
Dion menatap Mia yang sibuk membereskan ranjangnya dengan wajah cemberut.
"Mia, maafkan aku ya!" ucap Dion.
"Buat apa?" tanya Mia.
Mia memang bicara dengan Dion, tapi matanya sama sekali enggan menatap suaminya. Mia masih membereskan ranjangnya.
"Maaf karena aku selalu cemburu. Bukannya aku tidak percaya padamu, tapi karena rasa takut aku yang luar biasa. Aku takut kehilangan kamu," jawab Dion.
"Iya. Mia ngerti kok A. Tapi Aa juga harus percaya sama Mia. Kuncinya rumah tangga yang harmonis itu ya saling percaya dan jaga kepercayaan," ucap Mia.
Dion memeluk Mia dari belakang. Ia mencium pucuk kepala Mia. Mia tidak bisa melanjutkan kegiatannya. Ia hanya pasrah dah membiarkan Dion melakukan apapun.
"Iya, aku mengerti itu. Kamu juga jangan mikir macam-macam ya sama aku. Aku setiap hari kerja juga cuma buat kamu dan bayi kembar kita. Gak ada aku kepikiran buat macam-macam Mi," ucap Dion.
"Mia percaya sama Aa. Mia yakin Aa bukan hanya bisa jadi suami terbaik, tapi bisa jadi ayah terbaik juga. Setidaknya Aa ingat sama Narendra dan Naura. Apa jadinya mereka kalau Aa sampai melakukan kesalahan besar seperti itu," ucap Mia mengingatkan.
"Aku tahu itu Mi. Aku akan selalu mengingat semua itu," ucap Dion.
"Miaaaa, Dioooon," panggil Nyonya Helen.
"Ish, Mama gak tahu situasi. Gak bisa lihat anaknya romantis begini," ucap Dion.
"A, lepasin. Mama manggil tuh," ucap Mia.
"Biarin. Aku masih kangen. Aku masih mau seperti ini," ucap Dion.
Bukannya melepaskan pelukannya, Dion justru semakin erat memeluk Mia.
"Mia, Dion, kalian belum bangun?" tanya Nyonya Helen setelah kembali mengetuk pintu.
"Udah Ma, sebentar!" jawab Mia. "A, awas lepasin." Lanjut Mia.
Mia melepaskan tangan Dion yang melingkar di perutnya, lalu membuka pintu kamarnya.
"Ada apa Ma?" tanya Mia.
Nyonya Helen menatap Mia dari atas hingga bawah. Mulutnya menganga, tanpa bicara apapun.
"Ma," panggil Mia.
"Eh, Mia. Ini kamu?" tanya Nyonya Helen.
"Mama pikir ini siapa?" tanya Mia.
"Kamu cantik sekali. Kenapa gak setiap pagi kamu dandan begini? Kamu cantik Mia," ucap Nyonya Helen yang masih terpesona dengan kecantikan Mia.
"Ah, Mama berlebihan deh. Mama ada apa pagi-pagi ke sini?" tanya Mia.
"Mama gak mau tahu, setiap pagi kamu harus cantik begini. Jangan karena kamu punya anak, kamu jadi kelihatan tidak terawat. Ingat itu ya!" ucap Nyonya Helen.
"Iya Ma. Terus Mama ada apa ke sini?" tanya Mia.
"Eh ya ampun. Mama sampai lupa. Mama mau kasih tahu kamu kalau teman Mama gak jadi ke sini. Mama mau ke luar kota sama Papa. Gak apa-apa kan kamu ditinggal dulu? Kan ada Tuan Felix. Belum lagi ada Sindi dan Rian," ucap Nyonya Helen.
"Oh iya gak apa-apa Ma," jawab Mia.
Setelah Nyonya Helen pergi, Mia nampak cemberut. Dion menghmpirinya.
"Kamu kenapa sih? Yang gak jadi datang temannya Mama, tapi yang sedihnya kok kamu. Gak ngerti aku," ucap Dion.
"Aa gak tahu perjuangan Mia dandan pagi-pagi. Mata sampai berair kecolok eyeliner," ucap Mia.
"Ya ampun Mi, baru kecolok eyeliner aja udah berair. Apalagi kalau kecolok," ucap Dion menjeda ucapannya.
"Apa? Masih pagi ini," ucap Mia.
Sebuah bantal mendarat di wajah Dion yang tengah tertawa melihat respon Mia. Dengan wajah yang masih cemberut, Mia melanjutkan beres-beres kamarnya.
"Mi, aku hari ini pulang cepat. Kamu mau keluar gak? Kan kalau keluar rasanya enak. Plong gitu," ucap Dion.
"Aa," ucap Mia kesal.
"Eh, kok marah?" tanya Dion.
"Masih pagi kok bahasannya jorok terus sih?" ucap Mia.
"Kok jorok?" tanya Dion.
"Keluar? Enak? Plong? Apaan itu. Mia gak suka ah," jawab Mia.
"Ya ampun Mi. Kamu kayaknya kurang jalan-jalan. Otak kamu yang bermasalah," ucap Dion.
"Kok jadi Mia yang salah?" tanya Mia.
"Terus siapa yang salah? Maksud aku, siapa tahu kamu mau keluar rumah. Makan malam di luar. Kan enak suasananya beda. Plong gitu ke kepalanya. Gak mumet kayak di rumah terus," jawab Dion.
"Oh gitu ya? Mia pikir," ucap Mia.
"Kalau yang begitu sih jangan di pikir-pikir Mi, nanti langsung praktek aja ya?" goda Dion.
"Ih Aa," ucap Mia.
Lagi, satu bantal mendarat di wajah Dion.
"Sayang, maaf dan terima kasih ya! Maaf karena aku masih sering bikin kamu kesal. Terima kasih karena kamu selalu memaafkan aku atas semua kesalahan aku," ucap Dion.
__ADS_1
Kecupan lembur mendarat di dahi Mia. Tangan Dion mengusap kepala Mia, merapikan anak rambut yang sedikit berantakan.
"Sayang, sehat-sehat ya!" ucap Dion.
"Aa juga sehat-sehat ya!" ucap Mia.
Mia dan Dion turun untuk sarapan. Hal yang menarik perhatian Mia adalah saat Tuan Felix duduk bersebelahan dengan Rian. Mereka nampak akrab.
"Pah," panggil Mia.
"Haii Mia," ucap Tuan Wira dan Tuan Felix bersaman.
Keduanya saling menatap.
"Kamu manggil aku kan Mia?" tanya Tuan Wira.
"Aku juga Papanya Mia," ucap Tuan Felix.
Mia menggigit bibir bawahnya. Sepertinya ini adalah langkah yang salah baginya.
"Mia panggil dua-duanya. Papa Wira dan Papa Felix kan Papanya Mia," jawab Mia.
"Tuh kamu dengar itu kan?" tanya Tuan Felix.
"Ya ampun, semuanya juga dengar. Kenapa harus aku yang ditanya," ucap Tuan Wira.
"Papa Wira sama Papa Felix lama-lama kayak tom and jerry ya!" ucap Dion sembari tersenyum.
"Anak kurang ajar!" ucap Tuan Wira sembari melempar sepotong roti pada Dion.
Tawa Dion kini diikuti oleh semua yang sedang duduk di ruang makan. Akhir-akhir ini hubungan mereka semakin dekat satu sama lain. Bahagia mulai menguasai rumah itu.
Dion bisa tersenyum senang saat merasa kalau kini kebahagiaan itu benar-benar kembali dalam kehidupannya. Terlebih saat melihat Mia tersenyum, ia merasa dunianya sudah kembali.
Selesai sarapan, Dion berangkat ke kantor. Tuan Wira dan Nyonya Helen berangkat ke luar kota. Hanya tinggal Mia, Sindi, Rian dan Tuan Felix.
Saat Mia akan pergi dari ruang makan, Tuan Felix memintanya untuk berkumpul di ruang tengah.
"Ada apa Pah?" tanya Mia.
"Ada yang mau Papa bahas," jawab Tuan Felix.
Mia melihat ke arah Rian dan Sindi, mereka hanya menggeleng karena sama sekali tidak tahu apa yang akan dibahas oleh Tuan Felix. Yang dilakukan Mia adalah mengikuti ucapan Tuan Felix agar ia bisa mengetahui maksudnya.
"Begini, Mi. Papa harus kembali ke Jerman. Karena bagaimanapun, perusahaan di sana butuh Papa. Untuk pengurusan kerja sama di sini dengan Dion juga sudah hampir rampung. Kemungkinan Papa akan ke Jerman akhir minggu ini. Mungkin setelah urusan Dion dan mertuamu sedikit longgar," ucap Tuan Felix.
Mata Mia berkaca. Rasanya tidak siap jika harus ditinggalkan oleh Tuan Felix. Haruskah ia merasakan kehilangan lagi?
"Mia, jangan menangis. Ada aku di sini," ucap Sindi menenangkan.
"Papa bawa dia," jawab Tuan Felix.
Tidak ingin Mia salah paham dengan maksud ucapannya, Tuan Felix segera menjelaskan semuanya.
"Kamu jangan salah paham Mi. Papa punya rangkaian rencana yang mungkin terlalu indah. Tapi Papa berharap itu semua bisa terwujud," ucap Tuan Felix.
Mia dan yang lain mendengarkan dengan seksama. Kerja sama yang baru antara Tuan Felix dengan Dion akan dipegang oleh Mia. Itupun sudah ia bicarakan sebelumnya dengan Dion dan orang tuanya. Mereka setuju.
"Aa setuju?" tanya Mia.
"Tentu," jawab Tuan Felix.
Mia mengernyitkan dahinya. Ia tidak percaya jika Dion mengizinkannya kembali ke perusahaan setelah lama ia meninggalkan semua cita-citanya.
"Tapi Narendra dan Naura?" tanya Mia.
"Dion sudah atur semuanya," jawab Tuan Felix.
Mia sama sekali tak habis pikir jika Dion sudah memikirkan hal itu semantang mungkin. Dion akan menjadwal kegiatan Mia agar bisa berbagi dengan anak kembarnya. Awalnya Dion ragu karena takut Mia kelelahan. Namun Nyonya Helen meyakinkannya, jika Mia tidak akan lelah. Karena dua pekerjaan ini adalah impian dan cita-citanya.
Menjadi ibu rumah tangga dan wanita karir memang tidak mudah. tapi Nyonya Helen yakin dengan kemampuan yang dimiliki Mia. Ia yakin kalau Mia pasti bisa membagi waktu dengan baik.
"Lalu Rian?" tanya Mia.
"Dia," ucap Tuan Felix menjeda bicaranya. "Dia ikut aku," lanjutnya.
"Kak, aku tidak minta. Tuan Felix yang memintaku untuk ikut. Aku sempat menolak karena aku mau minta izin dulu dari Kakak," ucap Rian.
Ada rasa takut dalam raut wajah Rian. Mia jadi merasa bersalah atas sikapnya saat itu. Terlebih dengan Tuan Felix yang sempat juga mengalami hal yang sama dengannya. Rian pasti takut jika Mia akan cemburu lagi dan akan membuat hubungan antara anak dan ayah itu menjadi berantakan lagi.
"Rian, kenapa harus minta izin padaku?" tanya Mia.
"Karena Tuan Felix adalah ayah Kak Mia," jawab Rian.
Mia tersenyum mendengar jawaban Rian. Rasa senang tengah berbunga dalam hatinya karena kini ia memiliki seorang ayah yang benar-benar diakui oleh orang lain.
"Papaku adalah Papamu juga Rian. Jadi aku harap kamu bisa menyayangi Papa dengan setulus hati kamu. Aku titip Papa ya!" ucap Mia.
"Kak Mia?" tanya Rian.
"Sudah kubilang, Mia itu wanita yang baik. Hatinya lembut dan semua terbukti kan? Aku memang tahu semua tentang anakku," jawab Tuan Felix.
Anakku? Mendengar kata itu, membuat hati Mia bergetar. Selama ini, baru saat ini melihat ada orang yang mengakuinya sebagai anak. Bukan hanya itu, orang itu juga begitu membanggakannya.
"Papa terlalu berlebihan," ucap Mia.
"Tidak. Ini tidak berlebihan. Ini memang sebuah kenyataan Mi. Kamu itu memang hebat. Wanita yang kuat namun hatinya begitu lembut," ucap Tuan Felix.
__ADS_1
Mia tersenyum penuh haru.
"Ah, aku jadi meleleh," ucap Sindi.
"Oh, maafkan. Aku sampai melupakanmu Sindi. Aku tidak membawamu bukan karena aku tidak menyayangimu atau membedakan kamu dengan Rian. Tapi Mia butuh kamu. Terlebih saat Mia mulai masuk kerja, kamu adalah orang kepercayaan Mia dari segala sisi. Baik dari urusan kantornya, maupun untuk urusan bayi kembarnya," ucap Tuan Felix.
"Jadi aku sebagai apa nih? Asisten atau babysitter?" tanya Sindi.
"Ya kalau itu sih fleksibel. Tergantung situasi aja," ucap Tuan Felix sembari tertawa.
Yang lain pun ikut tertawa saat Sindi terlihat cemberut.
"Padahal aku juga mau loh Tuan, ke luar negeri." Sindi tersenyum penuh harap.
"Nanti kalau semuanya sudah selesai, kamu dan Mia boleh main ke sana. Kita liburan sama-sama. Pasti lucu kalau Narendra dan Naura juga ikut main di sana," ucap Tuan Felix.
Saat mereka sedang asyik bicara, tiba-tiba ponsel Mia berdering.
"Maaf ya!" ucap Mia.
Mia meninggalkan ruangan itu dan menjawab panggilan dari suaminya.
"Kenapa A?" tanya Mia.
Ternyata Dion meminta Mia untuk mengantarkan berkas penting yang ketinggalan di kamarnya. Namun saat Mia akan pergi, Narendra dan Naura menangis.
"Mi, mau kemana? Bayi kembar lagi nangis tuh," ucap Sindi.
"Iya nih. A Dion minta Mia nganterin berkas, tapi Narendra sama Naura nangis. Kalau Mama Helen tahu, Mia bisa kena marah nanti. Gimana ya?" tanya Mia gelisah.
"Oh, jangan khawatir. Kamu tenang aja. Ada aku. Kamu urus saja bayi kembarnya, biar aku yang antar berkasnya. Sama sopir kan?" ucap Sindi.
"Ah iya. Kamu benar. Mia titip ini boleh?" tanya Mia.
"Kamu kayak sama siapa aja," ucap Sindi.
"Aku antar kak?" tanya Rian.
"Gak usah. Kamu temani Tuan Felix saja," ucap Sindi.
Sindi pergi dengan perasaan senang. Karena paling tidak, ia bisa berguna untuk Mia. Apalagi ini urusan pekerjaan. Sindi rindu pergi keluar rumah untuk bekerja. Dan ini adalah kesempatan langka yang tidak boleh disia-siakan.
"Sudah sampai Non. Kata Tuan tunggu di ruangan X nanti Tuan Dion yang akan menemui Non Sindi," ucap Sindi.
"Oh, siap Pak. Jangan pulang ya! Tunggu aku sampai ke sini lagi. Soalnya aku gak bawa ongkos," ucap Sindi
"Siap Non," ucap sopir sembari menahan tawanya.
Sindi dengan girang keluar dengan membawa berkas untuk Dion. Sesuai petunjuk, Sindi pergi ke ruang X menunggu Dion mengambil berkas itu.
"Loh, Sindi?" tanya Dion.
"Eh Tuan. Ini berkasnya!" ucap Sindi.
"Aku pikir Mia yang akan ke sini," ucap Dion.
"Mia gak jadi ke sini. Tadi Narendra sama Naura nangis Tuan. Tapi berkasnya gak berantakan kok meskipun aku yang bawa," ucap Sindi.
"Ah, bukan masalah itu. Aku percaya padamu. Terima kasih," ucap Dion.
Karena waktu Dion tidak lama, ia segera masuk dan meminta Sindi untuk segera kembali ke rumah. Namun saat akan pulang, ia melihat pria berjas hitam yang tidak asing baginya.
"Danuuu," teriak Sindi.
Sindi melambaikan tangannya dan tersenyum lebar pada Danu. Danu yang melihat kedatangan Sindi hanya mengerutkan dahinya dan menggelengkan kepalanya.
Melihat sikap Danu yang seperti itu, Sindi menurunkan kembali tangannya dan menyimpan senyumnya.
Aku kenapa sih? Sadar diri Sindi. Kamu dan dia beda kasta. Aku jadi curiga kalau dia bukan anak kandung Ibu Nathalie. Mana mungkin Ibu sebaik Bu Nathalie punya anak monster galak kayak dia.
Sindi menghela napas dalam dan panjang, sebelum akhirnya meninggalkan ruangan itu. Hatinya terus merutuki dirinya sendiri. Menyesali apa yang sudah ia lakukan. Rasanya ia hanya mempermalukan diri sendiri. Apalagi saat itu banyak sekali pasang mata yang melihat tingkahnya.
Konyol dan diabaikan. Miris sekali saat Sindi membayangkan kebodohannya. Matanya mulai berlinang. Namun susah payah ia menahannya agar cairan bening itu tidak jatuh membasahi pipinya.
Sindi mempercepat langkahnya saat semakin banyak orang yang menatapnya dengan tatapan mengejek dan merendahkan. Bukan salah mereka, semata itu hanya kecerobohan Sindi saja. Bisa-bisanya ia yang datang dengan tampilan sederhana berteriak memanggil nama Danu tanpa embel-embel Tuan.
Di mata orang yang ada di sana, Danu bukan orang sembarangan. Maka ketika Sindi melakukan hal itu, wajar rasanya jika ia menjadi pusat perhatian.
"Sayang," panggil Danu.
Tangan Danu melingkar di pinggang Sindi. Sementara Sindi hanya menelan salivanya dan menatapnya dengan penuh tanya.
Drama apalagi ini?
Sindi takut saat melihat perubahan sikap Danu yang bertolak belakang. Namun saat ia akan protes, Danu segera menarik Sindi untuk keluar dari kantor itu.
######################
Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
__ADS_1