
Dengan niat yang kuat, ia melangkahkan kakinya untuk ke rumah Nyonya Nathalie. Ia tidak diizinkan masuk oleh security di sana. Mia sampai memohon-mohon agar bisa bertemu dengan Nyonya Nathalie.
"Mami, izinkan Mia masuk. Mia hanya ingin tahu dimana makam mas Danu. Itu saja," teriak Mia.
Mendengar suara Mia, Nyonya Nathalie menjadi geram. Wanita yang sudah menyebabkan kematian anak kesayangannya itu kini ada di rumahnya.
Dengan penuh amarah, Nyonya Nathalie untuk menemui Mia.
"Untuk apa kamu ke sini lagi? Semua barangmu sudah aku kirim saat kau di rumah sakit. Apa masih ada barang berhargamu di sini?" tanya Nyonya Nathalie.
Ya, ketika Mia sedang di rawat memang ada orang yang mengirim semua barang Mia ke rumah sakit. Bahkan biaya perawatan Mia, bisa terbayar dari uang pemberian Haji Hamid dulu. Jadi bukan itu tujuan Mia ke sana. Ia hanya ingin tahu dimana makam suaminya. Mia mencari ke setiap tempat pemakaman di Jakarta, tapi tidak menemukan makam atas nama suaminya.
"Dimana makam mas Danu mi? Mia ingin meminta maaf dan melepas rindu," ucap Mia.
PLAAAK
"Jangan pernah memanggilku mami. Setelah Danu tidak ada, kita tidak punya ikatan apapun. Pergi dari sini!" ucap Nyonya Nathalie.
"Nyonya, maafkan Mia. Mia hanya ingin melihat makam mas Danu. Mia sayang sama mas Danu," ucap Mia sambil menangis.
"Dari mana saja? Kenapa baru sekarang kamu mencari Danu? Sampai kapanpun aku tidak akan memberi tahu makam anakku. Tak sudi aku melihat makam Danu dibasahi oleh air mata busukmu itu!" ucap Nyonya Nathalie.
"Nyonya, tapi Mia baru keluar dari rumah sakit. Makanya Mia baru ke sini sekarang," ucap Mia di sela isak tangisnya.
"Hapus air mata busukmu itu. Kamu adalah pembunuh. Kenapa bukan kamu saja yang mati?" teriak Nyonya Nathalie sambil menangis histeris.
Seorang pelayan mendekati Nyonya Nathalie dan mengajaknya untuk masuk. Ia berusaha untuk menenangkan Nyonya Nathalie, namun tak berhasil. Sang empunya rumah masih tetap memaki dan membentak Mia, sampai akhirnya Nyonya Nathalie pingsan.
"Nyonya, Nyonya," ucap Mia panik.
"Maaf Nyonya, lebih baik Anda pulang saja. Sepertinya waktunya tidak tepat," ucap salah seorang security.
Benar! Keberadaan Mia di sana hanya akan membuat keadaan Nyonya Nathalie memburuk. Biarlah Mia mencarinya sendiri tanpa harus menghubungi Nyonya Nathalie.
"Sampaikan salam maaf Mia untuk Nyonya. Mia permisi," ucap Mia mengusap sudut matanya.
"Mas, maafkan Mia. Mia sayang sama mas. Mia janji tidak akan selalu mencintai mas," ucap Mia.
Entah berapa jauh Mia melangkah menyusuri jalanan hanya beralaskan sendal jepit. Kaki yang baru sembuh itu terasa sakit kembali hingga Mia harus beristirahat.
"Dokter Arumi, dimana kamu?" ucap Mia. Ponsel Mia hilang saat kecelakaan itu.
Saat ini, hanya dokter Arumi harapannya. Namun ia tidak hapal nomornya. Mia hanya berharap ada keajaiban dalam hidupnya. Rintik hujan mulai turun, semakin lama semakin deras dan membuat Mia mencari warung di pinggir jalan.
"Mia?" sapa seseorang.
"Dev?" ucap Mia tak percaya.
"Sedang apa di sini?" tanya Dev.
Mia menangis dan memeluk Dev. Dev mengajaknya ke dalam mobil untuk pulang ke rumahnya. Dev ingin mengenalkannya pada istrinya.
Dalam mobil, Mia menceritakan semua yang ia alami. Dev beberapa kali menepuk bahu Mia dan menenangkannya.
"Mia, aku yakin kau wanita kuat. Jangan menyerah, hidup tetap berjalan. Dan jalanmu masih panjang. Nanti kita cerita di rumah ya!" ucap Dev saat melihat Mia masih terus menangis.
Mia mengangguk dan ketiduran di dalam mobil. Dev beberapa kali melihat Mia. Mia nampak sangat lusuh. Dev ikut sedih saat mendengar cerita hidup Mia yang pilu.
"Kau harus tahu Mia, hanya paku lurus yang akan terus di hantam. Kau wanita baik, sudah sewajarnya Tuhan memberimu ujian agar kau bisa naik kelas. Semoga Tuhan menaikkan derajatmu," gumam Dev.
"Mas, bawa siapa?" tanya seorang wanita yang menyambut kedatangan Dev.
"Mia, teman papa. Dia sedang kena musibah," uca Dev.
Kalin namanya. Wanita cantik yang sudah bersedia menerima Dev dengan segala masa lalunya. Kalin melihat ke arah mobil, nampak Mia yang masih tidur terlelap.
"Mia," ucap Kalin sambil mengguncang tubuh Mia.
"Maafkan saya Nyonya. Mia, Mia, Mia," Mia terperanjat dan bingung saat melihat seorang wanita membangunkannya dan menyebut namanya.
"Kalin, istri Dev." Kalin mengulurkan tangannya.
"Oh, hai. Maaf, Mia ikut sama Dev, tapi malah ketiduran." Mia menyambut uluran tangan Kalin dan segera turun dari mobil.
Kalin adalah wanita baik, cantik, dan cerdas serta berasal dari keluarga kaya. Hanya saja, masa mudanya hancur karena ia diperkosa saat ia masih SMP. Kalin hancur dan menutup diri dari semua orang, termasuk orang tuanya. Ia tak ingin berinteraksi dengan siapapun.
Kalin hampir meninggal saat melahirkan anaknya saat itu. Akhirnya dokter bisa menyelamatkan Kalin walaupun anaknya meninggal. Semenjak itu, Kalin tidak nau bergaul dengan siapapun. Kalin melakukan home schooling untuk melanjutkan sekolahnya. Kemampuannya di bidang akademik memang tak bisa diragukan lagi. Kalin yang berasal dari Kalimantan, sengaja pindah ke Jakarta. Ia ingin membuang semua kenyataan hidupnya yang pahit.
Di Jakarta Kalin bertemu dengan Dev saat acara kantor. Semakin sering mereka bertemu, Kalin merasa Dev berbeda. Dev yang tidak pernah mencintai wanita, saat itu merasa kalau Kalin adalah orang asyik yang bisa mendengar semua ceritanya. Bahkan yang menyembuhkan Dev juga Kalin. Kalin membantu Dev untuk berobat dan terapi.
Saat sembuh, Dev yang juga tahu semua tentang Kalin mengajaknya untuk menikah. Sampai sekarang, pernikahan mereka terlihat asyik layaknya dua orang sahabat yang hidup bersama.
__ADS_1
"Jodoh itu benar-benar rahasia Tuhan ya Nyonya," ucap Mia.
"Nyonya? Ayolah Mia, panggil aku Kalin. Aku tidak suka dengan panggilanmu itu," ucap Kalin.
"Ba-baiklah Kalin," ucap Mia ragu.
"Sekarang kamu tinggal dimana?" tanya Kalin.
"Mia tidak punya tempat tinggal. Saat ini, baju Mia di rumah Dokter Leoni. Dokter yang sudah merawat Mia," jawab Mia.
"Lalu sekarang, apa rencanamu?" tanya Kalin.
Mia menggeleng. Tatapannya kosong. Kalin bisa membaca kalau saat ini, Mia memang sedang kehilangan arah dan harapan. Kalin tidak bisa membiarkan Mia terus-terusan begini. Kalin segera meraih tas dan meminta kunci mobil pada Dev.
"Mau kemana?" Tanya Dev.
"Aku akan menemui Dokter Leoni," ucap Mia.
"Untuk apa?" tanya Dev.
Kalin membawa Dev ke kamar. Kalin menjelaskan kalau ia akan mengubah Mia. Mia masih muda dan berhak bahagia. Kalin akan menanyakan perihal kesehatan Mia pada Dokter Leoni. kalin juga akan membawa semua barang Mia, karena akan mengajaknya tinggal di rumah mereka.
"Kau yakin?" tanya Dev.
"Aku tidak suka melihat wanita lemah seperti itu. Cukup aku yang mengalami masa sulit seperti itu. Aku ingin Mia berubah," ucap Kalin.
Dev hanya tersenyum dan berterima kasih saat mendengar Kalin ingin membantu Mia. Mia memang orang baik, hingga mudah sekali mempertemukan orang-orang baik dengan Mia.
"Mia, ikut aku!" ajak Kalin menarik tangan Mia.
"Kemana?" tanya Mia.
"Ke rumah Dokter Leoni," jawab Kalin sambil menyeret Mia untuk masuk ke dalam mobil.
Mia hanya mengikuti ucapan Kalin. Kali ini, Mia tidak punya tujuan hidup. Yang ia tahu, Kalin orang baik dan tidak mungkin mencelakakannya. Hingga ia tak perlu takut dengan semua yang akan Kalin lakukan.
"Apa yang kamu bisa?" tanya Kalin.
"Memasak, mencuci, merapikan rumah, me--" ucapan Mia terhenti saat Kalin memotong ucapannya.
"Stoooop! Bukan itu Mia. Apa keahlianmu?" tanya Kalin.
Kalin berdecak. "Kamu pernah sekolah?" tanya Kalin.
Kalin cukup terkejut kalau Mia lulusan sarjana dengan nilai sangat memuaskan. Kalin berpikir kalau Mia hanya berlian yang masih tertimbun jerami. Perlahan tapi pasti, akan mengubah Mia.
"Kamu akan terus terhina dan tersiksa kalau tidak berubah. Kamu cantik, pintar, dan baik. Hanya saja kamu harus mengubah cara pandang dan cara hidupmu," ucap Kalin. "Tak perlu bertanya apapun. Kau cukup mengikuti apa yang aku katakan," lanjut Kalin saat melihat wajah bingung Mia.
Mia hanya mengangguk. "Di depan, belok kiri ya!" ucap Mia yang memberi petunjuk arah menuju rumah Dokter Leoni.
Saat sampai di rumah Dokter Leoni, ternyata dokter Leoni belum pulang. Kata security di sana, Dokter Leoni akan pulang sekitar dua jam lagi.
"Bawa barangmu sekarang," pinta Kalin.
Mia mengikuti ucapan Kalin.
"Mau kemana?" tanya Mia saat melihat Kalin berpamitan pada asisten rumah tangga di sana.
"Ke rumah sakit," Jawab Kalin.
"Tidak menunggu di sini?" tanya Mia. "Baiklah," lanjut Mia saat melihat mata Kalin menatapnya tajam.
"Menunggu itu bukan sebuah pekerjaan. Menunggu itu hanya akan menyia-nyiakan waktu saja. Dan orang sukses, tidak pernah mengenal kata menunggu. Sukses hanya milik orang yang menggunakan waktu sebaik-baiknya," ucap Kalin saat sudah menjalankan kembali mobilnya.
"Oh, ya," ucap Mia meskipun belum terlalu paham maksud ucapan Kalin.
Kalin melanjutkan interview tentang Mia. Banyak hal yang membuat Kalin terkejut dengan kemampuan yang Mia miliki. Pernah bekerja di perusahaan besar milik Tuan Ferdinan adalah sebuah prestasi bagi Mia. Apalagi saat Mia mengaku bisa menyetir. Ya, walaupun belum lancar. Tapi setidaknya akan lebih mudah membuat Mia berubah.
"Dokter," sapa Mia saat melihat Dokter Leoni baru keluar dari ruangannya.
"Mia," ucap Dokter Leoni sambil memeluk Mia. "Dari mana saja kamu?" lanjutnya.
Mia mengenalkan Kalin pada Dokter Leoni. Kemudian Kalin bertanya tentang kesehatan Mia dan meminta izin untuk membawa Mia tinggal di rumahnya. Dengan sedikit berat hati, Dokter Leoni mengizinkan Mia untuk pergi dari rumahnya.
"Mia, kalau ada keluhan apa-apa, kau bisa menghubungiku ya!" ucap Dokter Leoni.
"Iya, terima kasih Dokter. Mia sangat beruntung bisa bertemu dengan dokter baik seperti Dokter Leoni. Tadi Mia juga izin ke rumah dokter untuk membawa semua barang-barang Mia," ucap Mia.
"Hubungi aku jika kau ada waktu senggang. Aku akan sangat senang jika kau masih mau menghubungiku," ucap Dokter Leoni menyerahkan sebuah kartu nama.
Mia menerimanya dan pamit untuk pulang. Sebelum mobil melaju, Kalin memeriksa barang-barang Mia.
__ADS_1
"Apa ini?" tanya Kalin membuka baju-baju Mia dari dalam tas.
"Baju Mia," jawab Mia.
Kalin menggelengkan kepalanya. Lalu memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Kalin, pelan-pelan." Suara Mia terdengar samar.
Kalin menoleh ke arah Mia. "Jangan bilang kalau kamu mabuk kendaraan," ucap Kalin. "Astaga Miaaaa," lanjut Kalin saat melihat Mia mengangguk.
Kalin memperlambat mobilnya agar Mia merasa nyaman dalam mobilnya.
"Mau kemana?" tanya Mia saat melihat Kalin memarkir mobilnya di sebuah mall.
"Kau tak tahu ini apa?" tanya Kalin. "Ingat Mia, ini Jakarta. Kau tidak boleh terlalu lugu. Kau cukup ikuti alur dan perhatikan apa yang kau lalui. Tidak setiap orang bisa sabar menghadapi pertanyaan recehmu," ucap Kalin.
"Iya," jawab Mia.
Selama dalam mall Mia hanya mengikuti kemana Kalin pergi. Mia juga memperhatikan apa yang Kalin lakukan. Memilih beberapa baju, tas, dan sepatu. Baju kerja dan beberapa dres. Mungkinkah itu untuk Mia? Mia menahan mulutnya untuk tidak bertanya apapun yang akan membuat Kalin marah.
Kalin mengajak Mia untuk makan malam di mall karena mendengar suara perut Mia. Kalin menatap Mia yang sedang makan dengan lahap.
"Jangan begitu. Pelan-pelan saja. Kamu ini perempuan. Lihat aku!" ucap Kalin.
Mia memperhatikan Kalin dan mengikutinya. Cerdas! Mia bisa mengikuti Kalin. Selesai makan, Kalin mengajak Mia untuk pulang.
"Bawa ini!" ucap Kalin menyerahkan beberapa goodie bag berisi belanjaan.
Mia membawanya tanpa berucap apapun.
"Dev tahu kalau kita pulang malam?" tanya Mia.
"Tentu. Kau harus memberi tahu pasanganmu tentang apapun aktivitasmu," ucap Kalin.
Mia mengangguk. "Dia tidak akan marah?" tanya Mia.
"Tidak, alasanku jelas dan logis. Tak ada yang membuat Dev marah," jawab Kalin.
Ketika sampai, Kalin membawa Mia ke kamar tamu.
"Ini untukmu. Besok pagi bangun lebih awal dan bersiap. Ikut ke kantorku!" ucap Kalin.
Mia menatap Kalin, rasanya ingin bertanya apa yang dimaksud Kalin. Tapi melihat tatapan Kalin, Mia hanya mengangguk. Kalin membalasnya dengan acungan jempol.
"Istirahatlah!" ucap Kalin.
"Terima kasih," ucap Mia.
Kalin menemui Dev yang sudah menunggunya di kamar.
"Besok aku bawa Mia ke kantor ya!" ucap Kalin.
"Tapi Mia masih berkabung," ucap Dev.
"Mia punya potensi yang bagus. Lagipula ia tidak dimana makam suaminya. Masih ada kemungkinan kalau suaminya itu masih hidup. Sekarang yang Mia butuhkan hanya aktivitas. Jika terus-terusan seperti ini, untuk apa? Hidup bukan untuk diratapi. Mia akan semakin sedih kalau hanya berteman denga. bantal dan tembok," ucap Kalin.
Dev menatap Kalin. Ia yakin kalau Kalin akan mampu mengubah Mia, sama seperti Kalin mengubahnya. Kini, Kalin menggali tentang masa lalu Mia dari Dev.
Kalin mengangguk-angguk. Ia mulai menghubung-hubungkan masa lalu Mia. Kalin semakin yakin akan membentuk Mia menjadi pribadi yang baru. Masa lalu Mia memang kelam, sama kelamnya seperti masa lalunya meskipun berbeda kasus.
"Aku boleh mengubah Mia?" tanya Kalin.
"Aku tahu kau bisa memberikan yang terbaik," jawab Dev.
Setelah mandi, Kalin membaringkan tubuhnya di samping Dev. Tangan Kalin memainkan daun telinga Dev. Dev yang sudah terbiasa membiarkan telinganya menjadi teman tidur Kalin.
Sementara di kamar tamu, Mia melihat barang belanjaannya. Mencoba baju yang akan ia pakai besok ke kantor Kalin. Mia berputar dan melihat dirinya pada pantulan cermin.
"Mas, maaf. Bukannya Mia bahagia atas kepergian mas. Tapi Kalin mengajarkan Mia untuk tetap melanjutkan hidup. Percayalah dalam hati ini masih terukir nama mas, sampai kapanpun. Mia hanya ingin bangkit agar hidup Mia tidak selalu menderita. Bukankah mas akan lebih bahagia melihat Mia bangkit dari pada terpuruk? Tentang rencana kita untuk bayi tabung, Mia simpan itu menjadi sebuah kenangan paling Indah dalam hidup Mia," gumam Mia.
Air mata yang mengalir di pipinya menjadi saksi betapa sakit hatinya atas kehilangan suaminya.
######################
Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.
Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
Terima kasih..
__ADS_1