Janda Bersegel

Janda Bersegel
Mama, Papa


__ADS_3

"Mana calon suami kamu?" tanya Nyonya Helen.


"Sudah pulang, Nyonya." Sindi masih belum berani mengangkat wajahnya.


"Sin, kamu takut padaku?" tanya Nyonya Helen.


"Tidak Nyonya. Nyonya orang baik. Tidak ada yang perlu aku takutkan," jawab Sindi.


"Terus kenapa kamu tidak membawa calon suamimu bertemu denganku dulu sebelum pulang?" tanya Nyonya Helen.


"Aku hanya takut Nyonya tidak nyaman. Aku sangat menghormati Nyonya. Aku tidak mau membuat Nyonya kecewa," ucap Sindi.


"Aku tidak mau hanya dihormati. Aku juga ingin disayangi. Kamu bisa kan?" tanya Nyonya Helen.


"Tentu Nyonya. Aku sangat menyayangi Nyonya," ucap Sindi.


"Kalau begitu bersikaplah seperti Mia. Aku menyayangimu sama dengan aku menyayangi Mia. Mia memanggilku Mama, tapi kenapa kamu masih memanggilku Nyonya?" tanya Nyonya Helen.


"Mama?" tanya Sindi terkejut.


Jantungnya seakan berhenti memompa darah. Seperti tidak ada aliran darah di wajahnya, Sindi nampak begitu pucat.


"Kenapa? Kamu keberatan?" tanya Nyonya Helen.


"Ti-tidak. Bukan begitu Nyonya," jawab Sindi gugup sembari memegang dadanya.


"Lalu kenapa?" tanya Nyonya Helen.


"Aku merasa sangat tidak pantas. Nyonya tidak bisa membandingkan aku dengan Mia. Mia jauh lebih segalanya dibandingkan aku," jawab Sindi.


"Sini! Masuklah!" ajak Nyonya Helen.


Sindi hanya bisa mengikuti Nyonya Helen yang menarik tangannya untuk masuk ke dalam kamarnya.


"Lihat ini!" ucap Nyonya Helen.


Sindi membelalakkan matanya saat Nyonya Helen mengeluarkan dua foto dari dalam laci nakasnya. Salah satu fotonya adalah foto dirinya.


"Kamu tahu apa arti semua ini?" tanya Nyonya Helen.


Sindi hanya diam. Matanya berlinang. Ia benar-benar sangat tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Ini artinya kamu dan Mia sama di mataku. Aku tidak membedakan kalian. Kalian berdua adalah anakku. Semenjak Dion mengajak kamu ke sini, aku senang dengan kehadiranmu. Meskipun aku sempat kecewa pada hubungan kamu dan Danu, tapi akhirnya aku sadar jika itu adalah takdir. Aku berusaha membencimu, tapi kenyataannya aku merindukanmu," ucap Nyonya Helen.


"Mamaaaaa," ucap Sindi sembari memeluk Nyonya Helen.


Tangis Sindi pecah saat ia benar-benar merasa mendapat sebuah ketulusan dari Nyonya Helen.


"Bolehkah aku memanggil Nyonya dengan sebutan tadi? Aku rindu sosok Mama. Dan aku menemukannya pada Nyonya," ucap Sindi.


"Sindi, jangan meminta izin. Aku yang memintamu untuk memanggilku dengan sebutan itu. Jangan hanya panggil aku Mama, tapi perlakukan aku seperti Mamamu sendiri. Sayangi aku seperti kamu menyayangi ibumu sendiri. Kamu bisa kan?" tanya Nyonya Helen.


Bahu Sindi yang terasa basah oleh tangis Nyonya Helen, membuatnya mengeratkan pelukannya. Ia benar-benar merasa ini adalah sebuah mimpi. Bahkan ia tidak sekalipun memimpikan hal yang terlalu indah seperti ini.


"Ada apa ini?" tanya Tuan Wira yang baru saja pulang dari kantor.


Sebuah tas yang dijinjing ia simpan di atas sofa kamarnya. Tuan Wira nampak bingung dengan dua wanita yang ada di hadapannya itu.


Nyonya Helen dan Sindi melepaskan pelukannya. Mereka mengusap kedua pipinya yang sudah basah dengan air mata.

__ADS_1


"Maaf Tuan," ucap Sindi.


"Papa," ucap Nyonya Helen sembari menggelengkan kepalanya.


Sindi menggelengkan kepalanya. Ia tidak berani jika harus memanggil Tuan Wira dengan sebutan Papa.


"Ada apa ini?" tanya Tuan Wira.


"Sindi memanggilku Mama. Masa manggil Papa dengan sebutan Tuan," jawab Nyonya Helen.


"Sindi kenapa kamu gak adil? Kamu jangan begitu dong. Dimana-mana pasangan Mama ya Papa. Mana ada Mama sama Tuan," ucap Tuan Wira.


Sindi membuka matanya lebar-lebar. Bahkan ia tidak sadar sudah ikut membuka mulutnya juga.


"Tutup mulutmu! Nanti cicak bisa masuk," ucap Tuan Wira.


"Ayo Sin, panggil Papa." Nyonya Helen meminta Sindi untuk mengucapkan kata itu.


"Pa-Papa," ucap Sindi gugup.


Tuan Wira merangkul bahu Sindi.


"Nah begitu kan enak," ucap Tuan Wira.


Sindi kembali menangis. Ia benar-benar sangat bahagia saat ini.


"Jangan nangis terus. Nanti mata kamu bengkak. Udah kamu ke kamar ya! Mandi dan istirahat," ucap Nyonya Helen.


Setelah sampai ke kamarnya, Sindi memegang dadanya. Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi.


"Aw, sakit." Sindi meringis kesakitan saat tangannya menampar pipinya sendiri.


Ini nyata. Tuhaaaan, aku sangat bahagia. sangat bahagia.


"Aku tahu kalau Nyonya Helen itu baik, tapi aku tidak menyangka kalau dia sesayang dan setulus itu sama Kakak," ucap Rian.


"Aku juga gak percaya. Ini benar-benar seperti mimpi Rian. Aku sempat cemburu karena Tuan Felix sudah menganggapmu seperti anak kandungnya sendiri. Tapi akhirnya Tuhan memberikan aku kesempatan untuk merasakan apa yang kamu rasakan," ucap Sindi.


"Kita memang orang yang sangat beruntung ya Kak. Berasal dari latar belakang keluarga yang tidak jelas, tapi akhirnya bisa dipertemukan dengan keluarga luar biasa yang menyayangi kita." Rian terdengar sangat bahagia.


"Kamu benar Rian. Kita memang orang-orang yang beruntung," ucap Sindi.


Selain Rian, Mia juga menjadi salah satu orang yang Sindi beri tahu kabar bahagia ini. Jika Rian diberi tahu satu jam setelah kejadian itu. Maka Mia diberi tahu keesokan harinya. Saat Tuan Wira dan Dion sudah berangkat ke kantor. Sedangkan Nyonya Helen pergi untuk ke salon.


"Kamu serius Sin?" tanya Mia.


Sindi menganggguk. Ia melihat raut wajah Mia yang juga ikut bahagia dengan berita itu.


"Sindiiii, Mia terharu." Mia mulai mengusap sudut matanya.


Tidak ada rasa iri atau takut tersaingi. Mia justru berpikiran sama dengan Rian. Mia menganggap Sindi dan dirinya adalah dua orang yang menjalani takdir hampir sama.


Sempat terombang ambing dalam kerasnya badai kehidupan, namun akhirnya kapal besar menyelamatkannya. Membawanya bukan hanya dalam kemananan, tapi juga kenyamanan.


Malam harinya, Sindi yang sedang belajar mengakrabkan diri dengan kedua orang tua Dion, ikut mengobrol. Sedangkan Mia dan Dion pergi ke rumah sakit karena Haji Hamid sudah dipindahkan ke Indonesia.


"Kamu cantik kalau lagi happy begini," ucap Dion saat melihat Mia tersenyum.


Suara alunan musik yang diputar Dion, membuat jiwa Mia sudah tidak di sana lagi. Mja bahkan tidak mengindahkan apa yang disampaikan oleh Dion. Hal itu tentu membuat Dion kesal. Ia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, hingga Mia sibuk mencari pegangan karena rasa takutnya.

__ADS_1


"Aa apa-apaan sih? Jangan ngebut-ngebut. Bahaya," ucap Mia dengan panik.


"Biar kamu gak ngelamun terus," ucap Dion kesal.


"Siapa yang ngelamun sih?" tanya Mia.


Tangannya memegang erat pegangan pada bagian kiri atas. Dion menahan tawanya saat melihat Mia begitu panik. Wajahnya sampai pucat. Akhirnya Dion kembali menurunkan kecepatan mobilnya.


"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri? Diajak ngomong gak jawab. Kan bikin kesel," ucap Dion.


"Ehehe, Maaf A. Jujur aja saat ini Mia lagi bahagia banget.


"Tapi gak sampai cuek sama aku juga kali," ucap Dion.


"Maaf ya A," ucap Mia sembari tersenyum lebar dan memegang tangan Dion.


Tak lupa kepalanya bersandar manja di bahunya. Hanya beberapa detik saja karena Mia tidak mau mengganggu konsentrasi Dion yang sedang menyetir.


Mobil sudah berhenti di parkiran rumah sakit. Ingin rasanya Mia segera melompat keluar dan berlari menemui Haji Hamid. Entah perasaan Mia yang sudah terlalu rindu dengan Haji Hamid, atau memang kesengajaan yang dilakukan Mia.


Bagi Mia, perjalanan menuju rumah sakit terlalu lama. Belum lagi Dion yang lama sekali saat turun dari mobilnya. Hal itu membuat Mia yang sudah keluar dari mobil hanya bisa gelisah.


"Ayo Mi!" ajak Dion saat sudah keluar dari dalam mobilnya.


"Ayo!" ucap Mia dengan begitu semangat.


Langkah demi langkah terasa sangat ringan. Seandainya bisa, ingin berlari untuk segera bertemu dengan Haji Hamid. Namun Mia sangat menghargai Dion. Ia tetap menggandeng tangan Dion meskipun ia berusaha melangkah lebih cepat.


"Masuk!" ucap Dion mempersilahkan Mia masuk lebih dulu.


"Ini ruangannya?" tanya Mia.


"Katanya sih di sini. Makanya kamu cek aja dulu," jawab Dion.


"Permisi," ucap Mia.


"Masuk Mi," jawab seseorang dari dalam ruangan.


Mia mengerutkan dahinya saat suara seorang wanita yang memintnya masuk. Tapi Mia merasa tidak asing dengan suaranya.


"Kalin?" tanya Mia pada Dion.


"Gak tahu," jawab Dion.


Mia membuka pintu ruangannya dan senyumnya melebar setelah melihat Kalin melambaikan tangannya.


"Sini!" ajak Kalin yang sedang duduk di samping Haji Hamid.


Mia mengangguk dan segera menarik tangan Dion untuk masuk.


"Pak Hajiiiii," teriak Mia dengan begitu bahagia.


#####################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..

__ADS_1


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


__ADS_2