Janda Bersegel

Janda Bersegel
Akur


__ADS_3

Semalaman Nyonya Helen gelisah. Ia tidak bisa tidur. Hal itu tentu mengundang rasa penasaran Tuan Wira.


"Mama kenapa sih?" tanya Tuan Wira.


"Gak ada apa-apa kok," jawab Nyonya Helen.


Sepertinya Nyonya Helen belum bisa jujur dengan rencananya. Mungkin karena ia juga masih ragu dengan apa yang sudah direncanakannya.


"Mia sama Dion yang mau peresmian kantor kok Mama yang gelisah dan panik gitu," ucap Tuan Wira sembari menggelengkan kepalanya.


"Hah? Kapan?" tanya Nyonya Helen.


Karena sibuk dengan perasaan takut kehilangan Sindi, Nyonya Helen bahkan melupakan hal penting itu. Padahal dulu ia selalu berusaha menyemangati Mia untuk mewujudkan impiannya.


"Dua hari lagi," jawab Tuan Wira.


"Bukan besok kan?" tanya Nyonya Helen.


Tuan Wira mengerutkan dahinya dengan pandangan tajam.


"Sejak kapan dua hari lagi sama artinya dengan besok? Mama kenapa sih?" tanya Tuan Wira.


"Iya gak apa-apa kan cuma mastiin aja," jawab Nyonya Helen.


"Kayaknya Mama salah makan obat nih. Udah ah tidur, udah malam." Tuan Wira mematikan lampu kamar dan merebahkan tubuhnya di samping Nyonya Helen.


Dalam cahaya remang, Nyonya Helen masih membuka matanya. Ia berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.


Jadi, gak, jadi, gak, jadi.


Nyonya Helen terus menghitung jari tangannya untuk meyakinkan rencananya ke rumah Nyonya Nathalie. Sampai akhirnya ia lelah sendiri dan akhirnya terlelap juga.


"Ma, bangun!" ucap Tuan Wira sembari mengguncang pelan tubuh Nyonya Helen.


Perlahan Nyonya Helen membuka matanya dan menggeliat. Setelah ia benar-benar sudah terbangun, kegelisahan itu kembali ia rasakan. Ia mandi dan berharap bisa lebih tenang saat tubuhnya sudah diguyur air.


"Pah," panggil Nyonya Helen setelah keluar dari kamar mandi.


Mata Nyonya Helen menyapu seluruh sudut ruangan. Tapi ia tidak menemukan sosok suaminya.


"Papa kemana sih? Padahal kan aku cuma mau izin ketemu sama Sindi. Catat ya, aku mau ketemu Sindi. Bukan mau ketemu sama dia," gumam Nyonya Helen.


Ia duduk di depan cermin. Mulai meraih alat make up dan merias dirinya. Matanya memang menatap pantulan dirinya pada cermin. Tapi hatinya masih memikirkan rencananya itu.


Setelah selesai, Nyonya Helen menghela nafas panjang dan segera keluar. Ia duduk di samping suaminya. Bukan hanya Tuan Wira, tapi semua yang duduk di ruang makan itu menatap Nyonya Helen.


"Kenapa?" tanya Nyonya Helen dengan bingung.


"Mama mau kemana?" tanya Tuan Wira.


"Itu, mau itu Pah." Nyonya Helen menatap Mia.


"Mama mau ketemu Sindi. Kemarin kan Sindi ke sini, tapi Mama masih kangen. Jadi sekarang Mama gantian yang ngunjungin Sindi," ucap Mia.

__ADS_1


"Sama kamu?" tanya Dion dengan tatapan tidak suka.


"Sama aku aja Nyonya," ucap Rian.


"Nah, ide bagus. Ajak anak ini jalan-jalan. Biar gak di kamar terus," ucap Tuan Felix.


"Beneran ya temenin aku, Ri." Nyonya Helen terlihat begitu senang.


"Cieee, yang seneng banget mau ketemu besan kesayangan." Tuan Wira menggoda istrinya.


Ucapan Tuan Wira sontak membuat gelak tawa dari semua yang berada di ruang tamu.


"Mama mau ketemu Sindi," ucap Nyonya Helen.


"Iya Pah. Mama kan mau ketemu Sindi. Yang mau ketemu besan kan Rian," ucap Dion.


Tentu hal itu membuat Tuan Wira tertawa. Sementara Tuan Felix hanya menatap Mia penuh tanya. Mia hanya menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.


"Mia nanti kalau peresmian kantor baru kamu, Mama ngundang Sindi boleh ya?" tanya Nyonya Nathalie.


"Boleh dong Ma. Sama besan juga dong undang," jawab Tuan Wira.


Keadaan menjadi ramai kembali. Hal ini membuat Nyonya Helen mencubit tangan Tuan Wira hingga pria itu berhenti menggoda istrinya. Sarapan dilanjutkan.


Selesai sarapan, Mia ikut dengan Dion dan kedua ayahnya untung melihat kantor baru yang akan ditempatinya. Sementara Rian dan Nyonya Helen pergi ke rumah Nyonya Nathalie.


Dalam perjalanan, Rian melihat Nyonya Helen gelisah. Ia tahu betul apa yang Nyonya Helen rasakan.


"Nyonya, Jakarta semakin panas ya!" ucap Rian yang berusaha mengalihkan pembicaraan.


Iya Rian. Sekarang Jakarta semakin panas. Apalagi khusus jalan menuju rumah wewe gombel. Panasnya dua kali lipat.


Melihat Nyonya Helen masih gugup dan gelisah, Rian kembali berusaha bercerita banyak hal pada Nyonya Helen. Namun sampai akhirnya mereka tiba di rumah Nyonya Nathalie, Nyonya Helen masih tampak gelisah.


"Nyonya Helen? Ada apa?" tanya Nyonya Nathalie saat melihat kedatangan Nyonya Helen ke rumahnya.


"Nyonya, masih ingat aku?" tanya Rian yang berusaha melindungi Nyonya Helen.


"Kamu temannya Sindi kan?" tanya Nyonya Nathalie.


"Iya Nyonya. Aku ke sini karena kangen sama Kak Sindi. Kak Sindi ada di rumah kan?" tanya Rian.


"Oh jadi kalian mau ketemu sama Sindi?" tanya Nyonya Nathalie meyakinkam jawaban Rian.


"Iya. Aku malu kalau ketemu Kak Sindi sendirian. Makanya aku ajak Nyonya Helen buat nemenin aku," ucap Rian.


Rian, terima kasih karena kamu sudah menyelamatkan harga diriku. Gak salah kamu sekolah di luar negeri. Kamu pinter banget cari jawaban. Padahal kita gak janjian dulu.


Nyonya Nathalie menyambut hangat dan sopan atas kedatangan Nyonya Helen dan Rian. Tak lama, Sindi datang dan nampak begitu senang melihat kehadiran dua orang yang disayanginya.


"Ibu mau kemana?" tanya Sindi saat Nyonya Nathalie beranjak.


"Aku ke kamar dulu ya! Kalian ngobrol aja," jawab Nyonya Nathalie.

__ADS_1


"Kok ke kamar? Ibu di sini aja. Kita ngobrol bareng-bareng," ajak Sindi.


"Hah?" ucap Nyonya Nathalie.


Awalnya Nyonya Nathalie tidak mau ikut bicara di sana. Namun Sindi terus membujuknya. Akhirnya Nyonya Nathalie ikut duduk di sana. Ia juga berpikir jika ini adalah salah satu langkah awal untuk memperbaiki hubungannya dengan Nyonya Helen.


Awalnya canggung. Namun semakin lama, semua mengalir begitu saja. Mereka hanyut dalam cerita dan tawa. Waktu terus berjalan, sampai Rian mengingatkan Nyonya Helen.


"Mau pulang jam berapa?" tanya Rian.


"Ya ampun, sampai kebablasan begini. Sin, Mama pulang dulu ya!" ucap Nyonya Helen.


"Masih kangen Ma," jawab Sindi sembari memeluk Nyonya Helen.


"Kapan-kapan kita main ke sana ya! Gak enak kalau terlalu lama, nanti Tuan Wira marah." Nyonya Nathalie mengusap punggung Sindi.


"Beneran ya Bu! Kapan-kapan kita main ke rumah Mama Helen," ucap Sindi.


"Iya," jawab Nyonya Nathalie.


Nyonya Helen dan Rian tidak menyangka jika Nyonya Nathalie berpikir akan main ke rumah Nyonya Helen.


"Oh ya, besok ada peresmian kantor Mia dan Dion. Kalau berkenan, kami mengundang kalian sekeluarga untuk menghadiri acara sederhana itu." Nyonya Helen tersenyum.


"Benarkah? Kami pasti datang. Danu dan suami aku boleh datang juga?" tanya Nyonya Nathalie.


Nyonya Nathalie menyadari kalau Danu mungkin akan sulit ikut masuk ke keluarga itu. Ada Mia di sana. Ia tidak mau jika kehadiran Danu justru akan membuat mereka tidak nyaman.


"Boleh. Semuanya aku tunggu. Aku rasa Dion dan Mia juga sudah tidak perlu membahas masa lalu. Mereka sudah hidup dengan bahagianya masing-masing," ucap Nyonya Helen.


"Iya. Kamu betul. Sudah seharusnya mereka bersama tanpa saling menyinggung masa lalu lagi. Terima kasih atas undangannya," ucap Nyonya Nathalie.


Saat perjalanan pulang, Rian tersenyum saat melihat Nyonya Helen lebih tenang dan lebih bahagia.


Akhirnya mereka bisa akur juga. Udah gak ada lagi tom n jerry versi perempuannya nih. Hehe


"Mama baru pulang? Betah banget," goda Tuan Wira yang ternyata sudah pulang.


"Ih Papa usil banget sih," ucap Nyonya Helen.


"Halo, tante cantik. Apa kabar?" tanya Reza.


"Hey Za. Kamu di sini juga? Sama istri kamu?" tanya Nyonya Helen.


"Gak, Maya ada di rumah. Aku ke sini buat persiapan acara besok," jawab Reza.


"Tante pikir mau maen PS," ucap Nyonya Helen sembari menahan tawanya.


"Papa jitak kalau sampai berani main PS lagi. Udah pada punya anak juga. Ingat umur ya kalian," ucap Tuan Wira.


"Iya. Om Bos tenang aja. Aku sama Dion udah taubat kok," ucap Reza.


#################

__ADS_1


Pantengin terus ya.. Udah mau tamat nih...


__ADS_2