Janda Bersegel

Janda Bersegel
Gagal KB


__ADS_3

Pagi ini Mia bangun lebih awal karena ASInya terasa sudah sangat banyak dan ia perlu memompanya. Mia senang karena ada stok ASI buat nanti siang. Namun ia menghentikan pompaan ASInya saat sayup terdengar suara tangis bayi kembarnya. Mia keluar dan melihat keadaan anaknya.


"Nyonya, maaf jika mengganggu waktu tidur Anda," ucap salah satu perawat itu.


"Tidak. Jangan pernah mengucapkan kalimat itu lagi. Mereka itu anak Mia. Mia berhak tahu saat mereka menangis," ucap Mia.


"Tapi masih ada stok ASI," ucap perawat.


"Simpan saja. Itu stok buat nanti siang. Sekarang biar Mia yang menyusui Narendra," ucap Mia.


Mia mengambil Narendra dari pangkuan perawat. Hal yang paling indah dan selalu Mia rindukan adalah saat ia menyusui bayinya lalu mereka menatap mata Mia. Seolah sedang mengajaknya berbicara. Tatapannya menyenangkan dan menenangkan.


Narendra memang lebih banyak menyusu dibanding Naura. Mungkin karena dia adalah bayi laki-laki. Naura memang lebih jarang menyusu, namun cenderung manja. Ia sering menangis saat merasa diacuhkan. Hingga Nyonya Nathalie atau Tuan Wira selalu menggendongnya saat Naura tidak tidur.


"Mi," panggil Dion.


"Aa udah bangun?" tanya Mia.


"Aku kaget. Bangun tidur kamu udah gak ada. Aku cari ke kamar mandi juga gak ada. Eh tahunya kamu di sini. Aku fikir kamu kabur," ucap Dion mengusap kasar wajahnya.


"Kabur? Kabur kemana sih A? Aa suka ngaco deh," ucap Mia.


"Ya kabur buat ketemu sama itu," ucap Dion.


"Siapa? Mas Danu?" tanya Mia.


Mata Dion yang masih terasa ngantuk mendadak terbuka lebar. Ngantuk itu hilang entah kemana. Bibirnya mengerucut karena kesal saat mendengar nama itu disebut lagi.


"Bukan," jawab Dion marah.


"Terus siapa?" tanya Mia bingung.


"Emaknya. Kok bisa-bisanya kamu mikirin dia," ucap Dion kesal.


Dion menghentakkan kakinya dengan keras sebelum ia pergi keluar dari kamar Narendra dan Naura. Narendra yang tengah menyusu mendadak menangis karena terkejut denga hentakan kaki ayahnya.


"A, pelan-pelan dong!" ucap Mia.


Dion yang hendak marah dan meninggalkan Mia, kembali lagi mendekati Mia. Mengusap kepala Narendra yang berada dalam gendongan Mia.


"Maafin Papa ya, sayang. Kalau mau marah, tuh marah sama Mama kamu. Jangan sama Papa ya!" ucap Dion.


"Loh, kok Mia sih?" tanya Mia.


"Lah emang kamu yang salah. Kok gak mau disalahin sih? Heran deh," jawab Dion.


"Inget, jangan berantem di depan anak. Apalagi di depan mereka (menunjuk kedua perawat yang menunduk). Apa Aa gak malu?" tanya Mia.


Dion semakin cemberut. Ia yang disakiti tapi seolah-olah ia yang salah.


Wanita memang selalu benar. Gak pernah salah deh.


Dion terus menggerutu karena kekesalannya kini bertambah. Bukan hanya karena Mia menyebut nama mantan suaminya itu, tapi karena sekarang ia justru merasa terpojok.


Mia kembali menyusui Narendra hingga akhirnya bayi tampan itu tertidur pulas. Dion masih setia menemani Mia di sana meskipun perasaannya sudah tidak enak.


"Sudah tidur tuh. Tidurin di box bayi. Nanti kebiasaan jadi pengen di gending terus. Anak laki-laki itu harus mandiri," ucap Dion saat melihat Narendra sudah melepaskan diri dari ASI Mia.


"Iya," jawab Mia singkat.


Usai menidurkan Narendra, Mia keluar dari kamar bayi kembarnya tanpa sepatah katapun. Meninggalkan Dion yang bengong mengamati sikapnya.


"Mi, kamu kenapa sih?" tanya Dion.


"Gak," jawab Mia singkat.


"Gak apanya. Kamu kalau udah ngomong irit begini, pasti ada apa-apanya. Kamu kenapa sih?" tanya Dion.


Kali ini bukan hanya menjawab singkat, bahkan Mia tidak mengeluarkan satu katapun pada Dion. Mia hanya menjawab pertanyaan Dion dengan sebuah gelengan kepala.


Ini sih udah bukan irit lagi, pelit. Kok jadi dia yang marah ya? Padahal kan aku yang lagi marah sama dia? Gak ngerti aku. Apakah konsep kalau wanita selalu benar itu masih akan tetap berlaku hingga akhir hayat?


"Mi, kamu jawab dong. Aku gak suka kalau kamu diem begini. Kamu jawab dong kalau aku nanya. Kamu respon dong kalau aku ngomong," bujuk Dion sembari mengikuti Mia kemanapun langkahnya pergi.


Mia menghentikan langkahnya dan menatap mata Dion. Tajam dan mengisyaratkan kalau saat ini peperangan siap dimulai. Dion hanya pasrah. Ia tahu saat Mia seperti ini, apapun yang ia katakan dan ia lakukan pasti salah.


"Jadi Aa maunya gimana? Mia jawab salah, Aa marah. Mia gak jawab juga masih aja salah. Mia serba salah jadinya," ucap Mia.


Hah? Dia serba salah? Aku yang serba salah Mia, aku.


"Ya kamu jawab yang bener dong biar akunya gak marah," jawab Dion pelan.


"Ya mana Mia tahu kalau jawaban Mia salah? Mana Mia tahu jawaban yang Aa mau kayak apa. Aa fikir Mia punya kunci jawaban setiap kali Aa nanya?" ucap Mia dengan kecepatan bicara diatas rata-rata.


Tidak mendapat respon dari Dion, Mia memilih untuk meninggalkan Dion. Menyudahi pertengkarannya pagi ini.


Lama, Mia tidak melihat kehadiran Dion di kamarnya. Padahal Mia sudah selesai mandi dan merapikan ranjangnya. Hatinya mulai tidak enak. Ia merasa bersalah atas sikapnya pada Dion.


Mia duduk di depan meja rias. Ia mengeringkan rambutnya dengan handuk putih yang berukuran besar. Tidak menggunakan hair dryer, Mia memilih mengeringkan rambutnya secara manual.


Dion masih belum ada. Mia mengingat kembali semua kejadian tadi pagi. Semuanya berawal saat Mia menyebut nama Danu.


Tapi kan A Dion yang mulai. Aa yang suudhon sama Mia. Katanya Mia takut kabur. Kan bikin kesel.

__ADS_1


Mia mengerucutkan bibirnya. Ia menjadi kesal sendiri. Kenapa harus ada keributan pagi-pagi sih? Begitu mungkin rasa sesal yang ada dalam kepalanya.


Setelah rambutnya agak kering, Mia keluar mencari suaminya. Ada di kamar bayi. Dion nampak menggendong Naura dan memberinya ASI dalam dot pink berukuran kecil.


"A, kenapa gak manggil Mia kalau Naura mau mimi?" tanya Mia.


Dion menatap sumber suara dan tersenyum.


"Kasihan. Kamu pasti cape. Lagi pula masih ada stok susu. Biar aku yang handle masalah Naura pagi ini. Kamu istirahat aja," ucap Dion.


"Mia gak cape kok. Sini biar Mia yang menyusui Naura. Aa mandi aja. Siap-siap ke kantor. Jangan sampai kesiangan ya!" ucap Mia.


Dion melihat jam yang terpasang di dinding kamar bayi kembarnya. Sudah waktunya ia mandi dan bersiap. Memang akhir-akhir ini Mia selalu mengingatkannya agar selalu ke kantor tepat waktu. Jangan sampai malas-malasan karena ia sudah menjadi seorang ayah. Yang mana setiap gerak geriknya nanti akan menjadi contoh yang siap ditiru oleh kedua anaknya kelak.


Dion tersenyum senang saat masuk ke kamar dan melihat bajunya sudah disiapkan oleh Mia di atas ranjang. Meskipun Mia marah, tapi istrinya masih memikirkan apa yang ia butuhkan. Dion mandi dan bersiap. Selesai bersiap, Dion menemui Mia kembali di ruangan bayi kembarnya. Nampak sudah ada Nyonya Helen dan Tuan Wira.


"Ma, Pa," sapa Dion saat masuk ke dalam kamar itu.


"Udah rapi kamu," ucap Tuan Wira.


"Kan mau kerja. Memangnya kenapa?" tanya Dion.


"Gak, tumben aja udah siap dari jam segini. Biasanya juga ngaret," ejek Tuan Wira.


"Ngaret salah, pagi di ledekin. Serba salah memang," ucap Dion.


"Ya ampun Di. Kamu kok baperan banget sih? Udah kayak yang datang bulan aja," ucap Tuan Wira.


"Ini sih bukan datang bulan lagi Pa, datang bintang," timpal Nyonya Helen.


"Gak sekalian matahari aja? Biar ada diskon," ucap Dion dengan wajah kesal.


"Narendra sama Naura kalau gak tidur pasti ketawa nih," ucap Mia.


"Terus aja Mi, terus. Seneng banget bikin aku gak ada harga dirinya di depan anak sendiri," ucap Dion.


"Hahah, lagian Aa bawaannya emosian sih." ucap Mia.


Dion diam. Ia sudah tersudut dan tidak punya kubu lagi. Bahkan sampai Mia mengajak Dion untuk sarapan, pria itu hanya menganggukkan kepalanya tanpa berkata apapun.


Selesai makan, Dion baru ingat kalau ia belum sempat memberi tahu orang tuanya tentang jadwal kontrol Mia yang pura-pura itu.


"Oh iya Ma, nanti siang aku mau bawa Mia ke rumah sakit," ucap Dion.


"Mia kenapa? Apa yang sakit? Kenapa gak bilang sama Mama?" tanya Nyonya Helen panik.


"Bu-bukan begitu Ma. Mia gak apa-apa kok," jawab Mia gugup.


"Loh? Kalau kamu gak apa-apa ngapain kamu ke dokter?" tanya Nyonya Helen.


"Kontrol? Jadwal kontrol masih beberapa hari ke depan. Apa kamu lupa jadwalnya?" tanya Nyonya Helen.


"Gak Ma, Mia mau KB." Dion dengan polosnya mendapat alasan baru yang tidak terpikir sebelumnya.


"Anak kurang ajar," ucap Nyonya Helen memukul tangan Dion berkali-kali.


Dion hanya berteriak meminta maaf walaupun ia tidak sadar kesalahan apa yang ia buat, hingga ibunya begitu marah.


"Maaf Ma, maaf. Emangnya kenapa sih?" tanya Dion.


"Kamu tanya kenapa?" tanya Nyonya Helen semakin kesal.


Dion menatap Mia. Meminta bantuan dari istrinya atas ketidakmengertian ini. Namun gelengan kepala Mia membuat Dion pasrah dengan omelan dari Nyonya Helen.


"Ma, maaf. Aku benar-benar gak ngerti maksud Mama. Mama marah kenapa sih? Apa salah aku?" tanya Dion.


"Apa salah aku? Mia baru lahiran kamu udah sibuk mikirin KB? Di kepala kamu isinya ituan terus ya? Gak kasihan kamu sama Mama? Udah lupa kamu gimana Mia berjuang buat melahirkan Narendra sama Naura?" tanya Nyonya Helen.


Dion membelalakkan matanya. Ia sama sekali tidak pernah berfikir kalau ibunya bisa sejauh itu. Dion yang mencari alasan ternyata terjebak dengan alasannya sendiri.


"Justru karena aku gak mau program bayi dulu, makanya Mia mau pakai KB. Jadi biar lebih aman," ucap Dion.


"Aman apanya? Dion kamu harus tahu Mia itu belum sembuh. Bisa-bisanya kamu udah mikirin ke arah itu. Mama malu punya anak kayak kamu," ucap Nyonya Helen.


Dion pasrah. Ia sudah semakin di ujung tanduk. Tidak bisa lagi membel diri. Ia kalah.


"Ma, jangan begitu. Dion kan pria normal. Wajar dong. Memangnya gak mau nambah cucu?" tanya Tuan Wira membela Dion.


"Siapa sih Pa yang gak mau banyak cucu? Tapi Papa harusnya lihat gimana Mia berjuang mati-matian karena melahirkan Narendra dan Naura. Laki-laki memang begitu. Mau enaknya saja, gak mikirin resikonya seperti apa. Bikin kesal saja," ucap Nyonya Helen.


PRAAANG


Benturan sendok terdengar nyaring saat beradu dengan piring. Diikuti oleh gebrakan tangan Nyonya Helen di atas meja makan, sebelum akhirnya ia meninggalkan ruang makan begitu saja.


"Ma," panggil Dion.


"Biarkan saja. Mama kamu hanya salah faham. Biar Papa yang jelasin. Kalian ke dokter saja. Jangan sampai kalian gagal KB," ucap Tuan Wira.


"Gagal KB?" ucap Mia dan Dion secara bersamaan. Setelah itu mereka menunduk dan sama-sama menahan tawanya.


Jam sudah semakin siang namun Tuan Wira memilih untuk membujuk dulu istrinya agar ia bisa mengerti dengan keadaan Dion dan Mia.


"Ma, mama kenapa sih? Wajar dong kalau mereka menggunakan KB? Mereka itu kan saling membutuhkan. Dion juga pasti tahu kok kapan waktu yang tepat. Gak mungkin Dion menyakiti Mia. Mama kan tahu kalau Dion itu sayang banget sama Mia," ucap Tuan Wira.

__ADS_1


"Papa kalau gak tahu apa-apa lebih baik diam aja," ucap Nyonya Helen.


Tuan Wira diam. Ia menutup mulutnya rapat-rapat. Tidak mau kalau sampai kemarahan Nyonya Helen semakin besar. Akhirnya ia pamit untuk segera berangkat ke kantor. Ketika keluar, ternyata Dion justru sudah berangkat lebih dulu.


Dion awalnya ingin menemui ibunya dulu, tapi Mia melarangnya. Saat ini, Nyonya Helen sedang marah. Mia tidak mau jika masalah semakin panjang. Biar Mia yang menyelesaikan semuanya nanti. Menunggu emosi Nyonya Helen mereda.


Sudah jam sepuluh. Nyonya Helen tidak ke kamar bayi kembar seperti biasanya. Mia menggendong Naura ke kamar Nyonya Helen, karena Narendra sedang tidur.


"Ma," panggil Mia saat berada di depan pintu kamar Nyonya Helen.


"Iya Mi," jawab Nyonya Helen dengan suara serak.


"Aku sama Naura boleh masuk?" tanya Mia.


Naura? Mendengar nama itu, Nyonya Helen segera membuka pintu kamarnya.


"Mama kenapa?" tanya Mia.


"Gak apa-apa. Sini Nauranya Mama yang gendong," ucap Nyonya Helen.


Setelah Naura ada dalam gendongannya, Nyonya Helen sibuk mengajak Naura bermain walaupun tidak direspon sama sekali. Mia tahu kalau ada sesuatu yang Nyonya Helen sembunyikan. Matanya yang merah dan sedikit sembab serta suaranya yang tidak seperti biasa, membuat Mia yakin kalau Nyonya Helen sudah menangis. Tapi kenapa? Mia belum mendapat jawabannya.


Apa karena tadi Mama sampai nangis begini?


"Ma," panggil Mia lagi.


Nyonya Helen berhenti bicara dengan Naura dan melihat Mia.


"Mama kenapa?" tanya Mia.


"Mama gak kenapa-kenapa," jawab Nyony Helen.


"Ma, maafin Aa ya!" ucap Mia.


Nyonya Helen kembali menatap Mia.


"Kenapa harus minta maaf? Berarti kamu tahu kalau dia salah?" tanya Nyonya Helen.


Pertanyaan jebakan yang membuat Mia gelagapan untuk menjawabnya.


"Mia, kamu jangan mikirin Mama. Kamu urus aja suami kamu," ucap Nyonya Helen.


Mia masih diam. Ia mencari makna dari kalimat yang sudah terucap dari Nyonya Helen.


Maksudnya gimana ya? Apa Mia sebodoh ini sampai tidak bisa menangkap kesimpulan dari ucapan Mama? Padahal waktu sekolah Mia selalu ranking. Waktu kuliah, IPK Mia juga paling tinggi. Tapi kok sekarang begini ya? Lemot banget perasaan.


Ah tidak! Mia sebenarnya sudah menyimpulkan semua ucapan Nyonya Helen. Namun sepertinya Mia tidak puas dengan kesimpulannya, karena hasilnya negatif. Benarkah ia bisa sampai hati berpikiran buruk tentang ibu mertuanya sendiri?


Melihat Mia murung, Nyonya Helen akhirnya menyerah.


"Mia, maafkan Mama jika Mama terlalu ikut campur masalah kamu dan Dion. Kalau kamu ke dokter, pergi saja. Tapi jangan bawa Narendra sama Naura ya!" ucap Nyonya Helen.


"Gak Ma. Aku gak mau ke dokter. Biar nanti aja sekalian kontrol," ucap Mia.


"No. Berangkat saja. Dion pasti sudah janjian dengan dokternya. Janji itu harus ditepati. Kasihan jika dokternya sampai menunggu. Apalagi ia pasti sudah membatalkan jadwal yang lain hanya karena menunggu kedatangan kalian," ucap Nyonya Helen.


Beberapa kali Mia menolak tapi Nyonya Helen terus memaksa Mia agar ia mengikuti keinginan Dion. Akhirnya Mia setuju, karena memang Dion sudah membuat janji. Tapi janji yang tidak enak jika dibatalkan itu adalah janjian untuk bertemu dengan Nyonya Nathalie. Ia ingin masalah ini segera selesai. Mia ingin kehidupan di masa lalunya tidak lagi menjadi beban kehidupannya sekarang.


Jam setengah dua belas siang, Dion menghubungi Mia untuk menanyakan kelanjutan rencananya. Cukup terkejut saat mendengar Mia mengiyakan rencananya.


"Lalu Mama?" tanya Dion.


"Mama udah izinin A. Mia juga mau semuanya segera beres," ucap Mia.


"Ya sudah nanti sebentar lagi aku jemput ya Mi. Kamu siap-siap," ucap Dion.


"Iya A siap," ucap Mia.


Suara Dion sudah terdengar kembali di rumah itu. Bahkan ia sedang berada di kamar Nyonya Helen untuk pamitan. Tidak ada jawaban, Dion membuka pintu kamar ibunya. Tidak dikunci. Dion melihat Nyonya Helen sedang tidur nyenyak dengan memeluk sebuah guling.


Tidak ingin mengganggu tidur siang ibunya, Dion menutup kembali pintu kamar Nyonya Helen.


"Kita berangkat sekarang!" ajak Dion.


Mia mengangguk dan mengikuti Dion saat tangannya ditarik oleh suaminya.


"Mi, kamu degdegan ya mau ketemu sama mantan mertua kamu? Atau kamu justru degdegan karena takut ketemu sama mantan suami kamu?" tanya Dion.


"A, jangan mulai deh. Ini bisa jadi panjang dan berlarut-larut. Aa gak bosen kita sering berantem cuma gara-gara masa lalu Mia?" tanya Mia.


Dion kini bungkam. Benar, jika dibahas terus maka sudah pasti akan kembali bertengkar. Bukan bosan, rasanya Dion lelah saat bertengkar dengan Mia. Dion akan kembali kehilangan senyum dan keceriaan Mia. Dan ia tidak menginginkan itu sama sekali.


Suasana di dalam mobil hening. Mereka hanyut dalam fikiran masing-masing. Sama-sama menduga hal apa yang akan terjadi nanti. Bahkan Mia sedang menyiapkan kata yang pas untuk menyapa Nyonya Nathalie pertama kali bertemu nanti.


######################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍

__ADS_1


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


__ADS_2