Janda Bersegel

Janda Bersegel
Muncrat


__ADS_3

"Apa kabar sayang?" tanya Niki.


Ya, dia adalah mantan kekasih Dion. Wanita itu memang masih mengejar Dion. Apalagi sampai saat ini ia masih belum menikah. Karirnya memang semakin bagus, tapi tidak ada pria yang benar-benar mencintainya setulus Dion saat itu. Penyesalan itu sering muncul kala Niki tengah merasa sendiri. Hongga muncul ide busuk untuk mengambil kembali Dion dari Mia.


"Berhenti dengan omong kosong mu Niki!" teriak Dion.


"Kenapa? Karena ada wanita itu?" tanya Niki.


Telunjuk lentiknya menunjuk Mia. Berharap Mia menyerah dan pergi meninggalkan Dion.


"Mia, ayo kita ke mobil!" ajak Nyonya Helen.


Tangan Nyonya Helen menggandeng Mia, namun Mia menolak. Secara halus Mia melepaskan tangan Nyonya Helen. Berusaha menyembunyikan rasa sakit dan air mata, Mia tetap berdiri tegar di samping Dion. Tidak ingin melihat Niki menang, Mia nampak sangat tenang.


"Nanti ya Ma. Mia tidak mungkin membiarkan suami Mia bersama wanita berbahaya ini," ucap Mia.


"Wah, tidak ku sangka dia seberani ini. Apa kamu tidak tahu siapa aku?" tanya Niki.


"Tentu tahu. Bahkan Mia tahu cara menghancurkan karir yang selalu kamu banggakan. Eh ralat, bukan Mia sih. Tapi kamu sendiri yang akan menghanncurkannya jika sampai mengganggu suami Mia. Hati-hati!" ucap Mia dengan sinis.


"Oh ya? Jangan pernah berfikir bisa mengalahkan aku. Kamu seharusnya sadar itu Mia. Aku jauh lebih tinggi dibanding kamu," ucap Niki dengan sombongnya.


"Oh ya? Kamu tidak sedang bermimpi kan?" tanya Mia.


"Apa maksudmu?" tanya Niki dengan emosi.


Sepertinya Niki memang satu tipe dengan Nyonya Nathalie. Selalu memancing amarah lawannya, namun jika lawan terlihat tenang justru ia yang terpancing.


"Bukankah kamu sudah kalah untuk mendapatkan Dion? Dulu dia memang milik kamu, tapi sekarang Dion adalah milik Mia. Jadi jangan sekalipun bermimpi untuk mendapatkan Dion kembali," ucap Mia dengn santai.


"Kamu," ucap Niki geram.


Tangan Niki sudah melayang di udara dan siap mendarat di pipi Mia. Namun dengan cepat tangan itu ditangkap oleh Dion.


"Jangan macam-macam dengan istriku. Mia benar. Jangan sekalipun kamu bermimpi untuk hal yang tidak mungkin terjadi," ucap Dion menegaskan.


Sialan. Beraninya Dion bersikap sekasar ini padaku? Awas Mia. Aku akan merebut kembali Dion.


"Kamu gak apa-apa Mi?" tanya Dion panik.


Mia menggeleng.


"Kita pulang sekarang ya!" ucap Dion.


"Dion, aku tidak akan membiarkan kamu bahagia bersama wanita itu. Aku yang seharusnya bersama kamu, bukan dia. Dion, kembali padaku. Aku mohon," ucap Niki.


"Hentikan Niki!" bentak Dion.


"Jangan pernah mencari masalah sama Mia. Mia bisa saja membuatmu menyesal seumur hidupmu," ucap Mia sebelum pergi meninggalkan Niki.


Ketiganya pergi meninggalkan Niki yang masih mematung. Wajahnya sudah memerah karena menahan amarah. Tidak menyangka jika Mi semakin berani seperti itu. Wanita yang ia tahu janda dan berasal dari kampung itu sekarang benar-benar sudah menjadi Nyonya Dion.


"Sial!" teriak Niki.


Menyadari banyak pengunjung yang memperhatiknnya, akhirnya Niki memutuskan untuk meninggalkan tempat itu dan menyusun rencana baru untuk merebut Dion. Kini bukan hanya perihal rasa, namun dendamnya pada Mia yang membuat tekadnya semakin kuat.


Namun sepertinya Mia tidak akan mengalah. Mia akan mempersiapkan diri dari hal-hal licik yang akan Niki lakukan padanya. Memiliki bayi kembar yang ada dalam perutnya, membuat Mia semakin berani mempertahankan Dion. Bukan hanya untuknya, tapi untuk masa depan bayi kembarnya. Mia tidak mau bayi kembarnya tumbuh menjadi anak yang kekurangan kasih sayang seorang ayah. Cukup hanya dirinya yang tidak merasakan kasih sayang seorang ayah.


"Mi, kamu gak apa-apa kan?" tanya Dion.


"Gak," jawab Mia ketus.


"Mi, kok kamu marah sama aku sih? Aku salah apa?" tanya Dion.


"Gak. Udah hati-hati aja bawa mobilnya. Jangan banyak ngomong," ucap Mia kesal.


"Mi, jangan gitu dong. Kasihan dede bayi kalau kamu marah terus," ucap Dion.


"Iya," jawab Mia.


"Ma, bantuin dong. Kok malah diam aja sih?" ucap Dion.


"Dih, kok Mama? Urusan kamu dong. Mama kan gak tahu apa-apa," ucap Nyonya Helen.


Bukan masalah tidak tahu apa-apa. Tapi Nyonya Helen tahu kondisi Mia saat ini. Percuma ia banyak bicara, itu hanya akan membuat Mia semakin panas. Nyonya Helen membiarkan Mia sedikit tenang lalu ia akan meyakinkan Mia kalau tidak ada yang bisa mengalihkan perasaan Dion. Ya, itu akan lebih baik dari pada memaksa Mia untuk menerima masukan pada saat hatinya tidak siap.


"Ah Mama," ucap Dion pasrah.


Keheningan mengiringi perjalanan mereka bertiga. Tidak ada satupun dari mereka yang membuka mulutnya. Dion sesekali melihat Mia. Mia nampak memalingkan wajahnya dari Dion. Sedangkan Nyonya Helen lebih memilih untuk diam dan bermain ponsel.


Mobil tiba di depan rumah. Dion nampak terkejut saat melihat Mia keluar lebih dulu dari padanya. Padahal biasanya Mia akan keluar jika Dion sudah membukakan pintu mobilnya. Mia bahkan tidak menunggu Dion. Wanita yang tengah hamil besar itu berjalan cepat tanpa peduli Dion dan Nyonya Helen di belakangnya.


"Mia," panggil Dion.


Saat Dion akan berlari mengejar Mia, Nyonya Helen menarik tangan Dion.


"Apa Ma?" tanya Dion.

__ADS_1


"Mama mau bicara," ucap Nyonya Helen.


Nyonya Helen membawa Dion untuk duduk di ruang keluarga.


"Ma, nanti saja. Aku mau ngejar Mia. Nanti Mia makin marah kalau aku gak cepat-cepat ke kamar. Dikira aku gak peduli nanti," ucap Dion.


"Duduk!" pinta Nyonya Helen.


Dion duduk walaupun wajahnya jelas terlihat sangat gelisah.


"Dion, apa kamu masih menyimpan perasaan pada wanita itu?" tanya Nyonya Helen.


"Niki?" tanya Dion.


"Jangan menyebut nama wanita lain selain Mia ketika dia sedang marah," ucap Nyonya Helen mengingatkan.


"Iya," jawab Dion.


"Iya? Jadi kamu masih menyimpan perasaan pada wanita itu?" tanya Nyonya Helen.


"Eh, bukan. Iya itu maksudnya aku gak akan menyebut nama dia di rumah ini. Masalah perasaan sih udah gak ada Ma. Sejak aku menikah dengan Mia, aku pastikan semua perasaanku hanya untuk Mia. Terlebih ketika dia mengandung bayi kembar, darah daging aku. Bagaimana mungkin aku masih menyimpan perasaanku pada wanita selain Mia," ucap Dion.


"Bagus lah. Mama tidak mau kamu membagi perasaan untuk wanita lain. Jangan karena kamu merasa punya banyak uang, lantas kamu seenaknya bermain wanita. Kamu harus ingat, Mia itu wanita berkelas. Dia cantik, baik dan pintar. Ingat, kalau dia mau dia bahkan bisa mendapatkan pria yang jauh lebih baik dari pada kamu," ucap Nyonya Helen.


"Aduh, apaan itu maksudnya Ma? Amit-amit ya! Jangan sampai. Mungkin banyak pria yang jauh lebih baik dari pada aku, tapi asal Mama tahu, aku adalah pria yang paling tepat buat Mia. Mama harus catat itu!" ucap Dion.


"Buktikan! Pria itu yang dipegang ucapannya. Kalau kamu sampai ingkar, lebih baik kamu pakai rok saja. Dan jangan ngaku anak Mama. Malu Mama ngakuin kamu," ucap Nyonya Helen.


"Ya ampun Ma. Disaat orang lain mati-matian belain anaknya. Kok Mama malah ngejatuhin anaknya sih?" tanya Dion.


Sepertinya Dion sudah mulai cemburu dengan sikap Nyonya Helen yang selalu berada di pihak Mia. Sebenarnya bukan membela Mia, tapi sebagai wanita Nyonya Helen mengerti perasaan Mia sekarang. Ia juga ingin memastikan kalau anaknya tidak sampai hati mempermainkan menantu kesayangannya itu.


Kasih sayang Mia pada Nyonya Helen yang begitu tulus, ternyata membuat Nyonya Helen mengembalikan kasih sayang itu lebih tulus dan besar.


"Terserah kamu. Mama hanya mau berpesan. Minta maaf pada Mia. Jangan bahas apapun. Cukup minta maaf dan lakukan apa yang ia mau. Bawakan Mia segelas susu hamil. Ingatkan banyak hal baik pada Mia. Jangan pedulikan sikap dinginnya, cukup kamu ingat bagaimana perjuangan dan pengorbanan Mia. Bukan hanya padamu, tapi pada keluarga kita." Nyonya Helen menepuk punggung Dion.


Diam. Dion menunduk. Benar, ia hanya perlu meminta maaf. Percuma menjelaskan banyak hal tentang masa lalunya, itu hanya akan membuat Mia semakin marah.


"Iya Ma. Terima kasih ya buat masukannya. Aku ngerti sekarang. Aku buatin susu dulu buat Mia. Aku ke dapur ya Ma!" ucap Dion.


"Iya. Mama juga mau istrirahat. Jangan lupa kabari Reza. Mungkin dia nunggu kamu hari ini," ucap Nyonya Helen.


Setelah Nyonya Helen meninggalkan Dion, Dion nampak menepuk dahinya.


Ya ampun. Maaf ya Za. Tapi aku gak bisa ninggalin Mia. Saat ini Mia pasti butuh aku. Meskipun kehadiranku tidak akan dianggap oleh Mia, namun Mia pasti lebih marah kalau aku gak ada di sampingnya.


"Kenapa?" tanya Reza dari balik sambungan teleponnya.


Tidak ingin menceritakan masalah sebenarnya, Dion terpaksa berbohong.


"Mia kurang enak badan. Nanti kalau Mia sudah baikan, aku pasti ajak Mia ke sana ya!" ucap Dion.


"Gak perlu. Kamu tenang aja Di. Semoga Mia cepat sembuh ya!" ucap Reza.


"Iya," jawab Dion.


Setelah urusan Reza selesai, Dion pergi ke dapur untuk membuat susu hamil dan segera membawanya ke kamar.


"Mia," panggil Dion.


"Iya," jawab Mia malas.


"Aku bawakan segelas susu hangat. Kamu minum dulu ya!" ucap Dion.


"Buat apa? Biar Mia makin sehat? Makin gendut? Aa gak suka kan kalau lihat Mia gendut? Aa lebih suka sama wanita langsing kan?" tanya Mia.


Dion menghela nafas panjang. Menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Ia merasa jantungnya sedang tidak aman.


"Sayang, aku minta maaf ya. Aku tahu kamu marah, tapi setidaknya kamu minum dulu susu ini ya! Bayi kita butuh asupan energi," ucap Dion.


"Oh, jadi aa fikir tadi Mia makan banyak itu hanya untuk Mia? Bayi kembar Mia gak kebagian? Gitu? Makanya Mia jadi gendut? Iya? Gitu A?" tanya Mia dengan kecepatan 120 kilo meter per jam.


Eh ya ampun, Mia udah kumat nih kalau begini. Ingat kata Mama, jangan menyebut nama wanita lain, jangan menjelaskan apapun, dan jangan pernah lelah buat minta maaf. Sabar Dion, kesabara kamu sedang diuji.


"Gak gitu Mi. Aku minta maaf ya kalau aku menyinggung kamu. Minum dulu susunya ya!" !bujuk Dion.


Dion berusaha mengalihkan pokok bahasan tentang kejadian tadi, namun sepertinya amarah Mia belum juga mereda.


"A, ingat ya! Mia gendut begini juga karena Aa," ucap Mia.


Hah? Kok gara-gara aku sih?


Wajah bingung Dion langsung mendapat komentar pedas dari Mia.


"Kenapa? Gak terima?" tanya Mia.


"Gak kok Mi. Kamu memang benar. Aku yang membuat kamu begini. Aku minta maaf ya," ucap Dion memeluk Mia.

__ADS_1


Kesal, marah, kecewa, seketika semua perasaan itu lenyap saat merasakan tulusnya pelukan Dion. Mia sangat merasakan kasih sayang suaminya. Begitu sabar Dion, hingga nada suaranya yang sangat lembut meskipun Mia terus uring-uringan. Padahal Mia tahu, Dion pasti lelah. Ditambah dengan sikap Mia yang seperti ini, Dion pasti semakin lelah. Mia menyadari hal itu.


"A, maafin Mia ya!" ucap Mia.


Dion melepaskan pelukannya, memegang bahu Mia dan menatap bola matanya. Maaf? Bahkan kini Mia yang meminta maaf padanya. Benarkah Mia sudah tidak marah lagi padanya?


Ma, Mama benar. Mia luluh saat aku pasrah dan hanya meminta maaf. Eh, tapi jangan terlalu percaya diri. Siapa tahu Mia cuma ngprank aku. Biasanya juga begitu. Marah, minta maaf, dua detik kemudian marah lagi. Cukup dengarkan setiap ucapan Mia dan tetap minta maaf Dion. Ayo ingat terus pesan Mama.


"Mi, aku yang salah. Aku minta maaf ya! Terima kasih sudah menjadi istri terbaik untuk aku. Aku sayang sama kamu. Aku minta maaf kalau cara aku membuktikan kasih sayang aku belum maksimal," ucap Dion.


"A, apa Mia berlebihan?" tanya Mia.


Hah? Mia luluh. Cara Mama memang benar-benar jitu. Akhinya Mia melunak. Terima kasih Ma. Nanti kalau mau lebaran aku belikan baju


baru ya sebagai ucapan terima kasih aku. Hehe


"Aku suka dengan cara kamu mencintaiku Mi," ucap Dion.


"Benarkah? Apa cemburu Mia masih dalam batas wajar?" tanya Mia.


"Iya. Aku minta maaf ya kalau masa lalu aku membuat kamu gak nyaman. Aku harap kamu tidak perlu membahas masa lalu aku, karena setelah menikahi kamu, aku hanya berfikir tentang masa depan saja. Maafkan aku dengan semua kekurangan aku Mia," ucap Dion.


Masa lalu? Mia merasa tertampar. Ia bisa sangat marah dan kecewa saat masa lalu Dion hadir kembali. Tanpa ia sadari, masa lalunya justru lebih sering menghantui kehidupan rumah tangganya.


Seperti halnya Mia, Dion juga tidak pernah berharap sama sekali dengan kedatangan masa lalunya. Mia salah. Harusnya ia jauh lebih percaya Dion saat wanita itu terus mengancam akan merebut kembali suaminya.


"Mia yakin Aa adalah suami dan ayah yang bertanggung jawab untuk aku dan bayi kembar ini," ucap Mia sembari mengusap perutnya yang besar.


"Aku bukan orang baik. Tapi aku akan selalu belajar untuk lebih baik untuk kalian," ucap Dion sembari ikut mengusap perut besar Mia.


Mia mengangguk dan tersenyum lebar pada Dion. Kali ini, kekecewaannya sudah benar-benar hilang dari dalam dirinya. Ia harus percaya pada Dion. Mereka harus saling menguatkan. Jangan ada celah agar Niki tidak bisa masuk dalam kehidupan mereka.


Meniru adegan romantis dalam film korea, Dion coba untuk membuat Mia bahagia. Mengangkat tangan Mia dan menciumnya. Mengusap punggung tangannya dan menatap Mia dengan penuh ketulusan.


Ya! Berhasil. Bibir Mia kini sudah tersenyum kembali. Raut wajahnya sudah jauh berbeda. Nampak lebih segar meskipun belum seperti biasanya.


"Minum susunya dulu ya!" ucap Dion sembari memberikan segelas susu.


Sudah hampir dingin, karena membutuhkan waktu cukup lama agar Mia bisa kembali membaik. Dion juga mengerti kalau itu bukan perkara mudah bagi Mia, apalagi saat istrinya sedang hamil.


"Kenyang A. Aa abisin ya!" ucap Mia.


"Hah? Tapi ini kan susu hamil Mi," tolak Dion.


"Tapi kan Aa gak bisa hamil kalaupun minum susu ini," ucap Mia.


"Tapi kan bisa dibuang saja Mi," ucap Dion.


"Gak bisa. Mubadzir," jawab Mia.


Ini baru baikan. Dion tidak mau jika hubungannya dengan Mia harus kembali memanas hanya karena tidak menuruti kemauannya.


"Ya sudah aku minum ya!" ucap Dion.


"Nah gitu dong," ucap Mia. "Abisin ya A!" lanjutnya.


Dion menghabiskan susu itu.


"Aa," teriak Mia.


FFFFUAHH


"Aa muncrat," teriak Mia.


"Maaf Mi maaf," ucap Dion.


Dion yang menghabiskan susu itu, terkejut ketika mendengar Mia berteriak. Pada saat itu, susu yang Dion minum belum sempat ia telan semua, hingga muncrat ke baju Mia. Dion segera mengambil lap dan berusaha mengeringkannya. Hatinya berdebar, takut jika hasil usahanya tadi sia-sia.


"Kalau minum pelan-pelan dong A," ucap Mia.


Kok aku yang salah? Kan kamu yang bikin aku kaget, makanya sampai muncrat begitu. Lagian kamu ngapain sih teriak-teriak begitu? Gak faham aku sama kamu Mi. Eh tapi tenang. Ingat kata Mama. Cukup minta maaf.


"Maaf ya Mi," ucap Dion sembari terus mengelap baju Mia.


Mungkinkah Mia marah lagi? Atau justru memaafkan Dion?


####################


Mohon maaf atas keterlambatan up ini.. Dari kemarin aku tepar dan gak kuat nulis.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.

__ADS_1


Terima kasih..


__ADS_2