
Pagi sekali Mia sudah bangun. Dengan sangat semangat, Mia bersiap untuk pergi ke kantor.
"Mas, tunggu Mia. Mia lagi belajar nyetir, nanti Mia beli mobil buat cari mas. Tapi mas ganti uang Mia ya nanti!" ucap Mia saat menyisir rambutnya.
Jam tangannya sudah melingkar di pergelangan tangan Mia yang putih dan mulus. Dahinya mengkerut saat melihat jarum jamnya. Mia mengetuk-ngetuk kaca jam tangannya.
"Yah, mati." Mia membuka jam itu dari pergelangan tangannya.
Mia melihat jam di dinding, masih jam tujuh kurang. Mia duduk sebentar dan membuka laci. Ada sebuah surat keterangan dari dokter. Mia mengela napas panjang. Ia berpikir kalau Tuan Ferdinan dan Nyonya Nathalie harus tahu. Ya, meskipun mungkin nanti keputusannya akan tetap sama, tapi paling tidak mereka harus tahu kenyataan itu.
Surat itu sempat hilang dan ditemukan oleh dokter Leoni dalam tas uang dibawa oleh Mia saat kecelakaan. Dompet dan ponselnya hilang. Dalam tas itu hanya tersisa sebuah surat yang mungkin tidak berarti. Namun sangat penting bagi Mia. Sedangkan ATMnya tidak dibawa di rumah Danu. Dan sudah ada di tangannya.
"Mas, kalau Papi sama mami tidak mengizinkan Mia untuk mendampingi mas lagi, mas mau nikah lagi gak?" tanya Mia pada kertas yang ada di tangannya.
Mia selalu mengajak ngobrol beberapa benda mati di kamarnya semenjak Mia tahu kalau Danu masih hidup. Kebohongan Nyonya Natahlie tentang makam Danu, menjawab rasa penasaran Mia. Hanya saja, Mia tidak tahu dimana keberadaan suaminya.
Melihat jam sudah menunjukkan pukul tujuh lebih lima menit, Mia segera memesan sebuah grab. Tak lupa surat itu ia masukkan ke dalam tasnya. Mia akan meminta saran pada Kalin tentang keputusannya. Apakah ia harus menemui mertuanya atau menunggu mertuanya menemuinya?
Saat tiba di kantor, Mia menunggu Kalin. Hanya berbeda sepuluh menit, Kalin akhirnya muncul juga.
"Kalin," panggil Mia.
"Mia," ucap Kalin.
"Aku mau bicara sebentar," ucap Mia.
Kalin mengikuti Mia untuk masuk ke dalam ruangan Mia. Saat Mia akan mengeluarkan surat itu, Mia menyadari kesalahannya. Kalin tidak boleh tahu tentang penyakit Danu. Itu sama artinya Mia membuka aib suaminya sendiri.
"Mia, ada apa?" tanya Kalin.
"Emm, ini. Mia, Mia," ucap Mia bingung saat harus menutupi semua kesalahannya itu.
"Mia kamu kenapa?" tanya Kalin.
"Oh ya Kalin, begini." ucap Mia.
Mia menceritakan kejadian kemarin sore saat ia ditipu oleh Nyonya Nathalie, tapi kemudian Mia berhasil menipu kembali mertaunya itu.
"Kamu serius Mia?" tanya Kalin tak percaya.
"Lagian, buaya mau dikadalin. Gak mempan. Mami gak tahu kalau sekarang Mia sudah pintar," jawab Mia dengan sangat bangga dengan apa yang sudah dilakukannya.
Kalin bertepuk tangan dan memuji Mia. Ini bukan hanya sebuah kemajuan, tapi sebuah perkembangan. Mia berkembang pesat. Kini Mia sudah bisa menghadapi masalahnya sendiri. Kalin tidak tahu sama sekali kejadian itu. Padahal mereka belajar menyetir setelah drama itu. Tapi Mia tidak menceritakannya pada Kalin dengan alasan lupa.
Tidak! Bukan lupa. Mia memang sengaja tidak ingin menceritakan kejadian kemarin pada Kalin, tapi karena Mia tidak punya alasan lain untuk ngeles jadi apa boleh buat.
"Miaaaa, kamu hebat. Aku sukaaaa," ucap Kalin memeluk Mia.
"Semua berkat kamu. Kalau tidak ada kamu, mana mungkin Mia menjadi seperti ini. Mungkin Mia sudah bunuh diri karena merasa sendiri," ucap Mia.
"Kamu tidak tahu kalau aku merasa bertemu dengan masa laluku. Dan aku ingin menghapus semua masa lalu itu. Aku ingin kita sama-sama mempunyai masa depan yang baik," batin Kalin.
Kalin kembali ke ruangannya dan membuka laptopnya. Banyangan Mia menghiasi layar laptopnya. Betapa senangnya ia saat mendengar Mia berhasil menghadapi Nyonya Nathalie.
"Mia, nanti malam aku jemput kamu lagi ya!" ucap Kalin sebelum ia pulang.
Mia mengangguk dan mengangkat jempol tangannya. Tak lupa lambaian tangannya mengantarkan Kalin sampai akhirnya Kalin benar-benar pergi.
"Hampir saja aku keceplosan soal penyakit kamu mas. Maaf ya, Mia janji tidak akan gegabah lagi buat ke depannya." Mia memeluk tas yang berisi surat itu.
"Maaf, kenapa mba?" tanya sopir grab.
"Apanya yang kenapa pak?" Tanya Mia.
"Tadi mba bilang apa?" tanya sopir itu.
"Saya gak ngomong sama bapak kok," jawab Mia.
"Terus ngobrol sama siapa mba?" tanya sopir itu.
"Sama diri saya sendiri. Udah ah, banyak nanya deh bapak," ucap Mia kesal.
Sesampainya di apartemen, Mia segera mandi dan bersiap kembali untuk latihan menyetir dengan Kalin.
Setelah Kalin sampai, Mia segera pergi dengan wajah yang sangat ceria. Kalin senang saat melihat Mia terlihat begitu bahagia. Menyusuri jalanan sepi, hanya butuh waktu satu jam untuk meyakinkan Kalin kalau Mia sudah bisa menyetir mobil sendiri.
"Kalin, Mia lapar Kita makan dulu ya!" ajak Mia.
"Boleh," jawab Kalin yang memang merasa lapar. "Sini biar aku yang bawa!" lanjut Kalin.
"Biar Mia saja. Kan sambil latihan. Boleh ya!" pinta Mia.
"Tapi di sana ramai Mia. Biar aku saja," ucap Kalin.
"Ayolah Kaliiiin," rengek Mia.
"Maaf ya Mia. Ini untuk keselamatan kita. Untuk kali ini, aku yang bawa mobilnya. Tolong mengerti," ucap Kalin.
"Baiklah," ucap Mia menyerahkan kunci mobilnya dengan cemberut.
"Jangan marah, lain kali aku mengizinkanmu. Tapi untuk saat ini ya! Aku tidak enak hati," ucap Kalin.
Mia tak menjawab. Ia hanya menganggukkan kepalanya. Wajahnya yang cemberut berubah setelah mencium aroma masakan dari cafe itu.
"Seneng ya?" tanya Kalin.
"Banget," jawab Mia sambil menggelantung manja di tangan Kalin.
"Awww," teriak seorang wanita.
__ADS_1
Mia dan Kalin seketika menoleh ke belakang dan bola mata Mia membulat sempurna saat melihat sosok Nyonya Nathalie.
"Mami, eh." Mia dengan cepat meralat ucapannya karena tak ingin suasana kian memanas.
"Nyonya, maaf. Mia tidak sengaja. Sini biar Mia bersihkan," ucap Mia meraih tissue untuk membersihkan noda pada pakaian Nyonya Nathalie.
Tapi tangannya dihempaskan oleh Nyonya Nathalie.
"Aku tidak sudi bajuku disentuh oleh tangan pembawa sial sepertimu," ucap Nyonya Nathalie.
Ucapan Nyonya Nathalie memancing perhatian dari pengunjung lain. Hal itu berhasil membuat Mia merasa tersudut dan membuatnya hendak menyerang balik. Namun, Kalin menarik tangan Mia dan mengusap punggungnya. Mia berusaha sebisa mungkin untuk menenangkan dirinya. Sedangkan Tuan Ferdinan membujuk istrinya untuk tidak marah-marah. Akhirnya Nyonya Nathalie pergi karena merasa kesal saat berseteru dengan Mia.
"Mia, ingat! Kamu jangan terpancing emosi," ucap Kalin.
"Iya, maafkan Mia. Untung saja ada kamu. Mia gak tahu gimana jadinya kalau tadi gak ada kamu. Mia pasti sudah emosi," ucap Mia.
"Kita akan saling mengingatkan ya!" ucap Kalin.
Mia mengangguk.
"Sudah, daripada ngambek, emosi, mending kita makan ya!" ucap Kalin.
Bukan Mia namanya kalau tidak makan dengan lahap. Walaupun sudah ada insiden, tapi Mia masih bisa makan sebanyak Itu. Kalin ingin sekali mengingatkan Mia agar makan sewajarnya, tapi karena Mia sedang emosi Kalin membiarkannya makan sepuasnya. Anggap saja kalau ini hadiah untuk Mia agar tidak marah lagi.
"Kamu bawa mobil ya!" ucap Kalin.
"Benarkah?" tanya Mia tak percaya.
Kalin mengangguk dan memberikan kunci mobilnya. Benar saja. Mia terlihat jauh lebih bahagia dari sebelumnya.
Baru saja Mia mundur di parkiran, tiba-tiba BRAAAAAAK..
Bola mata Mia kembali membulat dengan mulut yang menganga. Mia menutup mulutnya dengan kedua tangnnya. Tatapan Mia dan Kalin beradu.
"Kaliiiin," ucap Mia penuh ketakutan.
"Tenang Mia, semuanya akan baik-baik saja. Biar aku selesaikan ya!" ucap Kalin.
Kalin turun dari mobil dan sangat terkejut saat melihat mobil yang tertabrak itu adalah mobil Tuan Ferdinan.
"Urusan bakal panjang nih," gumam Mia.
Mendengar suara Nyonya Nathalie, Mia segera turun. Rasanya tidak adil jika harus membiarkan Kalin menyelesaikan semua ini sendirian. Padahal ini kesalahannya.
"Tuan, maafkan Mia." Mia menunduk karena merasa bersalah.
"Kamu lagi?" teriak Nyonya Nathalie.
"Nyonya, saya akan mengganti semua kerusakan mobil Anda." ucap Mia dengan sopan.
"Ada masalah apa kamu denganku hah? Tadi kamu mengotori bajuku. Sekarang mobilku kau tabrak. Apa maumu?" tanya Nyonya Nathalie.
"Oh, rupanya kamu sudah menjadi orang kaya ya. Sampai-sampai kamu mau mengganti semuanya," sindir Nyonya Nathalie.
"Maaf, Nyonya. Bukan karena saya kaya, saya akan menggantinya sebagai bentuk tanggung jawab saya atas kesalahan yang sudah saya perbuat." Mia mencoba menjelaskan kesalahpahaman ini.
Baik Tuan Ferdinan maupun Kalin sudah berdamai, karena mereka saling mengenal bahkan sesama mitra. Namun ada ucapan Nyonya Nathalie yang berhasil memancing emosi Mia.
"Pantas saja kamu sudah tidak mencari anakku lagi. Kamu sudah tidak butuh uangnya karena kamu sudah memiliki uang yang cukup kan sekarang? Dimana rasa bersalahmu Mia?" ucap Nyonya Nathalie.
"Cukup Nyonya, cukup. Jangan selalu menyalahkan saya. Dengarkan saya Tuan Ferdinan, kalaupun ada yang harus disalahkan dari kematian mas Danu itu istri Anda. Nyonya Nathalie lah yang sudah membohongi mas Danu hingga akhirnya mas Danu pulang. Mengendarai mobil dengan keceapatan tinggi karena mendapat kabar kalau Anda, Tuan Ferdinan sedang di rawat di rumah sakit. Mas Danu sudah melarang saya untuk ikut. Tapi karena kepedulian saya terhadap Anda sebagi mertua, saya memaksa untuk ikut. Kalau saja Nyonya Nathalie tidak berbohong, maka saya juga tidak akan terbaring di rumah sakit karena patah tulang." Dengan napas terengah-engah Mia mengungkapkan semuanya.
"Mamiiii," ucap Tuan Wang yang terlihat kecewa.
"Papi, jangan percaya pada Mia. Dia pembohong. Dia hanya sedang menutupi kesalahannya. Percaya sama mami ya!" ucap Nyonya Nathalie menenangkan suaminya.
"Masuk!" perintah Tuan Ferdinan dengan nada sangat sinis pada istrinya.
Dengan raut wajah penuh dengan ketakutan, Nyonya Nathalie masuk ke dalam mobil. Selama dalam perjalanan pulang, Nyonya Nathalie tak henti-hentinya meminta maaf pada Tuan Ferdinan, namun nampaknya pria berkumis itu tidak merespon ucapan istrinya. Rasa kecewanya sangat mendalam hingga ia tidak tahu harus memulainya dari mana.
"Mas, bicara dong. Jangan diam begitu," ucap Nyonya Nathalie.
Namun usaha Nyonya Nathalie sia-sia karena Tuan Ferdinan masih tak bergeming. Satu kalimat yang terucap dari mulut suaminya membuat Nyonya Nathalie tertampar begitu keras.
"Papi kecewa atas kebohongan Mami," ucap Tuan Ferdinan.
Kebencian Nyonya Nathalie pada Mia kian membesar saat mengingat kejadian tadi yang menyebabkan Tuan Ferdinan mengacuhkannya.
"Aku akan membuat perhitungan denganmu Mia," gumam Nyonya Nathalie sambil mengepalkan tangannya.
Rasa kecewa Nyonya Nathalie membuatnya menjadi membenci Mia. Benih kebencian itu, kian lama kian tumbuh membesar. Entah kapan semua itu akan berakhir. Atau mungkin tidak akan berakhir sama sekali.
Sementara masih di parkiran cafe, Mia duduk menunduk. Menungkup kepalanya dengan kedua tangannya.
"Maafkan Mia, Mi. Mia hanya tidak bisa membiarkan diri Mia disudutkan seperti itu terus menerus. Mami sudah keterlaluan," ucap Mia disela isak tangisnya.
"Sudah lah Mia. Bagiku kamu sudah melakukan hal yang tepat. Kebenaran memang harus ditegakkan meskipun itu akan melukai seseorang. Lambat laun, bangkai akan tercium juga busuknya. Anggap saja ininemmang sudah waktunya Tuan Ferdinan tahu tentang kenyataan yang sebenarnya," ucap Kalin.
"Jadi Mia tidak salah?" tanya Mia menatap Kalin.
"Tidak. Kamu sudah melakukan yang memang seharusnya kamu lakukan," ucap Kalin.
"Kalin, terima kasih." Mia memeluk Kalin dengan sangat erat.
Kalin mengajak Mia untuk segera pulang karena wktu sudah semakin malam.
"Kalin, biar biaya bengkel Mia yang bayar ya! Tolong urus juga biaya perbaikan mobil Tuan Ferdinan. Nanti Mia yang bayar," ucap Mia.
"Sudahlah. Jangan banyak pikiran, lebih baik sekarng kamu tidur. Istirahat ya! Jangan pikirkan masalah mobil ya," ucap Kalin.
__ADS_1
Mia mengangguk dan menutup pintu setelah Kalin tidak terlihat. Mia duduk di balik pintu, menangis sejadi-jadinya. Ia merasa hidupnya penuh dengan beban.
Dev terkejut saat melihat bagian belakang mobil ada yang rusak.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Dev panik.
Kalin segera turun dan menenangkan Dev. Kalin melaporkan semua yang terjadi di cafe pada Dev. Dev menjadi panik saat mendengar Mia kembali bermasalah dengan Tuan Ferdinan. Namun Dev merasa tenang saat Kalin menjelaskan kalau ia sudah menyelesaikan semuanya.
"Syukurlah. Lain kali tolong jangan membiarkan Mia membawa mobilmu. Bukan sayang sama mobilnya, tapi aku khawatir kalau kamu kenapa-kenapa. Nanti siapa yang jagain aku kalau kamu sakit," goda Dev.
Sepertinya malam ini Dev berharap mendapat jatahnya, karena besok ia harus sudah pergi ke luar kota untuk mengontrol bisnis barunya.
Kalin yang mengerti maksud suaminya langsung mengangguk dan tersenyum lebar.
"Jadi mau ya?" goda Dev.
Kalin mengangguk.
"Kok gak dijawab?" tanya Dev.
"Kan tadi udah," jawab Kalin.
"Kapan?" tanya Dev.
"Tadi," jawab Mia dengan malu-malu.
"Kok aku gak dengar ya?" tanya Dev.
Kalin mengerti dan segera menjawab Dev.
"Iya, aku mau. Tapi aku mandi dulu ya!" ucap Kalin.
"Tidak mandi juga tidak apa-apa. Kamu tetap cantik kok sayang," ucap Dev.
Dev memang selalu bisa membuat Mia terbang melayang dengan segala rayuannya.
Rasa yang sedang Kalin nikmati berbanding terbalik dengan apa yang Mia rasakan. Tak seperti Kalin yang dihibur oleh Dev, Mia justru merasa kesepian dan benar-benar sendiri.
"Mas kamu dimana? Bantuin Mia. Mia gak sanggup menghadapi semua ini sendirian. Ini terlalu berat untuk Mia. Mia menyerah mas. Mia menyerah," ucap Mia.
Saking lelahnya karena menangis sejak tadi hingga akhirnya Mia tertidur di balik pintu. Mia bangun setelah dering ponsel yang tak berhenti walaupun Mia sudah menolaknya beberapa kali karena masih mengantuk.
Mia terbangun dengan badan yang sangat sakit. Tidur dengan posisi yang tidak nyaman membuat badannya terasa remuk. Mia terkejut saat melihat jam yang menempel di dinding kamarnya.
"Hah? Jam sembilan?" ucap Mia tidak percaya.
Mia segera melihat ponselnya dan semakin terkejut saat melihat delapan panggilan tak terjawab. Mia segera menghubungi Kalin kembali.
"Kalin, maafkan Mia. Mia kesiangan. Ini pertama kali dalam seumur hidup Mia bangun sesiang Ini. Maafkan Mia," ucap Mia panik.
"Mia tenanglah. Aku tidak marah. Aku menghubungimu karena khawatir. Aku takut ada apa-apa denganmu. Tapi kamu baik-baik saja kan Mia?" tanya Kalin.
"Mia baik-baik saja. Hanya kesiangan. Mia ke kantor atau izin ya hari ini?" tanya Mia.
"Kamu istirahat saja. Besok kamu baru masuk," ucap Kalin lalu menutup sambungan teleponnya.
Mia melihat wajahnya pada cermin. Sangat kusut dengan kantung mata yang agak menghitam. Mia merasa ia kurang tidur. Karena sudah mendapat izin dari Kalin, Mia memutuskan untuk segera tidur kembali.
Terik mentari yang menyelinap ke dalam kamarnya membuat Mia terbangun. Mia kembali terkejut saat melihat jam sudah menunjukkan pukul dua belas.
Sepertinya ini adalah hari yang sangat tidak produktif untuk Mia. Dimana ia menghabiskan malam ini hanya dengan tidur dan tidur. Ternyata tidur siang yang cukup lama tidak bisa mengganti tidur malam yang terlewat. Setelah tidur siang yang sangat lama itu membuat Mia malah pusing dan badannya semakin terasa remuk.
Setelah hampir satu minggu, Mia tidak pernah bertemu lagi dengan Tuan Ferdinan dan Nyonya Natahlie. Urusan mobil sudah diurus oleh Kalin. Katanya, Tuan Ferdinan tidak menerima uang ganti dari Kalin.
Mia merasa kalau ayah mertuanya sudah mulai luluh. Hanya saja Mia tidak habis pikir kenapa ibu mertuanya yang dulu sangat baik tiba-tiba saja berubah menjadi sangat membencinya? Bahkan Mia menganggap kalau Nyonya Nathalie sudah berubah menjadi orang yang sangat jahat.
Sore ini, Kalin dan Dev datang ke apartemen Mia, untuk menitipkan perusahaan.
"Kalian mau kemana?" tanya Mia.
"Aku mau menemani Dev untuk melihat perusahaan barunya di sana," jawab Kalin.
"Lama?" tanya Mia.
"Hanya tiga hari saja Mia. Tapi setelah itu aku ada rencana untuk mengajak Kalin ke luar negeri. Selama ini kami selalu tidak ada waktu untuk liburan berdua. Karena sekarang ada kamu, aku merasa lebih tenang meninggalkan perusahaan. kamu tidak keberatan kan Mia?" tanya Dev.
"Tidak masalah Dev. Hanya saja Mia takut tidak bisa menghandle urusan kantor. Mia kan masih baru. Belum tahu banyak hal tentang perusahaan," ucap Mia.
"Jangan merendah seperti itu Mia. Selama seminggu ini, aku sengaja memberikanmu tugas-tugas yang biasa kau kerjakan. Dan ternyata kamu bisa kan?" tanya Kalin.
"Masa sih Kalin?" tanya Mia tak percaya.
Jadi selama ini atas perintah Dev, Kalin menyerahkan tugasnya untuk dikerjakan oleh Mia. Anggap saja untuk latihan agar saat mereka pergi, Mia sudah terbiasa dengan semua tugas-tugas itu.
Mia tentu ikut senang saat mendengar mereka akan berlibur.
"Nanti mau dibawakan apa?" tanya Kalin.
"Jangan merepotkan. Mia hanya minta kalian bahagia ya di sana. Nanti pulang lagi ke sini dengan keadaan selamat dan sehat. Jangan lama-lama, Mia pasti kesepian." ucap Mia sambil memeluk Kalin.
###################
Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.
Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
Terima kasih..
__ADS_1