Janda Bersegel

Janda Bersegel
Bisa hamil


__ADS_3

Selesai makan, Mia segera merapikan piring dan gelas kotor.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Danu yang terkejut dengan sikap Mia.


"Mau cuci piring. Biar nanti pagi cucian tidak menumpuk," jawab Mia sambil terus membereskan piring dan gelas kotor.


"Cukup Mia. Ada orang yang bertugas mengerjakan semua itu. Kau duduk saja. Makan buahnya dulu," ucap Nyonya Nathalie yang menahan tangan Mia agar berhenti.


"Maaf, Nyonya. Tapi kalau di rumah, itu kerjaan Mia. Tapi Mia bersih kok cuci piringnya," ucap Mia yang merasa diragukan dalam keahlian mencuci piringnya.


"Bukan itu maksudku Mia," ucap Nyonya Nathalie yang bingung menjelaskannya pada Mia.


"Setiap orang di rumah ini memiliki tugas masing-masing. Yang mencuci piring sudah ada bagiannya, tugasmu menuruti ucapan Mami. Kau mengerti?" tanya Danu.


Nyonya Nathalie tersenyum bahagia saat Danu mengerti apa yang dirasakannya. Tak lupa jempol tangan kanannya diangkat sebagai ucapan terima kasih pada anaknya.


"Baik. Mia mengerti Tuan," jawab Mia mengangguk.


Selesai makan dan berdebat, Nyonya Nathalie mengajak Mia dan yang lain untuk pergi ke ruang keluarga. Mia nampak menggeleng-gelengkan kepalanya melihat ruangan besar dan mewah. Nyonya Nathalie mencubit Tuan Ferdinan saat suaminya sudah membuka mulutnya. Nyonya Nathalie yakin kalau suaminya akan menghina kelakuan Mia yang terlihat sangat kampungan bagi keluarga Danu itu.


"Duduk Mia!" pinta Nyonya Nathalie sambil menepuk kursi di sebelahnya.


Mia mengangguk dan duduk. Beberapa kali Mia berdiri dan duduk lagi sambil tersenyum lucu.


"Empuk," ucap Mia saat menyadari tiga pasang mata menatapnya dengan penuh kebingungan.


Ketiganya menahan tawa atas semua kelakuan Mia. Setelah semuanya membaik, Nyonya Nathalie mulai bertanya tentang asal usul calon menantunya itu.


Nyonya Nathalie sampai menangis saat mendengar cerita hidup Mia yang begitu kelam. Tuan. Ferdinan pun terdiam, ada rasa iba dalam hatinya. Pria berkumis yang selalu berurusan dengan Mia, tak menyangka kalau ternyata Mia adalah wanita yang sangat kuat. Cerdas walaupun Mia sempat sekolah paket C.


"Kamu mempunyai anak?" tanya Nyonya Nathalie.


Mia menggeleng.


"Pakai KB?" tanya Nyonya Nathalie.


Mia menggeleng lagi.


Nyonya Nathalie mengkerutkan dahinya. Berumah tangga selama 5 tahun, tapi belum mempunyai anak padahal tidak di KB.


"Sebelum menikah dengan anakku, kamu akan cek kesehatan dulu ya!" ucap Nyonya Nathalie.


"Tapi Mia sehat, Nyonya. Seingat Mia, tidak pernah berobat karena sakit typus atau ashma. Paling juga flu, itu pun kalau sudah minum mixagrif langsung sembuh Nyonya. Mia juga tidak terkena virus corona," ucap Mia yang merasa takut ketika mendengar kata 'cek kesehatan'.


"Bukan begitu, maksudku agar dokter tahu apa alasan kamu belum hamil, padahal pernah menikah selama 5 tahun dan tidak menggunakan KB. Aku takut ada masalah dengan rahimmu," ucap Nyonya Nathalie.


Nyonya Nathalie akan sangat selektif, karena tujuannya menikahkan Danu adalah karena ia ingin segera menimang cucu. Nyonya Nathalie takut salah pilih calon menantu. Mia memang cantik dan cerdas, namun itu saja tidak cukup. Calon menantunya harus siap mengandung anak dari Danu yang akan menajdi pewaris perusahaan dan semua harta kekayaan Tuan Ferdinan.


"Oh begitu. Iya Boleh Nyonya," ucap Mia dengan sangat pasrah.


Banyak hal yang mereka bahas selama mengobrol. Obrolan itu terhenti saat Mia sudah menguap.


"Kau ngantuk? Ayo ikut aku! Kita tidur!" ucap Nyonya Nathalie menarik tangan Mia.


"Mia mau pulangnke kostan Nyonya," pinta Mia.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Nyonya Nathalie.


"Mia kan belum menikah, masa tidur di sini?" ucap Mia.


"Hey, kamu tidak akan tidur dengan Danu. Kamu tidur denganku. Ayo!" ajak Nyonya Nathalie.


"Loh, kok begitu? Terus Papi gimana?" ucap Tuan Ferdinan.


"Tidur sama Danu dulu. Biar makin akur kalian!" jawab Nyonya Nathalie dengan menahan tawanya.


"Apa?" tanya Danu saat Tuan Ferdinan menatapnya.


"Jangan terlalu percaya diri, mana mau Papi tidur sama kamu. Lebih baik Papi tidur di kamar tamu," ucap Tuan Ferdinan.


"Ih, ya bagus. Danu juga gak mau tidur sama Papi," ucap Danu yang pergi ke kamar meninggalkan Tuan Ferdinan.


Sial! Selama mereka semakin dekat dengan Mia, kenapa Tuan Ferdinan merasa dirinya selalu terdzolimi. Ia selalu saja diserang dan tersudutkan.


"Bibiiiii, siapkan kamar tamu senyaman mungkin." Tuan Ferdinan geram dengan sikap istri dan anaknya.


Malam ini menjadi malam yang berbeda dari biasanya. Tuan Ferdinan merasa ini adalah malam yang paling sial baginya. Sedangkan bagi Danu, malam ini menjadi malam yang sangat membuatnya cemas. Apa yang akan dilakukan Nyonya Nathalie pada Mia yang polos itu? Daaaan, menjadi malam yang menyenangkan bagi Nyonya Nathalie karena bisa lebih dekat dengan Mia, calon menantunya.


Semalaman, Danu dan Tuan Ferdinan tidur dengan tidak nyenyak karena perasaannya yang tidak bersahabat. Sedangkan Mia dan Nyonya Nathalie tidur nyenyak. Tidak ada obrolan apa-apa lagi antara Mia dan Nyonya Nathalie, karena ketika sudah sampai ke kamar, Mia langsung tidur dengan pulas.


Bangun tidur, Nyonya Nathalie kebingungan mencari Mia yang tidak ada di kamarnya. Dengan terburu-buru Nyonya Nathalie menuruni anak tangga untuk mencari keberadaan Mia. Ternyata Mia sedang membantu juru dapur yang sedang sibuk memasak.


"Mia," sapa Nyonya Nathalie.


"Nyonya, maafkan saya. Saya tidak meminta Nona Mia untuk membantu saya," ucap juru dapur itu dengan sangat ketakutan.


"Baik, Nyonya." Mia mengikuti semua perintah Nyonya Nathalie, karena mengingat kata Danu kalau tugasnya adalah mengikuti semua perintah maminya.


"Pakai baju ini!" ucap Nyonya Nathalie dengan memberikan sebuah dress sederhana namun terlihat sangat elegan.


Mia mengambilnya dan memakainya.


"Sangat cantik," ucap Nyonya Nathalie.


"Terima kasih, Nyonya. Pakaian ini yang membuat Mia terlihat cantik," ucap Mia yang merasa tersanjung dengan pujian Nyonya Nathalie.


Setelah selesai, Mia dan Nyonya Natahalie turun. Sudah ada Tuan Ferdinan dan Danu yang menunggu di ruang makan. Keduanya menatap Mia dengan bingung. Ini hari libur, tapi Mia dan Nyonya Nathalie sudah terlihat sangat cantik.


"Mau kemana?" tanya Tuan Ferdinan.


"Kepo," jawab Nyonya Nathalie.


Ish, kata-kata yang paling menyebalkan ketika masuk ke dalam lubang telinga Tuan Ferdinan. Kepo? Benarkah ia kepo? Tidak! Jangan sampai bertanya apapun lagi pada istrinya dan Mia agar tidak ada lagi sebutan kepo pada dirinya.


Selesai sarapan, Nyonya Nathalie meminta Danu untuk mengantar mereka ke dokter pribadinya. Tak bisa menolak, yang bisa Danu lakukan adalah mengangguk dan segera mengikuti perintah ibunya.


"Mau ikut?" tanya Nyonya Nathalie.


Tuan Ferdinan menggeleng. Tidak perlu! Tanpa ikut ke dokter pun, Tuan Ferdinan akan tetap tahu hasil dari pemeriksaan dokter. Buat apa ikut ke sana? Nanti malah disebut kepo lagi.


"Ya sudah," ucap Nyonya Nathalie yang pergi setelah cium tangan pada suaminya.

__ADS_1


Dengan cepat Tuan Ferdinan segera menghubungi dokter pribadinya, untuk segera melaporkan hasil pemeriksaan Mia. Tuan Besar itu tersenyum lebar dan bisa duduk santai untuk menerima kabar dari dokter pribadinya itu.


"Bagus, rahimnya bagus dan subur. Tidak ada masalah sama sekali dalam rahim Nona Mia," ucap dokter pribadinya.


"Bisa hamil?" tanya Nyonya Nathalie.


"Bisa, sangat bisa Nyonya. Jangan khawatir," ucap dokter itu.


Nyonya Natahlie tersenyum lebar dan memeluk Mia. Akhirnya ia akan segera memiliki cucu dari Mia. Selesai pemeriksaan, Nyonya Nathalie segera pulang. Karena permintaan Mia, Nyonya Nathalie mengantarkan dulu Mia ke kostannya. Tapi bagus juga, ini kesempatannya untuk tahu tempat tinggal Mia selama ini.


"Ini?" tanya Nyonya Nathalie saat melihat kostan Mia yang sangat sederhana. Malah terkesan kumuh menurutnya.


"Iya, ayo masuk dulu Nyonya!" ajak Mia.


"Tidak, tidak!" jawab Nyonya Nathalie.


Nyonya Nathalie mengajak Danu untuk segera pulang ke rumahnya. Dalam perjalanan Nyonya Nathalie marah pada Danu.


"Kenapa kau biarkan calon istrimu tinggal di tempat kumuh seperti itu?" tanya Nyonya Nathalie sambil menjewer telinga Danu.


"Aw, sakit Mi. Aku sudah menawarkan Mia untuk pindah kost, tapi Mia menolak." Danu mengusap-usap telinga kirinya yang terkena serangan dari ibunya.


"Paksa dong. Masa begitu saja tidak bisa?" ucap Nyonya Nathalie kesal.


"Ya sudah, besok aku paksa Mia untuk pindah kost Mi. Udah ya, Mami jangan marah-marah. Nanti darah tinggi loh," ucap Danu.


"Tidak usah," ucap Nyonya Nathalie.


"Hah?" ucap Danu sambil mengerutkan dahinya.


Danu bingung dengan sikap ibunya. Tadi dengan sangat marah meminta Danu untuk memaksa Mia untuk pindah kost. Baru saja beberapa detik, ibunya sudah berubah pikiran lagi. Danu sampai memijat kepalanya yang sakit karena ulah ibunya.


"Kenapa mukanya begitu?" tanya Nyonya Nathalie.


"Tidak, Mi." Danu cari aman karena tidak ingin berdebat dengan ibunya.


Setelah sampai, Nyonya Nathalie segera memanggil suaminya.


"Papiiii," teriak Nyonya Nathalie.


"Mi, jangan teriak-teriak. Papi belum tuli. Ini telinga masih normal. Berfungsi baik. Tenang aja! Seloww, ya?" ucap Tuan Ferdinan.


"mami tidak mau tahu, Danu dan Mia harus segera menikah. Mami sudah periksa, Mia normal. Rahimnya baik, bisa punya anak. Mami juga tidak tega melihat Mia tinggal di kostan kumuh begitu," ucap Nyonya Nathalie.


"Terserah Mami," ucap Tuan Ferdinan.


Akhirnya Tuan Ferdinan menyerah. Tak apa memiliki menantu janda, yang penting selama dalam pengamatannya, Mia baik dan tidak pernah mengecewakan. Meskipun sering membuatnya kesal karena kelakuan noraknya. Hal itu disambut dengan sorak bahagia. Suaminya kini luluh juga.


Sementara itu, Danu yang pusing memikirkan pernikahannya. Benarkah ia akan menikah? Mia, wanita itu akan menjadi istrinya. Mia memang wanita yang selalu membuatnya rindu dengan segala kepolosan dan ketulusannya. Namun, Danu juga tak sering merasa migrain dengan tingkah Mia. Ah tak apa! Mungkin ia harus stok obat anti migrain jika sudah menikah dengan Mia.


################


Tap Likenya jangan lupa ya kak...


Makasih buat yang udah ngasih vote dan poinnya... Bikin aku makin semangat nih..

__ADS_1


Happy reading kakak....


__ADS_2