Janda Bersegel

Janda Bersegel
Persekongkolan


__ADS_3

"Mia," panggil Dion.


Mia tidak menjawab. Ia hanya menyeka air mata.


Ya Tuhaaaan. Mia kamu kenapa sih? Aku bingung ini. Padahal kamu yang kentut. Harusnya aku yang nangis. Benda pusaka punya aku sampai dua kali pingsan karena kentut kamu. Loh kok jadi kamu yang nangis? Beginikah normalnya ibu hamil? Sabar Dion, sabar. Mungkin karena bayinya kembar, marah-marahnya juga jadi double.


"Maafin aku kalau aku salah ya!" ucap Dion.


Bukan kalah dalam berdebat. Namun Dion hanya berusaha mengalah agar Mia tidak sedih lagi.


"Aa tuh gak sayang lagi sama Mia. Apa nanti kalau bayi kembarnya sudah lahir Aa bakal ninggalin Mia?" tanya Mia.


"Ya ampun Mia, kenapa pikiran kamu sejauh itu sih? Pikiran buruk kamu sama aku itu lebih jauh dari perjalanan indonesia ke saudi arabia tahu gak?" jawab Dion yang mulai merasa kesal.


"Kok Aa marah sih? Mia kan cuma nanya. Apa salahnya sih tinggal jawab iya atau gak. Ini malah jadi kw saudi arabia. Buat apa? Aa mau nyuruh Mia buat jadi TKW ya? Terus nanti Aa di sini nikah lagi. Mia yang cari uang buat susu bayi kembar kita? Iiih, Aa jahat banget sih?" ucap Mia sambil memukul tangan Dion.


Maaaak. Kenapa jadi melebar bawa-bawa TKW segala?


"Mia, mana mungkin aku menyuruhmu jadi TKW hanya untuk membeli susu buat bayi kembar kita? Aku bahkan bisa membeli pabrik susu itu," ucap Dion.


"Ish, Aa sombong. Gak boleh sombong A. Istigfar, nyebut A. Nyebut," ucap Mia.


Waduhhh, ini kayaknya perlu dibawa ke psikiater. Istri aku kok jadi begini ya?


"A, ayo nyebut A. Istigfar. Astagfirullohaladzim. Ayo A ikutin Mia," ucap Mia.


Alih-alih mengikuti Mia, Dion malah menahan tawanya. Ia tidak kuat melihat kelakuan Mia malam ini. Seperti pasien kabur yang kehabisan obat. Emosinya naik turun. Membuat Dion bingung mencari cara untuk menghadapinya.


"Aa, ayo!" ucap Mia.


Harusnya kamu yang istigfar Mia. Kamu itu kayak orang kesurupan. Aneh banget deh malam ini.


Agar emosi Mi tidak semakin menjadi, Dion mengikuti Mia untuk beristigfar.


"Sudah malam. Ayo tidur sayang! Kasihan bayi kembar kita," ucap Dion mengusap kepala Mia penuh kasih sayang.


"Jenguk bayi kembarnya gak jadi A?" tanya Mia.


"Pending ya! Besok saja," ucap Dion.


"Bukan Mia yang gak mau ya A," ucap Mia.


"Iya, aku juga bukannya gak mau. Hanya saja ini terlalu malam. Sudah waktunya kamu istirahat," ucap Dion.


"Terima kasih A. Selamat malam," ucap Mia.


CUP


Kecupan manis mendarat singkat di bibir Dion. Mia tersenyum dan tidur di samping Dion. Wajah tak berdosa. Begitu yang ada di pikiran Dion. Mia tidur dengan polosnya setelah menggagalkan rencana yang sudah mereka sepakati bersama.


Kamu unik Mia. Kamu menyenangkan. Selalu ada saja sikap kamu yang membuatku marah, kesal, namun selalu berujung tersenyum atau bahkan sampai tertawa. Terima kasih sudah mengubah duniaku menjadi lebih berwarna. Aku sudah tidak sabar ingin segera bayi kembar kita lahir. Semua pasti akan jauh lebih indah.


"Selamat tidur, Mia." Dion mengecup dahi Mia.


Tanpa respon. Mia memang penidur tiga detik. Baru saja dia memejamkan matanya, namun saat Dion mencium dahinya, sudah tidak ada respon dari Mia. Bahkan Mia bisa tidur di tempat yang ramai sekalipun.


Kadang Dion iri pada hidup Mia. Mia dengan perjalanan masa lalunya yang kelam, membuatnya lebih santai menghadapi kerasnya hidup ini. Tidak sekalipun Mia mengeluh dalam perjalanan rumah tangganya dengan Dion. Padahal Dion tahu kalau jarak yang memisahkan mereka, adalah hal yang paling Mia benci. Namun Mia bisa mengatasi semua itu, hingga kadang justru Dion yang terlihat protes dengan jarak itu.


Pagi hari, Dion menepuk ranjang di sebelahnya. Dengan mata tertutup, Dion meraba-raba sekeliling ranjangnya. Mia tidaka ada. Dion mulai membuka matanya, meyakinkan dugaannya. Ternyata benar, Mia tidak ada. Dion menajamkan oendengarannya, tidak ada gemericik air. Berarti Mia tidak ada di kamar mandi. Dimana dia?


"Mia," panggil Dion.


Ketika Dion tidak mendapati jawaban dari Mia, ia segera turun dari ranjang dan membuka pintu kamar mandi. Dion benar! Mia tidak ada di sana. Dengan cepat Dion keluar dari kamarnya.


"Mia, Mia," panggil Dion.


Mia tidak menjawab. Apakah itu artinya kalau Mia tidak ada di rumah? Karena suara Dion cukup keras saat memanggil Mia. Biasanya Mia akan segera berteriak untuk menjawab panggilan dari Dion.


"Dimana Mia?" tanya Dion pada salah seorang pelayan.


"Nyonya sedang ada di taman belakang, Tuan." Pelayan itu menunduk setelah menjawab pertanyaan Dion.


Meskipun masih banyak sekali pertanyaan yang ada di kepalanya, namun Dion menyingkirkan hal itu dulu. Saat ini, prioritasnya adalah keberadaan Mia. Dion segera menuju ke taman belakang.

__ADS_1


Ya, itu Mia. Wanita yang tengah mengandung anak kembar dari Dion itu tengah duduk di atas bebangkuan. Dion menghampirinya tanpa sepengetahuan Mia. Ia memastikan dengan mata dan kepalanya sendiri, tentang apa yang sedang dilakukan oleh Mia.


"Sudah selesai Nyonya," ucap seorang pria.


Ya, Dion mengenali pria itu. Dia adalah orang yang bekerja di rumahnya.


Ada apa ini? Apa yang Mia lakukan? Kenapa dia membuat kuburan di taman belakang?


"Terima kasih ya! Kamu boleh pergi," ucap Mia.


Pria itu mengangguk. Matanya yang menangkap kehadiran Dion nyaris menyapa, namun telunjuk Dion menempel di bibirnya. Pria itu menyadari kode dari Dion dan segera berlalu saat melihat Dion mengibaskan tangannya.


Dari jarak yang tidak terlalu jauh, Mia menyaksikan apa sedang Mia lakuakan. Mia menangis dan mengusap-usap tanah di hadapannya. Tanah yang dibentuk seolah-olah itu adalah sebuah kuburan. Jarak membuat Dion tidak mendengar apa yang diucapkan oleh Mia. Terlebih Mia bicara dengan setengah berbisik.


Merasa tidak bisa bertanya langsung pada Mia, Dion mencari pria yang membantu Mia tadi. Dion tak habis pikir, bisa seberani itu Mia melakukan hal aneh di rumahnya. Tanpa memberi tahu apapun padanya.


"Tuan, maafkan saya. Saya hanya menjalankan perintah Nyonya saja," ucap pria tadi.


Pria itu nampak ketakutan saat melihat tatapan tajam dari Dion. Dengan kepala yang menunduk, ia menjelaskan semua yang ia lakukan untuk Mia.


"Apa?" tanya Dion.


Keterkejutan Dion sama sekali tidak bisa ia sembunyikan. Hingga pria yang membantu Mia itu berkali-kali minta maaf. Ia merasa lancang saat mengetahui hal tentang Nyonya Dion, sementara Dion sendiri tidak tahu apapun tentang itu.


Tanpa mengatakan apapun, Dion meninggalkan pria itu. Menghampiri Mia yang masih terisak di depan makam buatan.


"Sayang, maafkan aku. Aku merasa sangat bersalah," ucap Dion sambil merangkul Mia.


Mia yang terkejut dengan kedatangan Dion langsung mengusap pipinya yang sudah banjir air mata.


"A, ngapain di sini?" tanya Mia.


"Aku yang seharusnya bertanya padamu. Apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya Dion.


"Mia, Mia," ucap Mia.


Mia tidak bisa menyelesaikan ucapannya. Dia sendiri bingung dengan kata yang harus dirangkai menjadi kalimat. Kalimat yang mungkin akan terdengar konyol di telinga Dion.


Ya, Mia sengaja meminta salah satu pekerja di sana untuk membuat makam. Menumpukkan tanah dan menaburkan bunga di atasnya. Hanya agar ia merasa sedang berada di makam ibunya. Ini tahun kedua Mia kehilangan sosok ibu dalam hidupnya. Penguat dan pemberi semangat itu sudah tidak lagi menemaninya. Namun setiap kenangan yang telah tercipta, sama sekali tak pernah pupus dalam ingatan Mia.


Ah, Mia kehilangan kendali. Ia menangis semakin keras. Mia memegang dadanya yang mulai terasa sesak. Pelukan dan belaian lembut tangan Dion, semakin membuatnya hanyut dalam sedih.


Hatinya ingin sekali berteriak, mengungkapkan setiap rindu dan mengatakan kalau ia masih punya Dion. Pria yang selalu menemaninya hingga saat ini. Mia ingin sekali mengatakan hati yang rapuh untuk tidak selalu bersedih meratapi semua kesendiriannya. Karena ada banyak orang yang selalu membuatnya bahagia. Namun hatinya menolak. Ada suatu waktu dalam hidup Mia, ia merasa sepi meski di tengah keramaian.


Mia kadang merasa dirinya sendiri walaupun berada di dalam hangatnya keluarga Dion. Mia merasa tidak punya siapapun saat ada Kalin, dokter Leoni dan Sindi selalu menghubunginya. Waktu itu adalah dimana tiba-tiba rindu pada Bu Ningsih menyeruak begitu saja.


"Kamu ingin ke makam ibu? Kenapa tidak bilang padaku? Aku bisa mengantarmu ke sana," ucap Dion.


"Maksudnya?" tanya Mia.


Mia tidak percaya mendengar ucapan Dion. Karena yang Mia tahu, Mia hanya boleh di rumah. Tidak boleh melakukan perjalanan jauh. Hingga harapan untuk ke makam ibunya pun hanya menjadi sebuah hayalan saja baginya.


"Kita akan ke makam ibu," jawab Dion.


"Tapi kan aku hamil. Kata Mama, aku gak boleh kemana-mana." Mia menghela nafas panjang.


"Perjalanan Jakarta Bandung, gak sejauh Jakarta Surabaya. Nanti kita ke Bandung, tapi kita konsul dulu ya sama dokter." Dion menepuk pelan kepala Mia.


"Aa gak bohong kan?" tanya Mia.


"Mana ada aku bohong?" tanya Dion.


Mia menghambur memeluk Dion. Mia tidak pernah sekalipun membayangkan bisa pergi ke Bandung.


"Mama gak marah?" tanya Mia.


Wajah Nyonya Helen menunjukkan kalau ia tidak setuju dengan keputusan Mia dan Dion. Namun sorot mata Dion tengah memohon pada ibunya. Sorot mata yang tak pernah ia dapatkan dari Dion sebelumnya. Mata Nyonya Helen beralih pada Mia. Harapan besar tengah didambakan oleh Mia.


"Tapi bawa dokter pribadi ya!" ucap Nyonya Helen.


"Tentu. Keamanan dan kesehatan Mia akan menjadi point utama Ma. jangan khawatir!" ucap Dion.


Mia mengatupkan kembali mulutmya saat mendengar jawaban Dion. Baru saja Mia mau menolak permintaan Nyonya Helen. Rasanya terlalu berlebihan jika sampai harus membawa dokter ke Bandung.

__ADS_1


Memangnya di Bandung tidak ada dokter apa? Rumah sakit juga ada. Masa iya dokter harus bawa dari Jakarta. Mama, ada-ada saja.


Mia mengusap perutnya. Mungkin ini adalah alasan yang menurut Mia berlebihan itu. Tidak masalah. Bagi Mia, yang penting bisa mengunjungi makam ibunya. Saat ini, keinginan terbesarnya adalah memeluk batu nisan ibunya. Mengenalkan Dion, pria yang sudah menikahi dan mencintainya setulus hati. Dan mengabarkan kehamilan kembarnya.


"Ibu pasti bahagia banget kalau tahu Mia hamil bayi kembar," ucap Mia.


"Kehamilan kamu itu membawa kebahagiaan untuk setiap orang yang mendengarnya. Bukan hanya ibu saja, Mama juga bahagia Mia. Kamu jangan sedih terus dong," ucap Nyonya Helen.


Nyonya Helen memang sangat menyayangi Mia bahkan sebelum Mia hamil. Ia dengan tulua menerima Mia dengan segala latar belakangnya yang jauh berbeda dengan keluarganya. Bahkan untuk konsul ke dojter saja, Nyonya Helen ikut menemani Mia. Ia ingin memastikan kalau perjalanan ke Bandung tidak akan mengganggu calon cucunya.


"Dok, sama sekalian minta obat anti kentut." pinta Dion.


Wajah polosnya menjadi pusat perhatian. Tidak terkecuali dokter dan Nyonya Helen.


"Aa," ucap Mia.


Mia memukul tangan Dion. Kesal dan malu kalau sampai Dion membongkar semua aibnya malam itu, di hadapan Nyonya Helen dan dokter kandungan.


"Kenapa? Kan jaga-jaga. Perjalanan Jakarta Bandung lumayan jauh loh," ucap Dion.


"Dokter, Mia rasa sudah cukup. Kami permisi dulu ya!" ucap Mia.


Mia menarik tangan Dion. "Ayo, Ma!" ajak Mia.


Dengan wajah bingung, Nyonya Helen mengikuti Mia untuk keluar dari ruangan dokter.


"Kalian ini kenapa sih?" tanya Nyonya Helen.


Dion dengan tenangnya membeberkan kejadian malam itu meskipun tangan dan kaki Mia berkeliaran memberi kode pada Dion. Namun kode itu tidak direspon sama sekali oleh Dion. Nyonya Helen yang nampak sangat terhibur dengan cerita itu, hanya bis menahan tawanya. Sedangkan Mia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Kenapa? Malu?" tanya Dion.


"Pakai nanya lagi. Ya malu lah. Gak seharusnya Aa menceritakan semua itu sama Mama. Itu kan aib," jawab Mia ketus.


"Baru di depan Mama. Apa kabar kamu yang dengan percaya diri membeberkan berita hoaks di depan teman-teman kamu?" tanya Dion.


"Teman-teman?" tanya Mia.


"Jangan pura-pura lupa. Kamu apaan menyebar hoaks tentang bisul aku?" ucap Dion kesal. "Nih Ma, dia fitnah aku di depan teman-temannya. Pakai bilang aku bisulan banyak dan gede-gede lagi. Dia tahu bisul aku aja gak," ucap Dion.


Nyonya Helen hanya menahan tawanya saat mendengar Dion mengadu tentang apa yang sudah Mia lakukan. Sementara Mia hanya menatap kesal pada Dion.


"Mia kan cuma kesal, Aa malah senyum-senyum bahagia saat teman-teman perempuan Mia muji Aa." Mia cemberut kesal.


"Tapi kan aku malu. Kamu sih enak, aku cuma bilang di depan Mama dan Dokter. Tapi ngambeknya ngelebihin aku," ucap Dion.


"Oh jadi Aa balas dendam?" tanya Mia.


"Bukan balas dendam. Aku hanya ingin kamu tahu bagaimana rasanya jadi aku," ucap Dion.


"Ma, tuh Ma. Aa gitu tuh," ucap Mia.


Kini giliran Mia yang mengadu pada Nyonya Helen. Saat keduanya tengah cekcok kecil dan sama-sama mengadu padanya, Nyonya Helen merasa ia benar-benar menjadi seorang Ibu. Ia senang saat dilibatkan seperti itu.


"Mia, kalau kamu mau balas dendam sih gampang. Jangan kasih jatah jenguk bayi kembar," ucap Nyonya Helen sembari merangkul Mia.


"Eh, Mama apaan sih? Mama kok ngasih ide buruk begitu?" tanya Dion kesal. "Eh Mia, kalau kamu sampai ikut saran Mama, aku gak jadi anter kamu ke Bandung." Dion mencoba mengancam Mia.


"Jangan takut Mia. Ada Mama. Kalau Dion gak mau ngantar kamu, biar Mama yang antar kamu ya! Mama punya banyak sopir. Tinggal tunjuk langsunh cusss berangkat," ucap Nyonya Helen.


Mia hanya tertawa dan mengikuti Nyonya Helen untuk kembali ke dalam mobil. Dion tidak punya pilihan lain, kecuali mengikuti ibu dan istrinya.


Aku harus hati-hati, nampaknya Mama sama Mia sudah semakin klop. Mereka semakin kompak saja buat mojokin aku. Persekongkolan itu semakin nyata di depan mata. Aku kalah suara. Bahaya ini.


#################


Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.


Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.

__ADS_1


Terima kasih..


__ADS_2