
Sore ini hujan cukup deras. Sindi merasa bosan. Sedangkan Danu belum pulang. Sebuah panggilan di ponselnya berhasil membuat Sindi menjadi tersenyum senang.
"Rian," sapa Sindi saat panggilan sudah terhubung.
Mereka saling melepas rindu khas adik kakak yang biasa terjadi. Saling mengejek satu sama lain sudah menjadi hal yang biasa bagi keduanya. Apalagi saat badan Sindi semakin membesar karena kehamilannya.
Sempat kesal dengan ejekan Rian, namun terobati saat Rian akan datang saat Sindi sudah lahiran nanti. Seketika Sindi menjadi sangat bersemangat untuk menghadapi kelahirannya.
Rasa sepi kembali menguasai Sindi saat panggilan sudah berakhir. Kini ia merindukan Mia. Biasanya ia tidak pernah merasa sebosan ini karena Mia selalu ada di saat-saat seperti ini. Namun sekarang keadaannya sudah berbeda.
Dua sahabat yang terpisah tidak terlalu jauh itu, akhir-akhir ini memang sangat sulit untuk bertemu. Mia yang begitu sibuk di kantornya, tidak bisa menyisihkan waktunya untuk mengunjungi Sindi. Begitu juga sebaliknya, Sindi tidak bisa menemui Mia meskipun sangat merindukannya karen kehamilannya yang semakin membesar.
Sebenarnya tidak ada keluhan yang berat pada kehamilan Sindi, hanya saja Danu melarangnya untuk keluar rumah. Sempat menolak dengan aturan yang Danu berikan, namun Mia menyadarkannya jika semua yang dilakukan Danu hanya untuk kebaikannya.
Meskipun tidak bisa bertemu, namun Mia selalu mengabari bahkan mendengarkan keluhan Sindi via telepon. Mia sangat mengerti masa-masa menjadi Sindi saat ini. Karena ia juga pernah ada di posisi seperti itu.
"Jadi orang kaya begini ya, Mi?" tanya Sindi lemas.
"Dulu katanya mau jadi orang kaya. Inget gak kita pernah mimpi bersama. Mau minum ada yang ngambilin, mau makan ada yang masakin. Yang tiap hari bisa tiduran tapi gak mikirin besok masak apa," ucap Mia mengenang masa-masa sulit mereka.
Sindi tertawa saat ingat apa yang sempat mereka inginkan. Ya, Sindi kini malu sendiri. Apa yang ia alami sebenarnya jawaban atas keinginannya dulu.
"Iya sih Mi. Tapi kok kesannya malah kayak pasien rumah sakit ya! Ini dan itu gak boleh," ucap Sindi.
"Itu cuma karena kamu belum terbiasa aja. Mia juga dulu begitu, tapi sekarang udah mulai terbiasa. Nanti kamu juga akan terbiasa. Apalagi nanti kalau bayinya udah launching. Pasti gak kerasa jenuh karena ada bayi lucu yang bisa menghibur kamu setiap waktu," ucap Mia.
Mia selalu memberikan dukungan penuh pada Sindi. Ia selalu mengingatkan sahabatnya itu untuk bersyukur. Tidak semua orang bisa menjadi seperti Sindi.
Terima kasih ya Mi. Kamu selalu bisa bikin hati ini tenang.
"Belum tidur?" tanya Danu.
"Belum," jawab Sindi.
"Bahagia banget. Dapat arisan ya?" tanya Danu.
"Gak. Aku cuma bersyukur aja punya suami kayak kamu," jawab Sindi sembari memeluk Danu.
Danu mengernyitkan dahinya saat melihat tingkah Sindi.
"Kamu gak salah minum obat kan?" tanya Danu.
"Hey, enak saja. Aku hanya berusaha untuk mensyukuri apa yang aku punya dan aku jalani saat ini," ucap Sindi.
__ADS_1
"Bukannya kamu merasa beban menjalani hari-hari seperti ini? Terus apa yang kamu punya yang bisa kamu syukuri?" tanya Danu.
Aduh, aduh," ucap Sindi sembari memegang perutnya sembari meringis.
"Eh, kamu kenapa? Ayo kita dokter!" ajak Danu.
Danu begitu panik saat melihat Sindi nampak kesakitan. Sementara Sindi tertawa melihat kepanikan suaminya.
"Kamu kenapa? Sakit kok malah ketawa," ucap Danu bingung.
"Ini yang membuat aku bersyukur atas apa yang aku punya dan aku jalani," jawab Sindi.
"Maksudnya?" tanya Danu.
"Aku menjalani hari-hari menyenangkan karena ada kamu yang selalu perhatian dan siaga sama keadaan aku," ucap Sindi.
"Jadi tadi kamu cuma pura-pura sakit? Bayi kita gak apa-apa?" tanya Danu sembari mengusap perut Sindi dan masih terlihat panik.
"Gak. Aku cuma mau lihat reaksi kamu aja," ucap Sindi.
"Sindi jangan lakukan ini lagi! Ini gak lucu sama sekali. Jangan pernah meragukan kasih sayang dan kepedulianku padamu. Aku sangat mencintai kamu dan bayi ini. Apapun akan aku lakukan demi kalian," ucap Danu.
Selain Mia, Maya juga menjadi salah satu orang yang rajin memberi dukungan pada Sindi. Sepertinya tidak ada alasan bagi Sindi untuk tidak bersyukur karena sudah dikelilingi oleh orang-orang yang sangat peduli padanya.
"Kita ke dokter sekarang!" ajak Nyonya Helen.
Saat itu Danu dan Tuan Ferdinan masih di kantor. Kabar sudah sampai kepada mereka. Namun jika harus pulang dulu ke rumah, itu akan memakan waktu yang cukup lama. Sehingga mereka memutuskan untuk bertemu di rumah sakit.
Danu nampak gugup dan gelisah. Tuan Ferdinan berusaha menenangkan anaknya. Ina sengaja membawa sopir karena tidak mau membiarkan Danu mebgendalikan mobil dalam keadaan seperti itu.
"Pak bisa lebih cepat gak sih?" tanya Danu pada sopir.
"Maaf Tuan, tapi jalanan sedang ramai." Sopir itu melirik seventar dari kaca spion.
"Tenanglah Danu. Ada Mami di sana. Sindi gak sendiri," ucap Tuan Ferdinan.
"Tapi Sindi butuh aku Pi," ucap Danu.
"Iya, Papa ngerti. Tapi kamu juga harus mengerti kalau jalanan lagi macet," ucap Tuan Ferdinan.
Danu menelepon Sindi berkali-kali namun tidak diangkat. Ia mencoba menghubungi Sindi melalui Nyonya Nathalie. Bukannya tenang, Danu malah kena omel dari ibunya.
"Mami gak ngerti orang panik ya?" ucap Danu saat panggilannya diakhiri oleh Nyonya Nathalie.
__ADS_1
"Kamu pikir Mami gak panik? Mami juga panik. Mami marah karena kamu ganggu. Mami lagi konsen sama keadaan Sindi. Udah tenang aja yang penting kamu berdoa biar semuanya berjalan lancar," ucap Tuan Ferdinan.
Tidak ingin berdebat, Danu hanya menahan kekesalaannya. Ia kesal pada dirinya sendiri. Ia menyesal karena berangkat kerja hari ini. Danu tidak tahu jika ada tanda-tanda akan melahirkan pada Sindi tadi malam. Semalam Danu tidur nyenyak karena terlalu banyak pekerjaan.
Semalaman Sindi menahan sakit pada perutnya. Kontraksi palsu yang ia rasakan tidak membuatnya membangunkan Danu. Sindi tahu kalau Danu sudah lelah dengan pekerjaannya.
Terlebih saat menjelang pagi, sakit itu mulai mereda bahkan hilang. Sindi baru bisa tidur nyenyak. Saat Danu bangun, ia melihat istrinya masih tertidur pulas. Tidak ingin mengganggu tidur pulasnya, Danu berangkat ke kantor tanpa membangunkan Sindi.
"Kalau aja aku gak ninggalin Sindi, gak gini jadinya." Danu menyesali perbuatannya.
"Jangan selalu menyalahkan diri sendiri. Ada Mami di sana. Papi yakin Mami pasti bisa nenangin Sindi," ucap Tuan Ferdinan.
Setelah gelisah tidak karuan, akhirnya mobil tiba di rumah sakit. Danu segera turun dan berlari mencari keberadaan Sindi. Matanya berkaca saat melihat Sindi tengah meringis.
"Sindi," panggil Danu yang segera memeluknya.
"Mules," ucap Sindi dengan suara parau.
Beberapa kali Danu melihat Sindi mengusap sudut matanya.
"Jangan malu. Menangislah! Aku tahu ini sakit. Kalau saja bisa, aku rela merasakan sakit ini asal kamu tetap tersenyum. Kuatlah Sin," ucap Danu.
Sindi berusaha tersenyum. Ia menahan sakit itu dengan sekuat tenaganya. Keringat yang bercucuran dan wajah yang sudah memucat membuat Danu semakin khawatir.
"Dokter, apa tidak bisa dipercepat?" tanya Danu.
"Sudah kami usahakan," jawab dokter itu.
Sebuah induksi berhasil masuk ke tubuh Sindi. Hal itu tentu membuat Sindi semakin merasa sakit yang luar biasa.
"Dokter, apa tidak ada cara lain agar istriku tidak kesakitan seperti ini? Berikan obat penahan rasa sakit," ucap Danu.
"Aku gak apa-apa. Aku kuat kok. Kamu jangan khawatir," ucap Sindi.
Saat pembukaan sudah genap, Sindi sudah siap dengan posisi melahirkan. Tarikan napas dan hembusan napasnya membuat Danu ikut merasakan lelahnya.
"Kuat ya Sin. Aku ada di sini," ucap Danu saat Sindi mengaduh menahan rasa sakitnya.
"Ayo Nyonya. sedikit lagi!" ucap Dokter memberi semangat.
Sindi dengan sekuat tenaga mengejan hingga terdengar suara tangis bayi. Tangisan Sindi pun pecah mendengar suara bayinya.
"Anak kita," ucap Sindi dengan senyum lebarnya.
__ADS_1
Rasa sakit yang ia rasakan sejak tadi seketika hilang. Tangis karena sakit itu kini berubah menjadi tangis bahagia saat bayi yang masih merah itu berada dalam dekapannya.