Janda Bersegel

Janda Bersegel
Tapi dia penjahat


__ADS_3

"Nyonya, apa Anda baik-baik saja?" tanya Dokter.


Mia diam dan tidak merespon. Matanya masih menatap erat kertas yang ada dalam genggamannya.


"Nyonya," panggil Dokter lagi.


sedikit mengguncang bahu Mia membuat wanita itu tersadar. Mia menatap dokter tanpa berucap apapun.


"Nyonya, apa Anda baik-baik saja?" tanya Dokter.


"Ya, i-iya. Saya permisi," jawab Mia.


Mia segera keluar dari ruangan dokter. Ia pergi dengan mata yang sudah berlinang. Ia tahan sebisanya agar tidak membasahi pipinya. Rasanya ia sudah lelah beberapa hari terakhir ini mengusap air mata yang sering sekali membasahi pipinya.


Selepas kepergian Mia, dokter menghubungi Dion untuk mengabari kalau Mia sudah mengambil hasil test DNA itu. Dion cukup terkejut karena tidak menyangka Mia bisa pergi tanpa mengabarinya.


"Kenapa tidak kau tahan?" ucap Dion kesal.


"Nyonya bilang akan segera pulang ke rumah," jawab Dokter.


Dion segera meninggalkan kantor. Mencari Mia dan memastikan kalau istrinya baik-baik saja.


"Mia," panggil Dion.


"Tuan," sapa Sindi.


"Kamu sudah sampai? Dimana Mia?" tanya Dion.


"Mia? Saya dari tadi belum bertemu Mia. Katanya Mia lagi ke mall," jawab Sindi.


"Ke mall?" tanya Dion.


Dion mulai berpikir jika Mia tidak sedang baik-baik saja. Ia kembali meraih ponselnya dan menghubungi Mia. Masih tidak diangkat. Kini ia menghubungi dokter dan menanyakan jam berapa Mia keluar dari rumah sakit.


"Seharusnya Mia sudah sampai di rumah. Kemana dia?" teriak Dion.


PRANGGGG....


Sebuah gelas berhamburan karena beradu dengan dinding ruangan. Tangan Dion mengepal. Amarahnya nampak jelas dan tak bisa dielakkan.


Dion menghubungi sopir yang mengantar Mia. Tapi sayangnya teleponnya juga diabaikan.


"Kurang ajar. Berani-beraninya dia tidak menjawab panggilanku," teriak Dion.


Kemarahan Dion mengundang orang rumah untuk berkumpul dan berusaha untuk menenangkan Dion.


"Dion," panggil Nyonya Helen.


Secepat kilat Nyonya Helen berlari dan memeluk Dion.


"Mia, Ma. Mia gak ada. Kemana dia?" tanya Dion dengan suara yang mulai melemah.


"Tenang sayang, tenang. Yakinlah kalau Mia tidak akan meninggalkan kamu dan anak-anak. Dia hanya butuh waktu," ucap Nyonya Helen menenangkan Dion.


"Tapi kemana Ma? Mia membuat aku khawatir," ucap Dion.


"Mungkin Mia ke makam bapaknya?" tanya Sindi.


"Bapak? Ya, mungkin Kak Mia ke sana," ucap Rian.


"Aku ke sana sekarang," ucap Dion.


"Aku ikut," ucap Rian.


"Jangan! Kamu di sini saja temani Tuan Felix," ucap Dion.


"Baik," jawab Rian dengan kecewa.

__ADS_1


Padahal Rian sangat khawatir dan ingin tahu keadaan Mia saat ini.


"Sindi, kamu ikut denganku!" ajak Dion.


"Baik Tuan," ucap Sindi.


"Ayo sayang!" ajak Nyonya Helen.


Dion segera berangkat ke makam Pak Baskoro, ditemani Nyonya Helen dan Sindi. Benar dugaan Sindi, Mia tengah menangis di atas pusara Pak Baskoro.


"Jangan!" cegah Nyonya Helen.


Nyonya Helen menahan tangan Dion, hingga langkahnya terhenti.


"Kenapa Ma? Mia butuh aku. Dia harus tahu kalau dia tidak sendirian," ucap Dion.


"Bukan begitu. Biarkan Mia meluapkan dulu apa yang mengganjal di hatinya," ucap Nyonya Helen.


Dion dan Nyonya Helen berada tidak jauh dari tempat Mia menangis. Sindi ikut menangis saat melihat sahabatnya itu tengah sesenggukan seorang diri di sebuah makam.


"Kenapa kamu ikut menangis?" tanya Dion.


"Maafkan saya Tuan. Tapi saya sedih melihat Mia seperti itu. Yang saya tahu, Mia adalah orang yang selalu ceria. Sesakit apapun itu, Mia tidak pernah menunjukkannya pada orang lain." Sindi mengusap sudut matanya.


Jadi seperti itu? Itukah alasan Mia tidak memberi tahu siapapun termasuk aku? Mia, kamu tidak sendiri. Aku siap menemani kesedihanmu.


"Tuan, sebaiknya Anda temani Mia. Kasihan dia. Aku tidak tega," ucap Sindi.


"Ya sudah Di, kamu ke sana saja. Lagi pula sekarang Mia terlihat lebih tenang," ucap Nyonya Helen.


Dion mengangguk dan menghampiri Mia.


"Sayang," panggil Dion.


Mia mengangkat wajahnya dan menghambur memeluk suaminya.


"A," ucap Mia dengan bibirnya yang bergetar.


"Kamu gak sendiri Mi. Ada aku," ucap Dion.


"A, kenapa dunia ini sempit? Mia benci semuanya. Mia benci," ucap Mia.


Jadi Tuan Felix benar ayah kandung Mia?


"Apapun yang terjadi, aku ada untukmu. Itu saja yang harus kamu ingat Mi," ucap Dion.


"Meskipun Mia anak haram?" tanya Mia.


Mia memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya dan menyaksikan ekspresi Dion atas pertanyaannya. Dion memegang wajah Mia dengan kedua tangannya.


"Mia, tidak ada anak haram. Tidak satupun manusia yang ingin dilahirkan tanpa cinta. Bukankah seharusnya kamu bersyukur karena sudah bertemu dengan ayah kandungmu?" ucap Dion.


"Bersyukur?" tanya Mia dengan wajah yang sinis.


"Mi, maafkan aku kalau kamu menyakitimu dengan ucapanku. Tapi semua ini adalah kenyataan hidupmu. Ibu sudah meninggalkanmu duluan. Mungkin ini cara Tuhan agar kamu tidak merasa sendiri," ucap Dion.


Mia diam. Ia masih mencerna setiap kalimat Dion yang masuk ke dalam telinganya. Bersyukur? Haruskah ia bersyukur atas apa yang tidak ia inginkan?


Jika saja boleh memilih, Mia lebih memilih untuk tidak bertemu dengan ayah kandungnya. Ia sudah cukup bahagia dengan keluarga Dion yang menerimanya apa adanya.


"Tapi dia penjahat A," ucap Mia.


"Kata siapa dia penjahat? Apa kamu sudah tahu semuanya?" tanya Dion.


"Dia jahat karena membuat Mia selalu disebut anak haram. Dia tidak tahu karena ulahnya, Mia yang menderita." ucap Mia berapi-api.


"Tapi dia ayah biologismu," ucap Dion.

__ADS_1


Guncangan di bahu Mia, Dion lakukan agar Mia sadar. Darah tidak bisa dicuci. Sekeras apapun Mia menolak hasil test itu, kenyataan tidak akan berubah. Dalam tubuh Mia dan Tuan Felix, mengalir darah yang sama.


"Mia," panggil Sindi.


Mia mengalihkan pandangannya dari Dion. Matanya mencari sumber suara dan betapa terkejutnya Mia saat melihat Sindi bersama Nyonya Helen.


PLAAAAK


"Aw," teriak Dion.


Mia menampar Dion dengan tiba-tiba. Sontak membuat Dion terkejut dan berteriak.


"A, ini asli Sindi kan? Mia gak mimpi kan?" tanya Mia.


"Asli. Yang ada badaknya," jawab Dion sembari mengusap-usap pipinya.


"Aa kok marah sih?" tanya Mia.


"Kau gak kira-kira. Kenapa nampar aku keras begitu sih?" ucap Dion kesal.


Pipinya masih merah karena tamparan Mia yang lumayan keras.


"Maaf ya A. Mia kelepasan. Kan Mia cuma mau ngecek aja. Ini mimpi atau bukan. Gitu A," ucap Mia.


"Sindiiiiii," teriak Mia.


Mia memeluk Sindi dengan begitu erat. Meskipun Mia belum bahagia, tapi paling tidak ia tidak sesedih sebelumnya. Sudah tidak ada lagi air mata yang mengalir di pipi Mia.


Mau ngecek ini mimpi atau bukan kok nampar aku sih, Mi? Yang aku tahu biasanya mereka nampar muka sendiri atau nyubit tangan sendiri. Ini kenapa aku yang jadi korban sih?


Nyonya Helen mengajak Dion untuk menjauh. Meninggalkan Mia dan Sindi berdua. Masih dengan mengusap pipinya, Dion mengikuti langkah kaki ibunya.


"Ma, kenapa harus pergi sih?" tanya Dion.


"Di, ada kalanya wanita akan lebih meluapkan emosinya pada sahabatnya. Kali ini kamu mengalah ya! Biarkan Mia bercerita lebih terbuka pada Sindi. Nanti juga kamu bisa tahu semuanya dari Sindi," ucap Nyonya Helen.


Melihat sopir Mia sedang berdiri di dekat mobilnya, Dion jadi ingat kesalahan sopirnya. Ia menghampirinya dan mengangkat kerah baju sopirnya.


"Di, lepasin. Kamu ngapain sih?" tanya Nyonya Helen dan berusaha menjauhkan Dion dari sopirnya.


"Ini dia sopir kurang ajar. Bisa-bisanya dia gak jawab panggilan aku," ucap Dion menunjuk sopirnya.


"Di, tenang dulu. Dia pasti punya alasannya sendiri," ucap Nyonya Helen.


"Alasan apa?" tanya Dion.


"Maaf Tuan, tapi saya dilarang menjawab panggilan Anda oleh Nyonya Mia. Bahkan ponsel saya dibawa oleh Nyonya. Katanya, Nyonya sedang ingin sendiri," jawab sopir itu.


Dion diam. Pandangannya kini berpindah mengamati Mia yang sedang duduk berdua di tepi makam. Sindi tidak melepaskan Mia dari pelukannya. Terus mengusap tangan dan punggungnya.


Nyonya Helen meminta sopir itu untuk segera menjauh dari Dion. Setelah pamit, sopir itu pergi menjauh.


"Ma, dia sepertinya tulus ya sayang sama Mia," ucap Dion.


Saat bibirnya berbicara, Dion sama sekali tidak mengalihkan pandangannya pada Mia yang sedang asyik dengan Sindi.


"Mia itu orang baik. Wajar jika banyak yang sayang dan penuh ketulusan padanya," jawab Nyonya Helen


Ya, memang benar. Mia orang baik dan wajar jika banyak yang menyayanginya.


######################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..

__ADS_1


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


__ADS_2