
"Mau kemana kamu?" tanya Dion saat melihat Mia membuka pintu kamarnya.
"Istirahat," jawab Mia.
Mia bukan tidak mengerti maksud Dion, tapi jujur saja saat ini Mia tidak ingin satu kamar dengan Dion. Entah rasa apa yang merasuki Mia, tiba-tiba Mia merasa dadanya berdebar saat Dion menatapnya begitu tajam. Mia menyadari kalau saat ini, Mia sudah menjadi istri sah Dion. Meskipun mungkin pernikahannya hanya sebatas kekonyolan, tapi Mia sah di mata hukum dan agama bagi Dion.
Mungkin lebih tepatnya Mia belum siap jika Dion menuntut haknya. Tapi inilah kenyataannya. Mia adalah istri sah Dion. Itu sudah disaksikan oleh puluhan bahkan ratusan pasang mata dan telinga tamu undangan.
"Siapa yang menyuruhmu istirahat di sana?" tanya Dion.
Tuh kan bener, si pencari kesempatan itu keterlaluan. Katanya nikah sama Mia cuma karena kalah taruhan. Tapi tenang Mia, surat perjanjian dia kan belum kamu baca. Ok, tenang Mia. Jangan terlalu percaya diri. Mungkin dia mau memberi tahu surat perjanjiannya. Ok yuk bisa yuk Mia, tenang lah. Semuanya akan baik-baik saja.
"Oh, jadi dimana?" tanya Mia pura-pura tidak tahu.
"Ikut aku!" perintah Dion.
"Asyiappp Tuan," jawab Mia.
Tanpa protes. Mia meyakinkan pendengarannya sekali lagi, kalau Dion memang tidak marah saat Mia memanggilnya dengan panggilan Tuan.
Oh jadi dia cuma mau dipanggil mas kalau ada banyak orang. Kalau gak ada orang, ya beginilah. Dia tetap Tuan bagi Mia. Kok Mia jadi sakit hati begini ya?
"Cukup melamunnya. Aku tidak suka melihatmu seperti itu Mia," ucap Dion.
"Ah, iya Tuan. Maafkan Mia," ucap Mia.
"Apa yang ada di kepalamu hah?" tanya Dion.
Apa ya? Masa iya Mia harus jujur sih?
"Itu, Tuan. Itu," ucap Mia gugup sambil berusaha mencari alasan.
"Itu apa?" desak Dion.
"Surat perjanjian. Ya, surat perjanjian. Mia penasaran mau baca surat perjanjian dari Tuan Dion seperti apa isinya. Ya, itu yang ada di kepala Mia," jawab Mia gugup.
"Oh, aku kira kamu memikirkan itu." ucap Dion sambil menahan tawa.
"Apa?" tanya Mia ketus.
"Gak," jawab Dion.
"Awas ya jangan macam-macam," ucap Mia.
"Jangan terlalu percaya diri kamu," ucap Dion.
Tenang Mia, aku gak minta macam-macam kok. Aku cuma satu macam saja. Hahah... Eh, bukanaku yang minta. Mama yang minta ya! Enak saja aku yang minta.
Mia mengikuti Dion dengan perasaan dag dig dug. Hatinya tak menentu, beberapa kali Mia memegang dadanya dan menarik nafas panjang.
"Masuk!" ucap Dion saat di ambang pintu kamarnya.
"Mia nunggu di sini saja, Tuan!" jawab Mia.
"Masuk! Kau harus membaca dan menandatangani surat perjanjian yang aku buat," ucap Dion.
Astaga Mia. Kamu jangan percaya diri begitu. Kamu pikir Tuan Dion mau ngapain sama kamu?
"I-iya," jawab Mia gugup.
"Duduklah! Jangan gugup begitu," ucap Dion.
"Mana ada gugup. Mia sih santuy," jawab Mia.
"Mulutmu bisa berbohong, tapi keringat dingin di dahimu gak bisa bohong Mia," ucap Dion.
Mia menelan salivanya dan menahan rasa tegangnya. Mia melihat sekeliling kamar Dion. Memastikan kalau tidak ada yang mencurigakan di dalam ruangan luas dan mewah itu.
"Nih, baca!" ucap Dion sambil membawa selembar kertas yang sudah disiapkan.
Mia menerimanya dan mulai membaca point demi point yang tertera di sana. Mata Mia kembali memeriksa kertas yang ada di tangannya. Surat perjanjiannya beda dengan yang pertama kali ia terima saat di kantor Surabaya.
"Kenapa?" tanya Dion.
"Ini kenapa jadi begini?" tanya Mia.
"Apanya yang begini?" tanya Dion.
"Kok beda?" tanya Mia.
"Memangnya aku tidak boleh merevisinya?" tanya Dion.
Boleh Tuan. Anda memang berhak merevisi semuanya sesuai dengan keinginan Anda. Tapi kenapa Mia mencium ada bau-bau mencurigakan dari perjanjian ini?
"Kau sudah mengerti?" tanya Dion.
Mia menggeleng.
"Kamu itu kenapa sih? Masa begitu saja tidak mengerti?" ucap Dion kesal.
Tidak! Mia bukan tidak mengerti. Mia hanya bingung dan curiga. Isi perjanjiannya sangat jauh berbeda dengan yang Mia baca saat itu. Memang keduanya sepakat untuk merevisi surat perjanjian masing-masing, tapi surat perjanjian dari Dion membuat Mia tidak percaya.
Awalnya surat perjanjian Dion lebih menekankan tugas Mia dari bangun hingga tidur kembali, layaknya seorang pembantu. Tapi kali ini semuanya dirangkum menjadi beberapa point saja. Intinya, Mia harus menganggap Dion benar-benar layaknya suami. Melayani lahir batinnya.
Apa itu melayani lahir batin? Mia berpikir keras maksud Dion. Mungkinkah memang Dion menginginkan dirinya menjadi ibu dari anaknya?
"Tuan," panggil Mia.
__ADS_1
"Hemm," jawab Dion sambil membuka kemejanya.
Mia memalingkan wajahnya saat melihat tubuh Dion mulai terlihat tanpa penghalang.
Tuan tolonglah. Apa yang Anda lakukan?
"Apa?" tanya Dion sambil tersenyum.
Apa kamu sudah tergoda Mia?
"Apa maksudnya melayani lahir batin?" tanya Mia memberanikan diri.
"Itu sesuai permintaan Mama. Kamu tahu kan pengorbanan mama untuk pernikahan kita? Mama mengorbankan waktu, tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Masa kamu tega menolak keinginan mama? Berkorbanlah sedikit Mia," ucap Dion.
Dion yang masih mempertahankan gengsinya terus berlindung dengan dalih berkorban untuk Nyonya Helen.
Tuh kan bener apa yang Mia duga. Nih sultan sableng pasti mau memanfaatkan suasana. Anda bilang apa Tuan? Berkorban lah sedikit? Anda tidak tahu kan kalau Mia baru harus memberikan harta berharga Mia satu-satunya ini? Ini bukan sedikit berkorban, Tuan. Ini Mia berkorban jiwa raga dan masa depan.
"Tapi kalau kamu tidak mau biar aku revisi lagi. Aku juga tidak mau memberatkanmu walaupun mungkin mama akan sangat kecewa," ucap Dion mengambil surat perjanjian itu.
Mia melihat Dion mengambil kertas itu. Tanpa menahannya, Mia hanya duduk dan meremas ujung gaunnya.
Mia kamu kenapa diam saja? Kenapa tidak menahanku? Duh, Dion aya berpikir. Cara apa lagi yang harus aku lakukan agar Mia bisa luluh dan mau menandatangani surat perjanjian itu.
"Ma, maafkan Dion ya! Mungkin mama tidak bisa mendapatkan apa yang mama mau. Maafin Dion karena belum bisa mewujudkan harapan mama. Dion janji akan membuat mama bahagia dengan cara lain. Semoga mama masih bisa bahagia dengan cara lain ya!" ucap Dion dengan wajah sedihnya.
Berhasil! Mia melihat ke arah Dion dengan wajah bersalah. Saat tangan Dion hendak merobek kertas itu, Mia segera menahannya.
"Tuan, jangan!" cegah Mia.
"Kenapa?" tanya Dion.
"Mia mau memberikan cucu buat Nyonya Helen. Tapi Tuan tandatangani surat perjanjian Mia. Tuan janji ya tidak akan pernah menceraikan Mia," ucap Mia.
Haha, berhasil Dion. Kamu berhasil. Mia mau. Mia mauuuuu. Yessss, malam ini bikin cucu buat mama. Terima kasih ya ma. Tunggu cucu dari Dion.
"Ok, aku siap tandatangani surat perjanjian yang sudah kamu buat." ucap Dion mengeluarkan surat yang sudah Mia buat.
Sebenarnya Dion tidak menginginkan mereka terlibat dan menghabiskan banyak waktu hanya untuk membahas surat perjanjian itu. Tapi apa boleh buat? Jujur saja Dion memang merasa tidak berani untuk mengungkapkan semuanya terang-terangan. Ada rasa takut kalau Mia akan menolaknya. Sebagai seorang janda yang gagal dua kali menikah, Dion takut kalau dia juga tidak termasuk kriteria Mia.
Dion hanya harus tahu tipe Mia dan berusaha menjadi apa yang Mia harapkan. Dion butuh waktu. Tapi ia yakin kalau Mia akan mencintainya suatu saat nanti.
"Sudah!" ucap Dion.
"Terima kasih, Tuan!" ucap Mia.
Melihat suratnya sudah ditandatangani oleh Dion, Mia juga ikut menandatangani surat perjanjian yang dibuat oleh Dion.
"Aku mandi dulu. Kamu mau mandi?" tanya Dion.
"Iya, Mia juga mau mandi." jawab Mia.
"Hah? Ayo?" tanya Mia panik.
"Kenapa? Ayo bareng. Biar cepat," ucap Dion.
"Nanti, Tuan. Mia mandinya nanti saja ah," jawab Mia.
"Terserah lah," jawab Dion agak kecewa.
Dion masuk ke dalam kamar mandi. Di bawah guyuran shower, Dion tersenyum penuh kemenangan. Menyingkirkan rasa kecewanya. Mungkin sekarang Mia menolaknya, tapi nanti tidak mungkin menolak lagi.
Sabar ya Dek. Nanti juga kamu dapat hak kamu kok. Sekarang kamu mandi dulu yang bersih ya! Siap-siap saja dulu ya Dek!
"Mia, sana mandi. Jangan terlalu malam, tidak baik buat kesehatan kamu!" ucap Dion.
Mengangguk dan segera masuk ke dalam kamar mandi. Mia memegang dadanya. Mencubit tangannya dan menepuk pipinya berkali-kali. Memastikan kalau ini memang suatu kenyataan.
"Mia, kamu mandi atau tidur? Lama sekali," protes Dion.
"Iya Tuan, sebentar!" ucap Mia.
Mia mempercepat acara mandinya dan dengan canggung Mia keluar dari kamar mandi.
Ah sial! Kenapa aku melupakan pintunya? Kenapa aku tidak mengunci kamarnya tadi? Jadi kan Mia pakai baju doraemon begitu. Padahal aku sudah bayangkan kalau Mia pakai lingerie pink yang sudah aku belikan saat itu. Ah sudahlah. Yang penting isinya. Haha
"Naik sini," ucap Dion sambil menepuk ranjang disampingnya.
Mia mengangguk dan berjalan pelan. Menyingkirkan keraguan dan perlahan naik ke atas ranjang yang sama dengan Dion. Duduk di samping Dion membuat Mia yang baru saja mandi mendadak ingin mandi lagi.
"Mia," panggil Dion.
"Iya," jawab Mia.
Dion merasa keinginannya semakin besar saat melihat wajah Mia. Tak ada kata letih setelah seharian menyambut tamu undangan. Kini yang ada di kepalanya adalah bagaimana menuntaskan rasa penasarannya.
Dion berusaha mengalihkan keinginannya, melakukan sedikit pembicaraan basa basi. Namun apalah daya, pesona Mia tidak bisa mengalihkan keinginannya.
Maafkan aku Mia. Tapi sepertinya harus malam ini. Kalau ditunda lagi, aku takut semakin gila ini.
"Mia, Boleh dimulai?" tanya Dion.
"Hah?" tanya Mia panik.
"Ah lama. Sini," ucap Dion menarik tubuh Mia agar mendekat ke arahnya. "Maaf ya Mi," lanjutnya.
Dion mulai menyerang kecil-kecilan pada gumpalan daging kecil yang selama ini sudah dibayangkan oleh Dion. Dion menutup matanya untuk mulai berkonsentrasi. Namun tak lama Dion membuka kembali matanya.
__ADS_1
"Mia, jangan kaku begitu dong." ucap Dion.
Ini memang bukan aktivitas pertama bagi Mia. Tapi memang sudah lama Mia tidak melakukannya. Belum lagi Mia tidak terlalu mengenal Dion, wajar mungkin jika Mia merasa sedikit kaku.
"Ma-maaf, Tuan." ucap Mia gugup.
"Jangan banyak minta maaf, ayo banyak kerja! Ini sudah semakin malam," ucap Dion.
Dion kembali menutup matanya dan menikmati daging kecil itu bergantian. Mia memang masih terasa kaku. Namun waktu membuat Mia menjadi belajar kembali dan mulai tidak begitu kaku seperti di awal.
Tangan Dion mulai aktif bergerak. Membuat Mia tak sengaja mengigit Dion.
"Aw, Mia. Sakit," ucap Dion kesal.
"Ma-maaf Tuan," ucap Mia gugup.
Dengan rasa kesal, Dion kembali menyerang. Fokusnya kini bertambah pada gundukan daging kenyal yang selalu menggoda imannya. Daerah yang sudah lama tak terjamah, kini mulai dijelajahi kembali oleh Dion. Mia merasa tubuhnya tak bisa diarahkan. Tangan Mia berkali-kali memegang keras tangan Dion yang masih terus bergerak aktif.
Dion senang dan merasa tertantang oleh reaksi yang diberikan oleh Mia. Dion melanjutkan gerakannya menjadi lebih aktif, berharap Mia bisa kembali memberi respon yang jauh lebih aktif. Namun nyatanya Dion harus kesal karena kuku Mia menancap di tangannya.
"Mia," ucap Dion meraih tangan Mia.
Dion bangkit dan mencari catok kuku.
"Sini tanganmu," pinta Dion.
Mia menyerahkan tangannya dan membiarkan Dion memotong kukunya. Mia tersenyum melihat kelakuan Dion. Ini sudah hampir jam dua belas malam, tapi Dion malah memotong kukunya. Bukan romantis, jatuhnya lucu bagi Mia.
"Ayo mulai lagi," ajak Dion.
"Iya," jawab Mia.
Dion dan Mia kembali pada posisi yang paling nyaman menurut mereka. Dion mulai memberi serangan kecil dari daging kecil dan merasa bahagia saat merasa Mia sudah tidak terlalu kaku. Bahkan Mia mulai membalas serangan kecilnya. Kuku Mia sudah aman, Dion lebih bebas saat memberi serangan lanjutan pada Mia.
Tangan Dion merasa benda yang ada dalam genggamannya itu membuat adek kecilnya tak bisa ditenangkan. Apa lagi ketika secara tidak disengaja Mia bersuara aneh. Wajah Mia bahkan sampai merah menahan malu. Namun Dion terus memberikan serangan, membuat rasa malu Mia tersingkirkan. Mia sibuk menguasai dirinya walaupun akhirnya tubuhnya ambruk dan pasrah dengan serangan Dion.
Dion memanfaatkan waktu ini sebaik-baiknya. Semua organ tubuhnya sibuk menyerang di sasaran yang tepat. Berhasil membuat Mia hilang kendali. Kini giliran Dion yang tidak bisa menguasai dirinya saat tangan Mia menekan keras punggungnya dan berbisik di telinga Dion. Seketika darah Dion mengalir lebih cepat dan membungakam mulut Mia.
Dion harus berhati-hati saat Mia mulai bergerak aktif di sekitar telinga dan lehernya. Bahkan hanya dengan mendengar deru nafasnya saja membuat Dion merasa hampir kalah. Dion segera membuka tempat benda pusakanya. Mia menelan salivanya saat tangan Dion mengarahkan agar tangan Mia menguasai benda pusakanya.
Mia membuka matanya lebar-lebar. Merasa heran karena persnelingnya tidak kunjung tidur. Padahal pengalamannya saat itu, hanya dengan memegangnya tak lama benda pusakanya bisa banjir begitu saja. Tapi Dion berbeda.
"Tuan," bisik Mia di telinga Dion.
Ah apa ini? Hanya dengan memanggilku saja, tapi aku merasa Mia menantangku.
"Hemm," jawab Dion yang kembali membungkam mulut Mia.
Mia berusaha melepaskan dirinya perlahan.
"Kok, bangunnya lama?" tanya Mia.
Hah? Apa maksudnya? Dion, ayo berikan serangan akhir saja. Jangan sampai kepolosan Mia mengubah suasana malam ini. Kamu pasti tidak ingin malam ini kecewa kan? Ayo Dion semangaaaat.
"Buka yang lebar," ucap Dion.
"Hah?" tanya Mia.
Ah, lama. Dion tidak mau moodnya berubah sebelum semuanya selesai. Dion melakukan semuanya sendiri. Mengarahkan Mia sesuai dengan keinginannya.
Bersediaaaa, awaaaas, iyhaaaaa..
Layaknya lomba lari, Dion mengomando dirinya sendiri dan siap melepaskan benda pusakanya.
"Aaaaaa," teriak Mia.
"Miaaaaaa?" ucap Dion panik.
"Sakiiiit," pekik Mia.
Dion menghentikan serangannya dan menatap wajah Mia panik.
Apa ini? Mia? Kamu?
Dion masih tak percaya dengan pertarungannya. Dion merasa sangat beruntung dan bahagia, saat menyadari jika dirinya adalah orang pertama yang merubuhkan benteng pertahanan Mia. Kembali menggerakkan benda pusakanya agar bisa menembus benteng pertahanan Mia.
"Mia," ucap Dion pelan.
Dion menundukkan kepalanya dalam leher Mia, dan merasakan air mata istrinya membasahi wajahnya. Dion mengangkat wajahnya dan mengusapnya. Pria yang tengah mengusai peperangan itu kini menjadi lemas dan merasa kalah. Ia kalah dari dugaannya. Tidak terpikir sama sekali kalau benteng pertahanan Mia masih kokoh.
"Mia, kamu hutang penjelasan padaku nanti. Maaf ya, tapi semuanya harus tuntas malam ini. Ini sudah tanggung Mi," ucap Dion.
Mia mengangguk dan menggigit bibirnya untuk menahan rasa sakit sekaligus malu. Malu karena ini pertama kalinya melakukan hal yang sebenarnya harus sudah ia lakukan sejak dulu.
Serangan Dion sempat melambat dan melemah saat melihat Mia menangis. Namun melihat Mia sudah mulai masuk kembali dalam permainannya, Dion kembali menyerang Mia habis-habisan.
Mia merasa lemas saat merasakan benda pusaka Dion terendam banjir dalam areanya. Perlahan Dion mengeluarkan benda pusakanya dan segera menyimpannya kembali. Tak lupa Dion mengelap dan menutup area pertempuran miliknya.
Rasa puasnya membuat Dion tersenyum bahagia. Memeluk dan mencium dahi Mia.
"Terima kasih, meskipun aku tidak mengerti semua ini. Besok kamu jelaskan ya! Sekarang kamu istirahat ya! Selamat tidur, Mia." ucap Dion.
#################
Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.
Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..
__ADS_1
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
Terima kasih..