
"A, Mia mau pulang." Mia terus merengek saat mules itu sudah tidak ia rasakan.
"Gak. Kamu di sini aja," tolak Dion.
"Tapi Mia udah gak mules A," ucap Mia.
"Kamu di sini aja. Kamu gak tahu gimana paniknya aku tadi? Jantungku hampir copot lihat kamu meringis begitu," ucap Dion.
"Tapi A, masa Mia mau begini terus?" tanya Mia.
Mia tidak terbiasa saat harus terbaring, padahal tidak ada yang ia rasakan sama sekali.
"Dokter, apakah Mia bisa pulang?" tanya Mia.
Dokter itu menatap Dion. Meminta persetujuan pria yang tengah panik itu. Setelah melihat gelengan kepala dari Dion, Dokter akhirnya menolak permintaan Mia. Padahal sebenarnya Mia boleh pulang. Karena hasil pemeriksaan, belum ada pembukaan sama sekali. Itu hanya kontraksi palsu yang memang biasa terjadi ketika usia kehamilan sudah memasuki bulan ke sembilan.
"Sampai kapan Mia di sini?" tanya Mia.
"Sampai Anda melahirkan Nyonya," jawab Dokter.
"Tapi HPL nya masih dua minggu, Dokter." Mia masih terus berusaha.
"Tapi tidak menutup kemungkinan akan lebih cepat Nyonya," ucap Dokter.
"Tapi tidak menutup kemungkinan bisa lebih lambar juga, kan?" tanya Mia.
Benar! Dokter itu merasa tersudut dengan pertanyaan Mia.
"Benar. Kita lihat saja nanti. Saya permisi dulu," ucap Dokter.
Dokter itu segera keluar karena tidak ingin salah menjawab. Mia terus memaksa agar ia bisa pulang, sementara Dion tetap pada keputusannya untuk berada di rumah sakit.
"Ma, Mia mau pulang. Mulesnya juga udah gak ada lagi," rengek Mia.
Nyonya Helen menggeleng. Ia hanya menggenggam tangan Mia dengan erat. Mia tidak ingin kalau Dion sampai kecewa dengan keputusannya. Walaupun ia mengerti perasaan Mia sekarang.
"Mia, istirahat ya! Mama mau keluar dulu sebentar," ucap Nyonya Helen.
Mia mengangguk. Menatap punggung Nyonya Helen yang semakin menjauh sampai akhirnya tidak terlihat lagi. Tanpa sepengetahuan Mia dan Dion, Nyonya Helen menghubungi Dokter. Ia menanyakan kabar Mia. Meminta saran dokter, karena yang ia tahu, Mia akan tertekan jika berada di sana terlalu lama.
"Permisi Dokter," ucap Nyonya Helen.
"Nyonya Helen, silahkan!" ucap Dokter.
Dokter itu dengan ramah mempersilahkan Nyonya Helen untuk duduk. Bertanya maksud kedatangannya. Dan seperti dugaannya, Nyonya Helen menanyakan apa yang Mia tanyakan.
"Keputusan saya tergantung pada Tuan Dion. Karena percuma saya menjelaskan, kalau semua itu hanya akan membuat Tuan Dion marah. Maka biarlah Nyonya Mia istirahat di sini saja. Saya berharap waktu kelahirannya semakin cepat agar Nyonya Mia bisa segera istirahat di rumah," ucap Dokter.
"Terima kasih Dokter," ucap Nyonya Helen.
Setelah mendapat jawaban dari Dokter, kini Nyonya Helen tahu apa yang harus ia lakukan. Ia pamit dan segera menemui Dion.
"Dion, Mama bisa bicara sebentar?" tanya Nyonya Helen.
"Ada apa Ma?" tanya Dion.
"Sebentar saja. Sebentar ya Mi," jawab Nyonya Helen menarik tangan Dion.
Dion mengikuti Nyonya Helen untuk keluar dari kamar Mia. Tidak terlalu khawatir karena ada perawat yang menemani Mia di dalam ruangan.
"Ma, ada apa sih?" tanya Dion.
Nyonya Helen melepaskan tangan Dion saat sudah ada di luar kamar. Ia menatap mata Dion dan menghela nafas panjang. Ia sendiri tidak yakin dengan keputusan Dion nanti, namun paling tidak ia akan berusaha.
Bersikeras menolak, karena bagi Dion rumah sakit adalah tempat yang paling tepat untuk Mia.
"Apakah kamu tidak berfikir bagaimana perasaan Mia?" tanya Nyonya Helen.
"Mama juga gak berfikir kan gimana kahwatirnya aku?" tanya Dion.
"Dion, kamu harus bersikap dewasa dong," ucap Nyonya Helen.
"Aku kurang dewasa apa? Aku hanya ingin Mia dapat yang terbaik," ucap Dion.
"Kamu gak lihat gimana Mia tertekan ada di sini? Kamu coba perhatikan Mia. Ada rasa takut yang tidak bisa ia sembunyikan. Menjelang hari melahirkan nanti, Mia harus mempersiapkan tenaga dan mood yang baik. Jangan sampai Mia stres menghadapi lahirannya nanti," ucap Dion.
Tiba-tiba kepalanya kembali pada beberapa jam sebelumnya. Dion masih ingat betul kalau Reza pernah mengingatkan agar ia menjaga mood Mia sebelum melahirkan. Dion juga mengakui kalau Mia. emmang terlihat cemas dan gelisah.
"Jadi aku harus gimana?" tanya Dion.
"Bawa Mia pulang. Masih ada waktu. Mia hanya mengalami kontraksi palsu," jawab Nyonya Helen.
"Tapi aku takut Ma," ucap Dion.
"Ada perawat yang akan memantau Mia meskipun di rumah," ucap Nyonya Helen.
Dion diam. Berfikir sejenak apa yang harus ia lakukan. Benarkah ia siap membiarkan Mia pulang? Bagaimana resikonya nanti? Ataukah ia akan tetap merawat Mia di rumah sakit? Dan membiarkan Mia semakin cemas dan gelisah? Ah! Dion frustasi. Ia tidak bisa mengambil keputusan.
Melihat keadaan Dion yang tidak bisa mengambil keputusan, Nyonya Helen mencoba memberi penjelasan lanjutan.
"Dion, Mia harus tenang. Ia tidak bisa melahirkan dalam kondisi tertekan seperti itu. Apalagi Mia ingin melahirkan secara normal. Hargai dan bantu Mia. Kali ini, saatnya kita mengerti keadaan Mia. Jangan egois," ucap Nyonya Helen.
Dion mengangkat wajahnya dan menatap Nyonya Helen.
__ADS_1
Egois? Benarkah aku egois? Tidak! Aku tidak egois. Aku hanya ingin yang terbaik untuk Mia. Itu saja. Tidak lebih.
Tanpa jawaban, Dion kembali ke dalam ruangan, meninggalkan Nyonya Helen yang masih menatapnya penuh tanya. Mencoba mencari tahu keadaan Mia sekarang. Berharap Mia bisa lebih tenang. Tapi kenyataannya, semua itu hanya harapan. Karena seperti yang dikatakan Nyonya Helen kalau Mia terlihat sangat cemas dan gelisah. Meskipun tidak secemas tadi, namun Mia tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Dion menghela nafas panjang dan memeluk Mia.
"A, kenapa?" tanya Mia.
"Kamu sakit ya?" tanya Dion.
"Gak a. Tadi cuma mules dan mulesnya udah gak ada kok," jawab Mia.
Meskipun Mia tidak bisa melupakan paniknya saat mules itu datang melanda, namun di depan Dion, Mia selalu berusaha terlihat tenang. Ya walaupun pada kenyataannya Dion masih membaca kepanikan Mia.
"Apakah kamu lebih nyaman di rumah?" tanya Dion.
"Boleh A?" tanya Mia penuh harap.
"Tentu. Aku akan melakukan apapun yang membuatmu senang," jawab Dion.
"Terima kasih ya A," ucap Mia.
Dion mengangguk dan segera meminta perawat mengurus semuanya.
"Tapi kamu janji ya kalau ada apa-apa, segera kabari aku. Jangan sampai ada yang kamu sembunyikan dari aku. Apapun itu," ucap Dion mengingatkan.
"Siap A!" ucap Mia.
Mia mengangkat tangan dan menghormat kepada Dion.
"Turunkan tangankmu! Aku bukan bendera," ucap Dion.
"Haha," Mia hanya tertawa setelah menurunkan tangannya.
"Kamu tunggu sebentar ya! Aku mau mengabari Mama," ucap Dion.
"Iya A," jawab Mia.
Dion mengusap kepala Mia dan keluar dari kamar Mia. Ia akan mencari Nyonya Helen dan mengabari keputusannya. Saat Dion keluar, ia melihat Nyonya Helen dan Reza sedang mengobrol.
"Za," sapa Dion.
"Di, gimana Mia?" tanya Reza.
"Membaik, katanya kontraksi palsu. Sekarang Mia mau pulang," jawab Dion lemah.
"Ah benarkah?" tanya Nyonya Helen terkejut.
"Iya," jawab Dion.
Nyonya Helen masuk dan menemui Mia. Sedangkan Reza memilih bicara dengan Dion.
"Iya Za. Meskipun sebenarnya aku lebih senang kalau Mia di rawat di sini," ucap Dion.
"Bagaimanapun tidak akan ada orang yang nyaman di rumah sakit. Sebagus apapun fasilitasnya. Maya juga udah mau pulang karena sudah merasa enakan. Tapi dokter masih harus memeriksa Maya secara intens," ucap Reza.
Oh iya Dion melupakan Maya. Ia tidak tahu kapan Maya bisa pulang.
"Ikuti saran dokter. Maya harus sembuh total biar kamu bisa bekerja dengan fokus nanti. Di Surabaya ya?" Ucap Dion.
"Terima kasih ya Di!" ucap Reza.
"Loh, aku dong yang terima kasih. Pokoknya sekarang kamu harus fokus ke penyembuhan Maya," ucap Dion.
"Tuan Dion," ucap Dokter.
"Oh iya mari Dokter!" ucap Dion mengajak Dokter untuk segera masuk ke ruangan Mia.
Reza mengikuti Dion untuk masuk ke ruangan Mia. Ia melihat betul wajah Mia yang lebih tenang saat tahu kalau ia akan pulang.
"Reza, salam buat Maya ya! Maaf Mia gak ke ruangan Maya lagi," ucap Mia.
"Iya gak apa-apa. Yang penting kamu sehat ya! Maya juga sudah mendingan. Doakan agar Maya juga bisa segera pulang ya," ucap Reza.
"Tentu," jawab Mia.
Reza ikut mengantar Mia ke mobil dan melambaikan tangannya saat mobil itu kian menjauh. Reza kembali ke ruangan Maya dan terkejut saat melihat orang tuanya tengah berada di ruangan Maya.
"Tolong jangan lakukan apapun pada Maya. Aku mohon," ucap Reza.
"Mama tidak pernah menyangka kalau kamu akan memilih wanita lain selain Mama," ucap Mama Reza.
Setelah berkata seperti itu, orang tua Reza keluar dari kamar Maya. Membuat Reza bungkam. Reza tidak bisa menjawab apapun kecuali menelan ludahnya dengan susah payah. Rasanya ia kehilangan tenaganya. Sakit saat mendengar ucapan ibunya.
Benarkah seperti itu? Aku hanya sedang memperjuangkan cinta sejatiku saja Ma. Tolong mengertilah!
"Mas," panggil Maya.
"Iya," jawab Reza.
"Kejar orang tuamu," ucap Maya.
Reza bingung. Di satu sisi, mereka tetaplah orang tuanya. Tapi di sisi lain, Maya adalah istrinya. Tanggung jawabnya.
"Mas, ayo kejar mereka!" pinta Maya.
__ADS_1
"Lain kali. Mereka tidak akan mendengarkan aku sekarang. Biarkan dulu keadaan ini menjadi lebih dingin. Aku tidak ingin semua semakin rumit May," ucap Reza.
"Mas, lebih baik lepaskan aku!" ucap Maya.
"May? Apa yang kamu katakan?" tanya Reza.
"Kehadiranku hanya membuat keluargamu berantakan. Kembalilah pada orang tuamu. Mereka yang membesarkanmu. Aku tidak ingin kamu dicap sebagai anak durhaka Mas," ucap Maya.
Reza semakin tertampar dengan ucapan Maya. Logikanya memang membenarkan ucapan Maya. Namun hati kecilnya meyakini bahwa cinta butuh pengorbanan dan perjuangan. Dan bagi Reza, perjuanganya belum berakhir. Ia masih berjuang untuk mendapatkan cinta dari istri dan orang tuanya.
"Fokuslah pada kesembuhanmu May. Jangan memikirkan hal yang tidak-tidak. Aku minta maaf jika mereka menyakitimu. Aku tidak tahu kalau orang tuaku menemuimu. Maafkan aku sudah meninggalkan kamu tadi. Seharusnya aku di sini dan semuanya tidak perlu terjadi," ucap Reza penuh penyesalan.
Maya menggenggam tangan Reza. Ia tersenyum seolah ingin mengatakan kalau ia baik-baik saja. Tapi Reza tidak percaya. Ia tahu betul bagaimana Maya. Hingga ia tidak pernah tertipu oleh wanita yang menurutnya sangat jujur itu.
Keduanya sepakat untuk tidak selalu membahas perpisahan. Berkali-kali Reza mengingatkan Maya, bukan perpisahan yang akan membuat semua masalah itu selesai, tapi berjuang bersama. Perpisahan hanya akan menambah masalah baru.
Bagi Maya, ia terjepit di posisi yang sulit. Mungkin bisa dikatakan egois. Maya memang sangat mencintai Reza. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Maya tidak sanggup jika harus kehilangan Reza.
"Oh ya Mas, gimana kabar Mia? Apakah dia sudah melahirkan?" tanya Maya.
"Oh ya ampun aku sampai lupa mengabarimu," ucap Reza.
Reza menceritakan semua yang terjadi tadi sore. Maya ingin segera sembuh agar ia bisa menemani Mia saat melahirkan nanti. Reza senang melihat semangat Maya. Ini pertama kalinya Maya begitu bersemangat untuk sembuh.
"Mas, aku pasti sembuh kan? Aku mau menemani Mia saat melahirkan. Dia begitu baik. Aku akan memberi Mia dukungan. Aku tahu saat melahirkan itu butuh sekali banyak dukungan. Dan aku akan menjadi salah satu yang memberikan dukungan itu," ucap Maya bersemangat.
Maya? Ini yang aku mau. Kamu begitu bersemangat. Aku suka mendengar semua ini. Mia, kamu benar-benar memberikan suntikan energi positif untuk istriku. Terima kasih Mia.
Reza memeluk Maya dan mengangguk. Ia mengusap punggung Maya dan mencium pipinya. Pelukan itu dilepaskan saat dering ponsel Reza terdengar begitu nyaring.
"Siapa?" tanya Maya.
"Dion," jawab Reza.
Reza segera menjawab panggilan Dion. Sempat panik saat mendapat panggilan dari Dion, namun akhirnya Reza terharu saat yang menelepon itu ternyata Mia. Ia hanya ingin menanyakan kabar Maya. Sepuluh menit Maya dan Mia bercerita melalui sambungan telepon.
Mia mendapatkan tempat khusus di hati Maya. Begitu baiknya Mia hingga ia masih khawatir keadaan Maya, walaupun ia sendiri sedang menghadapi kekhawatiran tersendiri dalam menghadapi kelahiran bayi kembarnya.
Setelah panggilan itu berakhir, Maya memberikan ponselnya pada Reza. Senyumnya mengembang, namun matanya berkaca.
"Kamu kenapa May?" tanya Reza.
"Aku mau seperti Mia. Dia wanita kuat, hebat, sabar, dan begitu lembut. Rasa pedulinya sangat tinggi padahal kita baru bertemu hari ini," ucap Maya dengan tatapan kosong.
Maya tengah membayangkan sosok Mia di hadapannya dengan segala kelebihannya. Seketika ia merasa memiliki saudara yang begitu menyayanginya. Peduli dan sangat perhatian.
"Di mataku, kamu lebih dari Mia. Kamu jauh lebih sempurna untuk aku Maya. Aku menyayangimu," ucap Reza.
Maya tersadar dan menatap wajah Reza. Ya, pria yang sudah menikahinya itu selalu menganggap dirinya segalanya. Bahkan Reza sampai meninggalkan keluarganya hanya untuk dirinya.
"Mas, terima kasih ya untuk semuanya. Waktu dan kasih sayang kamu," ucap Maya.
Mas, aku janji. Suatu saat nanti, aku akan membuat kamu kembali ke keluargamu. Aku akan membuat mereka bisa menerimaku. Aku akan seperti Mia. Wanita tangguh dan bisa mengambil hati mertuaku. Walaupun itu sulit, tapi bukan berarti tidak bisa. Aku bisa mengembalikan keadaan menjadi baik-baik saja.
Sementara Maya tengah bersemangat untuk kesembuhannya, Mia justru tengah gelisah. Meskipun jauh lebih tenang karena sudah tidak di rumah sakit, Mia masih saja terlihat gelisah.
"Sayang," panggil Dion.
"Iya A," jawab Mia.
"Mules lagi?" tanya Dion.
"Gak," jawab Mia.
Malam ini Mia tidur dengan nyenyak. Mules yang sudah hilang dan rasa lelah membuat kegelisahan itu semakin pudar dan lenyap. Hanya Dion yang masih terjaga. Ia masih memantau perkembangan Mia sembari mengerjakan beberapa pekerjaan. Matanya menatap layar laptop di sofa kamar, namun sesekali pandangan itu memastikan istrinya tidur dengan nyenyak.
Setelah pekerjaannya selesai, Dion menutup laptopnya dan segera tidur di samping Mia. Dion mengusap perut Mia dan mengecup kepala istrinya. Ia tidur karena melihat Mia tidak merasakan keluhan apapun. Lagi pula, di luar sudah ada perawat yang siap siaga jika memang Mia kembali merasakan mules.
Disaat Mia dan Dion tertidur, Tuan Wira justru tengah hilir mudik di kamarnya. Ia ingin menemui Mia namun dilarang oleh Nyonya Helen. Karena pekerjaan, Tuan Wira tidak bisa menemui Mia saat ia di rumah sakit. Dan sekarang, ia baru pulang tengah malam.
"Ma, mana kunci kamarnya? Papa mau ketemu sama Mia. Papa harus memastikan kalau Mia dan calon cucu Papa baik-baik aja," ucap Tuan Wira.
"Papa tidur aja. Mia sudah baikan dan sekarang pasti sedang istirahat. Jangan diganggu," ucap Nyonya Helena.
Ya, Nyonya Helen menyembunyikan kunci kamarnya karena Tuan Wira terus memaksa untuk ke kamar Mia. Nyonya Helen tahu kalau Tuan Wira pasti merasa bersalah karena tidak menemani Mia di rumah sakit. Tapi Nyonya Helen juga tahu kalau Mia butuh istirahat.
"Ma, nanti Mia fikir Papa gak sayang sama Mia. Ayolah, cuma sebentar kok. Papa janji," ucap Tuan Wira.
"Aduh Pa, besok lagi aja ya. Mia pasti udah tidur sekarang. Lagian Mia juga bukan anak kecil kok. Mia pasti ngerti kenapa Papa gak bisa nemenin Mia di rumah sakit. Papa tenang aja," ucap Nyonya Helen.
Tak ingin menanggapi ucapan Tuan Wira, Nyonya Helen membalikkan badannya dan menutup tubuhnya dengan selimut. Tuan Wira yang masih kesal terus mengomel sambil menatap tajam istrinya yang sudah tidak menghiraukannya lagi.
Giliran uang bulanan telat masuk ngomelnya dua hari dua malam. Giliran aku yang ngomel begini, Mama malah tidur duluan. Coba kalau aku yang tidur begitu, habislah aku dicakar.
######################
Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
__ADS_1
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
Terima kasih..