
Dion menghela nafas panjang. Sepertinya ia butuh oksigen lebih banyak agar bisa lebih tenang. Saat ini, ia merasa kalau dirinya sedang tidak baik-baik saja. Cemburu pada orang yang tidak seharusnya ia cemburui. Terlebih Mia sendiri tidak peka atas perasaannya. Belum lagi orang tuanya yang seolah justru mendukung Mia untuk terekspose begitu saja.
Tuhaaaan, tidak adakah orang yang berpihak padaku? Tidak ada satu saja orang yang mengerti perasaanku? Kenapa aku merasa sendiri begini? Miaaa, kamu hanya milikku. Aku sayang sama kamu. Kamu gak akan tertarik sama pria lain kan? Hanya aku kan yang ada dalam hati kamu?
Dion sudah sangat pusing dengan rasa cemburu yang membakar dirinya sendiri. Cemburu yang sebenarnya ia ciptakan sendiri. Da akhirnya ia harus menyelesaikannya sendiri.
"Mia," panggil Dion saat sambungan teleponnya sudah terhubung dengan Mia.
"Iya A, ada apa?" tanya Mia.
"Ada apa?" tanya Dion.
"Hah? Gimana A?" tanya Mia.
Beberapa kali mereka hanya saling bertanya satu sama lain. Dion kesal bukan main saat merasa Mia tidak peka sama sekali dengan kecemburuannya.
"Ya sudah aku mau kerja dulu," ucap Dion.
Dion menutup panggilannya sebelum Mia merespon kalimat terakhirnya.
"Miaaaaa, kamu kenapa sih? Kamu gak tahu aku lagi cemburu? Kalau tahu begini jadinya, mending kamu jangan bantuin perusahaan. Biarin aku di Surabaya, asal aku gak cemburu begini. Argh!" ucap Dion geram.
Sementara Dion sedang menggerutu karena sikap polos Mia, Mia justru sedang kebingungan mengartikan kemarahan Dion yang tidak jelas.
"Mungkin A Dion capek kali ya? Makanya marah-marah terus. Sabar ya A. Kalau Aa pulang, nanti Mia pijitin deh. Mia janji," gumam Mia.
Hari ini Mia tidak ada agenda apapun. Mia hanya menghabiskan waktunya untuk rebahan saja. Saat orang lain berharap jadi Mia, wanita yang mendadak kaya. Hidup enak dengan segala kemewahan yang tersedia untuknya, Mia justru memilih menjadi wanita produktif yang bisa berguna.
Namun apa daya, Mia hanya bisa bersyukur atas apa yang ia terima saat ini. Suami dan keluarga barunya sudah lebih dari cukup. Apalagi baru-baru ini, Mia dapat bonus karena masih bisa ke kantor. Ya walaupun tidak setiap hari, tapi Mia akan melakukan semuanya sepenuh hati. Akhirnya ia akan terlibat dengan perusahaan Tuan Wira. Cita-citanya yang sempat terkubur, kini kembali bangkit sedikit demi sedikit. Perlahan, Mia merasa kalau semua harapannya mulai ada hilal.
"Mia," panggil Tuan Wira sembari mengetuk pintu kamar Mia.
"Iya Pa," jawab Mia.
Tanpa memberi tahu siapa orang dibalik pintu kamarnya, Mia sudah tahu kalau itu adalah suara Tuan Wira.
"Boleh Papa masuk?" tanya Tuan Wira.
Mia segera turun dari ranjangnya dan membuka pintu kamarnya. Kebetulan hari ini pelayan sudah tidak menemani Mia di kamar. Mia hanya akan memanggilnya saat ia membutuhkan pelayan itu.
"Masuk Pa," ucap Mia mempersilahkan.
Mia membuka pintu kamarnya dengan lebar. Ia tidak ingin ada kesalahfahaman, karena Tuan Wira sendiri tidak ditemani Nyonya Helen. Tuan Wira memang sudah menganggapnya anak sendiri, tapi Mia masih harus menjaga kalau pandangan orang tidak selamanya baik terhadap dirinya.
Tuan Wira masuk dan duduk di atas sofa.
"Mama mana, Pa?" tanya Mia.
"Mama lagi mandi. Nanti juga nyusul. Mama tahu kok kalau Papa ke sini duluan," ucap Tuan Wira.
"Iya," jawab Mia sembari mengangguk.
Akhirnya Mia merasa tenang. Kekhawatirannya sudah hilang saat mendengar jawaban Tuan Tuan Wira.
"Ada yang ingin Papa sampaikan, Mi. Besok rekan Papa ingin bertemu sama kamu, katanya mau membahas proyek baru itu. Papa sudah mencoba membujuk dia agar tidak melibatkan kamu, tapi ternyata mereka tertarik dengan cara berpikir kamu. Bagaimana pendapat kamu?" tanya Tuan Wira.
Mia Diam. Sejujurnya ia sedang terbang ke awan saat mendengar ucapan dari Tuan Wira. Ia yang dulu berjuang habis-habisan untuk mewujudkan cita-citanya namun masih gagal. Kini Tuhan seolah sedang mewujudkan semua itu tanpa disangka. Mia yang sudah mulai melupakan semua itu, tiba-tiba saja jalan itu terbuka selebar mungkin.
Eh tidak! Mia tidak bisa senang seenaknya. Ada Dion. Bagaimanapun, Mia harus izin pada suaminya. Apalagi saat ini Dion tidak ada di Jakarta. Mia harus benar-benar membuat Dion nyaman saat ia sedang tidak di rumah.
"Mia sih tergantung dari Aa. Mia juga belum tahu gimana respon Aa," jawab Mia.
"Kamu belum bilang?" tanya Tuan Wira.
"Sudah. Tapi kemarin Aa tidak terlalu fokus Pa. Biar nanti Mia bahas ini lagi," jawab Mia.
"Kamu tenang saja Mia. Urusan Dion sih gampang. Serahkan semuanya sama Mama. Yang penting kamu sendiri gimana? Siap kan?" tanya Nyonya Helen.
Jawaban Nyonya Helen yang baru saja masuk membuat Mia terkejut dan menatap sumber suara. Benar, Dion bisa diurus oleh Nyonya Helen. Tapi masalahnya, ia sedang hamil. Bisakah ia terlibat dalam proyek itu? Tiba-tiba Mia merasa tidak yakin pada dirinya sendiri.
"Mia," panggil Nyonya Helen.
"Eh iya Ma," jawab Mia.
Mia tersadar dari lamunannya. Ia mulai kembali dalam kenyataan hidupnya. Ketika ia dihadapkan dengan semua harapannya di depan mata, namun ia harus memikirkan bayi kembar dalam perutnya.
__ADS_1
"Kamu keberatan?" tanya Nyonya Helen.
"Apa ini gak akan berpengaruh sama bayi yang ada di perut Mia?" tanya Mia.
Mia merasa ia memang butuh saran dari Nyonya Helen dan Tuan Wira. Ia merasa kalau mereka pasti tahu jawaban yang paling tepat.
"Mia dengarkan Mama. Hamil itu tidak menjadi alasan untuk menggagalkan semua impianmu. Mama tahu ini semua cita-cita kamu dulu kan? Justru wanita hamil itu harus produktif. Banyak melakukan kegiatan positif, biar nular nanti ke anaknya. Benar kan Pa?" ucap Nyonya Helen.
"Iya Mia. Lagi pula, untuk masalah waktu nanti Papa bisa atur. Kalau perlu sesekali akan Papa undang mereka ke sini biar kamu tidak perlu ke luar rumah. Gimana?" tanya Tuan Wira.
Ma, Pa, kalian tahu tidak kalau ucapan kalian itu sangat membuat Mia semangat. Justru Mia. takut kalau kalian itu terlalu mengekang Mia karena kehamilan Mia ini. Mia bersyukur sekali dengan cara berpikir kalian.
"Mia nunggu keputusan Aa ya Ma, Pa." ucap Mia.
Setelah mendengar keputusan Mia, jalan satu-satunya adalah meyakinkan Dion kalau Mia akan baik-baik saja dengan pekerjaan barunya. Nyonya Helen dan Tuan Wira keluar dari kamar Mia. Membiarkan Mia untuk istirahat kembali, sembari menunggu keputusan dari Dion.
Tanpa membuang waktu, Nyonya Helen segera menghubungi Dion.
"Mama?" ucap Dion saat mendapat panggilan dari Nyonya Helen.
Perasaannya sudah buruk, Dion yakin kalau pembahasannya pasti seputar proyek baru yang sangat membutuhkan Mia. Dengan alasan tertarik akan semua ide Mia. Padahal Dion merasa kalau ia juga mampu memberi ide-ide cemerlang seperti Mia.
Ah gak usah dijawab kali ya? Tapi kalau diabaikan, aku yakin Mama pasti nelepon aku sampai baterai ponsel aku lowbat nih. Gimana ya? Tapi aku males debat sama Mama tentang Mia. Aduh, aku harus gimana ini?
Dion berpikir terlalu lama hingga akhirnya panggilan dari ibunya berakhir. Namun seperti yang Dion duga, panggilan dari Nyonya Helen kembali masuk untuk kedua kalinya.
Tuh kan! Apa aku bilang. Ini kalau sampai gak dijawab lagi, pasti ada panggilan ketiga, keempat, kelima dan seterusnya. Yakin sih aku.
Dengan beberapa pertimbangan, akhirnya Dion menjawab panggilan dari Nyonya Helen. Belum juga Dion menyapa, Nyonya Helen lebih dulu mencercanya dengan berbagai pertanyaan.
"Kenapa lama sekali ngangkat teleponnya? Kamu lagi ngapain sih? Apa menurut kamu Mama itu sudah tidak penting sampai kamu mengabaikan panggilan Mama? Sudah merasa sukses kamu? Tidak butub Mama lagi? Kamu terganggu dengan panggilan Mama?" tanya Nyonya Helen.
Hening. Dion memilih diam dan mendengarkan Nyonya Helen puas mencercanya.
"Dion, kamu masih hidup?" tanya Nyonya Helen saat menyadari tak ada respon dari Dion.
"Astaga Ma. Ya masih lah," jawab Dion.
"Terus kenapa kamu gak jawab pertanyaan Mama? Kamu gak mau diganggu sama Mama ya?" tanya Nyonya Helen.
"Ma, Ma, udah cukup Ma. Aku bahkan bingung harus jawab dari mana dulu. Pertanyaan Mama banyak dan aku gak hafal semuanya," jawab Dion.
Padahal sebenarnya Nyonya Helen juga lupa apa saja pertanyaan yang sudah ia lontarkan untuk Dion.
"Mama ada apa nelepon? Kangen ya?" goda Dion.
Dion berusaha untuk mengalihkan omelan Nyonya Helen. Ia masih berharap kalau Nyonya Helen bisa tersenyum dan berbicara dengan tema selain Mia.
Namun sepertinya semua harapan Dion hanya harapan belaka. Karena pada kenyataannya, Nyonya Helen memang ingin membahas tentang Mia. Dengan malas Dion mendengarkan segala bujuk rayu dari Nyonya Helen.
"Mama kenapa sih memaksa Mia untuk kerja? Apa tenaga dan pengorbanan aku masih kurang untuk Mia?" tanya Dion.
"Apa maksud kamu?" tanya Nyonya Helen.
"Ma, cukup aku yang kerja. Cukup aku yang membuat perusahaan Papa lebih maju dan berkembang. Biarkan Mia menikmati hasil kerjaku. Mia tidak perlu cape bekerja. Mia sedang hamil, harus banyak istirahat. Apa Mama lupa itu?" tanya Dion.
DEG
Jantung Nyonya Helen seakan berhenti berdetak saat mendengar jawaban dari Dion.
"Sebegitu rendahnya kamu menilai Mama? Apa kamu berpikir kalau Mama memanfaatkan Mia? Begitu?" tanya Nyonya Helen dengan suara bergetar.
Kini giliran Dion yang merasa tersambar petir. Pertanyaan Nyonya Helen berhasil menampar keras dirinya.
"Maafkan aku, Ma. Bukan itu maksudku. Aku hanya tidak mau melibatkan Mia terlalu jauh. Mia cukup membantu kita sampai berhasil. Selanjutnya, serahkan sama aku. Biarkan aku yang menyelesaikan perjuangan Mia. Aku gak tega lihat Mia sibuk bekerja," ucap Dion.
"Gak tega? Kamu pikir Mama tega membiarkan Mia bekerja? Dion, kamu harus tahu apa tugas Mia saat ini. Mereka hanya butuh kehadiran Mia, untuk menyumbang ide cemerlang yang akan keluar dari kepala Mia. Masa kamu tidak bangga sih melihat Mia berkembang? Mama tidak percaya kalau kamu lebih senang melihat Mia tiduran di kamar setiap harinya," ucap Nyonya Helen.
"Ma, menyumbang ide itu sama artinya Mia harus pergi ke kantor dan menguras pikirannya. Mia pasti terbebani, Ma. Mama gak lupa itu kan?" tanya Dion.
"Kamu sepertinya belum mengenal Mia dengan baik Dion," jawab Nyonya Helen.
"Apa maksud Mama?" tanya Dion.
"Apa kamu gak tahu kalau ini semua adalah cita-cita Mia? Apa kamu tidak mau melihat Mia bahagia saat cita-citanya terwujud?" tanya Nyonya Helen.
__ADS_1
"Aku hanya ingin Mia menjadi istri dan ibu yang baik buat anak aku Ma," jawab Dion.
"Kamu jahat. Kamu gak sayang sama Mia. Kamu gak lihat kan bagaimana Mia bahagia saat semua orang memuji kemampuannya? Mia terlihat sangat bahagia. Akhirnya ada juga yang mengagumi Mia karena kemampuannya. Itu yang Mia katakan sama Mama. Mia gak bilang itu sama kamu kan?" tanya Nyonya Helen.
Dion diam. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan Nyonya Helen. Memang Mia tidak banyak bercerita tentang keinginannya dalam perihal karir. Mungkin Mia menghargai Dion yang tidak menginginkan hal yang sama.
"Kamu tahu apa alasannya? Karena Mia tahu kamu tidak mengizinkannya. Begitu hebat Mia menjaga perasaan suaminya, meskipun harus rela mengorbankan cita-citanya yang di depan mata," lanjut Nyonya Helen.
"Ma, udah lah. Aku mau kerja dulu. Nanti aku telepon lagi ya!" ucap Dion yang tidak mau kalau perdebatannya semakin panjang dan alot.
"Sebentar Dion. Satu hal lagi yang harus kamu tahu. Kamu gak tahu bagaimana otak Mia bekerja. Ide itu bisa muncul begitu saja dari otak Mia yang sangat cerdas. Kamu mungkin tidak menyadari atau bahkan tidak mau mengakui semua kenyataannya. Mia berhasil membuat semuanya terpukau saat meeting itu, padahal Mia hanya mempelajari berkas itu dalam waktu yang sangat singkat. Mama bangga sama Mia. Mungkin sudah sepantasnya Mia bahagia saat kemampuannya diakui dan dipuji oleh banyak orang. Tapi sayang, justru suaminya sendiri yang membuat sinar terang itu harus redup kembali. Ya sudah kamu lanjutkan kerjanya. Mama pusing mau istirahat," ucap Nyonya Helen.
Tanpa menunggu respon Dion, Nyonya Helen memutuskan sambungan teleponnya.
"Ma, udah dong. Jangan paksa Dion. Anak kita itu pasti punya alasan tersendiri saat bilang tidak. Jangan sampai kita membuat rumah tangga anak kita berantakan cuma karena ego kita," ucap Tuan Wira.
"Amit-amit. Papa kalau ngomong gak pakai bismillah deh," ucap Nyonya Helen kesal.
"Ya maksud Papa, Mama itu jangan terlalu memaksa Dion. Biarkan saja Mia dan Dion yang mengambil keputusannya bersama," ucap Tuan Wira.
"Pa, Mama gak maksa. Mama hanya ingin Dion sadar. Ini adalah kesempatan emas yang mungkin tidak akan datang kedua kalinya. Sudah waktunya Mia membuktikan pada dunia kalau Mia itu memang wanita hebat. Wanita cerdas. Mia akan membungkam mulut-mulut yang sudah meremehkan Mia. Mia akan membuat harga dirinya lebih baik. Tidak akan ada yang berani menginjak-nginjak Mia lagi. Ah udah lah. Percuma Mama ngomong panjang lebar. Papa dan Dion sama aja. Bikin Mama pusing," ucap Nyonya Helen.
Wanita yang tengah marah-mara itu merasa lelah dan mulai membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Membiarkan Tuan Wira mencerna kata-katanya dan berharap suaminya itu faham maksudnya.
Sementara di tempat lain, Dion juga sama seperti ayahnya. Ia sedang merenungi beberapa kalimat terakhir yang membuat Dion tersentuh.
Sinar yang redup. Dan aku yang meredupkan sinar itu? Mia, apa mungkin aku harus membiarkanmu kembali terjun ke dalam dunia ini?
Dion menunduk dan membenamkan wajahnya pada kedua telapak tangannya. Ia benar-benar merasa bingung. Tapi ia berpikir bagaimana perjuangan Mia untuk menyelesaikan pendidikannya. Bagaimana cerdasnya Mia. Bagaimana Mia selama ini Mia sangat mengikuti kemauan Dion. Ia pun menghubungi Dion untuk memastikan apa yang Mia inginkan.
"Mi," sapa Dion lembut saat panggilan itu sudah tersambung.
"Iya A. Aa udah makan?" tanya Mia.
Tidak ingin bertanya dengan kalimat ada apa yang akan membuat suasana menjadi panas, Mia mencoba mencari pertanyaan lain yang mungkin disukai Dion.
"Udah. Kamu udah makan?" tanya Dion.
Udah A," jawab Mia.
Basa basi ke sana ke sini sudah Dion lakukan, sampai akhirnya Dion harus memulai obrolan serius ini.
"Mi, kamu gak di undang sama mereka untuk gabung dalam proyek baru itu?" tanya Dion.
Mia diam. Sepertinya ia bingung dengan jawabannya.
"Buat Mia yang penting Aa sehat, Aa kerja fokus. Mia gak mikirin proyek baru itu," jawab Mia.
Bohong! Mia sebenarnya sedang berusaha untuk menyembunyikan semua harapan besarnya. Mia tidak ingin Dion merasa terganggu dengan semua keinginan mereka.
"Kalau mereka ngajak kamu, kamu mau gak?" tanya Dion.
DEG
Mia menegang. Mia yakin kalau Nyonya Helen pasti sudah membujuk Dion.
"Aa gak usah dengar apapun komentar orang lain. Yakini saja keputusan Aa. Karena Mia yakin Aa punya alasan kuat saat mengambil sebuah keputusan," jawab Mia.
"Ya sudah, kamu istirahat ya!" ucap Dion mengakhiri sambungan teleponnya.
Dion kembali diam. Mengingat jawaban Mia, Dion dapat memastikan kalau Mia ingin kembali ke dunia ini. Namun benar kata Nyonya Helen, ia amat sangat menghargai Dion sebagai kepala keluarga. Bahkan tanpa bujukan sekalipun, Mia berusaha menutupi semua harapan itu.
Aku hanya tidak ingin kamu dikenal banyak orang. Kamu itu cantik dan pintar. Bukan tidak mungkin kalau banyak sekali pria yang ingin mendekatimu. Aku hanya takut kamu berpaling. Tapi kamu memang wanita baik Mia. Tidak mungkin juga kan kamu tergoda sama yang lain? Karena aku ini sempurna kan di mata kamu? Aku mapan, tampan, dan beriman. Jadi gak ada alasan kamu untuk mencari pria lain. Rasanya aku gak punya alasan membuat sinar kamu meredup Mia. Ayo kita berkarir sama-sama Mia.
Tidak lama, Dion senyum sendiri saat mengingat kata-katanya. 'Tampan, mapan, beriman.'
Kok aku bisa sepercaya diri itu ya? Eh tapi itu kenyataan kok. Hehe
################
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
__ADS_1
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
Terima kasih..