
Pagi sekali Tuan Felix sudah bangun. Ia siap dengan kemeja dan dasinya. Keluar dari kamar dan duduk di atas kursi kecoklatan, di ruang keluarga. Tempat dimana ia berkumpul dengan keluarga Tuan Wira kemarin.
"Sayang, nanti aku pulang terlambat." Ucapan Tuan Wira jelas terdengar dalam telinga Tuan Felix.
Sayang? Seromantis itukah mereka walaupun sudah tidak muda lagi?
"Tuan Felix," sapa Nyonya Helen saat melihat pria Jerman itu sedang menatap mereka.
"Selamat pagi, Nyonya." Tuan Felix kembali menyapa Nyonya Helen.
Tak lama Mia dan Dion keluar untuk sarapan. Semuanya menuju ruang makan. Selama ada Tuan Felix, Dion tidak melepaskan genggaman tangan Mia. Ia ingin jika Tuan Felix tidak macam-macam karena Mia hanya miliknya.
"Mia, apakah ibumu mirip sekali denganmu?" tanya Tuan Felix.
Akhirnya Tuan Felix mengungkapkan rasa penasarannya yang belum terjawab dari Dion. Bagaimana Dion bisa menjawab jika ia sendiri belum sempat bertemu dengan Bu Ningsih. Mia memang pernah menunjukkan sebuah foto pada Dion, tapi itu foto lama dan sudah usang.
Mia mengangkat wajahnya dan mengelap bibirnya. Sebelum menjawab pertanyaan Tuan Felix, Mia menatap dulu wajah Dion. Ia meminta bantuan tapi sepertinya Dion tidak menangkap sinyal itu. Dion masih tertegun dengan pertanyaan itu. Kepalanya mulai berpikir jauh apa maksud dari pertanyaan itu.
"Ada yang bilang mirip, ada yang bilang tidak. Mungkin ada miripnya, Tuan. Meskipun tidak mirip sekali," ucap Mia.
Matanya mulai berkaca. Membahas tentang ibunya, ada kerinduan yang mencuat dalam dirinya. Ia merindukan Bu Ningsih. Seorang wanita kuat dan hebat yang selalu membuatnya bahagia.
"Apa aku membuatmu sedih?" tanya Tuan Felix.
"Ah tidak!" ucap Mia.
Mia segera membuang muka mengedipkan matanya dengan hati-hati agar air mata itu tak perlu jatuh di depan banyak orang. Dion yang mengerti kondisi Mia segera memintanya menemui Narendra dan Naura.
"Mereka sudah jadwal menyusu, kamu ke sana duluan. Nanti aku nyusul sebelum berangkat ya!" ucap Dion.
Padahal Dion sendiri tahu kalau jadwal menyusu Narendra dan Naura sudah lewat, namun ia membuat alasan itu agar Mia bisa meluapkan emosinya. Dion tahu Mia paling rapuh saat membahas ibunya.
Sesuai janji Dion, sebelum berangkat ke kantor, ia menemui Mia terlebih dahulu. Ia mencari ke ruangan bayi, tapi Mia tidak ada. Akhirnya Dion pergi ke kamar. Ya, Mia sedang menatap kosong. Duduk di sebuah kursi yang menghadap ke jendela membuat Dion hanya melihat punggung istrinya.
Tanpa melihat wajahnya, Dion tahu kalau Mia sedang menangis. Ia mendekat dan memeluk Mia dengan erat. Kecupan di pucuk kepala Mia membuat Mia memejamkan matanya dan mencoba menyudahi kesedihannya di pagi ini.
"Sayang, aku berangkat ya!" ucap Dion.
"A, terima kasih." Mie kembali mendekap tangan Dion yang melingkar di dadanya.
__ADS_1
Dion paham, istrinya masih butuh dirinya.
"Aku janji, nanti pulang kerja aku akan nemenin kamu. Janji!" ucap Dion mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya bersamaan.
Mia tersenyum. Ia tahu Dion harus segera pergi. Mia perlahan melepas tangan Dion dan mencium punggung tangannya, hal biasa ia lakukan ketika Dion akan berangkat bekerja. Namun bedanya kali ini Mia tidak mengantar Dion sampai ke pintu depan. Ia hanya melambaikan tangan tanpa bergerak dari kursinya.
Selepas kepergian Dion, Mia kembali mengusap pipinya karena bulir bening itu kembali berhamburan.
"Seandainya Ibu masih ada, ibu pasti bangga dan bahagai karena memiliki menantu seperti A Dion," gumam Mia.
Hari ini Mia hanya menghabiskan waktunya dengan Narendra dan Naura. Bahkan ketika mereka tidur, Mia sama sekali tidak meninggalkan mereka. Ia hanya mengajak kedua perawat itu mengobrol. Rumah nampak sepi karena Nyonya Helen ikut ke kantor untuk mendampingi Tuan Wira. Ada tamu yang akan menemuinya hari ini.
Perutnya yang sudah meminta jatah, membuatnya pergi sebentar dari ruangan bayinya. Ia mengisi dulu perutnya yang mulai terasa lapar. Dalam meja makan, pertanyaan Tuan Felix kembalu terngiang dalam ingatannya.
Mia mempercepat makan siangnya dan meninggalkan ruang makan. Tidak kembali ke kamar bayinya, Mia justru memilih masuk ke kamarnya. Ia duduk di atas meja rias. Mengamati wajahnya dalam pantulan cermin. Mengusap halus wajahnya. Bu Ningsih, sosok yang ada di kepala Mia memang mirip Mia. Tapi tidak untuk saat ini. Mia merasa pipinya terlalu gembil
"Bu, Mia rindu sama ibu." Tangannya kembali mengusap pipi yang mulai basah lagi.
Tangis Narendra yang begitu keras membuat Mia pergi ke toilet. Menunggu air dari kran mengalir menggenangi kedua telapak tangannya, lalu ia sapukan ke wajahnya yang memang sengaja ingin ia basuh. Ya memang sengaja, untuk menyembunyikan apa yang sudah terjadi. Jangan sampai ada yang tahu jika ia memang sudah menangis.
"Ini Mama sayang," ucap Mia saat masuk ke dalam ruangan bayinya.
"Nomor baru?" tanya Mia dengan kerutan di dahinya.
Masih dengan posisi menyusui, Mia melihat ponselnya yang menunjukkan adanya panggilan untuknya. Tapi Mia bingung ketika ada nomor baru yang masuk. Rasanya hanya beberapa orang saja yang tahu nomor ponselnya.
Setelah panggilan dari nomor baru itu tidak dijawab, Mia mendapat panggilan lagi dari Sindi. Sahabatnya yang sudah cukup lama tidak berkomunikasi dengannya.
"Halo Sin," sapa Mia.
"Mi, bagaimana keadaan Tuan Dion?" tanya Sindi dengan panik.
"Hah? Dia baik-baik saja. Ada apa kok kamu nanya kabar A Dion, Sin?" tanya Mia.
Lama tidak terdengar jawaban meskipun Mia sudah berkali-kali memanggil nama Sindi, sampai akhirnya panggilan berakhir begitu saja. Mia kembali menghubungi Sindi untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
Tidak ada jawaban. Namun Mia tidak berhenti sampai di sana. Ia teringat nomor baru yang menghubunginya. Ia menduga ini ada hubungannya. Mia segera menelepon kembali nomor itu dan ternyata ada suara yang tidak asing bagi Mia.
"Reza?" tanya Mia.
__ADS_1
"Mi, kamu gak tahu apa yang terjadi dengan Dion?" tanya Reza.
"Apa maksud kamu Za?" tanya Mia panik.
Mia memberi kode agar Narendra segera dibawa dari pangkuannya. Mia begitu terkejut saat mendengar informasi kalau Dion kecelakaan.
BRUGH.
Mia pingsan. Kedua perawat itu memanggil bantuan sampai akhirnya Mia diangkat ke kamarnya. Tak lama seorang dokter datang memeriksa Mia.
"Mana suami Mia? Dimana?" teriak Mia.
"Tenang Nyonya, tenang lah. Tuan sudah di rumah sakit dan akan segera pulang menemui Anda. Tunggulah dan jangan panik!" ucap Dokter.
"Mana mungkin Mia bisa tenang? Antarkan Mia ke rumah sakit," teriak Mia pada dokter.
"Baiklah. Anda bisa ikut dengan saya. Tapi tolong tenanglah. Jangan membuat Tuan panik hanya karena kepanikan Anda, Nyonya." Sekali lagi Dokter itu mengingatkan Mia.
"Jangan banyak bicara. Bisakah kita berangkat sekarang? Mia tahu apa yang harus Mia lakukan," ucap Mia.
Meskipun ada keraguan, tapi Dokter itu tidak punya pilihan lain kecuali mengajak Mia ke rumah sakit. Itu akan lebih baik dari pada Mia menerka-nerka apa yang terjadi pada suaminya.
Dalam mobil, Mia tidak berhenti menangis. Sesekali ia juga meminta dokter untuk mengemudi lebih cepat lagi. Tanpa penolakan, Dokter itu hanya mengiyakan ucapan Mia tanpa melakukannya. Apa boleh buat, saat ini jalanan memang sedang padat.
Mata Dokter itu beberapa kali melihat wanita yang duduk di sampingnya. Terlihat sangat khawatir, Dokter paham apa yang dirasakan oleh Mia. Meskipun pada kenyataannya Dion memang baik-baik saja. Suami Mia hanya mendapat luka luar dan tidak terlalu parah jika dibandingkan dengan Tuan Felix yang kehilangan banyak darah.
Keputusan Dion yang meminta seorang dokter untuk berjaga di dekat rumahnya memang tepat. Dion mungkin sudah membayangkan kejadiannya akan seperti ini. Kecelakaan yang dialami Dion tentu akan cepat menyebar dan pasti akan sampai juga ke telinga Mia. Hanya saja Dion tidak menyangka jika Mia bisa mengetahui berita kecelakaan itu dari Reza.
######################
Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
__ADS_1