Janda Bersegel

Janda Bersegel
Tentu. Mia akan bahagia


__ADS_3

Ini hari yang Tuan Ferdinan janjikan dalam email masuk itu. Jam sebelas? Mia menatap jam yang menempel di dinding kamarnya. Masih jam tujuh. Libur kantor dan menunggu waktu untuk bertemu Tuan Ferdinan, bahkan tidak menutup kemungkinan bertemu dengan Danu. Mia merasa waktu begitu lambat. Antara takut dan bahagia, namun Mia memilih untuk mengisi kepalanya dengan semua pikiran baik. Tak ingin mengotori kepala dan moodnya dengan hal buruk sepagi ini.


Sudah jam sepuluh, Mia segera bersiap-siap. Riasan wajah yang cantik dan pakaian yang modis, tidak membuat Mia begitu percaya diri. Mia yakin di sana pasti ada Nyonya Nathalie yang mau tidak mau hanya akan menghinanya. Mia menghembuskan nafas kasarnya. Kembali berusaha mengisi benaknya dengan hal yang baik. Masalah nanti? Itu urusan nanti.


Letak cafe X yang tidak terlalu jauh dari apartemennya membuat Mia tidak perlu berangkat lebih awal. Namun mata Mia terbelalak saat melihat ketiganya sudah ada di cafe X. Menunggu Mia.


Mereka menungguku? Batin Mia.


Mia melenggang melewati beberapa pengunjung lain. Meskipun perasaannya campur aduk, Mia tidak ingin menunjukkan kepanikannya. Mia hanya harus bersikap elegan. Berpura-pura tegar apapun yang terjadi nanti. Meskipun mungkin Danu masih belum mengenalinya. Itu saja.


"Mia," panggil Danu saat Mia sudah mendekat.


Mas Danu mengenal Mia? Batin Mia.


"Mas Danu mengenal Mia?" tanya Mia yang sudah tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya lagi.


Hal yang tidak berubah dari Mia, ceria dan selalu memperlakukan mereka secara terhormat. Meskipun Mia tidak tahu kalau kekecewaan sedang ada di depan mata, Mia meraih tangan mereka untuk dicium. Hanya Nyonya Nathalie yang terlihat memalingkan muka dan enggan bersitatap dengan Mia.


"Mia," ucap Tuan Ferdinan dengan suara lirih.


Apa ini? Kejutan buruk apa yang akan aku dapatkan hari ini? Batin Mia.


"Mia maafkan aku," ucap Danu tiba-tiba.


Maaf? Tidak, ini tidak mungkin. Batin Mia.


"Ini!" ucap Nyonya Nathalie dengan cepat sembari menyerahkan sebuah amplop coklat.


Mia menatap mereka satu per satu secara bergantian. Belum ada satu kata pun yang terucap dari bibirnya. Ia tidak mau melakukan kesalahan dengan ucapannya.


"Baca saja!" ucap Nyonya Nathalie ketus.


"Mamii," ucap Danu.


Nyonya Nathalie menunduk, seolah ia ingin berkata maafkan aku anakku tersayang.


Mia membuka amplop coklat itu dan mulai membacanya. Tak ada satu huruf yang terlewat dari pandangannya. Mia yang berusaha setegar apapun, tak sanggup menahan air matanya. Bulir bening itu berjatuhan. Tak bisa ia tahan lagi. Wajahnya memerah. Entah karena marah dengan keputusan Danu yang sepihak, atau mungkin juga karena ia malu dan hilang muka di depan Nyonya Nathalie.


Mia mengangkat wajahnya. Ekspresi Nyonya Nathalie merupakan pemancing kebencian yang mendalam dalam dirinya. Terlihat sekali wajah yang mengejek dan merendahkan Mia. Bibirnya yang agak merekah adalah bukti kalau ia sudah menang.


"Mas, apa ini?" tanya Mia mengangkat surat cerai yang sudah ditandatangani oleh Danu.


"Maafkan aku Mia," jawab Danu.


"Maaf? Setelah aku menunggumu dan menjaga cinta kita, ini yang kamu berikan untukku?" ucap Mia menyeka pipinya yang sudah banjir dengan air mata.


"Aku tidak punya pilihan lain, Mia. Ini yang terbaik untuk kita." Dengan bibir bergetar karena perasaan bersalah, Danu berusaha menjawab ucapan Mia.


"Terbaik untuk kita? Mana? Apa? Ini?" tanya Mia sambil melempar kertas itu ke atas meja.


Rasa takut dan hormat untuk kedua mertuanya hilang seketika. Mertua? Ah tidak, terhitung sejak ia menerima surat cerainya, mereka bukan mertuanya lagi. Mereka adalah orang tua yang yang jahat bagi Mia.


"Mia, aku bisa jelaskan semuanya!" ucap Danu.


"Apa? Mas mau jelaskan apa?" ucap Mia disela isak tangisnya.


"Mia kumohon mengertilah!" ucap Danu.


"Mengerti? Mas yang tidak mengerti arti perjuangan dan penantian. Mia berjuang mencari kenyataan kalau Mas memang masih hidup. Mia berusaha meyakinkan diri Mia dan mulai mencari mas. Lihat ini," ucap Mia menyerahkan ponselnya.


Danu terlihat berkaca-kaca melihat rekaman itu. Mia yang mencari dirinya dari makam yang satu ke makam yang lain.


"Mas lihat itu? Bagaimana ibu mas bisa dengan mudah membohongi Mia. Nyonya Nathalie bahkan menyiapkan makam palsu hanya agar Mia berhenti mencari mas. Mia menyerah? Tidak. Cinta Mia pada mas tidak membuat Mia menyerah. Mia terus berjuang. Mia terus mencari hingga beberapa kali ke rumah mas dan memohon untuk bertemu dengan mas, walaupun akhirnya Mia harus pulang dengan penuh kehampaan. Lalu ini balasan mas untuk perjuangan Mia?" tanya Mia dengan intonasi yang tidak pernah keluarga Danu dengar sebelumnya.


Nyonya Nathalie bahkan tidak percaya kalau Mia bisa berkata dan berani seperti itu. Sampai saat ini, Nyonya Nathalie belum mengeluarkan kata-kata lagi. Ia hanya terkejut dengan sikap Mia yang berubah seketika. Tidak ada dalam bayangan Nyonya Nathalie kalau Mia akan seperti ini, ia pikir Mia hanya akan menangis dan memohon layaknya fakir asmara yang dibuang begitu saja oleh anaknya.


"Mia, aku ingin yang terbaik untukmu. Aku sangat mencintaimu," ucap Danu singkat.


"Terbaik? Cinta?" ucap Mia dengan senyum sinisnya.


"Mia, mengertilah. Ini semua untuk kebaikanmu juga. Aku melakukan semua ini agar kamu bahagia. Percaya padaku," ucap Danu menggenggam tangan Mia.


Mia melepaskan genggaman mantan suaminya itu.


"Ini bukan bukti cinta mas. Ini hanya bentuk pengkhianatan. Terima kasih untuk semua ini. Permisi," ucap Mia.

__ADS_1


Mia membawa surat itu dan pergi meninggalkan ketiganya. Danu berusaha mengejar Mia. Untaian kata maaf Danu, tidak masuk ke kepala Mia.


Jangan ikuti Mia. Dasar pengkhianat! Batin Mia.


Danu menarik tangan Mia dan membawanya ke sebuah taman yang tak jauh dari cafe tadi. Meninggalkan kedua orang tuanya, Danu ingin bicara dari hati ke hati.


"Mia, dengarkan aku!" ucap Danu mengguncang bahu Mia.


Mia memalingkan muka. Rasanya enggan untuk menatap pengkhianat seperti Danu.


"Baik. Apapun pikiranmu terhadapku. Aku hanya ingin menjelaskan alasanku mengambil keputusan ini," ucap Danu lirih.


Danu menjelaskan alasan utamanya. Ia tidak ingin dua orang yang sangat ia cintai harus terus menerus bersitegang hanya karena dirinya.


Ok, kamu memang membela ibumu dan mengabaikan perasaanku. batin Mia.


"Dan ini!" ucap Danu menyerahkan selembar kertas.


Ya, surat keterangan dari dokter tentang penyakitnya. Mia menerimanya dan membaca surat itu.


"Tunjukkan ini pada Nyonya Nathalie!" ucap Mia sembari menempelkan kertas itu di dada Danu. "Ini hanya akal-akalan mas saja untuk berpisah dengan Mia. Mia sudah jelaskan dari awal, kalau Mia mencintai mas dan menerima mas apa adanya mas. Segala bentuk kelebihan dan kekurangan mas. Mas ingat itu?" tanya Mia.


"Tapi kamu berhak bahagia Mia," jawab Danu pelan.


"Bahagia? Sudahlah mas. Mia lelah kalau harus mengulang kata-kata yang sama," ucap Mia.


Danu menunduk dalam. Ya, berulang kali Mia memang mengucapkan hal yang sama. Mia akan menerima segala kekurangan Danu. Asal Mia hidup dengan Danu, itu sudah cukup membuat Mia bahagia. Tapi soal anak?


Mia bahkan sudah siap jika harus melakukan bayi tabung. Tapi kini harapan itu sia-sia rasanya. Karena proses pemeriksaan lanjutan, nyatanya bibit Danu tidak baik. Ada kelainan dalam bibitnya, hingga kalau melakukan bayi tabung saja, kesempatannya sangat kecil. Bahkan nyaris tidak berhasil.


Itu alasan lain Danu harus melepas Mia. Mia berhak bahagia. Menemukan pasangan yang tepat dan memiliki keluarga yang bagahia dengan anak-anak mereka nantinya.


Mereka? Kata-kata itu sukses membuat Danu merasa sakit hingga ia meremas kertas itu.


"Mas, bukan Mia yang kalah. Tapi mas. Mas kalah oleh keegoisan mas sendiri. Mia tahu mas sayang sama mami, sampai harus merelakan Mia. Mas tidak adil. Tapi tak masalah, ini bisa Mia lalui sendiri." Mia berusaha terlihat kuat di depan Danu, walau akhirnya air mata itu berjatuhan juga di pipinya.


Mia melangkahkan kakinya untuk pergi meninggalkan Danu, namun tangannya di tahan oleh Danu.


"Apa lagi?" tanya Mia.


Danu menjelaskan tentang ketidakmungkinannya memberikan keturunan pada Mia.


"Mia, tapi kamu masih muda. Untuk apa tujuan rumah tangga kalau kita tidak memiliki keturunan? Aku yakin cepat atau lambat akhirnya kamu sendiri yang akan meninggalkanku, kalaupun kita tetap bertahan." Danu masih berusaha meyakinkan Mia, kalau keputusannya adalah yang terbaik.


"Sudah lah mas. Jangan habiskan energi mas hanya untuk membela diri begini. Apapun lenjelasan mas, dan sangkalanku itu tidak akan merubah keputusan. Ini sudah ada. Dan ini masa depan yang harus aku lalui sekarang," ucap Mia mengangkat amplop coklat berisi surat cerai.


Danu merasa tercabik. Cukup! Kini ia memang sudah tidak perlu menjelaskan apapun lagi. Tidak usah ada pembelaan apapun.


"Mia, aku harap kamu bahagia dengan hidupmu." Danu menguatkan dirinya sendiri.


Senyum sinis nampak dari bibir Mia.


"Tentu. Mia akan bahagia menjalani hidup ini meskipun tanpa mas. Jangan mengasihani Mia begitu. Mia akan buktikan pada keluarga mas, kalau Mia akan bahagia meskipun tanpa mas. Mia akan buktikan itu!" ucap Mia lalu berlalu meninggalkan Danu yang masih mematung.


Danu menjatuhkan tubuhnya di bebangkuan taman. Menundukkan kepalanya dan mengusap kasar wajahnya.


Mia maafkan aku. Maafkan. Mungkin itu yang ada di benak Danu. Namun sampai kapanpun, ucapan dan penyesalan itu kini tidak ada artinya.


Mia kembali pada titik terlemahnya. Menatap amplop coklat yang ada di tangannya.


Janda lagi? Kamu lebih kejam dari Pak Haji, Mas.


Bagi Mia, perceraian kali ini bukan lagi tentang malu akan statusnya. Tapi rasa sakit yang teramat dalam sudah menghujam dasar hatinya. Mia memegang dadanya yang sangat sesak. Sakit, ya. Sakit sekali. Rasanya belum pernah Mia merasakan sakit lebih dari ini.


Bu, Mia sendiri. Mas Danu tidak lagi menjaga Mia. Bawa Mia pergi denganmu Bu. Mia butuh ibu.


"Mia, Mia," panggil seseorang.


"Arumi?" ucap Mia tak percaya.


Seorang dokter cantik keluar dari mobilnya dan menghampiri Mia. Mia tersenyum sinis.


Tidak mungkin Arumi tidak tahu soal perceraian ini.


"Mia, apa kau baik-baik saja?" tanya Arumi.

__ADS_1


Mia segera menyeka air matanya.


"Tentu. Mia sangat baik. Ada apa?" tanya Mia.


Hah? Ini bukan Mia yang aku kenal.


"Mia, aku minta maaf karena tidak bisa membantumu." Arumi menggenggam tangan Mia.


Mia melepaskan genggaman tangan Arumi.


"Tidak perlu meminta maaf. Tidak masalah Arumi, Mia sudah biasa sendiri tanpa ada yang membela. Orang miskin seperti Mia memang tidak berhak mendapat bantuan, apalagi sebuah pembelaan."


Lagi. Senyum sinis kembali menghiasi bibir Mia.


"Tidak begitu, Mia. Aku hanya." ucapan Arumi harus terhenti saat lawan bicaranya memilih untuk pergi saat sebuah taxi melewati jalan itu.


"Mia pergi. Simpan saja semua alasanmu. Mia tidak mrmbutuhkannya. Itu tidak akan mengubah apapun," ucap Mia.


Arumi terbelalak melihat sikap dan ucapan Mia. Usahanya untuk menenangkan Mia ternyata sia-sia. Arumi bahkan harus ditenangkan oleh suaminya. Perasaan bersalah menyelimuti dirinya.


"Sudahlah sayang, tenangkan dirimu. Kamu tidak bersalah," ucap Reki menenangkan istrinya.


"Tapi seharusnya aku bisa membujuk Danu untuk tidak menceraikan Mia, sayang." Arumi menyandarkan kepalanya di dada Reki.


"Sayang, Danu bukan anak kecil lagi. Dia berhak menentukan keputusannya. Biarkan saja," ucap Reki.


Biarkan saja? Mungkin benar. Arumi tidak bisa terlalu ikut campur dalam rumah tangga mereka.


"Mau kemana mba?" tanya sopir taxi itu.


"Mba, maaf. Mau saya antar kemana?" tanya sopir taxi itu lagi.


Sopir taxi itu menggelengkan kepalanya dan cekiiiiiit. Rem diinjam sedikit dalam. Hingga penumpangnya membuka mulut.


"Pak, bisa bawa mobil gak sih?" ucap Mia sambil mengusap dahinya yang tersungkur.


Anda pikir saya bawa apa mba? Pesawat?


"Syukurlah!" jawab sopir taxi itu.


"Syukur? Apa maksudnya? Bapak senang melihat saya tersungkur begini?" tanya Mia.


"Bukan begitu mba. Saya bersyukur karena ternyata penumpang saya masih hidup," ucap sopir taxi itu menahan tawanya.


"Amit-amit ya! Pak, meskipun saya baru saja diceraikan tapi saya masih semangat menjalani hidup. Tidak kepikiran untuk mati," dengus Mia kesal.


Eh apaaan ini? Kenapa bisa-bisanya Mia curhat sama sopir taxi? Katakan ini mimpi Mia. Jangan membuka aibmu pada orang yang bahkan tidak kamu kenal. Ayolah!


"Saya tidak mau tahu masalah mba. Saya hanya mau tahu tujuan mba itu kemana? Dari tadi saya tanya mba malah diam saja. Kan saya jadi bingung," ucap sopir itu.


Pantas saja dia melamun begitu. Ternyata habis bercerai. Untung saja dia tidak bunuh diri. Kasihan sekali, padahal masih muda. Cantik lagi. Laki-laki bodoh mana yang menyia-nyiakan wanita seperti ini?


Ya, mungkin Danu memang pria bodoh yang harus meninggalkan Mia. Bukan, kebodohannya karena rasa cintanya pada Mia. Danu ingin melihat orang yang ia cintai menemukan cinta sejatinya.


"Ya sudah jalan saja. Pokoknya setiap ada simpangan, ambil kanan." Mia kembali menatap amplop coklat yang ada dipangkuannya.


"Simpangan mana mba?" tanya sopir taxi itu.


"Simpangan mana saja. Pkonya ambil kanan terus, terus, dan terus. Karena saya yakin kalau jalur kanan akan membawa berkah. Jangan berhanti sampai saya bilang berhenti. Mengerti?" tanya Mia.


"Siap mba," jawab sopir itu.


Terserah mba lah. Yang penting saya dapat duit, buat makan anak dan istri saya di rumah.


Sopir taxi itu kembali memacu mobilnya. Memecah jalanan yang cukup ramai. Sesekali sopir itu melihat penumpangnya dari spion. Terlihat seperti banyak beban dalam hidupnya. Tatapannya yang kosong membuat sopir taxi itu menjadi iba.


Sabar ya mba. Saya yakin mba akan menemukan kebahagiaan mba secepatnya. Semoga jodoh mba didekatkan ya. Ya paking tidak yang tampan dan penyayang seperti saya ini lah.


Seketika bayangan istrinya menari di kepalanya. Sopir taxi itu bergidik membayangkan jika istrinya mendengar apa yang ada di pikirannya.


###################


Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.


Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..

__ADS_1


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


Terima kasih..


__ADS_2