Janda Bersegel

Janda Bersegel
Jangan!


__ADS_3

"Mi," panggil Dion saat pulang kerja.


"A, tumben udah pulang?" tanya Mia.


"Lagi kangen aja sama kamu," jawab Dion sembari memeluk Mia.


Dion yang mendapat kabar kalau Mia sudah bertemu dengan Rian, sengaja pulang cepat karena khawatir dengan keadaan Mia. Namun kekhawatirannya hilang saat melihat Mia tengah menggendong Narendra sembari bernyanyi pelan.


"Kangen sama Mia atau sama Narendra dan Naura?" tanya Mia.


"Kangen semuanya sih," jawab Dion.


CUP.


Sebuah kecupan mendarat di pipi Mia. Tak lama Dion mendekatkan wajahnya pada Narendra. Namun Mia mendorong tubuh Dion.


"Kenapa sih Mi?" tanya Dion.


"Mandi dulu A," jawab Mia.


Dion mengangkat tangannya lalu mencium ketiaknya.


"Masih wangi kok Mi," ucap Dion. "Nih, coba deh cium!" Dion mengangkat tangannya dan mendekatkan ke wajah Mia.


"Aa," ucap Mia sembari mendorong tubuh Dion dengan sebelah tangannya.


Dion terkekeh dan pergi. Tidak lama, setelah mandi ia kembali lagi. Sudah nampak segar. Namun sayangnya, Narendra dan Naura sudah tidur kembali.


"Yah, aku telat dong. Aku gendong Mamanya aj deh," ucap Dion.


Mia menutup mulut dengan kedua tangannya saat Dion tiba-tiba menggendongnya. Mia baru bersuara saat ia sudah sampai kamar.


"Aa ngapain sih?" tanya Mia saat tubuhnya sudah mendarat di atas ranjang.


"Aku mau ngapa-ngapain kamu. Siap?" goda Dion.


Tubuh Dion mengurung Mia yang sudah panik. Matanya tidak berani menatap mata Dion. Ia hanya melihat dada suaminya. Benarkah Dion menginginkannya?


"Mia, kok kamu gak jawab? Kalau gak jawab berarti iya ya?" tanya Dion.


Kepala Mia berpikir, harus sampai kapan ia tidak siap? Bukankah ini sudah haknya? Mia menghela napas panjang lalu mengangguk.


"Ah, kamu serius Mi? Padahal aku cuma becanda loh," ucap Dion dengan kegirangan.


"Hah?" tanya Mia.


Raut kesal mulai terlihat di wajah cantik Mia.


"Bukan begitu sayang. Maksud aku tu--" ucapan Dion terhenti saat Mia mendorong tubuhnya agar tidak lagi mengukung dirinya. "Eh, Mi tunggu dulu!" lanjutnya menarik tangan Mia.


Mia yang hendak turun dari ranjang tertahan dengan tarikan tangan Dion. Namun Mia berusaha melepaskan tangan Dion agar ia bisa menjauh dari suaminya. Kesal dan malu kini menyelimuti Mia.


"Aa lepasin," teriak Mia.


"Iya nanti aku lepasin. Tapi kamu jangan marah," ucap Dion memelas.

__ADS_1


"Mia gak marah kok," ucap Mia.


"Kamu gak marah tapi wajah kamu kesel banget keliatannya," ucap Dion.


Sebentar Mia diam. Menatap lekat wajah suaminya.


"Ya Aa pikir sendiri. Gimana Mia gak marah? Mi yang berusaha gak takut sama Aa, eh Aa malah bilang dengan entengnya becanda. Gak lucu A, gak lucu." Mia mengungkapkan kekesalannya.


"Jadi kamu mau serius?" tanya Dion.


Tubuh Dion kembali mengunci tubuh Mia. Kali ini ia tidak main-main. Matanya tajam bak elang yang siap menerkam mangsanya. Bibirnya sudah ia basahi dengan liurnya sendiri. Nampak seperti singa yang benar-benar kepaparan.


Mia yang merasa menantang Dion, kini ciut. Ia takut. Akankah ia menikmatinya saat Dion terlihat seperti bukan dirinya. Pertempuran macam apa ini? Begitulah yang ada di kepala Mia.


Mia semakin takut bahkan hingga memejamkan matanya saat tubuh Dion semakin mendekat. Refleks, Mia memejamkan matanya dengan tangan memegang sprei.


CUP.


Kecupan lembut mendarat di dahi Mia. Lama, bahkan terasa sedikit lembab. Mia mulai membuka matanya dan melihat leher suaminya masih dekat dengan bibirnya. Bahkan Dion bisa merasakan deru napas Mia yang kian tak beraturan.


Di luar dugaan Mia, Dion melepaskan tubuh Mia. Ia menjatuhkan tubuhnya tepat di samping Mia. Menyisakkan Mia yang masih kebingungan dengan sikap suaminya.


"Mana mungkin aku meminta hak aku sementara kamu sedang banyak beban?" ucap Dion tiba-tiba.


Beban? Kenapa Dion tahu kalau dirinya sedang menyimpan beban yang besar? Kepala Mia masih terus melayang memikirkan beberapa kemungkinan yang mungkin saja terjadi.


"Aku tahu kamu berhati lembut Mia. Tapi gak ada yang maksa kamu untuk mengambil keputusan apapun. Kamu berhak bersikap sesuai inginmu dan logikamu," ucap Dion.


Mia diam. Kepalanya semakin berpikir tentang apa yang diucapkan oleh Dion. Benarkah Dion tahu isi kepalanya saat ini?


Berpura-pura tidak tahu apapun ternyata membuat Mia terlihat pintar. Dion hanya tersenyum mengejek istrinya. Menertawakan kepura-puraannya.


"Mia, jangan menutupi apapun dariku. Kamu berhak membagi semua bebanmu padaku. Untuk apa ada aku jika kamu masih menikmati bebanmu sendiri?" ucap Dion.


Perlahan mata Mia mulai menatap wajah suaminya. Pria yang selalu menenangkannya itu tidak serta menatapnya. Dion nampak melihat langit-langit kamar.


Mia memeluk Dion dan menangis dalam pelukannya.


"Mia bingung A," ucap Mia.


"Menangislah Mia. Menangislah jika dengan membuang air matamu, sebagian bebanmu hilang. Tidak perlu bercerita jika kamu belum siap. Tapi kalau kamu butuh teman, aku selalu ada. Kapanpun itu," ucap Dion.


Kalimat itu? Mia semakin mengeratkan pelukannya. Ia merasa ingin menumpahkan semuanya namun bingung harus memulainya dari mana.


"Perasaan Mia masih sakit A. Tapi hati Mia semakin sakit saat melihat Rian menderita. Rasanya gak adil kalau Mia membiarkan anak sebaik Rian harus menderita hanya karena keegoisan Mia," ucap Mia.


"Kamu jangan khawatir. Tiap hari aku pasti borong jualannya kok," jawab Dion.


"Aa tahu kalau Rian jualan?" tanya Mia.


"Aku bahkan tahu kamu memata-matainya," jawab Dion.


Berbanding terbalik dengan sikap Dion yang sangat santai, Mia justru terlihat panik.


"Aa tahu dari mana? Apa sopir itu ember?" tanya Mia.

__ADS_1


"Dia manusia lah. Masa ember bisa bawa mobil?" goda Dion.


"Ih Aa, Mia serius. Sopir itu ngebocorin rahasia Mia ya?" tanya Mia.


"Dia gak cerita apapun. Tapi asal kamu tahu, selangkah saja kamu keluar dari rumah ini, bukan tidak mungkin kamera wartawan mengikuti. Kamu beruntung hanya diikuti oleh orang suruhanku. Jadi media gak perlu tahu hal konyol yang udah kamu lakuin," ucap Dion.


"Maaf," ucap Mia.


Mia lupa siapa suami dan mertuanya. Segala gerak geriknya bisa jadi diawasi oleh orang yang justru memanfaatkan situasi itu.


"Sayang, untuk apa kamu mengawasi anak itu? Kamu takut dia gak bisa makan? Gak bisa sekolah?" tanya Dion.


Mia tidak bisa menjawab.


"Atau kamu takut dia gak punya uang? Kamu tenang aja. Aku bakal kasih dia uang yang cukup buat hidupnya layak walaupun sendirian," ucap Dion.


Walaupun sendirian. Kata terakhir itu yang membuat Mia semakin tidak tega membiarkan Rian sendirian. Mia pernah merasakan ada di posisi seperti itu. Sampai akhirnya ia bertemu dengan keluarga Dion dan kehidupannya berubah.


"Apa Mia boleh membawa Rian ke sini?" tanya Mia.


"Jangan!" jawab Dion.


"Kenapa?" tanya Mia terkejut.


"Jangan bawa Rian ke rumah ini jika itu hanya akan membuat rasa sakit di hatimu terus menerus bertambah besar. Pulihkan dulu hatimu. Jangan sampai Rian justru akan semakin menderita saat perasaan sakit kamu itu belum sembuh benar. Kasihan dia," ucap Dion.


Mia tersentak dengan ucapan suaminya. Benarkah hatinya sudah sembuh? Atau semua akan membaik seiring berjalannya waktu? Jika tidak, mungkinkah semuanya akan bertambah buruk?


Kriiiing..Kriiing.


Dering ponsel menyudahi pembahasan Mia dan Dion tentang Rian. Mia mengambil ponsel Dion yang ada di atas nakas. Setelah sebelumnya ia melihat nama Dokter dalam layar ponsel suaminya.


"Halo Dok," sapa Dion saat sambungan telepon itu sudah terhubung.


Setelah panggilan itu berakhir, Dion segera bersiap kembali. Mia yang sudah mendengar semua percakapan antara suaminya dan dokter tidak lagi bertanya.


"Hati-hati," ucap Mia mengantar kepergian Dion.


Hari ini Dion memang langsung pulang tanpa menjenguk Tuan Felix ke rumah sakit. Ternyata pasien itu sudah ingin segera pulang. Karena tinggal masa pemulihan saja, atas persetujuan dari Dion juga, Tuna Felix bisa pulang hari ini.


Jadi masalah Rian gimana? Apa Mia nunggu sampai hati Mia sembuh? Ah, sampai kapan?


Karena rasa yang ada dalam hati Mia itu adalah sebuah kekecewaan. Level tertinggi setelah sebuah kemarahan. Yang entah sampai kapan rasa kecewa itu sembuh, atau mungkin tidak akan sembuh sampai kapanpun.


Tapi Mia sadar, Pak Baskoro sudah tidak ada. Tidak ada gunanya lagi menyimpan perasaan kecewa itu. Mia kembali berniat untuk membuang semua perasaan itu.


######################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍

__ADS_1


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


__ADS_2