkiran.


BRAAAK


Dion menabrak seorang pria yang sedang membawa beberapa kertas, hingga kertas itu berhamburan.


"Dion," ucap Reza.


"Za, sorry ya!" ucap Dion.


"Gak apa-apa. Santai aja. Kamu kenapa? Mia mau lahiran ya?" tanya Reza.

__ADS_1


"Iya. Aku lagi nunggu Mia. Katanya sebentar lagi nyampe tapi sampai sekarang masih belum ada," jawab Dion panik.


"Kamu tenang Za. Ini minum dulu," ucap Reza.


Reza memberikan sebotol air mineral pada Dion. Kebetulan Reza sedang membawa air minum untuk Maya. Tapi Melihat Dion pucat karena panik, Reza memberikan minum itu untuk Dion. Biar nanti Reza beli lagi untuk Maya. Hampir setengah botol air mineral itu diteguk oleh Dion.


Kamu panik atau memang haus sih Di? Gak sekalian aja kamu habisin sekali teguk?


"Gimana Mia?" tanya Dion.


"Ya mana aku tahu. Mia itu kan istri kamu," jawab Reza.


"Oh ya ampun. Maksud aku gimana kabar Maya?" tanya Dion.


"Oh, istriku sudah semakin membaik. Ini aku baru ambil hasil pemeriksaan hari ini," ucap Reza.


Reza mengangkat kertas-kertas yang sempat berhamburan saat tertabrak oleh Dion. Sebelum membawa kertas itu ke ruangan Maya, Reza keluar dulu untuk meminum kopi. Sampai akhirnya ia bertemu dengan Dion di parkiran.


"Syukurlah," ucap Dion singkat.


Tak lama Mia datang. Ia segera berlari saat mobil sudah sampai parkiran. Beberapa perawat sudah siap membantu Mia untuk masuk ke ruang persalinan. Melihat Mia yang meringis berkali-kali membuat Dion semakin panik. Nyonya Helen terus mendampingi Mia sembari menguatkan menantunya itu.


"Dokter cepat!" ucap Dion.


Dokter segera membantu Mia dan mengecek pembukaan.


"Masih pembukaan empat, Tuan. Tenanglah!" ucap Dokter.


"Tenang, tenang. Mana bisa aku tenang? Kenapa semuanya diam? Ayo keluarkan bayi kembar yang ada di dalam perut istriku," teriak Dion.


Suasana ruangan semakin panik saat Dion terus berteriak tidak jelas. Nyonya Helen memeluk Dion dan mengusap punggungnya.


"Tenanglah Di. Bayi kembar kalian pasti akan keluar. Kita tunggu waktunya saja," ucap Nyonya Helen.


"Tapi kapan? Gimana bayi kembar mau keluar kalau mereka hanya diam saja?" tanya Dion kesal.


"Mereka tidak diam. Mereka menunggu pembukaannya lengkap. Kamu sabar ya! Jangan panik. Mia akan semakin panik kalau kamu panik begini," ucap Nyonya Helen.


"Tapi berapa pembukaan lagi sih Ma? Udah kayak upacara aja deh ada pembukaan segala," ucap Dion.


Kekesalan Dion justru membuat Dokter dan tim menahan tawanya. Namun itu hanya berlangsung sebentar. Karena akhirnya mereka melihat seorang Dion menangis tanpa malu di depan banyak orang. Ia menggenggam tangan Mia. Menguatkan Mia walaupun sebenarnya ia juga tidak kuat.


"Mi, aku di sini. Kamu tenang ya. Ada aku," ucap Dion.


Dion mencium tangan Mia dan mengusap dahi Mia yang berkeringat. Mia kembali meringis saat mules itu datang lagi membuat Dion ikut merasakan sakit itu. Bagaimana tidak? Kuku Mia menancap di punggung tangan Dion. Mia menekan tangannya dengan kuat untuk melampiaskan rasa mulesnya.


"Mi sakit ya?" tanya Dion dengan air mata berurai.


Mia. mengangguk. Dion menunduk memegang tangan Mia.


"Kalau seandainya bisa, aku ingin menggantikan rasa sakit ini Mi. Biar aku yang sakit. Aku gak tega lihat kamu begini Mi," ucap Dion.


"Berdoa dan kuatkan Mia. Kamu jangan terlihat lemah di hadapan Mia," bisik Nyonya Helen.


Mama itu kalau ngomong suka seenak jidat. Kuat, kuat, gimana aku kuat kalau lihat Mia sampai pucat begini?


Dion mengusap air matanya agar terlihat lebih kuat di mata Mia. Namun saat Mia kembali merintih menahan mules itu, Dion tidak bisa mengendalikan air matanya.


Drama ini berlangsung cukup lama. Hampir lima jam Mia berperang melawan rasa mules yang kian waktu kian sering. Suntikan induksi sudah mulai masuk dan membuat mules itu semakin sakit berkali lipat. Membuat Mia merintih tak henti. Sampai akhirnya Dokter menyatakan kalau ini sudah pembukaan genap.


"Ayo Nyonya, sudah pembukaan genap. Mulai tarik nafas dan dorong dengan kuat," ucap Dokter itu.


Dokter bahkan sampai memberikan contoh saat Mia tidak bisa melakukan cara mengedan dengan baik.


"Di, yang disuruh itu Mia. Ngapain kamu ikut-ikutan?" tanya Nyonya Helen.


"Eh iya. Maaf Ma, terbawa suasana." Dion terkekeh sendiri saat mengingat apa yang dilakukannya.


"Aa, gak kuat. Sakit," rintih Mia.


"Kuat, kamu pasti kuat. Dokter berikan istriku obat kuat," teriak Dion.


"Obat kuat?" tanya Dokter.


"Maksudku obat yang membuat istriku kuat. Jangan mikir jorok Dokter," ucap Dion.


"Iya maaf Tuan. Tapi kami sudah memberikan obat yang Nyonya butuhkan!" ucap Dokter.


"Tapi obat kuatnya ada kan? Mia sudah diberi obat kuat kan?" tanya Dion.


"Dion, kamu diam dong. Jangan membuat Dokter jadi ikutan panik juga. Kasiha. Mia. Dia itu harus tenang. Kalau kamu gak bisa diam, kamu tunggu di luar aja. Biar Mama yang temani Mia di sini," ucap Nyonya Helen.


Akhirnya Dion diam meskipun ia sangat khawatir melihat keadaan Mia.


"Aaaaaa," teriak Mia saat mengedan


"Aaaaaaa," teriak Dion.


"Nyonya, jangan berteriak. Itu akan membuat tenaga Anda menjadi cepat habis. Saat mengedan keluarkan nafas secara perlahan," ucap Dokter.


"Kamu juga gak usah ikutan teriak. Bikin Mama kaget aja. Berisik tahu," ucap Nyonya Helen ada Dion.


######################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


Terima kasih..

__ADS_1


__ADS_2