
"Terima kasih sudah membantuku. Kalian orang-orang baik," ucap pasien.
"Ibu istirahat saja ya! Oh ya ada nomor yang bisa dihubungi? Biar kami menghubungi keluarga ibu," ucap Sindi.
"Boleh minjam ponselnya?" tanya pasien.
"Oh boleh. Ini Bu, silahkan!" Sindi memberikan ponselnya pada pasien.
Membiarkan tangan lemah itu mengetik angka demi angka pada layar ponselnya. Tak lama benda pipih itu ia dekatkan pada telinganya. Sindi mendengar dan mengamati pasien yang sedang menghubungi keluarganya.
"Rian, ibu ini sepertinya orang kaya deh. Ya walaupun bajunya dasteran begini," bisik Sindi.
"Tahu dari mana Kak?" tanya Rian.
"Itu manggilnya Mami. Kalau cuma tukang cendol sih mana mungkin manggil Mami. Yang manggil Mami mh cuma orang kaya aja," jawab Sindi.
Belum selesai mereka saling berbisik satu sama lain, Sindi dan Rian menghentikan obrolannya karena pasien itu memberikan ponselnya.
"Terima kasih ya!" ucap pasien.
"Iya sama-sama Bu," ucap Sindi.
"Kalian adik Kakak?" tanya pasien.
"Iya, dia adik saya." Sindi segera menjawab tanpa menunggu Rian menjelaskan hal yang akan rumit bagi pasien.
"Kamu sudah menikah?" tanya pasien.
"Belum nih Bu. Doain aku ya Bu," ucap Sindi.
"Semoga cepat ketemu sama jodohnya ya!" ucap pasien.
"Amiiin, terima kasih ya Bu. Ibu kenapa kok sampai pingsan di jalan begitu?" tanya Sindi.
Bukannya menjawab, pasien malah berlinang air mata dan menangis.
"Bu, maafin aku Bu. Maaf ya Bu kalau pertanyaan saya membuat ibu terluka," ucap Sindi.
Sindi segera mengusap tangan pasien sambil dan berusaha menenangkannya. Pasien menggenggam erat tangan Sindi.
"Siapa namamu anak baik?" tanya pasien.
"Aku Sindi, Bu. Nama ibu siapa?" tanya Sindi.
"Namaku Nathalie," jawab pasien itu.
"Wah, namanya cantik. Secantik orangnya," ucap Sindi.
Sindi tidak tahu kalau pasien yang ada di hadapannya adalah mantan mertua Mia.
"Terima kasih. kamu juga cantik. Kamu mau jadi menantuku?" tanya Nyonya Nathalie.
"Hah? Ibu punya anak bujang? Wah, kebetulan dong. Boleh ya nanti dikenalin ke aku ya!" ucap Sindi.
"Tapi dia duda," jawab Nyonya Nathalie.
Tangan yang tengah menggenggam erat Sindi itu kini mulai dilepaskan.
"Oh, maaf Bu. Duda juga gak apa-apa. Yang penting bukan suami orang deh. Jadi ya Bu dikenalin ke aku?" ucap Sindi.
Sindi meraih tangan Nyonya Nathalie dan kembali menggenggamnya.
Anaknya jangan sampai lolos. Emaknya cantik begini. Anaknya pasti ganteng. Duda gak apa-apa. Yang penting sayang sama aku deh. Ahahah. Gak sabar mau ketemu sama anaknya Ibu Nathalie.
"Kamu serius?" tanya Nyonya Nathalie.
"Ya serius. Kalau boleh tahu, mas dudanya punya anak berapa?" tanya Sindi.
"Belum," jawab Nyonya Nathalie.
"Belum apa Bu?" tanya Sindi.
"Belum punya anak," jawab Nyonya Nathalie.
"Oh, kalau boleh tahu lagi nih Bu, tipe perempuan mas duda yang kayak gimana nih?" tanya Sindi.
"Kak, serius bener." Rian mencolek punggung Sindi.
"Lah, emang serius." Sindi menatap Rian dengan tatapan yang sungguh-sungguh.
"Jangan berharap tinggi-tinggi. Nanti kalau jatuh sakit," ucap Rian.
"Ya jangan sampai jatuh. Ibu serius kan mau jadiin aku menantu?" tanya Sindi.
"Kalau kamu mau, aku kenalin kamu ke anak aku ya!" ucap Nyonya Nathalie.
"Tuh kan Rian! Kamu dengar itu? Sebentar lagi kamu mau dapat kakak ipar," ucap Sindi.
"Hahaha, lucu sekali kalian. Aku gak bisa bayangin kalau nanti kalian sudah jadi bagian dari keluarga kami," ucap Nyonya Nathalie.
"Ah, aku juga jadi gak sabar pengen cepet-cepet jadi menantunya Ibu cantik," ucap Sindi.
"Kak Sindi," ucap Rian mengingatkan.
"Apa sih Ri? Orang namanya juga lagi usaha. Namanya jodoh kan gak ada yang tahu dari mana jalannya," ucap Sindi.
"Iya tapi kan Kakak juga belum ketemu sama anaknya Ibu. Mana tahu dia ogah sama Kak Sindi?" ucap Rian.
"Ya ampun Ri. Kamu kebangetan. Doain yang baik-baik dong," ucap Sindi.
"Ya, bukannya doain yang buruk Kak. Aku cuma gak mau nanti Kakak kecewa kalau ekspektasinya sudah terlalu tinggi," ucap Rian.
"Kamu tenang aja Rian. Nanti Kakak kamu ini aku rekomendasikan sama Danu ya! Dia anak yang baik dan nurut sama aku," ucap Nyonya Nathalie.
"Ahh, senangnya. Tenang Bu, nanti kita jadi pasangan menantu dan mertua yang kompak ya!" ucap Sindi.
Sindi mengangkat tangannya untuk TOS dengan Nyonya Nathalie. Tidak membalas, Nyonya Nathalie masih melihat dan mengamati kelakuan Sindi.
"Ayo Bu!" ucap Sindi.
Sindi meraih tangan Nyonya Nathalie dan menempelkan tangan Nyonya Nathalie dengan tangannya.
"Deal ya Bu!" ucap Sindi dengan senyum lebar.
Nyonya Nathalie tertawa melihat tingkah Sindi. Banyak hal yang mereka bicarakan. Dan semua yang Sindi bicarakan membuat Nyonya Nathalie tertarik. Bahkan tidak jarang ia tertawa lepas hanya karena mendengar cerita-cerita Sindi yang nyeleneh.
__ADS_1
Tanpa mereka tahu kalau di luar, Danu dan beberapa orang bodyguardnya sudah menunggu. Mereka ditahan oleh Danu saat akan masuk karena Danu mendengar tawa lepas ibunya.
Tawa yang selama ini hilang dari pendengarannya. Tawa yang selalu dirindukan oleh dirinya dan Tuan Ferdinan. Kini tawa itu hadir kembali. Menyelinap ke dalam telinganya dan membuat hatinya bahagia.
"Mami," ucap Danu pelan.
"Eh, maaf." ucap Sindi.
Sindi yang tiba-tiba membuka pintu dan keluar, menabrak Danu yang sedang berdiri tepat di depan pintu.
"Siapa kamu?" tanya Danu.
Sindi mengangkat kepalanya. Ia harus mendongak saat bicara dengan Danu dalam jarak hanya beberapa senti saja.
"Sindi, Pak." Sindi mengulurkan tangannya.
Bukannya membalas uluran tangan Sindi, Danu malah menepis tangan Sindi dan memarahinya.
"Pak? Memangnya aku Bapakmu?" gerutu Danu. "Minggir," lanjutnya.
Sindi menggeser dan memegang dadanya. Ia terkejut dengan kehadiran Danu dan para pengawalnya yang berjajar di belakangnya. Setelah rasa tegangnya hilang, Sindi melanjutkan tujuannya untuk ke kantin membeli air minum.
Lama Sindi tidak kembali ke ruangan, membuat Rian menyusulnya ke kantin.
"Kak Sindi ngapain sih? Lama banget," ucap Rian.
Sindi yang tengah bengong di kantin terperanjat saat mendengar suara Rian.
"Nih kamu kasih minumnya ke Bu Natahalie," ucap Sindi.
Sindi memberikan sebuah kantong plastik berisi air mineral. Rian menerimanya namun ia bingung saat Sindi malah meninggalkannya.
"Terus Kakak mau kemana?" tanya Rian.
"Ke toilet. Demam panggung aku, abis ketemu sama orang galak tadi." Sindi berlalu.
Bukan kembali ke ruangan Nyonya Nathalie, Rian malah mengikuti Sindi ke toilet.
"Kamu mau ngintip?" tanya Sindi saat menyadari kalau ia diikuti oleh Rian.
"Sembarangan. Aku cuma memastikan kalau Kak Sindi gak kabur," ucap Rian.
"Kok kamu tahu sih kalau aku mau kabur?" tanya Sindi.
"Kelihatan dari wajahnya," jawab Rian.
"Memangnya wajahku kenapa?" tanya Sindi.
"Wajah buronan," jawab Rian sembari terkekeh.
"Sembarangan," ucap Sindi sembari memukul pelan tangan Rian.
Akhirnya Sindi dan Rian kembali ke kamar Nyonya Nathalie. Ketika akan masuk, Sindi menunduk saat melihat bodyguard Nyonya Nathalie berjejer di depan pintu.
"Silahkan!" ucap salah satu bodyguard dengan sopan.
Sindi menatap bodyguard itu dengan wajah terkejut. Bagaimana mungkin kalau wajah seseram itu ternyata bisa sopan juga.
"Te-terima kasih," ucap Sindi gugup.
Sindi mendekat. Ia duduk di samping Nyonya Nathalie yang terbaring. Tidak berani menatap Danu, Sindi sibuk basa basi dengan Nyonya Nathalie.
"Sindi, ini anakku. Namanya Danu," ucap Nyonya Nathalie mengenalkan Danu padanya.
Senyum kaku Sindi mengantarkannya pada perkenalannya dengan Danu.
"Sindi," ucap Sindi sembari mengulurkan tangannya.
Setelah cukup lama mengabaikan uluran tangan Sindi, Danu akhirnya membalas uluran tangan Sindi karena permintaan Nyonya Nathalie.
"Danu," ucap Danu pelan.
Dengan cepat Danu melepaskan kembali uluran tangannya.
"Udah tahu Mas," ucap Sindi.
Setelah ucapannya, Sindi mendapat tatapan tajam dari Danu hingga ia harus menunduk.
"Danu, jangan begitu. Dia ini anak baik. Dia yang nolongin Mami. Kalau gak ada dia, Mami gak tahu seperti apa nasib Mami. Kamu antar Sindi pulang ya!" ucap Nyonya Nathalie.
"Tidak perlu! Aku bisa pulang sendiri," ucap Sindi refleks.
Sindi menolak duluan, karena ia yakin Danu akan dengan kerasnya menolak permintaan Nyonya Nathalie.
"Sindi, aku sudah cukup banyak berhutang padamu. Tolong jangan menolak ya!" ucap Nyonya Nathalie.
"Ah, banyak basa-basi. Ayo!" ajak Danu.
Mulut Sindi menganga saat Danu menarik tangannya dan menyeretnya keluar dari ruangan Nyonya Nathalie.
"Danu pelan-pelan," ucap Nyonya Nathalie.
Bagaikan angin, Danu tidak menghiraukan ucapan ibunya. Ia tetap menarik tangan Sindi. Rian pamit dan berjalan lebih cepat untuk mengimbangi langkah Danu.
"Pak Duren, udah lama jomblo ya?" tanya Sindi di tengah dinginnya wajah Danu.
"Iya sih, aku tahu kalau aku tidak cantik. Tapi aku bisa kok jadi calon istri yang baik buat Pak Duren," ucap Sindi.
Danu menghentikan langkahnya.
"Kamu kenapa sih? Ngoceh terus. Bikin aku pusing," ucap Danu.
"Pak Duren kalau pusing minum obat dong. Mau aku beliin?" tanya Sindi.
"Berhenti memanggilku Pak Duren. Namaku Danu," ucap Danu dengan nada yang lebih tinggi.
"Iya Pak Danu," ucap Sindi.
"Jangan memanggilku Pak, aku bukan bapakmu." Danu semakin geram dengan Sindi.
Kali ini Sindi tidak menjawab. Ia menutup mulut dengan kedua tangannya dan hanya mengangguk.
"Kalau bukan karena Mami, aku malas mengantarmu pulang." Danu masih terus menggerutu.
"Aku juga bisa pulang sendiri kok," jawab Sindi.
__ADS_1
"Baguslah. Ya sudah pulang sendiri. kamu juga bukan anak kecil. Jadi gak perlu aku antar," ucap Danu.
"Iya," jawab Sindi.
"Ya sudah sana pulang. Ngapain masih di sini?" tanya Danu.
"Tangannya," ucap Sindi.
Telunjuk kanan Sindi menunjuk tangan kirinya yang masih dipegang oleh Danu. Seketika Danu melepaskan tangan Sindi. Salah tingkah, begitulah Danu.
"Sudah," ucap Danu.
Tanpa pamit, Danu langsung meninggalkan Sindi dan Rian yang masih berdiri di parkiran.
"Bang Danu," panggil Sindi.
Danu menghentikan langkahnya dan berbalik. Ia menghampiri Sindi. Jaraknya begitu dekat hinga Sindi harus mundur dua langkah agar lehernya tidak sakit saat bicara dengan Danu.
Danu mengernyitkan dahinya saat melihat Sindi menengadahkan tangannya.
"Apa? Pamit? Kamu tidak perlu pamit dan salaman-salaman. Aku bukan siapa-siapa kamu. Gak penting," ucap Danu. "Dan satu lagi, jangan memanggilku Bang. Aku bukan abangmu," lanjutnya.
Danu kembali meninggalkan Sindi. Rian segera mengingatkan Sindi agar mereka pulang saja.
"Danu," panggil Sindi lagi.
Rian menarik tangan Sindi agar tidak bertindak gegabah.
Lagi, Danu kembali menghampiri Sindi.
"Apa?" tanya Danu.
"Marah? Kan katanya gak boleh manggil Bang. Ya aku panggil nama aja," ucap Sindi.
"Bukan itu. Ada apa kamu manggil aku?" tanya Danu.
"Minta ongkos," ucap Sindi yang kembali menengadahkan tangannya di depan Danu.
Danu tidak bicara banyak. Ia merogoh sakunya dan mengambil beberapa kembar uang seratus ribuan.
"Nih," ucap Danu memberikan uang itu ke tangan Sindi.
"Hah?" tanya Sindi.
"Kenapa? Kurang?" tanya Danu.
Sindi mengambil selembar uang seratus ribu dan mengembalikan sisanya.
"Nih. Aku minta ongkos, bukan mau rampok kamu. Permisi," ucap Sindi.
Sindi menarik tangan Danu dan pergi meninggalkan Danu yang masih menatap telapak tangannya. Ada beberapa lembar uang yang dikembalikan Sindi padanya.
Melihat Sindi semakin menjauh, Danu tersenyum dan kembali ke kamar ibunya.
"Kenapa cepat sekali? Apakah rumah Sindi dekat?" tanya Nyonya Nathalie.
"Emm, dia meminta ongkos dan pulang sendiri." Danu pasrah jika ibunya sampai marah.
"Hahaha, anak itu lucu sekali. Sindi, Sindi, kamu ini ada-ada aja. Nanti kita harus ketemu lagi sama dia," ucap Nyonya Nathalie.
Danu mengangkat kepalanya dan tersenyum senang saat melihat ibunya sudah kembali ceria.
"Mami sehat-sehat ya! Papi pasti seneng kalau lihat Mami sehat begini," ucap Danu.
"Mami selalu sehat kok. Papi kapan pulang?" tanya Nyonya Nathalie.
"Dua hari lagi," jawab Danu.
Tiba-tiba Danu merasa bersalah pada Sindi. Ia telat menyadari jika wanita itu sangat berjasa bagi ibunya.
Mungkin saat ini dia sedang sedih? Marah karena merasa direndahkan? Aku akan menemui kamu, Sindi.
Dugaan Danu sepertinya meleset. Karena saat ini Sindi baik-baik saja. Tidak sedikitpun ia menyimpan perasaan marah dan kesal untuk Danu. Bahkan saat ditanya oleh Mia dari mana ia seharian ini, Sindi dengan sumringah menjawab kalau ia sudah bertemu dengan calon mertuanya.
"Siapa?" tanya Mia penasaran.
"Ada deh. Kamu tenang aja ya! Pokoknya aku juga bakal dapat mertua baik seperti Nyonya Helen," ucap Sindi dengan senyum lebar menghisasi bibirnya.
"Siapa sih Ri?" tanya Mia pada Rian.
"Eittts, jangan sampai bocor. Kalau belum apa-apa jangan dibocorin dulu. Pamali," ucap Sindi yang membungkam mulut Rian.
"Ah kamu sama Mia aja main rahasia-rahasiaan segala Sin," ucap Mia.
"Ini bukan rahasia Mi. Aku hanya sedang memperjuangkan masa depanku," ucap Sindi dengan wajah serius.
Mia yang aneh dengan tingkah Sindi, hanya bisa tertawa dan pamit karena Narendra menangis.
"Rian, awas ya!" Jangan sampai Mia tahu. Bahaya. Ini kan cuma kehaluan aku aja. Mana mungkin aku jadi mertua ibu baik itu. Anaknya galak kayak monster," ucap Sindi.
"Monsternya ganteng ya Kak?" goda Rian.
Monster ganteng? Ah, Danuuuu.
"Ih kamu. Udah ah, aku mau ke kamar dulu. Mandi dan istirahat," ucap Sindi.
Rian hanya bisa tersenyum melihat Sindi yang salah tingkah dan nampak bahagia itu. Rian bisa memahami kalau Sindi memang jatuh hati pada Danu saat pandangan pertama.
Rian menggelengkan kepalanya. Ia bergegas untuk kembali ke kamarnya. Namun langkahnya terhenti saat namanya dipanggil.
"Rian," panggil Tuan Felix.
"Tuan," ucap Rian tidak percaya.
Pria yang setelah dari Bandung itu tidak mau bicara dengannya, kini memanggilnya. Bahagia, itu yang saat ini ia rasakan. Meskipun Rian tidak tahu apa tujuan Tuan Felix memanggilnya.
######################
Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
__ADS_1
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.