Janda Bersegel

Janda Bersegel
Akan dipercepat


__ADS_3

Mia merebahkan dirinya di atas ranjang. Menatap layar ponselnya yang sudah tidak menyala lagi. Dion, tahu dari mana Dia? Kenapa dia bisa tahu semua tentang Mia?


Mia mengirim pesan pada Dion.


'Tuan, siapa Niki itu?'


Sebuah pesan terkirim dan terbaca oleh Dion. Mia tidak tahu bagaimana Dion bersorak gembira saat menerima pesan itu. Dion teramat bahagia saat Mia mencari tahu tentng Niki.


Ayolah Mia, cemburu lah. Jangan malu-malu begitu. Kamu berhak cemburu, kamu berhak mengekspresikan apa yang kamu rasakan Mia.


'Mantan pacarku,'


Balasan singkat yang dikirim oleh Dion berhasil diterima oleh Mia. Berharap kalau Mia akan semakin penasaran dengan Niki dan terus menghubungi Dion. Tapi nyatanya itu hanya sebuah harapan belaka. Karena balasan yang dikirim Mia membuat Dion naik darah.


'Oh,'


Balasan macam apa itu? Mia kamu benar-benar keterlaluan. Ah, gak seru.


"Bos," panggil salah seorang pria.


"Beres?" tanya Dion.


"Sudah," jawab Rudi.


Rudi adalah satu-satunya orang yang tidak memanggil Dion dengan sebutan Tuan. Pria dengan otot kekar yang senantiasa mengekor ada Dion itu, lebih senang dan nyaman memanggil Tuannya itu dengan sebutan bos. Dion sendiri tidak keberatan dengan sebuta Rudi padanya.


"Hnya itu?" tanya Dion.


"Iya Bos. Saya sudah memeriksa berulang kali agar tidak ada satu pun barang yang tertinggal," jawab Rudi.


Kamu jauh-jauh dari Bandung ke Surahaya hanya membawa barang segini? Mia aku kok jadi kasihan banget ya sama kamu.


"Rud, kamu mau ikut balik ke Jakarta?" tanya Dion.


"Tidak bos. Saya harus mengontrol perkebunan. Nanti saja, kalau Tuan menikah, saya pasti datang." ucap Rudi dengan pasti.


Dion jadi senang sendiri saat mendengar kata menikah. Ya, sebentar lagi Dion akan menikah dengan wanita yang dicintainya, namun wanita itu tidak mencintainya.


"Rud," ucap Dion.


"Iya Bos," Jawab Rudi.


"Apa bisa bahagia jika pernikahan itu tidak dilandasi perasaan cinta?" tanya Dion tiba-tiba.


Entah keberanian dari mana hingga Dion menyingkirkan gengsinya hanya untuk bercerita dengan Rudi. Padahal ia punya Reza sebagai teman cerita, namun kali ini Dion lebih memilih Rudi.


"Kenapa Tuan menikahinya jika tidak mencintainya?" tanya Rudi.


Bukan aku, tapi Dia. Mia yang tidak mencintaiku Rudi. Apa mungkin pernikahanku akan gagal?


Melihat Dion diam, Rudi segera mengembalikan mood Dion.


"Tapi seiring berjalannya waktu, perasaan itu bisa tumbuh diantara dua orang manusia yang hidup bersama." Rudi mencoba merenyahkan kata-katanya agar bisa dikonsumsi dengan baik oleh Dion.


"Benarkah?" tanya Dion.


"Tentu. Waktu akan membuat rasa itu tumbuh. Ketulusan dari pasangan akan membuat rasa baru itu tumbuh dengan begitu saja. Bahagia itu, tergantung pikiran. Kalau pikiran kita terbuka, apapun yang terjadi maka akan terasa bahagia. Makanya bos harus berpikiran terbuka. Bebaskan saja bos," ucap Rudi.


"Ok. Besok aku pulang ke Jakarta. Nanti aku kabari kalau aku menikah," ucap Dion.


"Siap Bos," ucap Rudi.


Malam ini Dion menatap langit-langit kamarnya. Tiba-tiba Dion teringat wajah Mia. Ia bangun dan duduk di tepi ranjangnya. Memutar kembali rekaman vodeo kiriman dari ibunya. Terlihat sangat berani. Itu kesan yang tak bisa dilupakan oleh Dion.


Mia yang lemah, hanya menurut apa yang orang lain katakan, namun mampu menghadapi Niki. Dion memang butuh wanita berani seperti itu. Mia semakin membuatnya jatuh cinta dengan sikap beraninya itu. Rasanya menunggu besok pagi itu sangat lama. Dion ingin segera bertemu dengan Mia. Sudah ada candu dalam senyum Mia. Setiap kali mengingatnya, membuat Dion merasa dunianya hanya bersama Mia.


Gila... Apa lagi ini? Kenapa wanita itu selalu saja punya cara untuk menarik pikiranku? Aku benar-benar sudah gila karena Mia.


Perlahan, Dion menyingkirkan bayangan Mia. Berusaha untuk menetralkan kembali pikirannya sebelum akhirnya ia tidur dengan nyenyak.


Besok pagi, Dion segera ke kantor untuk menyelesaikan tugasnya agar bisa segera kembali ke Jakarta. Tapi sayang, sepertinya di pabrik ada sedikit masalah hingga tidak mungkin Dion pulang ke Jakarta hari ini. Padahal Dion sudah sangat merindukan Mia.


Namun sampai saat ini, Mia tidak menghubunginya kembali. Tidak ada pesan atau telepon dari Mia yang menanyakan kabarnya atau kapan ia kembali dari Surabaya. Nampaknya Dion cukup kecewa saat mendapati ponselnya absen dari nama Mia.


Sementara di Jakarta, Mia memainkan ponselnya. Menghubungi Kalin, namun tak memberi tahu kalau Mia juga sedang di Jakarta. Mia pikir belum waktunya. Sindi, sahabatnya itu juga sedang merindukannya. Mia saling melepas rindu melalui sambungan telepon.


"Mia, kamu nelepon sama siapa?" tanya Nyonya Helen.

__ADS_1


"Sama Sindi, Nyonya. Teman Mia di Surabaya," jawab Mia.


"Oh, kamu punya teman juga ya?" tanya Nyonya Helen.


Pertanyaan macam apa itu? Memangnya aneh ya kalau Mia punya teman? Mungkin sepertinya Anda yang tidak punya teman Nyonya.


Malam ini, Nyonya Helen dan Tuan Wira ke kamar Mia. Mereka menanyakan kesiapan pernikahan Mia.


"Mia sih ngikut maunya Tuan Dion saja," jawab Mia.


"Rencana kalian awalnya kapan? Kalian punya rencana kan tentunya?" desak Nyonya Helen.


"Kalau rencana sih, kami memang membuat rencana sebulan lagi," jawab Mia.


"Sebulan lagi?" tanya Nyonya Helen.


"Kenapa ma?" tanya Tuan Wira.


"Kelamaan pa," jawab Nyonya Helen.


"Tapi itu cukup untuk saling mengenal Tuan, Nyonya. Kalau buru-buru, nanti kan tidak baik juga." Jawab Mia.


"Ya kalau kamu mungkin bagus. Bisa mempelajari dulu kami sebagai orang tua Dion, tapi kalau Dion? Apa yang harus ia pelajari darimu? Kasihan dia kalau menunggu terlalu lama. Apa tidak bisa dipercepat saja?" desak Nyonya Helen.


"Hah? Dipercepat?" tanya Mia.


"Kenapa?" tanya Tuan wira dan Nyonya Helen bersamaan.


"Tidak apa-apa," jawab Mia memelankan suaranya.


"Jadi kamu setuju ya?" tanya Nyonya Helen.


"Setuju udah. Ya sudah nanti kita bahas tentang yang lain-lainnya kalau Dion sudah pulang Ma. Ayo istirahat ah!" ajak Tuan Wira.


Hah? Kalian sehat? Kenapa Mia harus terlibat dalam drama keluarga kalian yang sableng ini? Tolong kalau mau gila jangan ajak-ajak Mia ya!


Mia kembali duduk merenung. Menatap wajahnya dengan lekat pada pantulan cermin yang ada di hadapannya. Mia tidak tahu harus merasa beruntung atau justru sedang mendapat musibah.


Bertemu dengan keluarga Dion yang sangat aneh, membuatnya nano-nano. Banyak rasa yang kadang tak bisa Mia jelaskan dengan kata-kata. Kebaikan dan keanehan yang diberikan oleh keluarga Dion telah bersatu padu membuat tanda tanya besar dalam hidup Mia.


Ah, apapun itu tapi tidak boleh membuatnya besar kepala. Bagaimanapun juga Mia dan Dion menikah hanya karena sebuah taruhan konyol. Tapi paling tidak, Mia sudah menyiapkan surat perjanjian yang harus ditandatangani oleh Dion, agar tidak terjadi janda yang ketigakalinya. Mia harus meyakinkan dirinya kalau ini adalah pernikahan terakhirnya.


Setelah tiga hari Dion berada di Surabaya, kini waktunya Dion kembali ke Jakarta. Menyiapkan semua laporan yang akan ia serahkan pada ayahnya dan juga menyiapkan barang Mia yang masih tersisa di Surabaya.


Ada hal yang berbeda dengan kepulangannya kali ini. Dion yang biasa pulang dan pergi dengan perasaan biasa, tapi kali ini Dion kembali dengan membawa kerinduan yang menggunung. Kepulangannya disambit hangat oleh Mia. Tangan Dion yang melengkung di hadapan Mia adalah salah satu PR baru bagi Mia yang tak boleh absen.


"Ini barangmu, Mi." Dion menyerahkan dua kantong cukup besar pada Mia.


"Wah, ini sudah semua Tuan?" tanya Mia.


"Sudah, diperiksa lagi aja." Dion menatap Mia penuh kerinduan.


Mia jauh lebih cuek. Mia membuka tas itu dan mengacak-ngacaknya.


"Terima kasih, Tuan." ucap Mia sambil membawa kedua tas itu dengan susah payah.


"Sini biar aku bantu!" ucap Dion.


Kesempatan emas. Jadi kamu punya waktu untuk berduaan dengan Mia Dion. Lupakan dulu laporan sama papa. Sekarang, Mia dulu. Biarkan hati dan kepalamu mendapat haknya.


"Mas, Sindi apa kabar?" tanya Mia.


"Memangnya kamu tidak meneleponnya?" tanya Dion.


Rasanya tidak mungkin jika Mia dan Sindi saling mengabari satu sama lain. Dan ternyata benar, Mia hanya basa basi saja bertanya tentang Sindi karena Dion yang tak kunjung keluar dari kamarnya.


"Tuan, mandi dulu. Biar badannya lebih segar," ucap Mia.


Kamu mau mengusirku? Maaf Mia, aku masih merindukanmu. Lagi pula, aku sudah membawakan barangmu ke sini. Harusnya kamu itu berterima kasih dan membiarkanku lebih lama di sini.


"Aku mau dimandikan," jawab Dion.


Mia diam. Ini bukan jawaban yang ia harapkan dari Dion. Hingga Mia memberinya sedikit waktu untuk tetap di kamarnya.


"Mia," ucap Dion.


"Mia gak mau memandikan Tuan. Jangan seperti anak kecil begitu ah," sambar Mia.

__ADS_1


"Hey, aku bahkan belum selesai bicara Mia. Aku bukan ingin dimandikan. Aku hanya ingin tahu, selama aku di sana apa yang orang tuaku lakukan padamu? Apa mereka jahat padamu?" tanya Dion.


"Iya, orang tua Tuan sangat jahat pada Mia." jawab Mia dengan tangan yang masih sibuk dengan barang-barangnya.


"Apa yang mereka lakukan padamu Mi?" tanya Dion.


Tangan Dion sudah mengcengkram bahu Mia. Dion menatap wajah Mia dengan dalam. Takut. Ya, ada ketakutan yang teramat dari tatapan mata Dion. Ia tidak ingin Mia tersakiti meskipun oleh orang tuanya sendiri.


"Mia, katakan padaku." ucap Dion dengan mengguncang pelan bahu Mia.


"Pertama, Nyonya Helen jahat karena tidak membantu Mia saat calon istri Tuan menampar Mia. Kedua, Nyonya Helen dan Tuan Wira jahat karena ingin mempercepat pernikahan kita," ucap Mia.


"Benarkah?" tanya Dion.


Mia mengangguk. Berharap Dion akan membujuk orang tuanya untuk mengulur waktu pernikahannya, namun Mia salah besar. Dion malah terlihat sangat senang dengan pernikahan yang akan dipercepat itu. Tentang Niki, Nyonya Helen tidak tinggal diam. Ia diam karena merasa Niki kalah oleh Mia, hingga ia tidak perlu melakukan apapun lagi kecuali melaporkan semua itu pada Dion dan suaminya.


"Mia, jangan pernah menyebutnya calon istriku. Calon istriku itu hanya kamu. Tidak ada yang lain. Tentang perjanjianmu, aku siap menandatangani. Tapi semuanya akan aku revisi kalau ada hal yang merugikan untukku," ucap Dion.


Tentu Dion jaga-jaga jika Mia tidak mengizinkannya untuk menyentuh tubuh mulus Mia.


"Oh iya, ini. Mia sudah buatkan surat perjanjiannya. Hanya saja Mia belum beli materai. Biar sah kalau pakai materai," ucap Mia memberikan selembar kertas pada Dion.


Dion menerima kertas itu dan membacanya. Tak ada yang aneh. Pointnya tidak berubah, hanya satu. Tidak ada perceraian dalam pernikahan mereka. Adapun jika Dion ingin menikah lagi, Mia menyetujuinya tanpa harus menceraikan Mia terlebih dulu.


Miaaaa, apa sih yang ada di kepalamu? Sebegitu tidak mencintai aku hingga kamu harus merelakan aku menikah lagi? Tidak adakah niat di hatimu untuk menjalani pernikahan yang sesungguhnya denganku? Miaaaa.


"Ok," ucap Dion sambil membawa kertas itu keluar dari kamar Mia.


Dion kembali ke kamarnya. Membaca ulang kertas perjanjian itu. Simple, namun menampar hati Dion yang mulai berbunga untuk Mia.


"Mia, bahkan aku sudah lupa perjanjian yang akan alu berikan untukmu. Tapi kamu masih mengingat jelas isi perjanjianmu. Ah, Mia. Kenapa harus aku yang mencintaimu? Kenapa bukan kamu yang mencintaiku?" gumam Dion.


"Dion," panggil Tuan Wira darinluar kamarnya.


"Pa, masuk!" ucap Dion setelah menyembunyikan selembar surat perjanjian dari Mia.


"Sudah pulang?" tanya Tuan Wira.


"Ini pa," ucap Dion menyerahkan laporan yang udah ia buat selama di Sirabaya.


Tidak perlu berbasa basi, Dion pun paham apa maksud Tuan Wira hingga mencarinya ke kamarnya. Apa lagi kalau bukan laporan perusahaan barunya. Perusahaan yang akan tumbuh pesat jika dikelola dengan baik, dan tentu akan menjadi tugas berat bagi Dion.


"Kamu istirahat saja ya!" ucap Tuan Wira setelah menerima laporan dari Dion.


Sudah kuduga, papa menginginkan laporan itu. Tidak benar-benar ingin tahu keadaanku.


"Oh ya pa," panggil Dion setelah ingat tentang ucapan Mia.


"Iya," jawab Tuan Wira.


"Kata Mia papa dan mama meminta pernikahan kami dipercepat?" tanya Dion.


"Apa kamu keberatan?" tanya Tuan Wira.


"Aku ikut gimana baiknya saja pah," ucap Dion.


"Nanti kita bicarakan bersama ya! Apa tahu kamu sudah tidak sabar kan? Sudah gak kuat kan?" goda Tuan Wira.


"Ish, papa. Aku mandi dulu ah!" ucap Dion sambil menutup pintu kamarnya.


Wajahnya memerah saat mengingat kata gak sabar, gak kuat. Kata yang seketika membuat Dion merasa darahnya mengalir lebih cepat.


"Miaaaa, maafkan aku jika setelah menikah aku tidak bisa menjaga keinginanku. Lagi pula perjanjianmu hanya tidak ingin diceraikan. Itu akan memudahkan aku untuk memilikimu seutuhnya Mia," gumam Dion di bawah guyuran shower.


Bayangan Mia tak bisa menghilang dari kepala Dion. Semakin sering bertemu dengan Mia, membuat cinta Dion terus tumbuh dan berkembang dengan sangat pesat. Tidak masalah, pernikahannya akan dipercepat. Tidak harus menunggu sebulan lagi, Mia akan benar-benar akan menjadi miliknya.


"Nanti, sebentar lagi. Kamu akan tidur di sini Mia. Kamu akan menjadi milikku seutuhnya. Sabar Dion, sabar. Tidak lama lagi," ucap Dion sambil mengusap kasurnya dengan senyum penuh kemenangan.


#################


Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.


Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


Terima kasih..

__ADS_1


__ADS_2