Janda Bersegel

Janda Bersegel
Dinner dengan hantu


__ADS_3

Kembali ke Jakarta adalah harapan Mia. Bukan tidak betah di Bandung. Tapi selama ini, memang lingkungannya di Bandung cenderung selalu memojokkan Mia. Hidup Mia terlalu buruk bagi mereka. Padahal mereka tidak tahu apa yang Mia alami dan jalani, namun mereka menghakimi Mia seolah-ah mereka tahu segalanya.


"Mi, jangan banyak pikiran. Itu hanya akan merugikanmu. Mereka ngomongnya gak pakai hati, masa kita nerimanya pakai hati? Gak adil dong. Udah, terima pakai telinga aja. Jangan libatkan hati. Kasian bayi kembar ini," ucap Nyonya Helen mengusap perut Mia.


Benar! Ucapan Nyonya Helen memang selalu benar tentang itu. Mungkin Mia harus banyak belajar dari Nyonya Helen.


"Iya Ma," jawab Mia.


Hanya iya, karena Mia merasa ia sudah tidak punya kata-kata lagi untuk menjawab ucapan Nyonya Helen.


"Ayo dong. Mana Mia yang selalu happy?" tanya Nyonya Helen.


Mia merasa kalau Nyonya Helen masih belum berhenti berusaha untuk mengembalikan mood Mia. Padahal hanya satu pertanyaan, tapi pertanyaan itu terus terngiang di kepala Mia.


Mia tersenyum lebar dan memeluk Nyonya Helen. Sepertinya Mia mulai sesikit menyadari semua ucapan mertuanya itu.


"Sayang, kamu istirahat saja!" ucap Dion.


Dion merangkul istrinya dan mengajaknya ke dalam kamar. Menyiapkan baju ganti dan membantu Mia berbaring di atas ranjangnya. Rasanya ini hal paling romantis untuk Mia. Bukan karena Mia ingin dilayani, tapi saat Mia sedang benar-benar terpuruk, Dion menjadi orang yang jauh lebih peduli.


"A, terima kasih ya! Tapi Mia juga minta maaf," ucap Mia.


"Kamu ini gimana sih? Katanya terima kasih, tapi kok minta maaf. Kamu kenapa sih?" tanya Dion.


"Terima kasih karena Aa udah baik banget dan nerima Mia apa adanya. Tapi Mia juga minta maaf, kalau Aa tersinggung dengan pertanyaan tetangga Mia tadi." Mia menunduk.


Berusaha menyembunyikan kesedihannya. Mengumpulkan kekuatannya agar sanggup menahan air mata yang terus mendorongnya untuk keluar.


"Sayang," ucap Dion.


Tangan Dion mengangkat wajah Mia.


"Aa pasti malu kan karena menikah dengan janda dua kali seperti Mia?" tanya Mia.


"Kalau aku malu, sudah dari dulu aku ninggalin kamu. Aku gak malu," jawab Dion.


"Ya itu karena dalam surat perjanjian yang Mia buat, minta jangan diceraikan. Iya kan?" tanya Mia.


"Kan suratnya juga sudah aku robek," jawab Dion.


"Walaupun surat perjanjiannya sudah Aa robek, tapi perjanjiannya masih tetap berlaku. Kalau sampai Aa menceraikan Mia, Mia akan tetap bunuh diri. Hantu Mia akan gentayangan dan Aa yang akan Mia ganggu," ucap Mia.


"Dih, ada orang yang berniat jadi hantu. Ada-ada aja kamu Mi," ucap Dion.


"Tapi kan kalau yang bunuh diri nanti arwahnya penasaran, terus gentayangan. Aa pasti takut kan kalau Mia menghantui Aa setiap malam?" tanya Mia.


"Kamu kalau jadi hantu pasti tetap cantik. Mana ada aku takut. Kalau kamu jadi hantu, nanti aku ajak kamu buat dinner di bawah pohon beringin. Aku buatkan lilin cantik dan taburan bunga. Biar romantis," jawab Dion.


"Ih Aa, jadi kalau Mia udah meninggal Aa mau selingkuh sama hantu? Aa tuh kebangetan ya? Mia masih ada aja, udah kepikiran buat selingkuh. Aa jahat banget sih sama Mia?" ucap Mia.


Hey, apa ini? Bagaimana mungkin Mia mengatakan semua kekonyolan ini? Mia, kamu gak lagi mabok perjalanan kan? Apa jangan-jangan kepala kamu oleng karena jalanan ke kampung kamu yang amburadul itu?


"Aa, kok gak jawab?" tanya Mia.


"Apa yang harus aku jawab Mia?" tanya Dion.


"Pertanyaan Mia. Aa udah kepikiran selingkuh? Aa bisa dengan mudah melupakan Mia kalau Mia sudah meninggal?" tanya Mia.


Tuhaaaan, maafkan hamba. Tapi kali ini hamba tidak kuat. Seandainya ada kamera, detik ini juga aku lambaikan tangan. Ampun deh.


"Mia, kan aku bilang kalau kamu yang jadi hantunya. Jadi aku gak selingkuh. Aku masih sama kamu dong," jawab Dion.


"Oh, jadi Aa nyumpahin Mia buat jadi hantu ya? Orang kalau meninggal itu di doakan yang baik-baik. Ini malah berharap Mia jadi hantu. Mia gak ngerti lagi sama cara berpikir Aa," ucap Mia.


Maaaak, kenapa jadi begini? Perasaan dia yang pertama bilang deh soal hantu. Kenapa jadi aku yang salah sih? Aku baru paham kalau pria selalu salah. Ini waktunya. Aku mengerti sekarang.


"Mia, kan kamu yang bilang tentang hantu. Mana mungkin aku doain kamu jadi hantu. Aku pasti selalu berdoa yang terbaik buat kamu," ucap Dion.


"Jadi Aa doain biar Mia masuk surga?" tanya Mia.


"Iya dong," jawab Dion dengan senyum yang lebar.


"Ish, Aa tuh ya! Jahat banget sih. Orang tuh kalau doain biar panjang umur, ini doain biar cepat meninggal. Jahat!" ucap Mia.


Eh gimana? Jahat?


"Siapa yang bilang begitu? Aku sama sekali gak ngomong begitu Mi," ucap Dion membela diri.

__ADS_1


"Jelas-jelas Aa bilang doain Mia biar masuk surga," ucap Mia kesal.


"Ya kan aku doain biar masuk surga, bukan cepat meninggal." Dion masih membela diri.


"Kalau mau masuk surga itu harus meninggal dulu. Berarti Aa doain Mia cepat meninggal," ucap Mia.


"Ya ampun Mi, gak gitu dong konsepnya." Dion meraih tangan Mia.


Mia mengibaskan tangannya.


"Aa jahat. Mia kesel banget," ucap Mia.


Mia memejamkan matanya dan menarik selimut hingga batas dada. Mia juga menutup kedua telinganya dengan bantal, antisipasi agar Dion tidak mengoceh lagi.


Kamu yang ngomong tentang hantu kok jadi aku yang salah? Bahasannya jadi melebar kemana-mana. Suka-suka kamu lah Mi. Pusing aku. Untung aja kamu hamil. Mungkin semua karena hormon. Hormooooon, kenapa sih kamu bikin masalah dalam rumah tangga aku?


Untuk merayu dan mengembalikan mood Mia, Dion berusaha untuk bicara selembut mungkin. Berharap agar Mia mengerti maksudnya dan kembali ceria. Namun sepertinya gagal. Mia tetap marah dan bicara seolah-olah ia yang terdzolimi. Hingga akhirnya ia tidur meninggalkan Dion yang masih berpikir keras. Berpikir bagaimana mencari stok sabar. Ia takut kehilangan kesabaran untuk menghadapi Mia.


Dion mengacak rambutnya dengan kasar. Ia turun dari ranjang dan keluar dari kamar. Mia yang belum tidur membuka matanya kemudian bibirnya langsung cemberut. Merasa kesal dengan sikap Dion. Mia berharap kalau Dion akan membujuk dan merayunya, namun Dion malah keluar dari kamar.


Kenapa sih laki-laki itu gak peka? Heran deh.


Seandainya Dion mendengar isi hati Mia, ia pasti sudah tertawa keras. Sepertinya ada kesalahfahaman yang sangat besar diantara mereka. Mungkin usia pernikahan yang belum lama, membuat keduanya belum saling memahami. Apalagi keadaan Mia yang sedang mengandung. Tentu membuat emosi Mia tidak stabil.


Hanya sepuluh menit, Dion kembali ke kamarnya membawa secangkir teh. Ia melihat Mia tidur. Memang tidak pasti, karena Mia membelakangi pintu. Namun, saat tidak merespon ketika Dion masuk ke dalam kamar, membuat Dion menyimpulkan kalau Mia memang sudah tidur.


Dion tidak membangunkan Mia. Ia tidak ingin mengganggu Mia. Apalagi setelah perjalanan Bandung-Jakarta, Mia pasti lelah. Dion memilih untuk memainkan ponselnya sembari menikmati secangkir teh hangat yang dibawanya ke kamar.


Setelah twh hangatnya habis, Dion ke kamar mandi. Di saat yang sama pula, Mia bangun dan melihat ke atas nakas.


"Dasar tidak pengertian. Minum teh kok sendiri. Gak ada gitu niat buat bikinin Mia susu atau teh hangat yang begitu? Kesel deh," gumam Mia.


Setelah mendengar gemericik air itu berhenti, Mia segera kembali ke posisinya semula. Dion membaringkan tubuhnya di samping Mia.


CUP.


"Selamat tidur, sayang." Bisik Dion.


Kecupan mendarat di kepala Mia. Usapan halus tangan Dion, membuat Mia tersenyum senang. Sepertinya hormonnya sudah kembali normal. Bahkan ketika Dion tidur, Mia justru berbalik dan memeluk Dion. Matanya masih terpejam. Rasanya gengsi kalau Dion tahu Mia hanya pura-pura tidur. Hingga Mia melanjutkan pura-pura tidurnya sampai terlelap.


Sudah waktunya Dion kembali ke Surabaya. Seperti biasa, air mata Mia mengantarkan keberangkatan Dion. Hanya saja, kini rasanya tidak seberat pertama kali.


"Mia, Tuan Dion itu tidak pernah selingkuh Jangankan selingkuh, mana ada wanita yang bisa dekat-dekat dengan suami kamu. Tuan Dion itu terkenal jutek dan tidak pernah bicara dengan orang sembarangan. Jadi kamu jangan takut!" ucap Sindi.


Wajar jika Mia memiliki rasa takut yang berlebih, karena dimatanya Dion adalah sosok pria sempurna. Wanita mana yang tidak tertarik dengan sosok Dion? Pria tampan, kaya, baik, sopan, dan selalu wangi.


Sopan? Ah tidak! Ada sedikit songongnya sih. Belum lagi Aa kan jutek kalau sama orang baru. Tenang Mia. Sindi benar. Kamu harus percaya sama suamimu sendiri.


"Terima kasih ya, Sin." Mia mengakhiri panggilannya.


Mia mengehela nafas panjang. Ia merasa waktunya tidak bermanfaat. Mencoba mencari kegiatan di luar kamar, Mia menemukan sebuah berkas di atas meja.


Mia melihat ke kiri dan ke kanan. Tidak ada siapapun.


Berkas apa ini?


Mia duduk dan meraih berkas itu. Membukanya dan membacanya. Bibirnya tersenyum. Tiba-tiba saja kepala Mia kembali mengingat kejadian lalu. Saat ia selalu berkutat dengan berkas-berkas seperti yang sedang ia baca. Kemudian tak lama, kepalanya mengangguk-angguk. Mia mulai mempelajari hal itu lagi. Ia yang hampir lupa, kini menjadi ingat kembali.


"Kamu mengerti berkas itu?" tanya Tuan Wira.


Sebenarnya sudah lumayan lama Tuan Wira melihat apa yang dilakukan oleh Mia. Ia mengamati semuanya. Hingga saat Mia membaca dengan begitu serius lalu mengangguk-anggukkan kepalanya, Tuan Wira tidak sanggup lagi menahan rasa penasarannya.


"Eh, Papa. Maaf ya karena Mia sudah lancang. Mia tidak tahu kalau ini berkas Papa. Tapi karena sudah terlanjur membuka, Mia malah tertarik membacanya. Maaf," ucap Mia.


"Kamu belum menjawab pertanyaan Papa. Apa kamu mengerti?" tanya Tuan Wira.


"Hampir lupa, tapi setelah baca kayaknya sih Mia ngerti Pa. Dulu kan Mia juga mainannya yang beginian," jawab Mia.


"Tapi sekarang mainannya sudah begituan ya Mi?" tanya Nyonya Helen yang tiba-tiba muncul.


Pipi Mia seketika merah merona. Ia malu saat ibu mertuanya menggodanya tentang hal itu.


"Ma, jangan mulai deh. Kasihan, ituannya lagi gak ada." Tuan Wira ikut menggoda Mia.


"Dih, kan bisa secara virtual," jawab Nyonya Helen.


"Loh, kan cuma dilihat Ma. Gak bisa diraba dan diterawang," ucap Tuan Wira.

__ADS_1


"Ngecek uang palsu kali ah dilihat, diraba, diterawang. Kalian lagi ngapain sih?" tanya Nyonya Helen.


Tuan Wira menjelaskan semuanya. Nyonya Helen menatap Mia dengan penuh tanya.


"Kamu beneran ngerti Mia?" tanya Nyonya Helen.


"Ya lumayan sih Ma," jawab Mia.


"Makanya Mama duduk deh. Sini!" Tuan Wira menepuk kursi di sebelahnya. "Kita bongkar tentang Mia," lanjutnya.


"Hebat kamu," ucap Tuan Wira sambil bertepuk tangan.


"Ah, biasa aja Pa," ucap Mia.


Malu-malu Mia mendengar pujian dari ayah mertuanya. Akhirnya ada juga yang bisa ia banggakan dari dirinya.


"Mia, kamu top markotop. Keren deh pokoknya. Dion beruntung banget bisa dapetin kamu. Kalau sampai si Dion menyia-nyiakan kamu, mama sendiri yang bakal cari calon buat kamu. Biar si Dion tahu rasa," ucap Nyonya Helen.


"Ma, nyebut Ma. Istigfar. Begitu banget sih fikirannya sama anak sendiri? Dion pasti setia kok sama Mia. Turunan Papa itu gak mungkin gagal. Bibit unggul tuh," ucap Tuan Wira.


Mia hanya bisa tertawa menyaksikan perdebatan ayah dan ibu mertuanya. Meskipun tidak ada Dion, tapi Mia tidam merasa sendiri. Ia benar-benar berada dalam keluarga yang menerimanya. Rasa syukur itu terus muncul dalam diri Mia.


"Mi, Papa dan Mama sebenarnya mau izin ke luar negeri dulu. Kamu gak apa-apa kan?" tanya Tuan Wira.


Izin? Haruskah? Sepenting itukah Mia dalam hidup kalian, Ma, Pa?


"Mia? Kok malah ngelamun sih?" tanya Nyonya Helen. "Kamu keberatan ya?" lanjutnya.


"Eh, gak Ma. Gak keberatan. Mama dan Papa boleh berangkat kemanapun dan kapanpun. Kenapa harus izin sama Mia?" tanya Mia.


"Loh, kamu kan anak Mama dan Papa. Bagaimana mungkin kalau Mama gak izin sama kamu," ucap Nyonya Helen.


"Memangnya Mama izin sama Dion?" tanya Tuan Wira.


"Gak," jawab Nyonya Helen.


"Berarti Dion bukan anak Mama dong kalau gitu," ucap Tuan Wira sambil menahan tawanya.


"Ish si Papa suka ngeselin deh. Iya, nanti Mama bilang kok sama Dion." ucap Nyonya Helen.


Tentu, tentu Nyonya Helen akan meminta izin pada Dion. Dan mungkin ini menjadi hal pertama kalinya dalam sejarah. Biasanya Nyonya Helen akan memberi tahu Dion saat ia sudah berada di luar negeri, atau bahkan tidak memberi tahu Dion sama sekali. Tapi kali ini, Nyonya Helen harus memberi tahu Dion sebelum berangkat. Karena ia akan meninggalkan Mia.


Sempat kecewa, namun akhirnya Dion mengiyakan. Tentu dengan syarat. Dion sampai menempatkan satu orang pelayan wanita untuk menemami Mia kemanapun Mia pergi bahkan di dalam kamarnya. Dion juga menempatkan satu orang pria bertubuh kekar yang berjaga di depan kamar istrinya. Ia memastikan kalau Mia tidak merasa kesepian dam tetap aman selama kedua orang tuanya berada di luar negeri.


"Siap Dion. Kamu jangan khawatir. Mama lebih tahu semua itu," ucap Nyonya Helen.


Dua buah koper besar nampak dibawa oleh sopir pribadi Tuan Wira.


"Ma, ngapain sih bawa barang banyak banget? Kita di sana gak lama. Lagi pula Mama kalau di sana juga pasti belanja. Jadi jangan bawa banyak-banyak kan bisa, Ma." Bujuk dan rayu Tuan Wira masih terjadi saat mereka hendak berangkat.


"Gak bisa. Udah, Papa gak bakal ngerti soal perempuan. Urusan belanja, Papa jangan ikut pusing. Itu urusan Mama," ucap Nyonya Helen.


Aduh, enak banget yang ngomong. Renyah gitu ya di dengarnya. Padahal yang cari duitnya juga Papa. Maaa, Maaaa, bisa aja kalau ngomong. Tapi tahaaaan. Jangan sampai didebat. Panjang nih urusannya. Bisa-bisa ketinggalan pesawat, bahaya.


Setelah pamitan, Tuan Wira dan Nyonya Helen masuk ke dalam mobil. Mia melambaikan tangan dan kembali masuk ke dalam rumah. Saat Mia berjalan ke kamarnya, Mia melihat berkas itu masih ada di atas rak.


"Papa? Kenapa gegabah sekali," ucap Mia.


Dengan cepat Mia menelepon Nyonya Helen.


"Mia ada apa? Belum juga satu jam, kamu udah kangen aja," ucap Nyonya Helen.


"Eh, Mama. Papa ada?" tanya Mia.


"Papa? Jadi kamu kangen sama Papa?" tanya Nyonya Helen.


"Bukan Ma. Ini Mia mau memberi tahu kalau berkas Papa ketinggalan," ucap Mia.


Nyonya Helen memberikan ponselnya pada Tuan Wira. Akhirnya Mia tahu kalau berkas itu memang sengaja disimpan di sana, karena akan dibawa oleh orang suruhannya. Berkas itu akan digunakan untuk meeting penting, dengan perusahaan yang siap bekerja sama dengan perusahaan cabang milik Tuan Wira.


#################


Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.


Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍

__ADS_1


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


Terima kasih..


__ADS_2