
Selepas kepergian Kalin dan Dev dari apartemennya, Mia menangis memeluk foto Danu.
"Mas, kamu masih hidup. Mia rindu sekali mas," ucap Mia sambil menatap foto itu berulang kali kemudian memeluknya kembali.
Malam ini Mia tidur lebih awal. Besok pagi Mia akan pergi ke rumah Nyonya Nathalie dan Tuan Ferdinan. Mia akan menemui suaminya. Danu, ya Danu yang sudah beberapa bulan ini menghilang. Kabar kematiannya yang dibuat oleh Nyonya Nathalie akhirnya terbongkar juga. Danu masih hidup dan sudah kembali ke Jakarta.
Mentari pagi disambut oleh jiwa semangat Mia yang membara. Dengan menggunakan pakaian kantornya, Mia berangkat dari apartemennya sejak pukul enam pagi. Bukan ke kantor, tapi Mia mengunjungi rumah Nyonya Nathalie untuk bertemu dengan suaminya.
Mia mencoba untuk tidak mencampurkan urusan pribadinya dengan urusan pekerjaan. Meskipun ada hal yang harus ia selesaikan, namun Mia akan tetap bekerja setelah urusannya selesai. Hingga Mia tidak menghubungi Kalin ataupun Dev untuk pergi ke rumah Nyonya Nathalie.
Meskipun Dev dan Kalin sudah menawarkan jasa untuk menemani Mia menemui Tuan Ferdinan dan Nyonya Nathalie, namun Mia menolaknya. Menurut Mia, mereka sudah banyak membantunya. Sekarang, giliran Mia yang harus menyelesaikan masalahnya sendiri. Mia siap menjemput kebahagiaannya.
"Permisi, permisi," teriak Mia.
Seperti biasa, Nyonya Nathalie melarang keras Mia untuk bisa menginjakkan kakinya di sana. Penjagaan ekstra ketat membuat Mia kesulitan untuk bisa menemui Danu.
"Nyonya, Tuan, saya minta waktu Kalian sebentar saja. Saya mohon," teriak Mia.
Walaupun Mia sempat dihadang dan diminta pulang oleh security di sana, namun Mia tetap memaksa untuk bisa bertemu dengan Nyonya Nathalie dan Tuan Ferdinan.
"Maaf, Nyonya. Tapi Tuan Ferdinan dan Nyonya Nathalie tidak ada di rumah," ucap salah satu security di sana.
"Jangan bohong! Apakah kalian tidak tahu kalau berbohong itu dosa dan akan masuk neraka?" tanya Mia.
"Iya Nyonya kami tahu. Tapi kami tidak bohong. Tuan Ferdinan dan Nyonya Nathalie tidak ada di rumah," jawab security.
"Lalu kemana mereka?" tanya Mia.
"Tuan dan Nyonya sedang ada urusan ke luar kota," jawab security.
"Ke luar kota?" tanya Mia.
"Benar Nyonya," jawab security.
"Kemana?" tanya Mia.
"Kami tidak tahu Nyonya. Nyonya Natahlie hanya berkata kalau beliau akan pergi ke luar kota dan melarang Nyonya Mia untuk masuk ke rumah," jawab security.
"Kau tidak bohong?" tanya Mia.
"Tidak Nyonya," jawab security.
"Berani bersumpah?" tanya Mia.
"Berani Nyonya," jawab security.
"Kalian berani bisulan empat biji di bokong?" tanya Mia sambil mengangkat kelingkingnya.
Kedua security itu saling menatap dan menahan tawanya.
"Ayo, berani tidak?" tantang Mia.
"Berani Nyonya," jawab kedua security itu bersamaan.
"Ayo mana kelingking kalian?" tanya Mia.
Keduanya mengangkat kelingking mereka secara bergantian. Tidak ada rasa takut untuk bisulan sama sekali pada mereka. Karena mereka tidak berbohong. Itu informasi yang mereka terima sebelum Nyonya Nathalie dan Tuan Ferdinan berangkat kemarin.
"Baiklah. Mia pulang dulu. Terima kasih ya!" ucap Mia pada kedua security itu sambil melambaikan tangannya.
Setelah Mia berlalu, kedua security itu saling menatap dan merasa iba pada nasib Mia. Padahal dulu Nyonya dan Tuannya sangat menyayangi Mia seperti anak kandungnya sendiri.
Mia menuju kantor Kalin setelah urusannya selesai. Ah, tidak. Tidak selesai. Mia hanya menemukan kebuntuan karena ternyata jangankan Danu, justru Mia tidak bisa menemukan kedua mertuanya itu.
Dengan langkah gontai, Mia berjalan menuju ruangannya.
"Mia, baru sampai?" tanya Kalin.
"Hai Kalin, tapi Mia tidak kesiangan. Ini masih jam delapan kurang lima menit kan?" tanya Mia.
"Kamu memang tidak kesiangan. Tapi kamu datang lebih siang dari biasanya. Kamu dari mana? Kenapa wajahmu kusut begitu?" tanya Kalin.
"Mia sudah berangkat dari jam enam, tapi Mia ke rumah Mas Danu dulu tadi." Mia menceritakan semuanya dengan malas.
"Berarti mereka menyembunyikan Danu ke luar kota?" tanya Kalin.
"Katanya sih begitu," jawab Mia dengan lemas.
"Coba kamu ingat-ingat lagi. Di kota mana saja keluarga Danu tinggal? Mungkin mereka akan menitipkan Danu di rumab saudaranya," ucap Kalin.
Saudara? Mia menggeleng. Selama menikah, Mia tidak pernah dikenalkan dengan saudara Danu. Hingga Mia tidak tahu siapa saja keluarganya.
"Ya sudah kamu sabar ya! Nanti kita cari lagi informasinya agar kamu bisa bertemu dengan Danu. Aku Dan Dev pasti bantu kamu semaksimal mungkin. Jangan khawatir, kamu tidak sendirian." Kalin memberikan semangat untuk Mia.
__ADS_1
"Terima kasih ya Kalin," ucap Mia.
Kalin mengangguk dan akhirnya mereka masuk ke dalam ruangan masing-masing. Dalam ruangannya, Mia berusaha menyingkirkan rasa kecewanya karena tidak bertemu dengan Danu pagi ini. Harapannya untuk menemukan kebahagiaannya, harus pupus saat menerima kenyataan kalau mereka tidak ada di rumahnya.
"Mas kamu dimana?" gumam Mia.
Mia mengusap sudut matanya dan mulai membuka laptop. Bayangan Danu yang memenuhi kepalanya membuat Mia nyaris tidak bisa fokus.
Mia mengumpulkan dulu pikiran-pikiran positifnya agar tidak mengganggu pekerjaannya. Mia berpikir kalau Danu akan bangga saat melihatnya berhasil mewujudkan cita-citanya secara mandiri. Danu akan memeluknya dan mengucapkan selamat saat bertemu nanti.
Mia mengepalkan tangannya dan mengangkatnya.
"Kamu bisa Mia," gumamnya menyemangati diri sendiri.
Mia mulai berkutat dengan laptop dan berkasnya kembali. Perlahan tapi pasti, Mia mampu menyingkirkan perasaan kecewanya karena Mia yakin semua akan indah pada waktunya. Akan tiba waktunya untuk bahagia lagi bersama dengan Danu seperti saat itu.
Selesai bekerja, Mia pulang dengan sangat lemas. Tatapannya tidak begitu fokus, bahkan saat berpapasan dengan Kalin saja Mia tak menyadarinya.
Kalin sengaja tak menegurnya, mungkin Mia memang sedang ingin sendiri. Membiarkan Mia membebaskan dulu dirinya akan membuat Mia lebih baik. Biar Kalin dan Dev yang akan mencari informasi tentang keberadaan Danu.
Kalin pulang dan segera menceritakan semua tentang Mia pada Dev. Dev menggelengkan kepalanya.
"Mia itu orang baik, tapi kenapa hidupnya selalu penuh rintangan?" ucap Dev menatap wajah Kalin.
"Dev, ibarat paku. Hanya paku lurus yang akan terus dihantam. Dan Mia itu paku lurus. Dia akan terus dihantam. Tapi kita harus yakin kalau paku itu berhasil tidak bengkok, maka ia akan menancap kuat dan tidak akan dihantam lagi. Kamu mengerti maksudku?" tanya Kalin.
Dev mencerna ucapan Kalin, dan mengangguk. Ia mengerti, artinya Mia harus kuat dan jangan menyerah demi menjemput kebahagiaannya. Tugasnya dan Kalin adalah membantu Mia sampai akhirnya Mia menemukan kebahagiannya. Dan saat ini kebahagiaan Mia adalah bertemu dengan Danu.
Sore ini mereka akan melakukan penyelidikan di rumah Tuan Ferdinan. Meyakinkan kalau Danu benar-benar tidak ada di sana.
"Tapi kalau kita ke sana, aku takut Tuan Ferdinan mencurigai kita. Dan itu akan berimbas pada perusahaan. Aku tidak ingin kita membantu Mia tapi membayakan perusahaan kita," ucap Kalin.
"Jadi kita tidak bisa membantu Mia?" tanya Dev.
"Bisa," jawab Kalin dengan tersenyum lebar.
"Caranya?" tanya Dev.
"Sama seperti mereka. Kita harus bermain cantik," jawab Kalin.
"Caranya?" tanya Dev.
"Kita akan meminta seseorang untuk mengintai di sana," jawab Kalin.
"Ah benar, kita akan tahu keadaan mereka tanpa terlihat terlibat." Dev tersenyum lebar mendengar jawaban Kalin.
"Oh ya?" tanya Dev.
Kalin mengangguk dan tersenyum lebar.
"Hubungi dia sekarang!" pinta Dev.
"Ok," ucap Kalin.
Malam hari, Kalin dan Dev kembali mendapat kejutan. Mereka mendapat informasi kalau ada seorang wanita yang tengah bertengkar hebat dengan pemilik rumah.
Mia, ya Mia wanita yang disebut sedang bertengkar itu. Mia sudah mengumpulkan keberaniannya untuk menemui Nyonya Nathalie kembali.
"Keluar kamu dari rumahku," teriak Nyonya Nathalie.
"Nyonya, Mia mohon. Hanya sekali saja, Mia ingin bertemu dengan mas Danu. Mia mohon," ucap Mia.
"Cukup Mia, sudah tidak ada Danu di rumah ini. Kamu sudah melihat sendiri makam Danu kan? Kamu tidak percaya padaku?" bentak Nyonya Nathalie.
"Maaf Nyonya. Tapi Mia yakin mas Danu masih hidup. Nyonya sembunyikan dimana mas Danu?" tanya Mia sambil menangis.
"Kamu itu ngeyel sekali. Silahkan kamu cari di seluruh ruangan rumah ini. Tidak ada Danu di sini," teriak Nyonya Nathlie.
"Mas, Mas, ini Mia. Mas dimana?" teriak Mia sambil berlari ke kamarnya dulu. Tidak ada. Matanya mengedar mencari sosok suaminya yang sudah sangat ia rindukan, tapi ia tak menemukannya di sana. Mia berlari ke setiap ruangan mencari Danu. Tapi Mia tidak menemukan apapun.
"Sudah puas kamu? Tidak ada Danu di sini," ucap Nyonya Nathalie.
"Mami, sudah cukup Mi." Tuan Ferdinan menengahi.
"Papi tidak perlu ikut campur. Ini urusn mami dengan janda mandul ini," ucap Nyonya Nathalie.
"Nyonya," bentak Mia.
"Berani kamu membentakku?" tanya Nyonya Nathalie.
Hatinya sakit, ini pertama kalinya Mia berani membentaknya.
"Mia sudah cukup dihina dan diinjak-injak oleh Nyonya. Nyonya boleh menyembunyikan mas Danu. Tapi Nyonya tidak bisa menutup mata dan telinga kalau mas Danu yang bersalah, bukan Mia. Ini surat keterangan dari dokter tentang penyakit mas Danu. Setelah ini, Mia tidak peduli kalaupun Nyonya akan membenci Mia seumur hidup Nyonya. Tapi kebenaran harus terungkap," ucap Mia sambil menyerahkan amplop berisi surat keterangan dari dokter.
__ADS_1
"Aku tidak butuh semua ini," Nyonya Nathalie melempar amplop itu.
"Berarti Nyonya sudah tahu semua kenyataan itu kan? Jadi saya harap Nyonya tidak membahas ini terus menerus. Mas Danu pasti akan semakin sakit saat mendengar tuduhan Nyonya. Karena secara tidak langsung, Anda sudah menghina anak Anda sendiri." dengan menahan emosi Mia terus membela dirinya.
"Sudahlah Mia, lebih baik kamu pulang saja." Tuan Ferdinan mencoba menengahi keduanya.
Di satu sisi, Tuan Ferdinan ingin sekali membela Mia. Rasanya anak itu sudah sangat tertekan oleh sikap istrinya. Tapi di sisi lain, istrinya juga tidak mungkin didebat. Apalagi membela Mia, itu tidak akan baik untuk rumah tangganya.
"Mia akan pulang Tuan, tapi Mia pastikan kalau Mia akan menemukan mas Danu. Apapun yang terjadi, Mia akan membuktikan kalau Mia tidak bersalah. Mia permisi," ucap Mia.
Tuan Ferdinan merasa tersentuh dengan sikap Mia. Di saat marah dan kecewapun Mia masih sempat menyingkirkan egonya dan meraih tangan Tuan Ferdinan. Mia mencium tangannya sebelun berlalu meninggalkan rumahnya.
Setelah kepergian Mia, Tuan Ferdinan masuk ke ruang kerjanya tanpa menenangkan istrinya. Ia merasa dirinya juga butuh ketenangan. Sikap istrinya memang sudah keterlaluan pada Mia.
Mia mendengar ponselnya berdering berkali-kali. Namun Mia enggan menjawab panggilan itu. Rasanya ia sangat lelah. Bukan badan, tapi pikiran dan hatinya yang terasa lelah. Mia ingin segera keluar dari masalah ini. Sempat terpikir apakah Mia harus menyerah? Melupakan suaminya yang mungkin juga sudah melupakannya.
Danu melupakan Mia? Kadang Mia meyakini semua itu, karena tidak sekalipun Danu mencarinya. Mia merasa perjuangannya hanya bertepuk sebelah tangan.
Lelah dengan kenyataan pahit dalam hidupnya, Mia akhirnya terlelap. Membawa semua emosi dan kecewanya ke dalam tidurnya dan membuangnya dalam mimpinya. Hingga besok pagi Mia bisa kembali dengan Mia yang penuh semangat.
Sementara di tempat lain, Dev sedang menenangkan Kalin yang memaksanya untuk menemui Mia.
"Sudahlah sayang, mungkin Mia sedang ingin sendiri. Ada kalanya kita tidak ingin membagi apapun dengan orang lain. Aku yakin Mia akan menceritakan semuanya jika memang sudah siap," ucap Dev.
Kalin mengangguk. Walaupun hatinya sangat khawatir namun benar kata Dev. Mia mungkin sedang ingin sendiri.
Pagi sekali Kalin sudah bersiap untuk pergi ke kantor.
"Terlalu pagi sayang," ucap Dev.
"Aku mau menjemput Mia dulu. Atau justru menemaninya jika Mia tidak pergi ke kantor," ucap Kalin sambil merapikan rambutnya.
Kalin berangkat tanpa sarapan karena ingin segera bertemu dengan Mia. Kalin memacu mobilnya lebih cepat dari biasanya. Hampir saja Kalin ketinggalan, karena Mia sudah keluar dari apartemennya saat Kalin sampai di sana.
"Kalin," sapa Mia.
"Ayo masuk!" ajak Kalin.
Mia segera masuk ke dalam mobil Kalin. Tanpa Kalin bertanya, Mia segera menjelaskan semua yang terjadi antara Nyonya Nathalie dan dirinya semalam.
"Ganti target," ucap Kalin.
"Hah?" tanya Mia tak mengerti.
"Dari ceritamu, aku rasa Tuan Ferdinan sedikit lebih mudah untuk didesak. Bagaimana kalau kamu mendesaknya saja?" ucap Kalin.
"Maksudmu?" tanya Mia.
"Kamu desak Tuan Ferdinan tanpa harus menemui Nyonya Nathalie. Aku punya bukti yang mungkin bisa kamu gunakan untuk mendesak Tuan Ferdinan. Biar nanti Tuan Ferdinan yang akan mendesak Nyonya Nathalie," ucap Kalin.
"Bukti apa?" tanya Mia.
"Ini," ucap Kalin menyerahkan ponselnya yang menayangkan video Mia saat mencari makam Danu.
Mia tersenyum bahagia. "Kalin, aku tidak menyangka kamu menyiman video ini. Dengan adanya video ini, Mami pasti tidak bisa mengelak lagi."
"Jadi sekarang kamu jangan sedih lagi ya! Kau harus percaya kalau kamu bisa menemukan Danu," ucap Kalin dengan menggenggam tangan Mia.
"Kalau ternyata mas Danu sudah melupakan Mia?" tanya Mia.
"Tuhan pasti menyiapkan pria lain yang lebih menyayangimu, Mia," ucap Kali .
Mia tak menjawab ucapan Kalin. Ia hanya menunduk dan merasa sedih. Pria lain? Haruskah Mia menikah lagi? Bisakah Mia mencintai pria lain seperti Danu mencintainya? Bisakah pria lain menyayangi dan menerimanya dengan tulus seperti Danu memperlakukannya?
Mia merasa putus asa. Rasanya ia tidak akan menemukan pria sebaik Danu di dunia ini. Hati dan kepalanya sudah penuh dengan kenangan dan harapan bersama Danu.
"Mia, sudah sampai. Ayo turun!" ucap Kalin.
"Eh, sudah sampai? Maaf ya," ucap Mia.
"Tidak, masalah. Aku mengerti keadaanmu Mia. Nanti kau jangan memaksakan untuk bekerja. Jika memang kamu merasa lelah, kamu sebaiknya istirahat saja. Mau istirahat di kantor atau pulang juga terserah kamu," ucap Kalin.
"Terima kasih Kalin. Mia akan tetap bekerja, hanya saja Mia izin pulang lebih cepat ya! Mia mau ke kantor Tuan Ferdinan untuk menunjukkan video ini," ucap Mia.
"Ok. Semangat ya!" ucap Kalin.
Mia tersenyum dan mengangguk, kemudian masuk ke dalam ruangannya.
###################
Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.
Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..
__ADS_1
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
Terima kasih..