Janda Bersegel

Janda Bersegel
Harga diri


__ADS_3

Cukup lama Reza di ruangan Mia. Bergabung dengan keluarga Dion membuatnya merasa iri, tapi paling tidak ia ikut bahagia saat melihat sahabatnya bahagia.


"Di, aku balik ke ruangan Maya ya! Kasihan kalau dia bangun dan nyariin aku," ucap Reza.


"Oh iya. Aku antar kamu ke Kamar Maya ya. Aku masih mau ngomong sama kamu," ucap Dion.


Reza menganggu. Setelah pamitan pada Mia dan kedua orang tua Dion, Reza keluar dari ruangan Mia diikuti oleh Dion. Tangan Dion menggantung di bahu Reza. Entah untuk ke berapa kali Dion mengucapkan terima kasih pada Reza.


"Za, pegang ini. Nanti alamatnya aku kirim ya!" ucap Dion.


"Apa ini?" tanya Reza mengangkat sebuah kunci yang ada di tangannya.


"Bawa Maya pulang ke rumah aku," ucap Dion.


Rumah? Bahkan aku belum cerita pun, Dion udah tahu apa yang aku butuhkan. Dia benar-benar sahabat sejati. Tuhan, terima kasih sudah mengirimkan sahabat bak malaikat sepeti Dion dalam hidupku.


"Di, aku terlalu banyak merepotkanmu. Terima kasih," ucap Reza.


Pelukan Reza mengerat pada tubuh Dion. Rasa harunya membuat Reza hampir saja menangis. Hanya saja, rasa gengsinya bisa mengalahkan rasa harunya.


"Lepasin Za. Banyak orang yang lihat. Aku gak mau disangka belok. Aku cowok tulen nih," ucap Dion.


Reza segera melepaskan pelukannya dan menepuk bahu Dion.


"Sialan. Aku juga tulen," ucap Reza kesal.


"Lagian kamu hobby banget sih peluk-peluk aku," ucap Dion.


"Ini ekspresi rasa bahagia namanya. Kamu kok gak peka sih jadi orang," ucap Reza.


"Ya ampun, sejak kapan kamu lebay begini Za?" tanya Dion.


"Tahu ah. Kamu bikin kesal," ucap Reza.


Reza berjalan meninggalkan Dion. Setelah menahan tawa dan menggelengkan kepalanya, Dion mengikuti langkah Reza ke ruangan Maya.


"May," panggil Reza.


Saat Reza dan Dion masuk, Maya nampak sedang duduk dan memakan potongan pepaya.


"Mas," ucap Maya. "Eh, Mas Dion," lanjut Maya.


Maya menyimpan piring yang berisi pepaya itu di meja. Belum sempat piring itu menyentuh meja, Reza segera meraih piring untuk membantu Mia.


"Maaf ya aku terlalu lama," ucap Reza.


"Gak kok Mas. Aku juga belum lama bangun. Lihat pepaya jadi ngiler," ucap Maya sembari tersenyum manis.


Wanita yang kini sudah berstatus sebagai istri Reza nampak sangat bahagia ketika bersama Reza. Padahal Maya tahu kalau Reza sudah tidak punya apa-apa. Dion yakin Maya memang wanita yang tepat untuk Reza. Rasa syukur Dion bertambah saat mengingat masa lalunya dan Reza tidak begitu baik, namun akhirnya mereka mendapat istri yang sangat baik.


"Kenapa kamu Di? Baper ya lihat kita romantis begini?" tanya Reza.


"Dih, apaan sih? Aku sama Mia juga gak kalah romantis kok. Ngapain aku harus baper?" ucap Dion.


Maya hanya tersenyum malu dengan ucapan suaminya sendiri.


"Mas, udah ah. Oh ya Mas Dion, gimana kabar Mia?" tanya Maya.


"Mia sudah semakin membaik. Kalau jadi, Mia besok bisa pulang. Kata Reza, kamu juga besok mau pulang ya?" tanya Dion.


"Ah syukurlah Mas. Iya semoga aku juga bisa pulang besok. Maaf ya aku belum jenguk bayi kembar dan Mia," ucap Maya.


"Gak apa-apa. Nanti kalau udah sama-sama sembuh, kalian harus atur jadwal buat ketemu ya!" ucap Dion.


"Iya Mas. Aku sama Mas Reza pasti main-main ke rumahnya Mas Dion dan Mia," ucap Maya.


"Bukannya cuma main-main, ini sih bisa tiap hari main. Katanya Reza tinggal gak jauh dari rumah aku loh," ucap Dion.


"Iya mas?" tanya Maya.


Reza pucat. Ia bingung bagaimana cara menjelaskannya pada Mia. Sedangkan Dion yang tahu kalau Reza kebingungan dengan pertanyaan istrinya, segera membuat jawaban sendiri.


"Loh, memangnya Reza belum ngasih tahu kamu kalau kalian akan tinggal di dekat rumah aku?" tanya Dion.


"Belum Mas," jawab Maya.


"Aduh, apa jangan-jangan rumah itu kejutan buat Maya ya? Maaf ya Za. Aku kok jadi bocor begini sih? Saking senengnya aku," ucap Dion sembari mengedipkan matanya pada Reza.


Hah? Jadi itu maksudnya? Bahkan di saat seperti ini saja, Dion masih memikirkan harga diriku sebagai seorang suami di depan Maya. Di, aku gak tahu gimana caranya berterima kasih sama kamu. Aku janji akan lakukan apapun yang kamu minta.


"Mas Reza, apa itu semua benar? Mas Dion gak bohongin aku kan?" tanya Maya.


Reza diam. Ia tak pandai berpura-pura saat ini.


"Za, kamu jujur dong sama Maya. Gak apa-apa, nanggung udah bocor nih rahasianya," ucap Dion.


"Mas Reza?" tanya Maya dengan sangat penasaran.


"I-iya May. Kamu senang gak?" tanya Reza gugup.


"Ya senang dong Mas. Aku gak nyangka kalau kita bisa punya rumah. Kita gak akan kebingungan pulang kemana. Makasih ya Mas," ucap Maya sembari memeluk Reza.


"Iya May. Kamu cepat sehat ya. Kita akan memulai hidup kita," ucap Reza.

__ADS_1


"Mas, Maya udah sembuh kok. Maya sehat. Maya besok pasti bisa pulang. Maya udah gak sabar Mas," ucap Maya dengan wajah yang ceria.


Mungkin setelah semua cobaan yang Reza lalui bersama Maya, ini pertama kalinya wajah Maya tterlihat sangat bahagia. Dion mengangkat jempol tangannya saat Reza menatapnya.


"Eh tapi Mas, uang dari mana? Kok Mas bisa beli rumah? Apa itu warisan dari keluarga Mas?" tanya Maya.


"Ah, itu May," ucap Reza gugup.


Otaknya tidak bisa berfikir. Rasanya ia tidak menemukan ide apapun di kepalanya selain ingin jujur kalau itu adalah rumah Dion, bukan rumahnya. Tapi Maya sudah terlanjur bahagia, Reza tidak mau melihat Maya kembali bersedih.


"Za, keterlaluan banget sih kamu gak cerita sama istri sendiri. Ya udah May, kalau Reza belum cerita biar aku yang cerita ya. Kesel aku sama Reza sok-sok romantis begitu," ucap Dion.


Ya, Dion tahu kalau Reza tidak bisa menjelaskan semuanya. Karena memang Reza sendiri tidak tahu apa rencana Dion sebenarnya.


Akhirnya Dion menceritakan kalau berkat bantuan Reza, proyek pertama Dion berhasil. Dion yang sudah kehilangan harapan, kini bisa melanjutkan mimpinya berkat Reza. Ini bukan proyek kecil, hingga bonus untuk Reza juga cukup besar. Hingga bonus yang Reza terima dibelikan untuk rumah yang letaknya tidak jauh dari rumah Dion.


"Ya ampun Mas Reza. Maya benar-benar gak nyangka kalau Mas bisa melakukan semua ini. Padahal Mas selalu menghabiskan waktu hanya untuk mengurus Maya. Tapi Mas bisa melakukan semua ini," ucap Maya.


Tak lama Maya mengusap sudur matanya yang sudah mulai basah.


"May, ini namanya rejeki buat kita. Kan aku udah pernah bilang sama kamu. Jangan pernah meragukan kuasa Tuhan. Asal kita mau usaha dan berdoa, Tuhan bisa mewujudkan semua yang kita inginkan," ucap Reza.


Maya mengangguk. Air matanya semakin deras. Rasanya ia menyesal sudah berfikir kalau Tuhan tidak adil dengan hidupnya. Jalan kehidupan yang terlalu berliku membuat Maya selalu merasa kalau ia adalah manusia paling menderita di dunia ini. Ujian demi ujian yang Maya lalui tidak mudah. Namun Reza selalu berusaha menguatkannya. Sampai akhirnya Tuhan menitipkan semua jalan keluar melalui Dion.


"Mas Dion, makasih banyak ya!" ucap Maya.


"Loh, aku yang seharusnya berterima kasih sama Reza. Jadi kalau kamu mau berterima kasih, berterima kasihlah pada Reza. Dia suami best," ucap Dion.


"Sampai-sampai Dion kalah best loh sama aku May," ucap Reza.


"Enak aja," ucap Dion.


"Kan kamu yang bilang kalau aku best," ucap Reza.


"Tapi bukan berarti aku kalah best dong," ucap Dion.


"Iya terus maunya gimana?" tanya Reza.


"Mau balik. Pusing aku lama-lama sama kamu," ucap Dion.


"Yakin nih? Gak bakal kangen? Tapi kalau kangen kamu tinggal ke sini aja ya! Aku selalu menunggumu," goda Reza.


"Sialan! Aku masih tulen," ucap Dion.


Reza tertawa puas saat melihat Dion begitu kesal. Hal yang lama tidak ia lakukan sejak saat itu. Reza merasa kalau saat ini ia sedang berada di masa lalu. Masa-masa dimana beban hidupnya tidak seberat saat ini. Zaman ia selalu memberikan taruhan gila pada Dion.


"Tahu ah. Aku balik ke kamar Mia ya May. Nitip tuh si Reza. Kalau ada dokter sekalian diperiksa. Kali aja di kepalanya ada yang konslet," ucap Dion sebelum ia benar-benar meninggalkan ruangan Maya.


Setelah pintu kamar Maya tertutup kembali, Maya dan Dion menggelengkan kepalanya dan tertawa bersama. Maya kembali berterima kasih pada Dion atas rumah yang Dion sebut sebagai kejutan untuknya.


Pertanyaan Mia membuat Dion sedikit terkejut karena ia fikir Mia sudah tidur.


"Dari ruangan Maya. Katanya salam buat kamu," ucap Dion.


"Kok lama A?" tanya Mia.


"Iya tadi aku ngobrol dulu sama Reza dan Maya. Rumah yang waktu itu kita beli, aku kasih ke Reza. Kamu gak marah kan Mi?" tanya Dion.


Kesalahan Dion adalah ia sudah mengambil keputusan tanpa berunding dulu dengan Mia. Padahal Mia tahu perihal rumah itu. Bahkan Mia dan Dion berencana untuk pindah ke rumah itu suatu saat nanti.


Seperti dugaan Dion, Mia merasa sangat kecewa. Ia tidak menjawab. Hanya menatap mata Dion dengan tatapan tidak percaya.


"Mi, maafkan aku. Tapi aku punya alasan untuk keputusanku," ucap Dion setengah berbisik.


Ya, obrolan mereka terdengar sangat pelan, karena Tuan Wira dan Nyonya Helen sudah tidur. Hanya kedua perawat itu yang masih terjaga. Mereka sedang menepuk-nepuk bayi kembar yang terbangun.


"Kok Aa gak bilang dulu?" tanya Mia.


"Iya aku tahu ini semua kesalahan besar, Mi Tapi aku harus mengambil keputusan sebelum terlambat. Besok kemungkinan besar Maya pulang. Kemana mereka akan pulang? Ke rumah Mama? Mana mau dia. Makanya aku ngasih rumah itu. Itu hanya sementara. Nanti mereka akan ke Surabaya kok," ucap Dion.


Mia diam. Ia menunduk. Sulit memang menyatukan hati dan kepalanya yang seolah bertolak belakang. Bagaimanapun rumah itu bisa disebut impiannya, tapi di sisi lain Reza dan Maya memang membutuhkannya.


"Mi, kamu masih marah ya? Aku janji nanti setelah Reza ke Surabaya, aku akan beli lagi rumah itu. Lagi pula untuk waktu dekat, kita gak mungkin ninggalin rumah Mama. Kamu tahu kan gimana Mama dan Papa sama cucu mereka? Bisa jadi justru mereka ikut pindah kalau kita pindah rumah sekarang Mi. Kamu ngerti kan?" tanya Dion.


Dion berusaha meyakinkan Mia kalau keputusan yang Dion ambil adalah yang terbaik, meskipun caranya salah. Mia masih diam tidak bergeming.


"Owa, owaaa," tangis bayi kembar mereka pecah.


Tangisan bayi kembar tentu menbuat Mia dan Dion yang sedang berdebat mengehentikan semuanya. Tuan Wira dan Nyonya Helen juga terbangun saat mendengar tangisan cucu kembarnya.


"Aduh cucu Oma," ucap Nyonya Helen sembari menggendong bayi cantiknya.


"Aduh cucu Opa," ucap Tuan Wira sembari menggendong bayi tampannya.


"Mia, kamu tidur aja. Biarkan Mama dan Papa yang mengurus Samsudin," ucap Tuan Wira.


"Samsudin, Samsudin," ucap Nyonya Helen.


Tuan Wira meringis saat kakinya diinjak oleh Nyonya Helen.


"Lagian mereka sampai sekarang gak ngasih nama bayi kembar ini sih. Papa kan jadi gak sabar," ucap Tuan Wira.


"Iya besok aku kasih nama kok. Aku kan harus bahas dulu sama Mia," ucap Dion.

__ADS_1


"Besok, besok, ah kelamaan." Tuan Wira menggerutu.


"Papa jangan berisik. Nanti mereka gak bisa tidur. Kasihan kan cucu kita? Udah lah Papa tenang aja. Nanti juga ada kok namanya. Papa kok ikutan repot sih?" ucap Nyonya Helen.


"Tuh kan, Papa salah lagi. Bikin kesel deh," ucap Tuan Wira.


"Papa yang ngeselin," ucap Nyonya Helen.


"Ma, Pa," ucap Dion dengan nada dinginnya.


"Iya," jawab Tuan Wira dan Nyonya Helen bersamaan.


Tuan Wira dan Nyonya Helen tahu kalau Dion sedang marah. Mereka hanya harus diam dan membiarkan Dion mereda. Padahal mereka tidak tahu apa yang membuat Dion marah.


Malam berganti pagi. Gelap dan dinginnya udara malam berganti dengan terangnya rembulan yang masih malu-malu, hingga udara mulai menghangat. Dion mengerutkan dahinya dan berusaha membuka matanya. Perlahan ia melihat jam pada pergelangan tangannya. Sudah pagi, Dion menggeliat dan melihat Mia melakukan hal yang sama.


"Pagi Mi," sapa Dion.


Berharap kalau Mia sudah melupakan semua masalah yang terjadi malam tadi. Senyuman Mia adalah pertanda yang baik sebenarnya, meskipun Dion tidak tahu apa yang ada dalam hati dan kepala Mia.


"Pagi," ucap Mia.


"Gimana sekarang? Ada keluhan?" tanya Dion.


"Gak. Sekarang Mia udah enakan. Mia bisa pulang hari ini kan?" tanya Mia.


Pulang? Kata yang menjadi momok untuk Dion saat ini.


Apakah Mia akan membahas lagi soal rumah itu? Mia, tolong mengertilah. Aku hanya ingin berterima kasih pada Reza karena sudah menjadi jembatan untuk mewujudkan cita-citaku. Mimpi terbesarku dan kamu tahu itu Mia. Aku tahu aku salah. Tapi ku mohon mengertilah Mia. Kali ini saja. Aku janji, setelah ini aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.


"A," panggil Mia.


"Iya," jawab Dion.


Lamunannya buyar ketika Mia mengguncang tangannya.


"Mia bisa pulang kan hari ini?" tanya Mia.


"Bi-bisa Mi," jawab Dion gugup.


"Kok Aa gugup begitu sih?" tanya Mia.


"Gak kok. Aku cuma bingung aja jawab pertanyaan kamu. Kan keputusan kamu pulang atau gak tergantung dokter," jawab Dion.


"Terus kenapa Aa jawab?" tanya Mia.


"Kalau gak dijawab nanti kamu marah sama aku," ucap Dion.


Mia tersenyum. Ia berfikir sebegitu takutnya Dion jika ia sampai marah pada Dion? Dan memang kenyataannya Dion sangat takut jika Mia sampai marah padanya. Bukan karena suami takut istri, tapi Dion merasa seorang istri itu jantungnya rumah. Jika Mia bahagia, maka kehidupannya di hari itu akan terasa sangat indah. Karena Mia akan selalu membuat rumah menjadi nyaman. Sedangkan jika Mia marah, maka sepanjang itu pula Dion akan merasa kehidupannya sangat tidak nyaman.


"Memangnya kalau Mia marah kenapa?" tanya Mia.


"Aku sedih," jawab Dion.


"Terus kalau Aa sedih kenapa?" tanya Mia.


"Aa kalau sedih suka pengen dimanja sama kamu. Tapi gak bisa," jawab Dion.


"Kok gak bisa?" tanya Mia.


"Belum empat puluh hari," jawab Dion sambil tertawa nakal.


Ya, 'empat puluh hari'. Selalu menjadi tiga kata yang menggelikan bagi pasangan yang baru saja mendapatkan anugerah bayi. Padahal tidak harus selalu menunggu empat puluh hari. Hanya saja kata itu sudah menjadi kebiasaan di kalangan masyarakat.


Bagi Dion dan Mia juga sama. Kata empat puluh hari terdengar menggelitik. Meskipun Mia lebih merasa takut. Ada trauma berat saat mengingat proses melahirkan bayi kembarnya. Mia takut kalau Dion sudah meminta haknya di saat ia belum siap. Padahal Mia tidak tahu kalau Dion juga merasakan trauma yang sama.


Dion yang menjadi saksi bagaimana Mia bertaruh nyawa saat melahirkan bayi kembarnya, ikut merasakan trauma itu. Hanya saja, Dion mencoba sedang mencairkan suasana hati Mia agar tidak kembali membahas tentang rumah itu.


"Lagi ngapain sih kalian senyum-senyum begitu? Ini masih pagi," ucap Tuan Wira.


"Eh, ini Pa. Kita lagi bahas nama buat dede kembar," jawab Dion.


Berbohong demi kebaikan. Karena kalau sampai Dion jujur tentang apa yang mereka bahas, bisa habis dia.


"Jangan Samsudin ya!" ucap Nyonya Helen sembari menahan tawa.


"Mamaaaa," ucap Mia.


"Bagus loh itu," timpal Tuan Wira.


"Papaaaaa," ucap Dion geram.


######################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.

__ADS_1


Terima kasih..


__ADS_2