Janda Bersegel

Janda Bersegel
Paparazi


__ADS_3

"Papa kenapa malah ke sini sih?" tanya Dion.


"Males di sana lihat orang ribut terus," jawab Tuan Wira.


"Bukannya karena mau nangis tapi malu?" goda Dion.


"Dih, mana ada Papa mau nangis. Gak banget. Papa kan strong," tepis Tuan Wira.


Dion yang mengenal betul sosok ayahnya, Dion tentu tahu jika saat ini Tuan Wira sedang berbohong. Ia mengerti rasa haru yang dirasakan ayahnya. Dan ini adalah cara yang sama saat mengetahui Mia hamil saat itu.


"Tuan Wira, Dion," sapa Danu.


"Hey, duduk di sini!" ucap Tuan Wira.


Dion tampak diam. Ia hanya menatap Danu lalu tersenyum. Ia bingung apa yang harus ia bahas dengan Danu. Mengucapkan selamat? Ah rasanya tidak perlu terlalu basa basi menurut Dion.


"Kenapa ke sini? Kenapa kamu meninggalkan Sindi?" tanya Tuan Wira saat melihat Danu dan Dion saling diam.


"Ada Mami dan Mama di sana," jawab Danu.


"Istriku ada juga kan?" tanya Dion.


Istriku? Haruskah kamu menyebut Mia istriku di depan aku? Nampaknya kamu masih cemburu padaku, Dion. Bagaimana cara aku membuatmu yakin kalau aku dan Mia hanya punya cerita masa lalu? Tidak kah kamu melihat bagaimana aku bahagia dengan Sindi?Sampai-sampai kamu masih mengkhawatirkan aku dan Mia.


"Oh iya. Istrimu juga ada di sana," jawab Danu.


Melihat keduanya masih dingin, Tuan Wira mencoba mengalihkan pembicaraan keduanya.


"Selamat ya Dan. Akhirnya aku bakal nambah cucu lagi," ucap Tuan wira.


"Terima kasih banyak. Terima kasih juga karena kalian datang untuk melihat kondisi Sindi. Aku yakin Sindi pasti bahagia banget atas kehadiran kalian," ucap Danu.


"Aku titip Sindi ya Dan. Jangan sakiti dia. Dia adalah wanita baik. Sudah cukup kisah hidupnya yang kelam. Aku harap setelah menikah denganmu, Sindi bisa terlahir dengan semua kenangan indah. Buat hingga Sindi bisa melupakan masa lalunya. Bahagiakan dia," ucap Tuan Wira.


Danu melihat ada raut harapan dari Tuan Wira. Danu sangat yakin jika keluarga Nyonya Helen benar-benar menyayangi Sindi dengan tulus.


"Iya Tuan. Aku berjanji akan selalu membahagiakan Mia semampuku. Aku akan berikan yang terbaik untuk Sindi," ucap Danu.


Tuan Wira pun melihat kesungguhn atas ucapan Danu. Ia yakin jika Sindi tidak salah pilih. Pikiran Tuan Wira tiba-tiba melayang pada Mia. Bagaimana hancurnya hati Mia saat ia kehilangan Danu. Pria yang begitu baik pada pasangannya.


Astaga! Mikir apa aku ini. Kalau saja Danu dan Mia tidak bercerai, mungkin Dion gak akan sebahagia ini. Ah tidak! Bukan cuma Dion. Mia hadir dengan membawa kebahagiaan untuk kita semua. Apalagi setelah kelahiran Narendra dan Naura.


Narendra? Naura? Tuan Wira segera melihat pergelangan tangannya. Sudah jam sepuluh malam.

__ADS_1


"Dion, kita harus pulang. Narendra sama Naura pasti nungguin kita," ucap Tuan Wira tiba-tiba.


"Astaga, sudah jam sepuluh. Ayo Pah!" ajak Dion.


"Kita pulang dulu ya!" ucap Tuan Wira.


"Oh iya. Sekali lagi terima kasih ya untuk kehadiran dan supportnya," ucap Danu.


Danu melihat Dion dan Tuan Wira berdiri dan meninggalkan mejanya. Segelas kopi belum habis. Namun karena rasa khawatirnya pada cucu kembarnya, Tuan Wira pergi meninggalkan tempat itu.


"Dion," panggil Danu.


Tidak hanya Dion, Tuan Wira juga ikut menoleh ke arah sumber suara. Mencari tahu apa yang membuat Danu memanggilnya. Segera, Dion mengecek ponsel di saku celananya. Ada. Lalu ada apa Danu memanggilnya?


Dion semakin bertanya-tanya setelah Danu semakin mendekat. Tanpa satu kalimat pun yang keluar dari mulut Danu, tiba-tiba pria itu memeluk Dion.


"Ada apa ini?" tanya Dion bingung.


"Terima kasih sudah datang. Terima kasih sudah mengesampingkan egomu. Soal Mia, kamu jangan khawatir. Aku sama sekali gak berpikir untuk mengganggu kebahagiaan Mia bersamamu. Aku sudah punya Sindi. Apalagi sekarang aku akan punya anak. Bahagiaku dan Mia sudah berbeda. Aku harap kamu bisa menerima kehadiranku sebagai suami Sindi, bukan sebagai mantan suami Mia." Danu berusaha berdamai dengan Dion.


Dion tidak menjawab. Ia hanya tersenyum dan mengusap punggung Danu. Ya, Danu benar. Tidak akan selesai jika ia masih harus bergulat dengan masa lalu. Ia hanya akan menyakiti Mia dan dirinya sendiri.


"Ya, aku mengerti." ucap Dion.


Saat suasanaa haru, tiba-tiba matanya menangkap kehadiran Reza dengan ponsel yang tengah mengarah padanya. Dion segera melepaskan pelukannya dengan Danu. Ia yakin kalau Reza tengah mengaktifkan kameranya dan merekam adegan itu. Hal itu ia yakini saat senyum lebar tersungging di bibir Reza.


Selesai berpamitan, Dion berniat untuk mengejar Reza, namun sepertinya Reza sudah tahu apa yang akan dilakukan oleh Dion. Secepat kilat Reza sudah tidak ada.


"Mau kemana?" tanya Tuan Wira.


"Ke sana dulu sebentar," jawab Dion.


"Ke sana kemana?" tanya Tuan Wira.


"Ya pokoknya ke sana," jawab Dion.


"Gak bisa. Ayo pulang!" ajak Tuan Wira sembari menarik tangan Dion.


Dion kesal karena gagal membuat perhitungan dengan Reza. Akhirnya ia hanya bisa mengikuti Tuan Wira untuk pamit pada Sindi dan mengajak Mia serta Nyonya Helen pulang.


"Mi, kita ke Maya dulu ya! Pamitan," ucap Dion.


Dion senang saat kepalanya mendapat ide baik. Ia bisa menemui Reza tanpa ada yang curiga.

__ADS_1


"Iya A," ucap Mia.


"Jangan lama-lama. Si kembar di rumah," ucap Tuan Wira.


"Iya Pah. Tenang aja cuma sebentar kok," ucap Dion.


Cuma mau buat perhitungan sama si Reza kok Pah. Tenang aja.


Saat masuk ke ruangan Maya, Mia segera mendekat dan pamit. Semantara Dion sibuk mencari keberadaan Reza. Ia harus kecewa lantaran Reza tidak ada di sana.


"May, Reza kemana?" tanya Dion.


"Tadi ke kantin dulu," jawab Maya.


"Kok gak ketemu ya?" tanya Dion.


"Kamu kenapa sih nyariin dia? Kangen ya? Besok kan bisa ketemu lagi. Ayo sekarang pulang dulu!" ajak Tuan Wira.


Dengan penuh kecewa, Dion pulang. Namun baru saja ia sampai ke dalam kamarnya, ia sudah menerima video kiriman Reza.


"Ni orang maksudnya apaan sih?" geruru Dion.


"Kenapa A?" tanya Mia.


"Lihat nih kelakuan Reza," ucap Dion sembari memberikan ponselnya.


Mia menerima dan melihat kiriman video dari Reza. Ia terkejut. Rasanya tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Akhirnya harapan dan doanya terkabul. Dion dan Danu terlihat begitu akrab hingga saling berpelukan.


Terima kasih Za. Mia bahagia banget.


"Kamu kok gak marah sih?" tanya Dion.


"Kenapa Mia harus marah?" tanya Mia.


"Jadi kamu seneng?" tanya Dion kembali.


"Ya kalau lihat Aa damai begini kan adem lihatnya. Mia seneng banget akhirnya Aa bisa meredam ego Aa. Terima kasih ya A," ucap Mia sembari memeluk Dion.


Sebahagia ini kamu, Mi? Bahkan hanya dengan cara seperti ini kamu bahagia?


Dion diam. Akhirnya ia mengucapkan terima kasih pada Reza dalam hatinya. Berkat tingkah isengnya akhirnya Dion bisa melihat Mia begitu bahagia malam ini.


'Terima kasih. Paparazi kayak kamu akhirnya berguna juga. Malam ini Mia seneng banget dapat kiriman videonya. Dia sampai meluk aku. Kayaknya malam ini aku dapat jatah spesial pakai karet dua deh. Eh, lupa kok malah bikin kamu kesel. Kamu kan lagi cuti. Selamat cuti ya! Hehe'

__ADS_1


Sebuah pesan Dion kirimkan pada Reza. Si penerima pesan yang tengah cengar cengir menunggu panggilan di ponselnya, ternyata dikejutkan dengan pesan itu.


"Kok dia malah terima kasih? Harusnya kan marah-marah kesel. Ah udah gak seru kalau begini. Mana malah manas-manasin aku lagi. Sial!" gerutu Reza.


__ADS_2