Janda Bersegel

Janda Bersegel
Dua malam lagi


__ADS_3

Pagi ini Danu bangun lebih pagi. Memandang wajah Mia yang polos, membuat Danu lebih bersemangat pagi ini. Ia merasa sangat bahagia saat mengingat apa yang sudah dilakukannya malam tadi dengan Mia.


Danu turun dari ranjang dan segera membersihkan tubuhnya. Saat Mia bangun dan tidak mendapati suaminya, gemericik air menjawab semua pertanyaannya.


"Sudah bangun?" tanya Danu yang mulai tidaj canggung lagi.


"Sudah mas. Tapi masih ngantuk," ucap Mia sambil menggeliat.


"Tidur lagi. Ini waktu liburan. Kamu tak perlu bangun pagi begitu," ucap Danu.


"Boleh?" tanya Mia.


"Siapa yang bilang tidak boleh?" tanya Danu.


"Boleh minta tolong temenin gak?" tanya Mia.


"Miaaa," ucap Danu yang tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Mia.


Danu merasa Mia berubah sangat cepat. Dan itu aneh baginya. Danu memang suka dengan sikap Mia yang lebih aktif. Namun Danu malah curiga kenapa Mia jadi seperti ini.


"Boleh gak?" tanya Mia.


"Aku mau ke--," ucapan Danu terhenti saat Mia dengan cepat memotong ucapannya.


"Mau? Ah, makasih mas. Ayo sini!" ucap Mia sambil merentangkan tangannya.


"Mia bukan itu maksudku," jawab Danu.


"Ayo dong mas! Lama ah," ucap Mia sambil menarik tangan Danu.


Danu padahal tidak bermaksud menemani Mia untuk tidur lagi. Tapi Mia terlanjur memotong ucapannya dan jadi salah paham. Sebenarnya Danu senang bahkan ia memang berharap kalau seharian ini menghabiskan waktunya dengan Mia di dalam kamarnya. Namun pikiran Danu terganggu oleh kedua orang tuanya yang berada di hotel yang sama. Tuan Ferdinan dan Nyonya Natahalie pasti akan mengejeknya habis-habisan jika telat keluar kamar.


Apa boleh buat, tangan Mia yang melingkat di perut Danu membuatnya hanya bisa pasrah sambil menikmati sentuhan Mia. Tangan Mia yang bergerak-gerak membuat Danu merasa tidak nyaman. Danu takut jika ia tidak bisa mengendalikan dirinya.


Benar saja, saat kaki Mia tak sengaja menyentuh benda pusaka yang tersimpan dalam celana Danu, tiba-tiba saja Danu merasa tegang. Haruskah ia mengecewakan Mia untuk keduakalinya?


Mia suka saat melihat Danu begitu gelisah. Menurut penjelasan Arumi, itu tanda kalau Danu membutuhkannya. Mia segera turun dari ranjang dan segera ke kamar mandi. Mia menggosok gigi dan mencuci muka untuk melayani suaminya pagi ini.


"Tunggu! Jangan kemana-mana. Kalau sampai Mia keluar dari kamar mandi mas gak ada, Mia marah ya!" ancam Mia.


"Ada yang mau marah bilang dulu?" tanya Danu.


Mia tidak jadi ke kamar mandi tapi malah berjalan ke arah pintu dan mengambil kuncinya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Danu.


"Biar mas gak kabur," jawab Mia.


Danu menggelengkan kepalanya. Demi apapun, semua yang dilakukan Mia adalah apa yang ia harapkan. Namun di setiap kebahagiaannya, terselip rasa takut dalam hati Danu. Takut kalau Mia kecewa dan bosan jika selalu dikecewakan olehnya.


"Mas," panggil Mia.


Mia panik saat tidak melihat Danu di atas ranjang. Ternyata Danu sedang memainkan ponselnya di sebuah sofa dekat pintu.


"Eh, kirain kemana. Mas mau kabur ya?" tanya Mia.


"Siapa yang kabur?" tanya Danu.


Mia berjalan mendekati Danu dan merampas ponsel suaminya. Mia menyimpannya di atas meja kemudian menarik tangan Danu untuk melingkar di pinggangnya.


Danu menjadi gugup melihat Mia yang begitu aktif. Benar, Mia adalah wanita yang sangat cerdas. Cukup satu kali mengajarkannya maka ia akan langsung bisa. Danu harus mengakui itu bukan hanya urusan pekerjaan, tapi urusan begini juga memang begitu. Ah, apa ini? Begini begitu, pikiran Danu sudah kacau saat Mia memeluknya pagi ini.


"Mia katanya kamu ngantuk. Ayo aku temani tidur!" ucap Danu mengalihkan perhatian Mia.


"Aku mau di sini saja. Mengenang pembelajaran kita yang pertama. Kan di kursi mas," ucap Mia dengan polosnya.


Danu semakin tak bisa mengontrol dirinya. Ia mencoba melepaskan pelukan Mia. Ini tidak bisa dibiarkan. Namun Mia memeluknya dengan erat dan tak melepaskan tubuh Danu sama sekali.


"Mau aku gendong ke ranjang?" tanya Danu.


Mia menggeleng. "Mau di sini aja, mas. Mulai yuk!" ajak Mia.


Hah? Mulai? Danu menghela napasnya dengan panjang. Ia harus menenangkan dirinya, namun ketika ketenangan itu belum juga hadir, Mia sudah membuatnya menegang kembali.


CUP


Danu tersentak.


"Jangan kaget begitu, itu baru pemanasan. Aku cuma mau buktiin sama mas, kalau aku sudah pintar. Aku lulus dan bisa memuaskan mas. Jadi mas gak perlu cari wanita lain buat diajarkan yang begini ya!" ucap Mia mengusap keringat di dahi suaminya.


Keringat? Saat ini udara masih dingin, tapi Danu berkeringat. Mia sangat paham dengan semua yang terjadi pada suaminya. Semua berkat Arumi. Sebagai seorang dokter dan beberapa kali menerim konsultasi dari Danu, Arumi memberi tahu banyak hal tentang Danu pada Mia.


"Buka bajunya kalau gerah," ucap Mia mengangkat kaos Danu.


Danu menahan tangan Mia. Semakin banyak sentuhan Mia, maka akan membuat Danu semakin cepat banjir.


"Jangan Mia, aku pakai baju saja." Danu menggenggam tangan Mia agar tak memaksanya lagi.

__ADS_1


"Ya sudah, biar aku saja yang buka baju. Aku gerah. Gak apa-apa kan mas?" tanya Mia sambil membuka kancing bajunya satu per satu.


Danu membuang mukanya saat dada putih istrinya membuatnya sesak. Mia membalikkan wajah Danu agar menatapnya.


"Mia, kamu ini kenapa sih?" tanya Danu.


"Mau," jawab Mia polos.


"Mau apa? mendingan kita sarapan yuk! Kamu pasti lapar kan?" tanya Danu.


"Mia mau belajar mas," ucap Mia.


"Tapi kan semalam sudah," ucap Danu.


"Tapi mau lagi. Mia ketagihan mas," ucap Mia.


"Ketagihan?" tanya Danu.


"Iya mas. Enak," jawab Mia.


Enak? Sepolos itukah Mia?


"Memangnya yang dulu gak enak?" goda Danu.


Mia menepuk dada Danu. Seperti yang Danu tahu kalau Mia menikah dengan seorang yang menyukai sesama jenis. Jadi Mia belum pernah melakukan ini sebelumnya. Danu tidak heran jika Mia menuntutnya untuk selalu belajar dan belajar. Namun semakin Mia menuntutnya, semakin membuat Danu semakin sakit. Danu harus mengecewakan Mia entah sampai kapan. Pengobatannya masih berjalan namun belum ada perubahan sama sekali.


"Mas, ayo!" rengek Mia saat melihat Danu melamun.


"Mia aku takut," lagi-lagi ucapan Danu terhenti saat Mia menyambar bibirnya.


Mia mempraktekkan hasil belajarnya. Semakin lincah dan membuat Danu semakin senang. Kini, Mia yang mengajari Danu. Mia meraih tangan Danu dan meletakkannya di dadanya. Mia kesal saat dadanya sudah terbuka namun Danu malah mengacuhkannya.


"Mas ayo dong! Jangan malas," ucap Mia.


"Malas apa?" tanya Danu.


"Tangannya kok malah diam? Gerak dong, cari kerjaan jangan cuma anteng aja. Gak enak tahu dianggurin," ucap Mia tanpa malu-malu.


Danu justru merasa malu sendiri dengan semua ucapan dan tingkah Mia yang terlalu polos. Andai saja Danu sembuh, ia berjanji akan membuat Mia memohon ampun. Ah tapi Danu menepis semua angan-angannya. Dokter saja tidak bisa memastikan apakah Danu akan sembuh atau tidak. Yang bisa Danu lakukan adalah membuat Mia merasa senang sebisa mungkin. Danu tidak akan mengecewakan Mia dari hal lain selain urusan ini.


Sepanjang pembelajaran pagi ini, Danu mengamati setiap titik yang menjadi kelemahan Mia. Danu mulai tahu apa yang Mia inginkan. Danu membuat Mia terlihat sangat bahagia. Sampai akhirnya hembusan napas dan bisikan serta gigitan kecil Mia di telinganya membuat Danu tidak bisa mengontrol dirinya.


"Mia," ucap Danu yang berusaha menjauhkan tubuhnya dari Mia.


Mia justru menarik tubuh suaminya dan berbisik. "Selesaikan semuanya," bisik Mia.


Suara yang tidak pernah Mia dengar sebelumnya membuat Mia menatap wajah Danu. Tubuhnya yang lemas dan cairan basah yang bisa dirasakan oleh Mia membuat Mia merasa senang. Akhirnya untuk yang kesekian kalinya, Mia bisa membuat Danu mengakhiri pembelajaran dengan kepuasan.


"Mia maafkan aku," ucap Danu.


"Mia justru ingin berterima kasih sama mas," ucap Mia sambil mengancingkan kembali baju tidurnya.


Mia turun dari pangkuan Danu dan duduk di samping Danu.


"Mia, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan dan lakukan padamu. Aku benar-benar tidak bisa apa-apa," ucap Danu yang merasa sangat bersalah pada Mia.


"Mandi saja dulu! Nanti kita bicarakan semuanya ya!" ucap Mia.


Danu mengangguk dan segera pergi ke kamar mandi. Sambil menunggu Danu yang sedang mandi, Mia menghubungi Arumi. Ia mengucapkan banyak-banyak terima kasih dan meminta informasi lain tentang Danu dan penyakitnya.


Setelah Danu selesai mandi, Mia segera menghapus jejaknya dengan Arumi. Ia tidak ingin Danu merasa kecewa karena diselidiki.


"Mau mandi?" tanya Danu.


"Iya," jawab Mia.


Danu duduk di tepi ranjang untuk menunggu Mia selesai mandi. Danu sudah tidak sabar untuk menceritakan semua kekurangannya pada Mia. Danu sudah pasrah kalaupun Mia akan menggugat cerai padanya. Walaupun hatinya sangat berharap kalau Mia akan tetap menemaninya hingga akhir hayatnya. Tapi Danu mengembalikan semua keputusannya pada Mia. Mia berhak untuk bahagia dan mendapatkan pria yang bisa membahagiakan lahir maupun batinnya.


Danu juga prihatin dengan nasib Mia. Setelah lima tahun Mia bertahan menikah dengan pernikahannya yang tidak sehat, akhirnya Mia juga harus mengalami lagi pernikahan ini. Pernikahan yang hanya akan membuatnya menderita seumur hidupnya. Danu tidak yakin kalau Mia bisa bertahan dengannya. Ah bukan seperti itu! Danu yang tidak akan bisa bertahan membiarkan wanita yang ia cintai hidup menderita bersamanya.


Danu bisa memberikan semua yang Mia butuhkan secara lahir. Tapi batin? Danu tidak bisa memberikan kepuasan pada Mia. Mungkinkah pernikahannya bertahan? Danu akan membahas ini semua hingga tuntas bersama Mia setelah selesai istrinya mandi.


"Danu, sudah. Jangan terus-terusan begitu. Kasihan Mia. Kan bisa besok lagi," ucap Nyonya Nathalie dari luar kamar hotelnya.


Ketukan pintu yang tak kunjung usai, membuat Danu panik karena tidak tahu kuncinya dimana.


"Mia, dimana kunci kamar?" tanya Danu.


Mia yang sudah selesai mandi jadi ikut panik saat ia lupa menyimpan kunci.


"Mas, dimana ya? Mia lupa," ucap Mia.


"Aduh, gimana ini?" tanya Danu semakin panik saat mendengar suara berat Tuan Ferdinan ikutan memangilnya untuk segera keluar dari kamar.


"I-iya mi, sebentar." Danu gugup dan semakin panik.


"Aw," teriak Mia saat kakinya menginjak sebuah kunci.

__ADS_1


"Danu kamu jangan macam-macam ya. Ini sudah siang. Jangan terus-terusan menghajar Mia. Besok lagi. Ayo cepat buka kuncinya!" ucap Nyonya Nathalie.


"Ini mas!" ucap Mia memberikan kunci rumahnya pada Danu.


Danu segera membuka pintu kamar hotelnya agar orang tuanya tidak mengiranya macam-macam.


"Kamu tidak apa-apa Mia?" tanya Danu setelah membuka pintu.


Nyonya Nathalie dan Tuan Ferdinan segera masuk dan memastikan kalau menantunya baik-baik saja.


"Tidak apa-apa mas," ucap Mia sambil memegang kakinya.


Danu berjongkok di bawah melihat kaki Mia yang berdarah karena menginjak ujung kunci kamarnya.


"Apa yang terjadi Mia?" tanya Nyonya Nathalie.


Dengan polosnya Mia menjawab kalau ia lupa menyimpan kunci kamar, dan ternyata kuncinya terinjak olehnya.


"Kamu ngapain sih kunci kamar dicabut?" tanya Tuan Ferdinan.


"Mia takut mas Danu kabur pi," jawab Mia dengan polosnya.


Jawaban Mia mendapat respon yang berbeda antara mertua dan suaminya. Mertuanya saling menatap dan menahan tawa, sedangkan Danu harus menggelengkan kepalanya sambil menepuk kepalanya pelan.


"Kok bisa kuncinya ada di bawah kursi?" tanya Nyonya Natahalie.


Danu segera membungkam mulut Mia dan menjelaskan kalau kuncinya di simpan di meja dan terjatuh. Untung saja Danu segera menjawabnya. Kalau tidak, Danu yakin Mia akan menjawab yang sejujurnya. Dan itu membahayakan rahasianya. Bisa-bisa Mia menceritakan kalau mereka belajar di kursi itu pagi tadi.


"Panggil dokter Pi," pinta Nyonya Nathalie.


"Jangan! Mia punya obatnya kok," jawab Mia.


"Mixagrif?" tanya Nyonya Nathalie.


"Itu ibat flu Mi. Mia bawa obat merah dan kapas kok," ucap Mia menunjuk tas kecil yang ada di atas meja rias.


"Kamu udah kayak dokter aja bawa kotak p3k," ucap Danu.


Dokter? Mendengar kata dokter entah kenapa Mia jadi cemburu. Apakah Danu sedang merindukan Arumi? Tidak sekarang. Mia berusaha menyingkirkan dulu rasa cemburunya. Tapi nanti ia akan bahas semua ini dengan Danu.


Setelah selesai diobati, mereka sarapan. Karena kaki Mia luka, Danu menggendong Mia hingga ke tempat sarapan. Mia merasa malu saat banyak mata mulai melihat ke arahnya.


"Mas, Mia bisa jalan sendiri kok. Turunkan Mia," pinta Mia.


Meskipun dengkul Danu gemetar, tapi gengsi rasanya jika Danu harus membiarkan Mia berjalan saat kakinya sedang terluka.


"Mas, turunkan!" pinta Mia.


"Sebentar lagi juga sampai," jawab Danu.


Setelah menurunkan Mia, Danu merasa sangat lega. Hanya menunggu beberapa menit saja, pesanan mereka sudah siap dihidangkan. Danu dan Mia tampak sangat lahap. Nyonya Nathalie dan Tuan Ferdinan mengamaati tingkah mereka berdua.


Khusus pagi ini, mereka tidak membuat Danu kesal. Mereka anggap ini adalah hadiah. Mungkin Danu sudah bekerja siang dan malam di kamar hotel itu hingga membuatnya sarapan dengan sangat lahap.


Selesai sarapan, Nyonya Nathalie pamit untuk pulang ke Jakarta. Namun ia memperpanjang penginapan untuk Danu selama dua malam lagi.


"Hah?" ucap Danu tak percaya.


"Kenapa?" tanya Nyonya Nathalie.


"Aku juga harus kerja Mi," ucap Danu.


"Papi kasih cuti buat kamu. Nikmati masa-masa pengantin barumu. Setelah menikah kan kamu belum ngambil cuti," ucap Tuan Ferdinan.


"Tapi pi," sanggah Mia.


"Gak ada tapi-tapian Mia. Makan yang banyak ya biar kamu sehat dan kuat menghadapi anak mami," goda Nyonya Nathalie.


"Ah mami," ucap Mia malu-malu.


Tepatnya pukul satu kedua orang tua Danu kembali ke Jakarta. Danu mengajak Mia untuk kembali ke kamarnya saat orang tuanya sudah pulang.


"Mas, belajarnya nanti malam saja ya! Sekarang Mia cape, mau tidur dulu boleh?" tanya Mia.


"Aku juga mau mengajakmu tidur siang. Ayo!" ajak Danu.


"Mia pikir mas mau ngajak belajar lagi," ucap Mia.


Awalnya Danu akan membahas tentang pemyakitnya itu pada Mia. Danu akan membuka semua yang ada pada dirinya pada Mia. Tapi karena Mia sudah mengantuk, maka Danu menunda semua rencananya. Danu bisa lebih sabar karena masih ada dua malam lagi untuk mereka bebas di sana tanpa ada yang mengintip, karena Tuan Ferdinan dan Nyonya Nathalie sudah kembali ke Jakarta.


####################


Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.


Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.

__ADS_1


Terima kasih..


__ADS_2