
Dalam kegelisahannya, Mia berdiri menatap jendela kamarnya yang tertutup. Hujan deras mengingatkannya pada Dion yang tengah berada di Surabaya. Mia mengingat semua kenangan indah bersama suaminya di kamar itu. Mia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan. Hampir setiap tempat di sana memberinya kesan indah. Bibirnya tersenyum getir. Rindu itu kian membuncah.
"A, hati-hati ya! Maafin Mia gak bisa menemani dan melayani Aa. Padahal itu kan tugas Mia," gumam Mia.
Rasanya ingin sekali ia mengikuti suaminya kemanapun ia pergi. Tapi Mia juga tidak bisa egois. Mia tahu kalau di dalam perutnya ada kehidupan dua anak kembar. Mereka tidak boleh kecapean.
Sayang, doakan Papa biar kerjanya lancar ya! Dan nanti kita kumpul lagi di sini.
Mia mengusap perutnya yang semakin membesar. Lama berdiri di depan jendela, Mia merasa kakinya pegal. Ia berjalan mendekati meja rias dan duduk di depan cermin. Menatap lekat wajahnya yang terpancar dari pantulan cermin. Mia berkali-kali melihat ke kiri dan ke kanan pipinya.
Ini semakin lama semakin mengembang ya! Padahal gak di kasih fermipan loh.
Mia berdiri dan berputar. Melihat perubahan tubuhnya yang sangat drastis. Dalam kehamilannya selama empat bulan, Mia sudah naik delapan kilo dari berat badan awalnya. Rasanya sedih saat melihat tubuhnya sudah tak jelas bentuknya.
"Tapi semua ini demi kamu, kembar. Mama rela deh begini asal kalian sehat-sehat ya di perut Mama," gumam Mia.
Tangannya berkali-kali mengusap perutnya. Seolah ia sedang meyakinkan dirinya kalau ia tidak bicara sendiri. Ada bayi kembar yang ada dalam perutnya yang selalu mendengarkan ucapannya. Tak jarang, saat kesepian Mia selalu mengajak bayi kembarnya bercerita. Meskipun tidak ada respon nyata, namun Mia selalu asyik bercerita. Karena Mia yakin kalau sebenarnya mereka tetap mendengar setiap ucapan yang keluar dari mulut Mia.
Tiba-tiba tawanya tak bisa ditahan saat mengingat ucapan Dion kala itu.
'Kamu kalau turun tangga hati-hati ya! Pegangan yang kuat, aku takut kamu menggelinding.'
Ucapan yang terdengar saat menyakitkan, namun lucu saat Mia mengingatnya kembali. Merasa rindu dengan kehadiran dan ocehan Dion, Mia keluar dari kamarnya dan ingin menuruni tangga.
Kamar Mia yang terletak di lantai satu, membuat Mia tidak bisa naik turun tangga tanpa tujuan. Tapi untuk kali ini, Mia tidak perlu alasan. Rasa rindunya dengan kekonyolan Dion sudah cukup untuk dijadikan sebuah alasan. Meskipun Mia tahu, mungkin ini tidak logis untuk orang lain.
Dengan terengah-engah Mia naik ke atas lantai dua. Lalu tak lama, ia turun kembali. Mia berpegang erat saat menuruni tangga. Kepalanya mengingat ucapan Dion, untuk berhati-hati. Bibirnya tersenyum lebar. Raut wajahnya jelas terlihat sangat bahagia. Merasa belum puas, Mia naik sekali lagi. Saat akan turun, Mia kembali tersenyum ketika ingatannya membuka memory ucapan Dion, entah untuk yang kesekian kalinya.
"A, memangnya Mia ini bola apa? Kok Aa bilang takut menggelinding sih?" ucap Mia pelan sambil menahan tawanya.
Mia tidak bisa menyalahkan ucapan Dion sepenuhnya, karena memang badan Mia yang naik dengan cepat membuatnya terlihat bulat. Badannya yang tidak terlalu tinggi dengan berat badan yang terus meroket, membuat Mia sempat tidak percaya diri.
"Mia, apa yang kamu lakukan?" tanya Nyonya Helen.
"Mama belum tidur?" tanya Mia.
"Mama terbangun saat mendengar ada orang naik turun tangga, lalu ketawa-ketawa di malam hari. Kamu kenapa sih Mia?" tanya Nyonya Helen.
"Maaf ya Ma, Mia ganggu istirahat Mama." Raut wajah Mia berubah seketika.
"Mia, maafkan Mama. Mama gak bermaksud begitu. Mama hanya heran saja. Kamu ngapain sih di sini?" tanya Nyonya Helen.
Sudah dua kali pertanyaan Nyonya Helen belum juga mendapat jawaban. Ia berharap pertanyaan ketiga ini membuat Mia menjawab rasa penasarannya.
"Apa? Ya ampun Miaaaa. Kalau Mama jadi kamu, udah Mama timpuk tuh si Dion pakai gelas. Ngeselin banget sih dia? Maafin Dion ya, Mi." Nyonya Helen merasa tidak enak sendiri dengan ucapan anaknya.
"Mia justru kangen Ma. Kangen sama kekonyolan Aa. Aa yang selalu mengejek Mia tapi justru senang saat mendengar berat badan Mia naik terus," jawab Mia.
"Mia, kamu jangan banyak pikiran ya! Masalah berat badan sih gampang. Nanti setelah lahiran, kamu bisa diet. Ada dokter yang siap membantu program diet kamu. Tapi nanti ya kalau sudah lahiran," bujuk Nyonya Helen.
"Ya ampun Ma, Mia gak berpikir sejauh itu. Hanya saja Mia merasa kurang percaya diri saat melihat badan Mia," ucap Mia.
"Kamu tetap cantik kok. Tidak ada alasan untuk kamu merasa kurang percaya diri," ucap Nyonya Helen.
Mia tersenyum dan memeluk ibu mertuannya. Lalu ia pamit untuk kembali ke kamarnya. Mia. menutup pintu kamarnya dan bersandar di balik pintu.
"A, Mia udah turun tangga dengan hati-hati. Mia gak menggelinding kok. Masih aman terkendali," gumam Mia.
Mia merebahkan tubuhnya dan menutupinya dengan selimut. Menyimpan sebuah guling di sampingnya.
"Selamat tidur A," ucap Mia.
Mia memeluk guling yang ada di sampingnya, seolah itu adalah Dion.
Setiap malam dan siang hari, Mia lalui dengan penuh kesabaran. Menanti suami tercinta untuk kembali bersamanya. Setiap rindu hanya ia ungkapkan melalui sambungan telepon atau panggilan video. Dion yang mengerti keadaan dan perasaan Mia, selalu menyempatkan waktu untuk menghubungi Mia. Bahkan jika Dion tengah bekerja di ruangannya, Dion akan melakukan panggilan video dengan Mia.
Meskipun Dion sibuk berkutat dengan laptop dan tumpukan berkas di mejanya, Mia cukup bahagia saat melihat wajah suaminya yang sedang sibuk bekerja.
Praaaaang
Suatu hari, gelas yang ditangan Mia terjatuh. Pecahannya berhamburan, setelah membentur lantai. Mia berteriak histeris saat tidak sengaja mendengar Nyonya Helen dan Tuan Wira sedang mengobrol. Mereka membahas kalau Dion tengah masuk rumah sakit.
"Mia, kamu kenapa?" tanya Nyonya Helen.
"Ma, Mia harus ke Surabaya sekarang," ucap Mia sambil menangis.
"Mau apa kamu ke Surabaya?" tanya Nyonya Helen.
"Kata Mama kan A Dion di rumah sakit," ucap Mia.
__ADS_1
"Mia, kamu tenang dulu. Mama belum selesai bicara. Dion itu," ucapan Nyonya Helen lagi-lagi terhenti karena Mia sudah memotong ucapannya.
"Ma, bagaimana Mia bisa tenang? Suami Mia masuk rumah sakit. Mia harus ada di samping A Dion. Aa pasti lagi butuh Mia. Kasihan Aa sendirian," ucap Mia disela isak tangisnya.
"Ya ampuuuun. Mia, Dion tidak sendiri. Ada orang-orang yang menemaninya di rumah sakit," ucap Nyonya Helen.
"Tapi harusnya Mia yang menamani Aa di sana Ma," ucap Mia.
Ada rasa bersalah yang teramat dalam, ketika Mia tahu kalau suaminya sedang sakit. Sedangkan Mia tidak bisa merawatnya. Bahkan hanya sekedar menemaninya saja itu sebuah kemustahilan.
"Mia, kamu gak mau tanya Dion sakit apa?" tanya Mia.
"Jantung? Ashma akut? DB? Kolesterol tinggi? Struk?" tanya Mia panik.
"Husssst! Kamu kok malah nyumpahin suami kamu sendiri sih?" ucap Nyonya Helen.
"Terus A Dion sakit apa, Ma?" tanya Mia.
"Bisulan," jawab Nyonya Helen.
Merasa sudah cukup lelah berdebat dengan Mia, Nyonya Helen meninggalkan Mia dan Tuan Wira. Ia memilih untuk kembali ke kamarnya. Mengistirahatkan sejenak saraf-sarafnya yang sudah menegang.
Miaaa, kamu benar-benar membuatku kesal saja. Sabar Helen sabar. Mia itu sebenarnya anak yang manis, hanya saja kelakuannya kadang suka bikin naik darah.
Mia menatap Nyonya Helen yang semakin menjauh. Ia mengusap air matanya dan melihat Tuan Wira. Tanpa respon, Tuan Wira hanya duduk manis menikmati secangkir kopi. Mungkin ia adalah orang yang sudah menikmati pertunjukkan dua orang yang berdebat, hanya karena penyakit bisul.
"Pa," panggil Mia.
"Hemmm," jawab Tuan Wira setelah menyeruput kopi hitamnya.
"Memangnya A Dion beneran sakit bisul ya?" tanya Mia.
"Kata Mama sih begitu," jawab Tuan Wira.
"Memangnya A Dion gak bilang sama papa?" tanya Mia.
"Gak," jawab Tuan Wira.
"Kok Aa gak bilang sama Mia ya?" tanya Mia sedih.
"Mia, kamu jangan banyak pikiran. Dion juga gak niat bilang sama Mama kok. Tadi Mama nelepon Dion, tapi katanya Dion lagi di rumah sakit. Kamu istirahat aja sana!" ucap Tuan Wira.
"Ya sudah Pa, Mia permisi dulu ya!" ucap Mia.
Saat pintu kamarnya sudah tertutup rapat, Mia duduk di atas sofa.
A Dion kena penyakit bisul? Kok bisa ya? Padahal kan A Dion orang kaya. Setahu Mia, bisul itu penyakit orang kampung. Ah, Mia telepon Aa aja biar tahu lebih jelasnya.
"A," panggil Mia saat panggilan teleponnya dijawab oleh Dion.
"Kenapa Mi?" tanya Dion.
"Aa jangan banyak makan telur. Memangnya gak ada yang masakin Aa ya?" tanya Mia.
"Hah? Gimana maksudnya Mi?" tanya Dion.
"Aa lagi bisulan kan?" tanya Mia.
"Apa hubungannya sama telur?" tanya Dion.
"Dulu kata ibu, Mia tidak boleh makan telur banyak-banyak nanti bisulan." jawab Mia.
"Aku gak makan telur kok Mi. Lagian kamu tahu dari mana sih aku bisulan? Mama bilang ke kamu ya?" tanya Dion.
"Gak bilang A, Mia gak sengaja dengar. Kok Aa gak bilang sama Mia sih? Aa takut Mia sedih ya?" tanya Mia.
Hah? Sedih? Aku gak bilang karena gengsi Mia. Masa iya aku harus pengumuman sama semua orang rumah, kalau aku lagi bisulan? Memangnya kamu sedih karena aku Bisulan? Kok aku malah bengek ya dengernya. Haha
Merasa tidak ada jawaban lain yang lebih pantas untuk Mia, maka Dion memilih untuk menggunakan jawaban yang diinginkan Mia.
"Iya, aku gak mau kalau kamu sedih. Tapi memangnya kamu sedih ya?" tanya Dion.
"Ya sedih dong mas. Masa iya suami lagi sakit gak sedih?" jawab Mia.
Haha.. Kamu beneran sedih karena aku sakit bisul Mia? Kamu ini benar-benar lucu. Aku jadi kangen sama kamu Mi. Mau cepat-cepat pulang dan peluk kamu. Bulat bundarku.
Sudah dua minggu Dion di Surabaya. Berkat kerja kerasnya, akhirnya Dion sudah menyelesaikan beberapa pekerjaannya lebih cepat. Hingga ia bisa pulang lebih awal.
"Mau aku bawain apa?" tanya Dion.
__ADS_1
"Ubi cilembu," jawab Mia dengan entengnya.
"Ubi cilembu?" tanya Dion.
"Iya," jawab Mia singkat.
"Mi, kamu gak mau aku bawain yang lain?" tanya Dion.
"Ya, Dion sedang berusaha melakukan negosiasi dengan Mia. Namun nampaknya usahanya sia-sia, karena Mia masih bersikukuh dengan keinginannya.
"Ya sudah kalau A Dion gak niat bawain oleh-oleh buat Mia, gak usah pura-pura nanya deh. Basa basi banget sih A," ucap Mia.
Tuuut.. Tuuuut.. Tuuut.
Sambungan teleponnya terputus. Dion menepuk dahinya dan menggelengkan kepalanya.
Nyesel aku nanya mau pesan apa. Niatnya aku mau jadi suami romantis. Nyatanya malah pusing sendiri. Pesan bunga kek, atau makanan khas surabaya. Lah ini, dia malah pesan ubi cilembu. Ngeselin banget sih Mia. Astaga Dioooon, sabaaaar. Ingat ibu hamil itu maunya yang Aneh-aneh. Gak masalah, asal jangan minta aku disunat lagi aja deh.
"Miaaaaa," teriak Dion.
Saat tiba di rumahnya, hal pertama yang ia lakukan adalah berteriak memanggil istrinya. Rindu itu sudah tidak tertahan.
"Iya A," jawab Mia.
Mia baru saja membuka pintu kamarnya, namun tak lama pintu itu tertutup kembali karena Dion mendorong Mia untuk masuk.
"Mana ubi cilembunya?" tanya Mia.
Baru saja aku sampai. Kamu tanya kabar aku dulu kan bisa. Ini langsung tanya ubi cilembu. Kalau sampai akh gak bawa ubi cilembu, udah pasti diusir dari kamar sih.
"Masih di mobil. Nanti di bawa sama sopir," jawab Dion.
"Ya ampun malas banget sih mas? Ketimbang bawa ubi cilembu aja gak mau. Gak sampai sepuluh kilo juga kan beli ubi cilembunya?" tanya Mia.
Wajah kesal Mia sudah mulai nampak nyata dalam pandangan Dion.
"Aku ambil sekarang. Tunggu sebentar!" ucap Dion.
Tidak lama, Dion kembali dengan membawa ubi cilembu.
"Waaaah, Mia pikir Aa gak bawa. Makasih ya A," ucap Mia.
CUP.
Kecupan manis mendarat di pipi Dion. Kemudian Mia segera meraih ubi cilembu pesanannya dan duduk di sofa. Matanya nampak terbuka lebar. Mia segera melahapnya.
"Aa mau?" tanya Mia dengan mulut penuh dengan ubi.
"Gak, kamu aja." Melihat wajah Mia berubah, Dion segera melanjutkan ucapannya. "Aku udah makan ubinya tadi," lanjut Dion.
"Jadi ubi ini amna kan?" tanya Mia.
"Aman dong," jawab Dion.
Tuh kan, apa aku bilang? Dia pasti curiga kalau makanannya beracun. Aku gak makan itu karena aku gak suka ubi Mia. Bisa-bisanya kamu buruk sangka sama suami sendiri.
"A, tahu gak? Dulu di tempat Mia, ada suami yang ngasih makanan beracun sama istrinya. Sampai-sampai istrinya meninggal di tempat. Ngeri ya?" tanya Mia.
Hah? Kok nyambung ya? Apa jangan-jangan dia bisa baca pikiran aku ya?
"A?" panggil Mia.
"Hemm," jawab Dion.
"Kok bengong sih?" tanya Mia.
"Cape Mi. Aku mau mandi dulu ya!" ucap Dion.
"Ya ampun, Mia sampai lupa. Iya A, nanti Mia siapin baju gantinya ya!" ucap Mia.
Dion mengangguk dan pergi ke kamar mandi. Dion memang cape. Tapi rasa capenya hilang seketika saat melihat Mia dengan perut besarnya. Apalagi saat melihat Mia makan ubi cilembu dengan sangat lahap. Ia membayangkan kalau kedua anak kembarnya pasti sedang rebutan ubi.
#################
Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.
Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
__ADS_1
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
Terima kasih..