Janda Bersegel

Janda Bersegel
Harus nambah cucu


__ADS_3

Perlahan kertas itu jatuh dari tangan Tuan Felix. Tangannya melebar untuk menyambut tubuh Mia. Dion menjauh dari Mia dan memberikan kesempatan dua insan yang dialiri darah yang sama itu berpelukan.


"Mia," ucap Tuan Felix saat tubuh Mia sudah berada dalam dekapannya.


Air mata pria dari negara di Jerman itu membasahi pucuk kepala Mia.


"Dimana ibumu? Dimana wanita yang sangat aku cintai itu Mia?" tanya Tuna Felix.


Tidak menjawab, Mia malah merekatkan pelukannya. Tangis Mia tidak hanya haru dan bahagia. Tapi kini, tangis sedih karena kerinduanpun sedang ia jalani.


"Mia," panggil Tuan Felix.


Berharap ia mendapat jawaban baik. Tapi dari sikap Mia, sepertinya Tuan Felix sudah bisa menyimpulkan jawaban Mia.


"Dion, benarkah?" tanya Tuan Felix.


Dion mengangguk. Ia paham apa yang Tuan Felix tanyakan.


"Jangan menangis Mia. Ada Papa di sini," ucap Tuan Felix.


Papa? Mendengar kata itu keluar dari bibir Tuan Felix, membuat Mia menjauhkan tubuhnya. Ia melihat ekspresi Tuan Felix.


"Papa?" tanya Mia.


"Apa kamu keberatan?" tanya Tuan Felix.


"Papa," ucap Mia sembari memeluk kembali Tuan Felix.


Senyum lebar mengembang di bibir Tuan Felix. Suasana haru itu disaksikan oleh hampir seisi rumah dan mampu menghipnotis yang melihatnya.


"Mia, terima kasih. Terima kasih sudah hadir dalam duniaku," ucap Tuan Felix.


Mia belum bisa berkata apapun. Ia hanya menangis dan sibuk dengan perasaannya sendiri. Ia bahkan sampai lupa kesalahannya pada Rian.


"Rian," panggil Mia.


Mia memanggil Rian saat matanya emnangkap Rian yang hendak menjauh. Mia ingin memperbaiki semuanya dengan Rian. Bagaimanapun, kecemburuannya pasti membuat Rian sakit. Belum lagi, Mia berhutang budi karena Rian sudah banyak membantu ayah kandungnya.


Rian adalah orang yang menyumbangkan darahnya, hingga bisa menyelamatkan Tuan Felix dari masa krisis saat itu. Belum lagi Rian membantu Tuan Felix untuk benar-benar sembuh dari sakitnya hingga ayah kandung Mia itu bisa kembali berjalan.


"Iya Kak," jawab Rian.


Rian menghentikan langkahnya dan tersenyum. Tidak berani mendekat, Rian tetap berada pada posisinya.


"Mau kemana?" tanya Mia.


"Ke kamar Kak," jawab Rian.


"Sini!" ucap Mia.


Mia melambaikan tangannya pada Rian agar anak itu mendekat. Rian masih diam dan menatap Tuan Felix. Setelah mendapat anggukan kepala dari Tuan Felix, Rian mulai melangkah. Mendekat pada Mia dengan hati yang penuh tanya. Untuk apa Mia memanggilny?"


"Rian," ucap Mia.


Setelah Rian mendekat, Mia mendekap erat tubuh Rian.


"Kak Mia," ucap Rian.


Matanya berlinang, tangannya mulai memeluk kembali wanita yang tengah memeluknya.


"Maafkan aku," ucap Mia.


"Kakak gak salah. Mungkin hanya karena aku tidak tahu kenyataan ini saja, hingga sikapku justru melukai Kakak. Aku yang seharusnya meminta maaf," ucap Rian.


Mia menggeleng.


"Aku yang egois. Aku yang belum siap dengan kenyataan ini. Ternyata menyimpan semua ini justru membuatku semakin sakit dan menyakiti hati orang lain," ucap Mia.


"Aku mengerti Kak. Selamat ya!" ucap Rian dengan gemetar.


Mia melepaskan pelukannya. Tatapan matanya beradu dengan Rian. Bibir Rian yang tersenyum namun bola matanya menunjukkan kesedihan. Ia memegang bahu Rian dengan erat. Sedikit mengguncang tubuh Rian tanpa melukainya.

__ADS_1


"Jangan sedih. Papaku adalah Papa kamu juga," ucap Mia.


"Iya, kamu juga anakku. Dalam tubuhku ada darahmu. Sini Rian," ucap Tuan Felix.


Rian mendekat dan memeluk Tuan Felix. Tangan Tuan Felix meminta Mia agar Mia juga memeluk Rian. Kini Mia dan Rian ada dalam pelukan Tuan Felix.


Nyonya Helen mengusap matanya. Dengan romantis, Tuan Wira merangkul bahu istrinya agar bersandar padanya.


Dion celingukan melihat semuanya berpelukan. Ia melihat Sindi dan tersenyum padanya. Dion mengerutkan keningnya saat Sindi melebarkan tangannya pada Dion. Mia yang melihat kejadian itu segera melepaskan pelukan Tuan Felix dan memukul tangan Sindi.


"Aw," teriak Sindi.


"Mau ngapain kamu, Sin?" tanya Mia.


"Ya aku kan cuma kasihan lihat Tuan Dion gak ada yang meluk. Kali aja butuh orang, aku kan kosong." Sindi terkekeh dengan ucapannya sendiri.


"Sembarangan. Ini punya Mia," ucap Mia sembari memeluk Dion.


Tawa bahagia pun terdengar menggema dari ruangan itu. Para pekerja bubar dan kembali dengan tugasnya masing-masing. Mia meminta koper itu disimpan kembali ke kamar Tuan Felix dan Rian.


"Aku akan tetap pergi dari rumah ini," ucap Tuan Felix.


Mata Mia menatap ayah kandungnya itu dengan tajam. Seolah penolakan tengah ia utarakan melalui sorot matanya.


"Papa mau ke makam ibu kamu. Bisa kamu kirim alamatnya?" ucap Tuan Felix.


Tiba-tiba tatapan itu melemah dan beralih menatap Dion. Ia memelas, meminta agar suaminya mengizinkan Mia untuk ikut dengan Tuan Felix.


"Kamu antar saja," ucap Dion pada Mia.


Mia senang saat mendapat kalimat itu. Dion paham apa yang Mia mau. Namun Tuan Felix menolaknya.


"Aku tidak mau cucuku kamu tinggalkan, Mi. Tetaplah di sini," ucap Tuan Felix.


Raut wajah Mia berubah seketika. Kini ia terlihat kecewa karena tidak diizinkan untuk melihat makam ibunya.


"Tapi A Dion juga bolehin Mia ke Bandung kok," ucap Mia.


"Tapi Mia juga mau ketemu sama Ibu," ucap Mia.


"Mia, kamu bisa menemui ibu kamu dalam setiap doa dan hatimu. Cucuku jauh lebih membutuhkanmu. Mereka butuh kamu," ucap Tuan Felix.


"Hey, berapa kali kau katakan cucuku. Telingaku terganggu dengan ucapanmu. Mereka punya nama dan kamu tidak perlu memanggilnya dengan sebutan cucuku," ucap Tuan Wira.


Nyonya Helen tersenyum senang saat protesnya disuarakan oleh suaminya sendiri tanpa memberinya kode.


"Dimana salahnya? Mereka memang cucuku juga kan?" tanya Tuan Felix.


"Kami yang lebih dulu bersama mereka," ucap Tuan Wira.


"Aku tahu itu. Tapi semua itu tidak bisa mengubah kenyataan kalau mereka juga cucuku. Jadi aku berhak dengan sebutan itu," ucap Tuan Felix.


"Pah, udah dong." Mia mencoba menghentikan perdebatan keduanya.


"Mia, kok bela dia? Papa kan yang duluan jadi Papa kamu. Kamu lupain Papa karena dia?" ucap Tuan Wira.


Tuan Felix senyum penuh kemenangan saat melihat Mia membelanya.


"Bukan begitu Pa. Mia cuma gak mau kalian ribut-ribut. Kalian berdua sama-sama Papanya Mia. Berarti Narendra dan Naura juga cucu Papa Wira sama Papa Felix," ucap Mia.


"Kalau begitu Mama gak kebagian dong," ucap Nyonya Helen.


"Hah?" tanya Mia.


"Ya kan bisa gantian," jawab Dion.


"Kalau gendongnya mau barengan gimana?" tanya Nyonya Helen.


"Ya Mama gendong aku aja. Aku juga gak kalah lucu kok dari Narendra dan Naura," jawab Dion.


"Ya, lucunya sih mungkin bisa ditoleransi ya. Tapi timbangannya beda. Kamu terlalu berat," ucap Nyonya Helen.

__ADS_1


"Aku udah kurusan lagi kok Ma," ucap Dion sembari mengusap dan menahan napas agar perutnya terlihat kecil.


"Perut bisa ditahan begitu biar kelihatan kecil, tapi dosa tetap ngaruh sama timbangan," goda Tuan Wira.


"Aduh, apa kabar Papa. Perut besar tambah dosa besar. Kalau dijumlah, kira-kira hasilnya jadi tak terhingga." Dion tersenyum puas saat melihat Tuan Wira kesal padanya.


"Eh, kamu kok malah ngejek Papa sih? Kamu mau ikutan Mia juga buat belain dia?" tanya Tuan Wira menunjuk Tuan Felix.


"Pa, Mia ga belain Papa Felix kok," ucap Mia.


"Ya sudah, kita ambil jalan tengahnya aja. Mia, kamu hamil lagi, biar nanti kita kebagian saling satu. Jadi gak perlu rebutan cucu begini," ucap Nyonya Helen.


Mia membelalakkan matanya mendengar ucapan ibu mertuanya. Sementara Dion nampak tersenyum lebar.


"Kenapa A?" tanya Mia.


"Kamu dengar apa kata Mama kan?" tanya Dion.


"Terus?" tanya Mia.


"Sikaaaaat," ucap Dion.


Dion menggendong Mia dan membawanya ke kamar.


"Hey, mau kemana kalian?" teriak Nyonya Helen.


"Bikin cucu lagi buat kalian. Biar gak rebutan cucu lagi," jawab Dion.


Mereka hanya saling menatap satu sama lain dan tertawa bersama saat melihat Dion benar-benar membawa Mia ke kamar. Sementara Sindi menutup telinga Rian dan mengajaknya pergi dari sana.


Tak lama tiga orang yang rebutan cucu juga ikut bubar. Meskipun perdebatan itu terjadi dan akan lebih sering terjadi, sebelum Mia hamil lagi. Tapi semua itu tidak sampai membuat hubungan persahabatan antar keduanya jadi retak.


Hubungan persahabatan itu kini semakin erat dengan adanya hubungan besan antar keduanya. Tuan Wira tersenyum saat mengingat semua kenyataan ini.


"Papa kenapa sih?" tanya Nyonya Helen.


"Dunia kok sempit banget sih Ma?" tanya Tuan Wira.


"Iya Pa. Gak nyangka ya kalau ternyata Mia itu anak kandungnya teman Papa. Tapi ada baiknya, Mia jadi benar-benar bisa merasakan kasih sayang ayah kandungnya. Mia sudah bertemu dengan kebahagiaannya Pa," ucap Nyonya Helen.


"Iya. Semuanya terasa seperti mimpi Ma. Papa sampai kaget loh," ucap Tuan Wira.


"Tuan Felix pasti bahagia banget ya!" ucap Nyonya Helen.


Dan memang itulah kenyataannya. Tuan Felix nampak sedang tersenyum bahagia di dalam kamarnya. Ia membuka kembali pintu lemari dan membawa foto Mia.


"Ningsih, aku bertemu dengan anak kita. Meskipun tidak ada kesempatan untuk bisa bertemu denganmu, tapi setidaknya aku bisa melihatmu setiap kali bertemu dengan Mia," ucap Tuan Felix.


Matanya mulai berkaca saat mengingat kenyataan bahwa cintanya sudah abadi dibawa ke surga oleh Ningsih. Ia memeluk foto Mia dan merasakan kehangatan dalam foto itu. Ia yakin jika wanita yang ada di surga itu tengah melihat kebahagiaannya.


Ketukan pintu membuat Tuan Felix mengucek matanya dan menyimpan foto Mia kembali ke dalam lemari.


"Sebentar," ucap Tuan Felix.


Pintu terbuka, Tuan Felix melihat Rian dan Sindi di depan kamarnya.


"Ada apa?" tanya Tuan Felix.


Ia terkejut saat melihat Rian dan Sindi dengan mata sembab dan merah. Mereka tidak menjawab pertanyaan Tuan Felix.


"Masuk!" ajak Tuan Felix.


######################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍

__ADS_1


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


__ADS_2