
"Baru pulang nih pengantin baru?" goda Tuan Wira saat melihat Dion dan Mia pulang.
Dion terus menggenggam tangan Mia, meskipun kedua orang tuanya ada di sana. Ini yang membuat Mia selalu merasa bahagia. Mia merasa kalau Dion menganggapnya istimewa dan tidak pernah malu saat bersama Mia.
"Iya dong. Aku gak mau kalah sama keromantisan mama dan papa," jawab Dion.
"Eh, jangan salah. Mama dan papa tidak akan bisa dikalahkan meskipun sama pengantin baru," ucap Tuan Wira.
"Masa sih say?" ucap Dion.
"Ih, kamu kok jadi gemesin sih?" tanya Nyonya Helen sambil memeluk Dion.
Iya, mungkin banyak perubahan yang terjadi pada Dion. Setelah menikah dengan Mia, Dion menjadi lebih akrab dengan kedua orang tuanya. Hal ini merupakan sebuah prestasi untuk Mia. Bagi orang tua Dion, perubahan itu terjadi berkat kehadiran Mia di tengah keluarga mereka.
"Apaan sih ma?" ucap Dion.
"Kamu itu semakin gemes Dion," ucap Nyonya Helen.
"Bawaan dari bayi sih ma," ucap Dion.
"Kumat," ucap Tuan Wira.
Gelak tawa terdengar dari keempat orang yang sedang berkumpul di ruang tengah itu.
"Mia, mama banyak sekali berhutang padamu. Terima kasih ya buat kebahagiaan yang kamu hadirkan dalam keluarga ini," uvap Nyonya Helen.
"Ah mama. Mia yang harusnya berterima kasih. Mama sudah --" ucapan Mia terhenti saat Nyonya Helen memeluk Mia.
"Jangan kamu bilang karena kami sudah menerima kamu apa adanya. Itu kata-kata basi sayang. Kamu itu anak mama. Kita itu satu. Mama tidak ingin tahu semua masa lalu kamu, yang mama tahu kamu itu anak mama. Dan mama, sayang sama kamu. Mau harus tahu itu," ucap Nyonya Helen sambil mengusap kepala Mia.
Mia yang selalu saja merasa terharu saat menemukan orang yang menyayanginya, tidak pernah bisa menahan air matanya. Tangis Mia pecah saat sosok baru yang menganggapnya anak itu memeluknya penuh kasih.
"Ma, jangan pernah sekalipun membenci Mia. Mia sayang sama mama. Mia gak mau kehilangan mama. Jangan pernah berhenti untuk menyayangi Mia ya ma," ucap Mia.
"Sayaaaang, mana mungkin mama berhenti menyayangimu? Mama akan selalu sayang sama kamu, Mia." Nyonya Helen mencium kepala Mia.
"Aduh, papa berasa nonton drakor ini." Tuan Wira menghentikan adegan hangat antara seorang ibu dan anak itu.
Mia dan Nyonya Helen melepaskan pelukannya dan tertawa keras saat mendengar ucapan Tuan Wira.
Yang Mia tahu kalau kisah drakor itu digunakan untuk menggambarkan cerita cinta yang romantis deh pa. Tapi ini juga kisah cinta sih. Bagi Mia, ini juga romantis. Mia rindu kasih sayang ibu. Akhirnya Mia mendapat apa yang Mia rindukan selama ini. Bu, bahagia di surga ya! Mia sudah punya keluarga baru yang bisa menyayangi dan melindungi Mia.
"Oh ya, Dion. Kapan kamu mulai masuk? Perusahaan di Surabaya benar-benar membutuhkan kamu. Kalau masa pengantin barunya selesai, kamu segera ke Surabaya ya!" ucap Tuan Wira.
"Oh iya pa. Aku minta waktu seminggu lagi ya!" ucap Dion.
"Mas, kenapa harus seminggu lagi? Besok juga kita bisa berangkat. Perusahaan butuh kamu. Jangan malas dong," ucap Mia.
"Kita?" tanya Nyonya Helen.
"Memangnya kenapa?" tanya Mia bingung.
"No, Mia. Kamu di sini. Perusahaan butuh Dion, kamu di sini saja ya!" ucap Nyonya Helen.
Ya, itulah yang menyebabkan Dion malas untuk pergi ke Surabaya. Karena Mia, sumber energi baru Dion, dilarang ikut oleh Nyonya Helen. Alasannya Mia tidak boleh kecapean agar bayinya tidak terganggu. Nyonya Helen sudah tidak sabar ingin menggendong cucu.
"Ma, tapi kan Mas Dion juga butuh Mia. Kalau Mia tidak ikut, siapa yang mau mengurus mas Dion di sana?" tanya Mia.
Ah Mia. Demi apa kamu itu sangat romantis.. Sangat, sangat, sangat romantis. Nanti aku kasih bonus ya istriku sayang. Ayo bujuk mama biar kamu bisa ikut denganku Mia.
"Tapi kan di sana ada beberapa orang yang selalu siap membantu mengurus Dion. Kamu jangan khawatir, Mia." Nyonya Helen terus membujuk Mia.
"Tapi Ma, untuk apa mas Dion menikahi Mia kalau kami berjauhan begini?" tanya Mia.
"Tapi Mia, bayi kamu tidak boleh kecapean." Nyonya Helen masih terus membujuk Mia.
"Mia belum hamil Ma. Tapi mungkin kalau Mia ikut sama mas Dion, Mia bisa segera hamil. Ya kan mas?" tanya Mia pada Dion.
"Bener tuh ma. Pokoknya Dion bikin Mia hamil secepatnya deh ya! Boleh kan Mia ikut?" bujuk Dion.
"Pa, gimana dong?" tanya Nyonya Helen.
"Tapi kamu jaga kesehatan ya Mia. Ingat, jangan kecapean. Kamu hanya mengurus dan melayani Dion untuk urusan cucu papa saja. Urusan Dion yang lain, serahkan sama pekerja papa yang ada di sana ya!" ucap Tuan Wira.
"Siap pa," jawab Mia dengan sangat antusias.
Berbeda dengan Dion dan Mia yang terlihat sangat senang, Nyonya Helen justru merasa kecewa. Ini tidak sesuai dengan harapannya. Namun rasa kecewa itu kian memudar saat anak dan menantunya itu terlihat sangat bahagia.
Nyonya Helen menyingkirkan rasa kecewa itu. Ia menyadari kalau Dion memang membutuhkan Mia. Mia akan sangat mempengaruhi kerja Dion. Kalau Mia tidak ikut, bukan tidak mungkin jika pekerjaan Dion akan terhambat.
Mungkin ini jalan yang terbaik. Sabar Helen. Kamu tidak boleh egois. Dion butuh Mia.
"Dion, mama titip Mia ya!" ucap Dion.
Mia merasa gurat ketulusan nyata dari ucapan dan raut wajah Nyonya Helen. Sementara Dion mengangguk dan memeluk Nyonya Helen.
__ADS_1
"Jadi seminggu lagi kalian berangkat?" tanya Nyonya Helen.
"Besok juga aku berangkat kalau sama Mia," jawab Dion.
"Secepat itu?" tanya Nyonya Helen.
"Lebih cepat, akan lebih baik Ma. Perusahaan ssdang butuh Dion," jawab Tuan Wira.
Setelah pembicaraan itu selesai, mereka kembali ke kamar masing-masing. Nyonya Helen sempat terlihat murung saat memasuki kamarnya. Namun akhirnya Tuan Wira berhasil menenangkan Nyonya Helen hingga akhirnya perlahan mood istrinya itu kembali membaik.
Sementara itu, di kamar yang lain sepasang pengantin baru diliputi rasa bahagia.
"Miaaaa, terima kasih ya! Akhirnya kamu bisa membujuk mama. Aku semangat kerja kalau kamu ikut ke Surabaya," ucap Dion.
"Iya mas. Mia juga senang bisa kembali ke Surabaya. Mia sudah kangen sama Sindi," ucap Mia.
Hah? Sindi? Bisa-bisanya kamu mikirin Sindi. Aku yang sudah bahagia karena kamu ingin ikut aku, kayaknya terlalu percaya diri deh. kamu keterlaluan Mia.
Dion menjauh dari Mia dan menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, setelah sebelumnya melempar kemeja untuk Reza ke atas meja rias.
"Cape mas?" tanya Mia.
"Hemm," jawab Dion.
Cape hati Mia. Cape hati aku sama kamu.
Mia menyimpan ponselnya dan mendekat ke arah Dion.
"Mia pijit ya mas. Besok kan kita mau berangkat," ucap Mia yang mulai memijit bahu Dion.
Oh ya ampun. Ini enak sekali. Pijatanmu sangat enak Mia.
"Enak mas?" tanya Mia saat melihat Dion memejamkan matanya.
Dion mengangguk dan tersenyum.
"Mia, tapi jangan bilang smaa mama kalau kamu mijitin aku ya!" pinta Dion.
"Memangnya kenapa?" tanya Mia.
"Bisa-bisa aku dijewer sama mama. Kamu tahu sendiri kan kalau mama sayang banget sama kamu. Mana rela mama kalau tahu menantu kesayangannya mijitin aku?" ucap Dion.
Sepertinya ini adalah waktu yang tepat untuk curhat. Dion mencurahkan semua kecemburuannya pada Mia. Ya, tidak munafik. Ada sedikit cemburu saat Nyonya Helen memperlakukan Mia sangat istimewa. Bahkan menurut Dion, ada beberapa perhatian Nyonya Helen pada Mia, yang justru tidak Dion dapatkan.
"Harusnya sih begitu. Tapi kamu tahu kan kalau mama itu cuma mengizinkan kamu cape hanya untuk yang berhubungan dengan calon cucunya. Malam ini, gak lupa kan dirapel sama yang tadi siang?" tanya Dion.
Ya ampun, inget lagi dia. Kirain Mia sudah lupa.
"Hehe, iya mas." Mia berusaha menyembunyikan kepanikannya.
"Eh Mi, aku mau ngundang Reza buat makan malam di sini ya!" ucap Dion.
"Boleh mas," jawab Mia.
"Kamu gak keberatankan? Tenang aja, ini gak akan ganggu acara malam kita kok." Mata genit Dion menggoda Mia.
Ish, kamu ini mas. Genitnya gak ketulungan.
"Apa sih mas?" tanya Mia.
Dion hanya tertawa melihat ekspresi Mia.
Ya, malam ini memang waktu yang paling tepat untuk mengundang Reza. Mungkin, Dion akan lama di Surabaya. Kalau Mia tidak ikut, mungkin Dion bisa pulang seminggu sekali, tapi karena Mia ikut tidak menutup kemungkinan jika Dion akan lebih betah di Surabaya.
"Diooooon," teriak Reza saat memasuki rumah Dion.
"Berisik Za. Pelankan suaramu," ucap Dion.
"Ada apa ini? Tumben kamu mengundangku, Za? Ada hal spesialkah?" tanya Reza.
"Gak, gak ada yang spesial. Aku cuma mau pamit sama kamu. Besok mau ke Surabaya," ucap Dion.
"Ya elah, aku pikir ada acara sukuran kehamilan Mia. Biasanya juga ke Surabaya gak bilang-bilang. Tahu-tahu pas aku ke sini kamu gak ada," ucap Reza.
"Kali ini, kayaknya lama deh di Surabaya. Soalnya Mia mau ikut," ucap Dion.
"Wah, bulan madu di Surabaya nih? Udah hasil belom nih?" goda Reza.
"Belum juga seminggu nikah, udah ditanyain hasil. Masih menikmati proses nih," jawab Dion.
"Wadidaw, menikmati proses. Ngeri banget bahasanya," ucap Reza sambil diiringi gelak tawa.
"Haha, makanya nikah dong. Biar tahu nikmatnya berproses," ucap Dion memanas-manasi Reza.
"Iya, iya. Nanti aku nyusul. Tenang aja," ucap Reza.
__ADS_1
Ya, sebentar lagi aku juga nikah kok Di. Sama janda juga. Tapi dia wanita baik. Cerita sekarang gak ya? Ah gak ah, nanti malah dia ngetawain aku lagi. Nanti aja lah cerintanya.
"Miaa, Reza sudah datang." Dion berteriak memberikan kode pada Mia.
Tak lama Mia datang membawa goodie bag untuk Reza.
"Ini mas," ucap Mia pada suaminya.
"Nih, buat kamu Za." Dion menyerahkan goodie bag itu.
"Buat aku Di?" tanya Reza.
"Iya lah. Masa buat Pak RT?" jawab Dion.
Dion membuka goodie bag itu dan terkejut melihat isinya.
"Waaaw, bagus banget. Keren sih ini. Dalam rangka apa ini?" tanya Reza sembari mencoba kemeja barunya dari Dion.
"Hadiah. Rasa terima kasih buat kamu," ucap Dion.
"Buat?" tanya Reza.
"Karena berkat kamu, aku bisa bertemu dengan wanita luar biasa ini." Tangan Dion melingkar di pinggang Mia.
Mia tersenyum walaupun jujur saja ia merasa risih dengan sikap Dion. Sementara Reza tersenyum bahagia dengan rasa bahagia yang tengah dirasakan oleh sahabatnya itu.
"Di, aku ikut bahagia buat kebahagiaan kalian." Reza mengangkat kepalan tangannya.
Dion membalas kepalan tangan itu dengan senyum bahagia. Dion tahu, kemeja itu sama sekali tidak sebanding dengan jasa yang Reza lakukan untuknya. Berkat semua kekonyolan Reza, akhirnya mengantarkan Dion untuk bertemu dengan wanita yang sangat berarti dalam hidupnya.
"Di, mau taruhan lagi gak?" tanya Reza.
"Dih, ogah. Cukup ini taruhan aku yang terakhir," ucap Dion sambil mencium pipi Mia.
"Ya ampun Di, jangan bikin mata aku bintitan kenapa sih ah." Reza mengusap wajahnya.
"Sengaja, biar kamu cepet-cepet nyusul." Padahal Dion kelepasan saat mencium Mia di depan Reza.
Ya, pesona Mia kadang membuat Dion hilang kendali. Wajah Mia selalu saja membuat Dion jatuh cinta setiap kali melihatnya.
"Iya, sebentar lagi nyusul. Tenang aja. Eh Di, dari semua taruhan kita mana yang paling gokil menurut kamu? Kecuali Nyonya Dion ini ya?" ucap Reza.
Mia hanya tersenyum dan mendengarkan percakapan dua pria yang ada di sana.
"Kalau selain Mia sih, taruhan yang paling gokil itu pas aku di suruh nyolong karung. Inget gak sih? Yang isinya jengkol itu?" ucap Dion.
"Oh iya, inget-inget. Aku heran ya Di, kok giliran taruhan yang aneh-aneh begitu kamu kalah terus ya?" ucapan Reza diikuti gelak tawa yang cukup keras.
Dion ikut tertawa saat Reza menceritakan semua kenangan taruhan itu.
"Mas, maling karung Mia ya?" tanya Mia.
Pertanyaan Mia seketika membuat suasana menjadi hening.
"Hah? Gimana Mi?" tanya Dion.
"Mia juga pernah kemalingan karung jengkol. Apa jangan-jangan mas ya yang maling? Soalnya seinget Mia yang maling karung jengkol Mia itu pakai jas abu-abu. Mas pas maling pakai jas abu-abu bukan?" tanya Mia.
Dion menatap Mia, lalu tatapannya pindah ke Reza. Seolah Dion meminta Reza untuk membantunya mengingat. Benarkah jas abu-abu yang ia pakai saat itu?
Reza dan Dion nampak sedang membuka kembali memory itu. Ya, benar. Saat itu Dion memang menggunakan jas abu-abu, karena hukuman taruhan itu dilakukan saat jam istirahat kerja.
"Mia?" ucap Dion tak percaya.
"Tuh kan. Bagaimana pun juga kebenaran itu akan selalu terungkap. Bener kan mas yang maling karung jengkol Mia?" tanya Mia.
Reza dan Dion tertawa keras mendengar pertanyaan Mia. Dion mengakui semua itu. Namun sampai saat ini, Dion tidak menyangka kalau Mia adalah korban taruhannya.
Ternyata Mia sudah dua kali menjadi korban taruhan antara Reza dan Dion. Mia sendiri bahkan tidak menyangka kalau si pencuri karung jengkolnya saat itu adalah Dion. Dulu Mia membawa karung berisi jengkol itu adalah oleh-oleh untuk keluarga Danu. Karung jengkol yang sengaja di bawa dari Bandung itu, raib digondol pencuri berjas abu-abu. Ternyata sekarang sudah terungkap. Pencuri itu adalah suaminya. Pria berjas abu-abu yang sudah mencuri karung jengkol itu adalah pria yang saat ini sangat ia cintai.
Dunia memang tidak selebar daun kelor.
Ketiganya tertawa keras saat menceritakan semua kisah lama dan kelamnya itu.
#################
Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.
Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
Terima kasih..
__ADS_1