Janda Bersegel

Janda Bersegel
Kawin.. Kawin.. Minggu depan aku kawin


__ADS_3

Selesai mandi, Mia menghampiri Nyonya Nathalie dan Tuan Ferdinan serta Danu yang tengah menunggunya.


"Sini!" panggil Nyonya Nathalie dengan menepuk kursi di sampingnya agar Mia duduk.


Mia menunduk hormat saat melewati Danu dan Tuan Ferdinan. Attitude Mia memang harus diacungi jempol oleh keluarga Tuan Ferdinan. Mia duduk di samping Nyonya Nathalie.


"Aku merindukanmu, Mia." Nyonya Nathalie nampak memeluk Mia dengan erat dan berusaha untuk melepaskan rasa rindunya.


Mia tersenyum bahagia saat mendapat perlakuan itu dari Nyonya Nathalie. Mia benar-benar merasakan ketulusan itu. Jika saja masih ada, Bu Ningsih pasti akan sangat berterima kasih pada Nyonya Nathalie yang sudah sangat mencintai dan menyayangi Mia setulus itu.


Setelah Nyonya Nathalie melepaskan pelukannya, Mia nampak menyeka sudut matanya.


"Kamu kenapa?" tanya Nyonya Nathalie.


"Mia bahagia Mi. Semua yang Mami lakukan membuat Mia terharu. Terima kasih sudah sangat baik pada Mia," ucap Mia dengan senyum manisnya.


Nyonya Nathlie maraih wajah Mia dan mengangkatnya. Ia menatap bola mata Mia yang masih berlinang air mata.


"Jangan pernah berterima kasih sama Mami, karena sudah kewajiban Mami untuk menyayangimu. Jangan sungkan untuk mengatakan apapun. Mami berhak tahu semua tentang Mia mulai hari ini," ucap Nyonya Nathalie.


Air mata itu mengalir semakin deras dan Mia memeluk Nyonya Nathalie semakin lekat. Tuan Ferdinan dan Danu yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa menatap mereka berdua penuh haru. Terutama Danu, ia merasa bahagia saat melihat Mia bahagia seperti itu.


Setelah Mia dan Nyonya Nathalie selesai melepas haru dan rindu, Mia kembali dihadapkan dengan pertanyaan awal. Apa lagi kalau bukan alasan Mia sampai ke rumah besar nan mewah itu hingga pukul sepuluh malam.


Mia menceritakan semuanya sedetil mungkin pada mereka. Danu yang sudah mengetahui semunya hanya menggelengkan kepalanya ketika mendengar lagi alasan konyol itu.


"Apa?" ucap Nyonya Nathalie dan Tuan Ferdinan bersamaan.


"Papi," ucap Nyonya Nathalie.


Tuan Ferdinan nampak menutup mulutnya untuk menahan tawanya.


Mereka tidak percaya kalau demi jengkol saja Mia sampai rela nyasar ke sana sini. Tapi alasannya cukup menyentuh saat Mia mengatakan kalau semua itu ia lakukan demi keluarga Tuan Ferdinan yang sangat menyukai jengkol.


Ternyata dugaan Mia salah besar. Alih-alih bersedih karena tidak mendapat oleh-oleh jengkol, mereka justru sangat bahagia karena selamat dari sakit perut yang menyiksa.


"Semua oleh-oleh itu didapat dari kebunmu sendiri?" tanya Tuan Ferdinan.


Mia mengangguk. Itu yang membuat Mia rela mencari maling oleh-olehnya itu. Meskipun semua oleh-oleh yang hilang itu bisa ia dapatkan dengan mudah, tapi bagi Mia tidak bisa begitu. Mia sudah mengambilnya sendiri dari kebunnya yang sudah diurus oleh ibunya selama masih ada. Kini, oleh-oleh itu raib entah kemana.


Tawa dari keluarga Tuan Ferdinan ternyata kini berubah menjadi iba. Mereka membayangkan bagaimana bangganya Mia membawa hasil oleh-oleh berkebun dari ibunya. Kemudian selama empat puluh hari di Bandung, Mia melanjutkan pekerjaan ibunya untuk mengurus kebun dan membawa oleh-olehnya ke Jakarta.


Keluarga Tuan Ferdinan tak habis kalau ada yang mencuri oleh-oleh kampung seperti itu. Ini kasus pertama yang pernah masuk ke telinganya.


"Percuma dong kamu kejar yang malingnya. Kamu sendiri kan ketiduran. Jadi mana tahu orangnya seperti apa," ucap Tuan Ferdinan.


"Mia sempat lihat wajahnya kok. Dia pria yang memakai setelan jas yang rapi," ucap Mia sambil mengingat sosok itu.


"Mana mungkin ada pria dengan setelan jas mencuri karung berisi oleh-oleh kampung," ucap Danu tidak percaya.


"Iya. Lagi pula kamu kan ketiduran. Terus lihat maling berjas itu kapan?" tanya Tuan Ferdinan penasaran.


"Pas Mia lagi tidur, Mia bangun saat melihat pria berjas itu membawa karung Mia. Tapi karena Mia tidak kuat menahan ngantuk, Mia tidur lagi. Ya karena Mia juga gak percaya masa ada bos maling jengkol? Mia pikir itu mimpi. Eh pas bangun udah gak ada karung Mia," ucap Mia.


Mereka semua tak bisa menahan tawanya. Ketiganya tertawa bersama. Hanya Mia yang bingung apa yang membuat mereka tertawa. Dimana letak lucunya? Mia sama sekali tidak menemukan itu. Justru Mia sedang bersedih.


"Maafkan kami Mia," ucap Nyonya Nathalie saat menyadari sikap Mia.


Menyingkirkan masalah pria berjas yang maling karung jengkol, Nyonya Nathalie mengalihkan pembicarannya. Kini topik pembahasannya adalah tentang rencana pernikahan. Mia akan tinggal di rumahnya, maka Danu dan Mia harus segera menikah. Nyonya Nathalie adalah orang Jakarta, namun ia tak sedikitpun menyingkirkan moralnya. Ia bukan orang yang bisa bebas membiarkan seorang wanita single tinggal di rumahnya bersama Danu, meskipun merek tidak tidur satu kamar.

__ADS_1


Kehidupan mewah Nyonya Nathalie, tidak membawanya ke dalam hidup yang bebas. Ia tetap menghormati dan menjunjung tinggi norma agama.


"Jadi bagaimana Mia? Kau sudah siapkan menjadi bagian dari keluarga kami?" tanya Nyonya Nathalie.


Tak ada lagi yang harus dipertimbangkan oleh Mia. Kebaikan semuanya membuat Mia yakin kalau mereka akan menjadi keluarga baru yang sangat menyayangi Mia. Mia mengangguk tanda mengiyakan permintaan Nyonya Nathalie.


Nampak Danu yang senyum memerah karena menahan rasa senang dan malu pada kedua orangtuanya. Entah mengapa Danu merasa malu saat ibunya meminta Mia untuk jadi pendamping hidupnya. Danu sendiri bahkan tidak pernah meminta Mia dengan setulus itu.


"Minggu depan ya!" ucap Nyonya Nathalie.


"Minggu depan?" tanya Danu terkejut.


"Kenapa?" tanya Nyonya Nathalie.


Danu menggeleng. Ia menjadi gugup. Danu senang kalau Mia akan segera menjadi miliknya. Namun Danu tidak menyangka kalau bisa secepat itu.


"Nikahnya sederhana aja ya Mi. Mia malu kalau harus menikah mewah. Mia kan janda," ucap Mia yang selalu tidak percaya diri dengan statusnya.


Nyonya Nathalie cemberut menatap Mia. Kemudian mengarahkan pandangannya pada Tuan Ferdinan. Ia mengangguk.


"Gak masalah. Nanti Mami buatkan acara yang sederhana ya buat pernikahan kalian," ucap Nyonya Nathalie.


"Terima kasih Mi," ucap Mia.


"Kawin, kawin, minggu depan aku kawin. Kawin, kawin, tidur ada yang nemenin. Hihaaaa," Tuan Ferdinan mengejek Danu sambil bernyanyi.


"Papiii," ucap Danu geram.


Tuan Ferdinan yang melihat Danu sedang marah segera berlari meninggalkan mereka bertiga.


"Cepat mandi. Kerja yang rajin. Kalau malas nanti kamu Papi pecat ya! Ingat, punya istri harus dikasih makan, kasih duit belanja, kasih duit perawatan. Kalau dipecat sama Papi, kamu mau kerja apa?" Mau jadi pria berjas yang maling karung jengkol?" teriak Tuan Ferdinan saat akan masuk ke dalam kamarnya.


"Papiiiii. Awas ya nanti aku nikah gak bakalan aku undang," teriak Danu.


Danu permisi untuk bersiap-siap ke kantor. Nyonya Nathalie tersenyum bahagia saat membandingkan bagaimana kondisi keluarganya tanpa dan ketika ada Mia.


Ketika Mia masih di Bandung, rumah Nyonya Nathalie sepi. Danu nampak lebih murung dan jarang keluar dari kamarnya. Berbeda setelah ada Mia d rumah itu. Sangat ramai dan Nyonya Nathalie merasa keluarganya lebih hangat. Rasa syukur Nyonya Nathalie begitu besar saat bisa bertemu dengan sosok Mia yang akan menjadi calon menantunya.


Hari-hari berjalan lebih bermakna bagi keluarga Nyonya Nathalie yang tengah mempersiapkan pernikahan Danu dan Mia. Waktu terasa sangat lama bagi Nyonya Nathalie namun sangat cepat bagi keduanya. Danu dan Mia yang akan menikah, namun Nyonya Nathalie yang sangat tidak sabar menanti harinitu tiba.


Semua persiapan sudah diurus oleh anak buah Nyonya Nathalie atas arahan langsung darinya. Pernikahan yang sederhana namun sangat apik. Nyonya Nathalie ingin pernikahan ini sangat berkesan bagi keduanya. Ini adalah pernikahan kedua bagi Mia, namun pernikahan pertama bagi Danu. Nyonya Nathalie ingin menjadi pernikahan terakhir bagi keduanya.


Waktu terus berjalan dan persiapan juga semakin matang. Nyonya Nathalie mengontrol terus setiap harinya. Ia tidak ingin ada sesuatu yang mengecewakannya saat hari istimewa itu datang.


Pakaian untuk Mia dan Danu sudah diukur dan disiapkan spesial. Nyonya Nathalie memilih dua tempat agar tidak keteteran. Waktu yang terlalu dekat membuat pekerja butik harus bekerja lebih ekstra.


WO sudah sering menghubungi Nyonya Nathalie untuk membahas dekorasi dan yang lainnya. Untuk tempatnya, itu hanya menjadi rahasia Nyonya Nathalie. Bahkan Tuan Ferdinan saja tidak diberi tahu. Pernikahan ini adalah kejutan untuk semuanya dari Nyonya besar yang masih nampak cantik itu.


Setelah penantian panjang dan menegangkan, akhirnya waktu itu tiba juga. Nyonya Nathalie membawa mereka ke gedung yang akan digunakan untuk pernikahan anaknya.


"Pi, aku tutup matanya ya!" ucap Nyonya Nathalie melingkarkan kain panjang untuk menutup mata suaminya.


"Mi, ada acara apa sih kok pakai tutup mata segala?" tanya Tuan Ferdinan dengan bingung.


"Pokoknya Mami maunya begitu. Ayo dong cepat!" ucap Nyonya Nathalie memaksa suaminya.


Karena tidak ingin berdebat di hari spesialnya, Tuan Ferdinan mengikuti kemauan istrinya itu.


Setelah sampai ke gedung, Tuan Ferdinan memegang tangan istrinya untuk masuk ke dalam ruang ganti. Setelah sampai di ruang ganti Nyonya Nathalie membuka penutup mata suaminya. Tuan Ferdinan nampak mengucek matanya dan mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan.

__ADS_1


Dimana ini? Rasanya tidak ada yang spesial sama sekali. Ruangannya tampak biasa saja, layaknya ruang ganti pada umumnya.


"Ini pakaian Anda, Tuan." Salah seorang pria kemayu memberikan pakaian pada Tuan Ferdinan.


"Terima kasih," ucap Tuan Ferdinan dengan ketus sambil menyambar pakaian dari tangan pria kemayu itu.


Sampai saat ini Tuan Ferdinan sangat takut dengan pria kemayu. Ia memiliki pengalaman buruk dengan pria kemayu. Saat masih remaja, ia sempat dikejar-kejar oleh pria kemayu hingga kecebur got. Peristiwa itu memalukan dan membuatnya marah, karena dilihat banyak orang. Kenangan buruk itu menjadi hal yang paling menyebalkan jika terungkit kembali. Dan saat ini, Nyonya Natahalie hanya menahan tawanya ketika melihat sikap suaminya. Kesal dan takut.


Setelah selesai memakai pakaian untuk menghadiri pernikahan anak semata wayangnya, Nyonys Nathalie membawa suaminya untuk masuk ke dalam ruangan ijab kabul. Tuan Ferdinan nampak memperhatikan setiap sudut ruangan. Memang asing tapi ia mengingat sesuatu. Matanya menatap sebuah foto yang berbaris di atas meja. Tuan Ferdinan berpikir kalau itu adalah foto prewedding Danu dan Mia.


"Kapan mereka di foto?" tanya Tuan Ferdinan yang merasa tidak pernah kehilangan Danu, saat jam kerja atau ketika sudah pulang ke rumah.


"Tiga puluh enam tahun yang lalu," ucap Nyonya Nathalie.


Tuan Ferdinan menatap istrinya penuh tanya.


"Ya, tiga puluh enam tahun yang lalu." Nyonya Nathalie kembali meyakinkan Tuan Ferdinan dengan jawabannya.


Tuan Ferdinan berjalan dan melihat foto yang berbaris di sana. Matanya terbelalak saat melihat foto itu. Ya, bagaimana tidak? Itu adalah foto pernikahan mereka saat dulu.


"Mami?" ucap Tuan Ferdinan tidak percaya.


Nyonya Nathalie mengangguk dan tersenyum. Kemudian ia menunjuk ke arah kaca. Tuan Ferdinan yang merasa semakin bingung menatap istrinya penuh tanya. Namun Nyonya Nathalie tidak menjawab apapun. Karena rasa penasarannya, Tuan Ferdinan langsung berjalan menuju kaca yang sudah ditunjuk oleh istrinya.


Matanya menyipit dan dahinya berkerut. Ia mencari tahu maksud istrinya. Setelah beberapa menit, Tuan Ferdinan menatap istrinya dengan senyum bahagia.


"Benarkah semua ini?" tanya Tuan Ferdinan yang merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Nyonya Nathalie mengangguk dan tersenyum lebar. Tuan Ferdinan memeluk istrinya dan mengecup keningnya. Ini benar-benar spesial. Bukan hanya untuk Danu dan Mia, Nyonya Nathalie menyiapkan kejutan untuk Tuan Ferdinan.


Ini adalah tempat dimana Nyonya Nathalie dan Tuan Ferdinan menikah dulu. Tempatnya sudah jauh berbeda. Dulu gedung itu tidak semewah ini, namun jika dibandingkan dengan waktu dulu, gedung itu masih tetap menjadi gedung paling mewah pada masanya.


Jadi yang dimaksud pernikahan sederhana bagi Nyonya Nathalie adalah pernikahan yang tidak mengundang banyak kolega bisnisnya. Gedung dan gaun, tetap Nyonya Nathalie siapkan dengan sangat spesial.


Mia sampai terkejut saat melihat gedung indah yang akan menjadi tempat pernikahannya. Tempat dimana Mia akan melihat Danu mengucapkan ijab kabul, berjanji akan menjaga lahir batinnya hingga ajal yang memisahkan.


Kenangan tentang Haji Hamid kembali menyeruak dalam kepalanya. Tiba-tiba saja perasaan takut itu muncul. Mia takut perceraian itu akan terulang kembali. Apa lagi pernikahannya dengan Danu juga atas dasar perjanjian. Ya meskipun Danu tidak pernah membahas perceraian, namun itu bisa terjadi kapan saja. Bicara tentang Haji Hamid, Mia juga merasa kecewa karena mantan suaminya itu tidak datang. Padahal Mia sudah memberi tahu tanggal pernikahannya. Haji Hamid juga sudah berjanji akan menghadiri acara pernikahannya. Namun sampai saat ini, Haji Hamid tak kunjung datang juga. Mungkin dia tidak akan datang, karena sibuk. Begitulah Mia yang selalu berusaha berpikir positif.


"Mas," panggil Mia.


Danu yang melihat Mia menjadi sangat pangling. Dengan gaun dan riasan pengantin dari tangan ahli membuat Mia nampak sangat berbeda.


"Mas," panggil Mia lagi saat melihat Danu hanya menatapnya tanpa menjawabnya.


"Eh iya, apa?" tanya Danu yang gugup dan malu saat ia terlihat sedang memperhatikan Mia.


"Aku takut," ucap Mia.


"Takut kenapa?" tanya Danu.


"Aku takut kau menceraikanku," ucap Mia.


Cerai? Menikah saja belum, Mia malah sudah membahas cerai. Danu bergidik ngeri mendengar ucapan Mia. Namun Danu menyadari rasa trauma Mia yang mungkin tidak akan pernah hilang dalam ingatannya. Maka tugas Danu adalah membuat Mia bahagia sebisanya agar Mia tidak mengingat kenangan buruknya itu.


"Jangan takut! Aku tidak akan pernah sekalipun menceraikanmu. Kita akan hidup bersama sampai Tuhan memisahkan kita dengan maut. Kecuali jika kau yang menginginkan perceraian itu," ucap Danu.


Mia menggeleng. "Mia tidak akan meminta cerai dari mas apapun yang terjadi," ucap Mia tersenyum bahagia.


#################

__ADS_1


Jempolnya tolong kondisikan ya kakak... Tap like, love, rate bintang 5 dan beri vote seikhlasnya juga biar aku makin semangat nulisnya.


Terima kasih banyak semua.. Happy reading....


__ADS_2