
Semua mata memandang kebahagiaan yang Mia dapatkan hari ini. Mereka kagum bahkan sampai iri pada Mia. Warga di sekitar rumahnya dulu tahu bagaimana proses kehidupan Mia sejak dulu. Hidupnya selalu dipenuhi kesedihan dan hujatan. Tapi saat ini mereka melihat dunia Mia terbalik seratus delapan puluh derajat.
Sebenarnya semua kejutan ini sengaja disiapkan oleh Nyonya Helen dan Tuan Felix. Mereka yang tahu kepedihan Mia di masa lalu, ingin mengubah pandangan mereka pada Mia.
"Ibu-ibu, bapak-bapak, maaf ya aduh kami terlalu bahagia hingga asyik sendiri. Ayo kita mulai pengajiannya. Silahkan Pak Ustadz dipimpin saja sekarang," ucap Nyonya Helen.
"Gak apa-apa Nyonya. Aduh kita juga asyik kok nontonnya. Udah kayak nonton sinetron," ucap salah satu warga.
"Kisah hidup kami lebih seru daripada sinetron Bu. Ini sih belum seberapa," ucap Nyonya Helen.
Mia yang mulai menyadari maksud dari semua kebaikan itu hanya bisa tersenyum. Ingin rasanya detik ini juga ia mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya atas semua perhatian keluarganya.
Acara syukuran pun dimulai. Setelah jurang lebih tiga puluh menit mereka berdoa, warga dijamu dengan makanan yang super lezat dan mewah. Mia bahkan tidak percaya jika Nyonya Helen menyiapkan semuanya dengan begitu sempurna.
"Mia, ini sudah terlalu sore. Apa kita mau ke makam sekarang?" tanya Tuan Felix.
Mia diam. Ia tahu maksud pertanyaan ayahnya. Sebenarnya ia ingin sekali saat itu juga ke makam ibunya. Namun melihat kondisi, Mia menggeleng.
"Besok aja Pah," jawab Mia.
"Yasudah sekarang istirahat ya! Besok pagi kita ke makam," ucap Tuan Felix.
Mia mengangguk dan ke kamar. Ia merebahkan tubuhnya sembari memainkan ponselnya. Ia mendapat sebuah pesan dari Sindi. Isinya adalah permintaan maaf karena tidak bisa hadir ditengah-tengah kebahagiaannya saat ni. Sindi juga titip salam dan rindu untuk almarhum ibunya.
Mia menahan air matanya dan tetap tersenyum. Ia tidak tahu kalau Dion mengamanatinya sejak tadi. Saat Mia menyimpan ponselnya, Dion mendekat.
"Jangan sedih. Nanti malam, kalau Narendra sama Naura udah tidur kita ke makam ya!" ucap Dion sembari mengusap kepala Mia.
"Hah?" tanya Mia.
Mia tidak percaya jika Dion ternyata tahu apa maksud dirinya.
"Jangan sedih ya! Kamu cantik kalau lagi senyum," ucap Dion.
"Jadi kalau sedih jelek ya?" tanya Mia.
"Ya kamu lihat aja hasil lukisan Rian," jawab Dion.
"Ih, Aa." Mia menutup wajahnya dengan bantal.
Saat malam menjelang, Mia segera membawa Narendra dan Naura ke kamarnya untuk tidur. Memang agak susah. Ini pengalaman Mia yang menghabiskan waktu dan tenaganya untuk mengurus anak kembarnya tanpa pengasuh. Namun berkat kerja sama dengan Dion, akhirnya Narendra dan Naura tidur saat jam sembilan malam.
"Ayo!" ajak Dion.
"Udah terlalu malam A," jawab Mia sembari menunjuk dinding kamarnya dan memperlihatkan jam dinding.
"Baru jam sembilan. Ayo!" ajak Dion.
"Beneran?" tanya Mia.
"Beneran," jawab Dion.
Mia mengambil jaketnya yang tergantung dan pergi.
"Mau kemana?" tanya Tuan Felix.
__ADS_1
Mia berhenti dan mematung. Ia nampak begitu tegang. Namun Dion berusaha menutupi perasaan Mia.
"Aku mau ke makam sekarang Pah. Jalannya kan udah bagus. Jadi kita bisa ke sana sekarang. Mumpung Narendra sama Naura udah tidur," jawab Dion.
"Hanya berdua?" tanya Tuan Felix.
"Iya pah," jawab Dion.
"Biar Rian ikut," ucap Tuan Felix.
"Gak usah. Rian biar nemenin si kembar aja," ucap Mia.
"Biar Papa yang nemenin cucu kembar," ucap Tuan Felix.
Walaupun Mia dan Dion sudah menolak, tapi Tuan Felix tetap memanggil Rian dan memintanya untuk ikut dengan Mia dan Dion.
"Maafin Papa gak bisa ke sana sekarang ya!" ucap Tuan Felix.
Mia mengerti keadaan Tuan Felix yang sudah tidak muda lagi. Perjalanan dari rumah ke makam memang sudah bagus, namun cukup jauh. Perjalanan malam juga akan membuat Tuan Felix sedikit kerepotan apalagi karena minimnya cahaya.
"Gak apa-apa Pah. Mia berangkat sekarang ya!" ucap Mia.
Setelah pamit, ketiganya berjalan menuju makam. Hanya dengan senter di ponselnya, mereka melewati perjalanan yang cukup membuat bulu kuduknya berdiri.
"Rian, kamu belum ngantuk?" tanya Dion memecah keheningan malam.
Dion berusaha membuat suasana lebih hangat karena Mia sudah memegangnya dengan erat. Dion juga cukup panik saat mendengar suara daun yang bergesekan ditebak angin malam.
"Belum Kak," jawab Rian.
"Bu, Mia kangen sama Ibu." Kalimat pembuka saat Mia baru menyentuh batu nisan ibunya.
Setelah puas menangis, Mia menceritakan kebahagiaan demi kebahagiaan yang ia alami. Rian dan Dion hanya mengamati Mia yang sedang bercerita dengan begitu asyik. Seperti ada lawan bicara, Mia terlihat begitu asyik. Sesekali Mia tertawa dengan begitu lepas.
"Ayo pulang!" ajak Mia setelah puas bercerita dan pamit kepada ibunya.
"Sebentar, aku belum pamit sama Ibu." Dion mengusap batu nisan Bu Ningsih.
"Bu, terima kasih sudah melahirkan dan mendidik wanita yang ada di sampingku ini dengan penuh cinta. Ibu berhasil mencetak anak yang baik. Hingga kini ia tumbuh menjadi seorang ibu yang sangat baik dan penuh cinta," ucap Dion.
Saat mereka hendak pergi, Rian menahan tangan Dion.
"Sebentar Kak. Aku juga mau ngomong sesuatu," ucap Rian.
"Kamu mau ngomong apa sih?" tanya Dion.
"Sebentar aja," ucap Rian.
"Ya sudah. Jangan lama!" ucap Dion.
Rian mengangguk dan segera mengusap batu nisan Bu Ningsih.
"Bu, aku Rian. Ibu masih ingat kan sama aku? Aku pernah ke sini saat itu sama Papa Felix. Aku mungkin orang yang sangat tidak ibu harapkan kehadirannya. Tapi aku sangat menyayangi orang-orang yang ibu sayangi. Seperti ibu, aku sayang Papa Felix dan Kak Mia. Aku sudah menganggap mereka adalah keluargaku sendiri. Aku harap ibu juga bisa menerimaku. Aku janji akan menjaga Kak Mia dan anak kembarnya, seperti ibu menjaga mereka. Aku akan lakukan semampuku," ucap Rian panjang lebar.
Mia langsung menangis saat mendengar ucapan Rian. Ia benar-benar terharu. Masa lalu Rian mungkin memang menyakitkan bagi Mia. Tapi kehadirannya sekarang memberi warna khusus dalam kehidupannya.
__ADS_1
"Rian, terima kasih. Kakak juga sayang sama kamu," ucap Mia.
"Sama aku juga kan?" tanya Dion.
"Ih, Aa. Masa cemburu sama Rian sih?" tanya Mia.
"Makanya bilang dong sayang juga sama aku," ucap Dion.
"Iya. Mia juga sayang sama Aa," ucap Mia sembari tersenyum.
Berhasil! Dion bisa mengembalikan senyum Mia. Setelah Mia lebih tenang, Dion mengajak Mia dan Rian untuk segera pulang.
Sesampainya di rumah, Mia menahan langkah Rian yang akan kembali ke kamarnya.
"Rian, Mia tidak meminta balas jasa apapun dari kamu. Mia cuma minta kamu buktikan ucapan kamu di makam Ibu. Ibu pasti bahagia kalau kamu bisa menepati janjinya," ucap Mia.
"Kakak jangan khawatir. Aku pasti tepati semua janjiku," ucap Rian.
"Terima kasih Ri," ucap Mia.
"Sama-sama Kak," ucap Rian.
Mereka kembali ke kamarnya masing-masing untuk beristirahat. Namun langkahnya terhenti saat melihat Tuan Felix yang duduk di sebuah kursi di depan kamarnya.
"Udah pulang?" tanya Tuan Felix.
"Papa ngapain di sini?" tanya Mia.
"Nungguin Narendra sama Naura," jawab Tuan Felix.
"Kenapa gak nunggu di dalam saja?" tanya Mia.
"Gak usah. Di sini aja. Karena kalian udah pulang, Papa ke kamar dulu ya! Kalian cepat tidur. Jangan begadang," ucap Tuan Felix.
"Iya Pah, terima kasih ya!" ucap Mia.
Mia dan Dion saling menatap saat melihat Tuan Felix sudah benar-benar pergi dari depan kamarnya. Mereka melihat sayang yang begitu tulus dari seorang Tuan Felix.
"Ayo tidur!" ajak Dion.
"Iya A," jawab Mia.
Mereka berbaring di atas ranjang yang tidak semewah ranjangnya di Jakarta. Namun tetap nyaman saat tidur bersebelahan dengan orang yang disayangi. Mencoba memejamkan matanya. Mempersiapkan kembali energinya karena besok mereka akan kembali mengunjungi makam Bu Ningsih.
"A, terima kasih ya udah nemenin Mia malam ini. Mia bahagia banget," ucap Mia dengan mata yang terpejam.
"Aku udah buktikan kan kalau keromantisanku akan aku tunjukkan malam ini," jawab Dion.
Mia membuka matanya. Ia mengingat kejadian siang tadi. Ia tersenyum karena sudah berpikiran jorok pada suaminya tentang keromantisan malam.
"Kenapa? Jangan bilang kalau kamu mikir jorok tentang aku?" tanya Dion.
"Ih gak kok," jawab Mia.
Mia segera memejamkan matanya kembali dan menarik selimut. Sementara Dion hanya tersenyum sembari memeluk Mia dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1