Janda Bersegel

Janda Bersegel
Kamu punya hati


__ADS_3

"Mbaaaaa, bawa Sindi masuk!" teriak Nyonya Helen.


"Tapi Nyonya," ucap Sindi.


"Gak ada tapi-tapian. Kamu masuk. Biar dia jadi urusanku," ucap Nyonya Helen.


Sindi yang kepalanya masih terasa pusing tidak bisa apa-apa saat Mba memintanya untuk masuk. Dion juga mengangguk. Ia khawatir dengan keadaan Sindi. Masalah Nyonya Helen biar saja nanti urusan belakangan.


"Kamu apakan Sindi? Ingat ya! Kamu itu baru melamar, belum menikahinya. Jangan macam-macam kamu! Aku bisa saja melaporkanmu ke kantor polisi," ucap Nyonya Helen mengancam.


"Astaga Nyonya, mana mungkin aku bertindak kurang ajar begitu sama Sindi?" ucap Danu membela diri.


"Mana mungkin apanya? Itu buktinya Sindi muntah-muntah," jawab Nyonya Helen.


"Muntah-muntah kan bukan selalu berarti hamil Nyonya," ucap Danu.


"Ah kamu ini membela diri terus. Sindi itu pergi dari rumah baik-baik aja. Tapi sekarang saat pulang, dia muntah-muntah. Berarti ada yang gak beres sama kamu," ucap Nyonya Helen.


Danu yang sudah pasrah membuatnya tidak lagi membela diri. Percuma ia menjelaskan apapun karena Nyonya Helen tidak akan menerimanya. Dion hanya mengusap wajahnya kasar dan mengacak rambutnya.


beruntunglah Tuan Wira mendengar keributan itu hingga berusaha menghentikan kemarahan Nyonya Helen.


"Ma, udah dong. Danu itu anak baik. Gak mungkin macam-macam," ucap Tuan Wira.


"Papa ini kok malah belain dia sih?" ucap Nyonya Helen kesal.


"Bukannya belain Ma. Tapi kan," ucapan Tuan Wira dipotong oleh Nyonya Helen.


"Papa sama Sindi sama aja. Sama-sama belain dia. Padahal dia itu belum tentu orang baik," ucap Nyonya Helen.


"Ya sudah, gini aja. Danu ayo masuk! Kita bicarakan ini dengan Sindi!" ucap Tuan Wira.


Danu yang tidak merasa melakukan dosa itu segera mengiyakan. Ia tidak takut sama sekali. Serumit apapun nanti, paling tidak Nyonya Helen harus tahu kalau Sindi tidak hamil.


"Panggil Sindi ke sini!" ucap Tuan Wira saat Danu sudah masuk.


"Gak usah. Sindi harus istirahat," cegah Nyonya Helen.


"Ma, katanya masalahnya mau selesai. Ya kita butuh Sindi untuk menjelaskan semuanya," ucap Tuan Wira.


"Ya sudah, panggil Sindi." Dengan kesal Nyonya Helen pun akhirnya mengalah.


Tak lama Sindi muncul. Wajahnya masih basah karena ia baru saja mencuci muka.


"Duduk di sini!" ucap Nyonya Helen menepuk sofa di sebelahnya.


"Iya Nyonya," jawab Sindi.


Sindi duduk di samping Nyonya Helen. Tuan Wira meluruskan masalah yang terjadi diantara mereka berdua. Danu dan Sindi menjelaskan apa yang terjadi.


"Jadi kamu muntah karena pusing dibawa ngebut ya?" ucap Nyonya Helen malu.


"Makanya Ma, kalau ada apa-apa itu ya dibicarakan baik-baik. Jangan sampai Mama malu sendiri," ucap Tuan Wira.


"Tapi tetap dia salah Pah," ucap Nyonya Helen


"Kok masih salah aja sih Ma?" tanya Tuan Wira.


"Dia bawa Sindi ngebut di jalan. Itu bahaya. Apa dia sengaja mau buat Sindi celaka?" tuduh Nyonya Helen.


"Ya ampun Nyonya, mana mungkin aku sejahat itu." Danu terkejut dengan tuduhan Nyonya Helen.


"Ma, apaan sih. Ngaco deh," ucap Tuan Wira.


"Nyonya, Danu ngebut karena takut pulangnya terlalu malam." Sindi ikut membela Danu.


"Ah terserah lah. Mama selalu salah kalau sama kalian," ucap Nyonya Helen.


Karena merasa tidak ada yang membelanya, Nyonya Helen pergi meninggalkan ruangan itu. Sementara Danu ikut pamit setelah Nyonya Helen pergi.


"Kamu istirahat aja Sin," ucap Tuan Wira.


"Terima kasih, Tuan. Saya permisi," ucap Sindi.


Sindi segera merebahkan tubuhnya dan tidak perlu menunggu waktu lama untuk tidur nyenyak. Ia bahkan merasa waktu malam terasa sangat singkat, hingga kesiangan. Ia bangun saat pintu kamar diketuk.


"Sin," panggil Mia.


Sindi membuka mata dan melihat jam di dinding.


"Hah? Jam tujuh?" gumam Sindi terkejut. "Sebentar Mi," teriak Sindi.


Sindi segera turun dari ranjangnya dan membuka pintu.


"Kamu sakit?" tanya Mia sembari memegang dahi Sindi dengan punggung tangannya.


"Gak kok Mi. Aku cuma kesiangan aja. Maaf ya!" ucap Sindi.


"Kamu jangan bohong! Kamu sakit apa?" tanya Mia.


"Beneran gak apa-apa Mi," ucap Sindi.

__ADS_1


"Kata Mama Helen kamu semalam muntah-muntah. Kamu kenapa?" tanya Mia.


Dengan malu Sindi menceritakan semua kejadian semalam yang menyebabkan dirinya muntah hingga bangun kesiangan seperti ini. Mia hanya tertawa mendengar cerita sahabatnya itu.


"Mia, kamu jangan ngetawain aku. Bikin aku makin malu aja," ucap Sindi.


"Tapi sekarang kamu udah gak pusing lagi kan?" tanya Mia.


"Gak Mi," jawab Sindi.


"Ya udah cepetan mandi. Mia tunggu di ruang makan ya!" ucap Mia.


"Makan duluan aja. Aku nanti makan di kamar," ucap Sindi.


"Apaan sih. Ayo cepat mandi. Mia gak mau makan kalau kamu belum ke ruang makan," ancam Mia.


"Kamu bisa banget ngancamnya. Sengaja ya biar aku di marahin sama Nyonya Helen?" ucap Sindi.


"Makanya cepetan!" ucap Mia.


"Iya," jawab Sindi.


Selesai mandi Sindi mengusap dadanya di depan cermin.


Tuhan, kuatkan diri ini dari rasa malu. Sudah semalam bikin keributan, eh sekarang bangun kesiangan. Sindi, sadar diri kenapa sih. Kamu ini bukan siapa-siapa di rumah ini.


Setelah siap, Sindi segera pergi ke ruang makan. Ia menunduk hormat saat melihat semuanya sudah berkumpul.


"Udah sehat Sin?" tanya Nyonya Helen.


"Sudah Nyonya," jawab Sindi pelan.


Pertanyaan dari Nyonya Helen benar-benar terasa seperti sebuah sindiran atas apa yang dilakukannya semalam dan pagi ini. Padahal tanpa Sindi sadari, Nyonya Helen memang benar-benar khawatir dengan keadaan Sindi.


"Makan yang banyak ya! Biar kamu sehat," ucap Nyonya Helen.


Sindi hanya mengangguk dan mulai sarapan.


"Pagi ini Mama mau ada acara sama teman-teman Mama. Sindi, titip Mia sama cucu kembarku ya!" ucap Nyonya Helen.


"Siap Nyonya," ucap Sindi.


Bersama Tuan Wira dan Dion, Nyonya Helen ikut meninggalkan ruang makan. Ini adalah waktu yang paling dinanti oleh keduanya. Mereka bisa bebas bercerita tanpa merasa takut atau tidak enak.


"Mi, kamu baru dapat lotre ya?" tanya Sindi.


Sindi rupanya menyadari perubahan sikap Mia. Pagi ini Mia tampak lebih ceria dibanding dengan hari kemarin


"Itu kenapa kamu bahagia begitu?" tanya Sindi.


"Ada kabar bahagia Sin. Mia dari semalam nunggu kamu, mau cerita. Udah gak sabar banget," ucap Mia sembari tersenyum lebar.


"Kabar bahagia apa sih Mi?" tanya Sindi.


Mia pun menceritakan semua keajaiban yang terjadi pada Haji Hamid. Sindi ikut memberi respon positif. Ia tampak ikut senang.


"Tapi Mia gak tahu gimana keadaan Pak Haji saat ini. Dev belum ngasih kabar lagi," ucap Mia.


Baru selesai Mia bicara seperti itu, tiba-tiba ponselnya berdering. Mia senang bukan main saat Dev memanggilnya. Yang lebih membahaiakan, Dev melakukan panggilan video.


"Sin, Dev panjang umur ya?" ucap Mia dengan begitu senang.


"Ya sudah cepat angkat. Nanti keburu mati lagi loh," ucap Sindi.


Mia mengangguk dan segera menjawab panggilan video dari Dev. Mia berteriak kegirangan saat melihat Haji Hamid sudah membuka matanya.


"Pak Haji, ini Mia. Pak Haji cepat pulang ya!" ucap Mia dengan begitu senang.


"Mia," ucap Haji Hamid sembari melambaikan tangannya.


Hati Mia begitu bahagia. Setelah koma beberapa hari, akhirnya Haji Hamid sadar dan tidak lupa padanya.


"Kapan pulang Pak Haji?" tanya Mia.


"Besok," jawab Haji Hamid.


"Serius? Kabari Mia ya kalau nanti udah di Jakarta. Mia mau ke sana sama suami Mia," ucap Mia.


Haji Hamid mengangguk dan tersenyum, lalu ponsel itu sudah kembali ke tangan Dev. Kata Dev, Haji Hamid belum boleh banyak bicara.


"Dev, kenapa baru sekarang ngabarinnya? Mia udah nunggu dari semalam," ucap Mia.


"Semalam aku ngurus ini dan itu untuk bisa pengobatan di Indonesia saja," ucap Dev.


"Kenapa gak bilang? Mia kan jadi sedih dan khawatir," ucap Mia.


"Iya Maaf ya. Nanti aku kabari lagi kalau udah di Indonesia," ucap Dev.


"Beneran besok pulangnya?" tanya Mia.


"Beneran Mi," jawab Dev.

__ADS_1


Mia berteriak senang dan segera menggenggam tangan Sindi setelah panggilan video itu berakhir.


"Sin, akhirnya Pak Haji sembuh." Mia berkali-kali mengucapkan kalimat itu.


Sebagai sahabat yang baik, Sindi tentu akan ikut bahagia saat Mia bahagia.


"Sekarang kamu percaya kan kekuatan doa itu seperti apa," ucap Sindi.


"Iya Mi. Mia malu sempat ragu sama kekuasaan Tuhan," ucap Mia.


"Jadikan pembelajaran Mi," ucap Sindi.


"Iya Sin. Oh ya gimana kabar pernikahan kamu?" tanya Mia.


"Lancar. Semua berjalan lancar," jawab Sindi.


"Syukurlah. Maafin Mia ya gak bisa ikut ngurusin," ucap Mia.


"Gak apa-apa. Kan udah ada yang siap handle Mi," ucap Sindi.


"Orangnya yang kemarin ngurusin acara lamaran bukan?" tanya Mia.


"Beda Mi. Sekarang orangnya dari keluarga Bu Nathalie," jawab Sindi.


"Kok bisa begitu?" tanya Mia.


"Kemarin udah diskusi dan hasilnya ya gitu. Katanya karena tempatnya di gedung, jadi Nyonya Helen tidak perlu repot. Keluarga Danu menjamin semuanya untuk acara pernikahan nanti," ucap Sindi.


"Wah, kamu beruntung Sin. Akhirnya ucapanmu terwujud," ucap Mia.


"Yang mana?" tanya Sindi.


"Yang punya menantu baik dan sayang sama kamu. Sekarang kamu udah punya," ucap Mia.


"Haha, iya Mi. Kalau dipikir-pikir aku beruntung banget ya? Aku gak nyangka bisa hidup seenak ini. Padahal aku sendiri gak punya apa-apa. Aku jadi minder nih Mi," ucap Mia.


"Kata siapa kamu gak punya apa-apa?" tanya Mia.


"Memangnya aku punya apa Mi?" tanya Sindi.


"Kamu punya ini," jawab Mia sembari memegang dadanya.


"Ini?" tanya Sindi yang mengikuti Mia memegang dadanya.


"Iya. Kamu punya hati yang begitu baik dan tulus. Gak semua orang punya itu Sin," ucap Mia.


"Ah, kamu berlebihan Mi. Aku masih jauh harus belajar sama kamu," ucap Sindi.


"Memangnya Mia guru kamu apa," ucap Mia.


Sindi tertawa dengan sangat bahagia. Pagi ini mereka berdua saling berbagi kebahagiaan. Hingga waktu terasa terlalu cepat.


Setelah puas bercerita di ruang makan, mereka pindah ke ruangan Narendra dan Naura. Mia yang punya jadwal menyusi kedua anak kembarnya, melanjutnya acara berceritanya karena Sindi mengikutinya.


"Sin, Mia ke kamar dulu ya! Mau istirahat!" ucap Mia.


"Oh iya Mi. Aku juga mau tidur dulu," ucap Sindi.


"Abis kenyang ngobrol, kita kenyangin tidur ya!" ucap Mia.


Sindi tertawa dan segera pergi ke kamarnya. Dan semua itu memang sesuai ucapan Mia. Mereka tidur siang setelah kenyang bercerita.


Mia yang masih meminum obat merasa snagat ngantuk karena efek samping dari obat yang diminumnya. Lagi pula perasaannya yang sudah tenang dan bahagia bisa tidur nyenyak siang ini.


Di tempat kerja, Dion justru sedang sibuk dengan pekerjaanya. Beberapa berkas yang menumpuk membuat Dion telat makan siang. Mia yang tidur nyenyak lupa mengingatkan Dion.


Sampai akhirnya Dion menyadari jika ini sudah jam dua siang. Ia khawatir saat Mia tidak menghubunginya hari ini. Berkas itu Dion singkirkan sebentar. Ia segera menghubungi Mia karena merasa sangat khawatir.


Dion semakin cemas saat Mia tidak menjawab panggilannya. Dion menelepon orang rumah untuk mencari tahu kabar istrinya. Sebegitu sayang Dion pada Mia hingga ia meluangkan waktu untuk menelepon Mia ditengah kesibukannya. Padahal Dion tidak sempat makan siang karena tumpukan berkas itu.


"Jadi Mia ada di kamar?" tanya Dion.


"Iya Tuan," jawab orang rumah.


"Ya sudah biarkan dia istirahat. Kalau sudah bangun, ingatkan istriku untuk makan. Jangan sampai telat minum obat," ucap Dion.


"Baik Tuan, saya akan sampaikan jika Nyonya sudah bangun." ucap orang rumah.


Mia dan Sindi tadi ketawa-ketawa. Artinya Mi udah sehat. Syukurlah Mi. Aku sangat khawatir melihat kamu sakit.


Setelah Dion memastikan jika istrinya baik-baik saja, Dion baru meminta makan siang pada sekretarisnya. Telat memang, tapi itu lebih baik dari pada ia tidak makan sama sekali.


#####################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍

__ADS_1


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


__ADS_2