
Tuan Felix bukan merabat kita? Kenapa kalimat itu terngiang di kepala Mia? Mia mencoba untuk menerima kalimat itu di kepalanya. Ya, tidak perlu merasa berhutang budi pada siapapun.
"Mau pulang?" tanya Dion.
"Mia mau ketemu Tuan Felix dulu, A." jawab Mia.
"Apa kamu yakin?" tanya Dion.
"Sebentar saja," jawab Mia.
Dion mengangguk dan mengantar Mia ke ruangan Tuan Felix. Pria yang masih bersahabat dengan beberapa selang di tubuhnya itu sudah bangun. Ada perawat yang sedang menyuapinya. Meskipun tidak ada keluarga yang menunggu, tapi Tuan Felix mendapat pelayanan super mewah dan sangat baik.
"Tuan," panggil Mia.
Tuan Felix menyudahi sarapannya, namun Mia melarangnya. Ia meminta perawat untuk menyuapinya hingga habis.
"Terima kasih," ucap Tuan Felix pada perawat setelah sarapannya habis tak tersisa.
Perawat itu mengangguk dan meninggalkan ruanagan. Membiarkan pasiennya berbicara dengan Mia dan Dion.
"Tuan apakah Anda sudah membaik?" tanya Mia.
"Ya, ini jauh lebih baik. Bahkan aku tidak percaya jika Tuhan masih memberiku kesempatan untuk bertahan di dunia ini," ucap Tuan Felix.
Dion yang hanya sebagai pendengar, tiba-tiba mendapat panggilan dari Reza. Takut semua berkaitan dengan bisnisnya di Surabaya, Dion membiarkan Mia bicara berdua dengan Tuan Felix. Sedangkan ia keluar untuk bicara dengan Reza.
"Mia, terima kasih." Tuan Felix dengan suara pelan menatap Mia.
"Untuk apa?" tanya Mia.
Melihat Dion tidak ada di ruangan, Tuan Felix merasa ini adalah waktu yang tepat untuk mereka.
"Kamu begitu khawatir sampai harus berteriak mencari donor darah buatku," jawab Tuan Felix.
"Tuan tahu itu dari siapa?" tanya Mia.
"Dari anak baik yang mendonorkan darahnya. Dia menceritakan bagaimana paniknya kamu saat itu. Bahkan dia pikir, aku ayahmu." Dengan ragu Tuan Felix menatap reaksi Mia.
"Seandainya itu semua benar. Paling tidak Mia akan bangga karena punya orang tua kaya dan cerdas seperti Anda," ucap Mia.
Mata Tuan Felix menyelidiki jawaban Mia. Terkesan wanita matre, tapi ini bukan Mia. Meskipun belum lama mengenal Mia, ia tahu Mia tidak seperti itu.
"Apa kamu mau menjadi anakku hanya karena aku kaya?" selidik Tuan Felix.
"Mungkin akan lebih menyenangkan jika terlahir dari keluarga kaya. Meskipun tidak mendapat kasih sayang dari seorang ayah, paling tidak Mia masih bisa bahagia dengan gelimangan harta," ucap Mia.
Lagi-lagi Tuan Felix dibuat penasaran dengan jawaban Mia. Ia terus memancing Mia agar bisa menceritakan semua yang ia butuhkan. Ini saat yang tepat, dimana ia bisa mengoreksi banyak sekali informasi dari Mia langsung dari orangnya.
Entah terbawa suasana atau memang Mia merasa Tuan Felix adalah orang yang tepat, Mia menceritakan semua penyesalannya karena sudah bertemu kembali dengan ayahnya.
"Wah, jadi karena aku akhirnya kamu bisa bertemu dengan ayah dan adikmu?" tanya Tuan Felix menegaskan.
"Iya. Hal yang tidak Mia inginkan sepanjang hidup ini," jawab Mia.
"Kenapa?" tanya Tuan Felix.
__ADS_1
"Mia, kita harus pulang sekarang. Ada hal yang harus aku kerjakan pagi ini," ucap Dion yang tiba-tiba masuk.
"Oh, baiklah. Tapi bagaimana Tuan Felix?" tanya Mia.
"Pergilah. Di sini ada perawat," jawab Tuan Felix.
Setelah pamit, Mia dan Dion pergi. Meninggalkan Tuan Felix yang masih termenung dengan jawaban Mia. Sayangnya Dion datang terlalu cepat hingga ia tidak bisa mendapat informasi sepenuhnya dari Mia.
Jadi Mia punya ayah? Dan dia masih hidup. Ya meskipun Mia membencinya, tapi pria itu ada. Jadi bukan aku? Ah, aku terlalu banyak berharap.
Tuan Felix mulai mengubur semua harapannya. Kini ia hanya ingin tahu apa yang menyebabkan Mia begitu membencinya. Ia hanya akan hadir menjadi orang yang tidak seperti ayah Mia. Paling tidak, agar Mia tidak membencinya.
"Kamu tadi ngobrol apaan sih?" tanya Dion.
"Curhat soal Bapak," jawab Mia.
"Hah? Bisa-bisanya kamu curhat sama orang baru. Bahaya Mia," ucap Dion mengingatkan.
"Bahaya?" tanya Mia.
"Kamu itu harus ingat istri siapa, menantu siapa. Semua tentang kamu bisa masuk media dengan begitu cepat," jawab Dion.
Mia membungkam mulutnya seketika dengan kedua telapak tangannya.
"Tapi kan dia teman Papa," ucap Mia.
"Teman bukan jaminan Mia. Di dalam dunia bisnis, sulit sekali mana wajah kawan mana wajah lawan. Aku rasa kamu paham apa maksudku," ucap Dion.
"Mia janji gak ngulang lagi A," ucap Mia.
"Ya sudah. Sekarang aku antar kamu pulang ya!" ucap Dion.
Masih dengan wajah paniknya Mia mengangguk. Mungkin dengan Narendra dan Naura, Mia bisa sedikit mengurangi rasa paniknya.
"Mi," sapa Nyonya Helen saat Mia masuk ke ruangan bayinya.
"Mama, udah lama di sini?" tanya Mia.
"Dari tadi Mama di sini. Mata Mama seger lagi kalau lihatin cucu Mama. Terima kasih ya Mi," ucap Nyonya Helen.
"Loh, aku dong yang terima kasih. Mama jagain Narendra sama Naura pas aku lagi keluar," ucap Mia.
"No. Ini bukan masalah. Mereka cucu Mama. Mama tidak keberatan sama sekali," ucap Nyonya Helen.
"Ah Mama," ucap Mia memeluk Nyonya Helen.
"Anak Mama yang baik, terima kasih karena kamu sudah sabar dan berkorban nyawa untuk melahirkan makhluk lucu ini. Darah daging Dion, anak Mama. Mama berhutang banyak sama kamu," ucap Nyonya Helen sembari mengusap punggung Mia.
"Mama, jangan begitu. Mia senang dengan kehadiran Narendra dan Naura kok. Mia sama sekali gak menganggap berjasa juga. Mia hanya menjalankan kewajiban Mia sebagai seorang istri dan ibu aja. Meskipun belum bisa lebih baik dari ini," ucap Mia.
"Kamu terbaik Mia," ucap Nyonya Helen.
Aksi yang dilakukan antara ibu mertua dan anak menantu itu membuat kedua perawat yang menjaga Narendra dan Naura baper.
"Kenapa kalian?" tanya Nyonya Helen saat menyadari kedua perawat itu senyum lebar menatap dirinya.
__ADS_1
"Ini Nyonya, saya menyiapkan botol ASI." Salah satu perawat gelagapan memegang botol ASI yang ada di sampingnya.
Mia hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum pada kedua perawat itu. Mia tahu kalau mereka pasti iri dengan kedekatan Mia dan mertuanya. Mia sendiri sadar, ia terlalu beruntung hingga dipertemukan dengan wanita sebaik Nyonya Helen.
"Mia, kita ngobrol d luar yu! Biar Narendra sama Naura gak keganggu," ajak Nyonya Helen.
"Biar gak ada yang iri juga sama kita," ucap Mia sembari memeluk Nyonya Helen.
Saat di ruang tengah, Nyonya Helen justru tidak banyak bicara seperti tadi. Kini ia tengah bermain ponsel. Mia mengamati gerak gerik ibu mertuanya. Mencari kesempatan kapan ia bisa mencari tahu tentang Tuan Felix.
Eh kenapa ini? Kenapa Mia mau tahu tentang Tuan Felix? Bukankah A Dion udah berkali-kali ngingetin Mia kalau dia bukan siapa-siapa. Mia, ayolah. Cari topik lain. Kenapa harus Tuan Felix lagi?
"Mi, gimana tadi Tuan Felix?" tanya Nyonya Helen.
Mia hanya menatap Nyonya Helen dengan mulut yang menganga. Bagaimana mungkin saat kepalanya mulai menolak untuk membahas Tuan Felix, tapi ibu mertuanya justru menanyakan pria itu.
"Hey, Mia. Tutup mulutmu. Lalat sekampung bisa masuk semua itu," ucap Nyonya Helen.
Mia terperanjat dan segera menutup mulutnya. Matanya mengerjap karena kibasan tangan Nyonya Helen. Mia gelagapan dengan pertanyaan itu.
"Mia," ucap Nyonya Helen lagi.
Mia berusaha menenangkan dirinya. Tidak boleh ada yang curiga tentang perasaannya.
"Sudah membaik," jawab Mia singkat.
"Kamu ngobrol apa sama dia?" tanya Nyonya Helen.
"Ngobrol?" tanya Mia.
"Iya. Atau kamu gak ngobrol sama dia? Tapi dia itu tipe orang yang cukup dingin sama orang yang baru dikenal," ucap Nyonya Helen.
Dingin pada orang yang baru dikenal? Apakah memang Tuan Felix sudah mengenalnya lama? Atau justru Mia yang hanya merasa Tuan Felix terlalu hangat baginya?
Mia rasa Nyonya Helen memang cukup mengenal Tuan Felix. Bisakah Mia mencari informasi dari Nyonya Helen.
Tanya, nggak, tanya, nggak, tanya.
Dalam hatinya Mia bimbang. Ia hanya menghitung jarinya untuk meyakinkan apakah ia harus bertanya atau tidak perlu? Toh dia bukan siapa-siapa juga bagi Mia.
"Kamu lagi ngitung apaaan sih Mia? Dari tadi itu jari di itung bolak balik. Ngapain?" tanya Nyonya Helen.
"Eh gak Ma," ucap Mia.
Nampaknya Mia belum punya keberanian untuk membahas Tuan Felix di depan Nyonya Helen. Mia tidak ingin ada kesalahpahaman. Ia harus mencari waktu dan kesempatan lain untuk mengetahui semuanya.
######################
Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
__ADS_1
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.