
"Tu-Tuan maafkan aku," ucap Sindi gugup.
Kepalanya menunduk. Tidak ada keberanian untuk menatap mata elang milik Dion. Bibirnya komat-kamit, berdoa agar Dion tidak marah atas apa yang sudah dilakukannya. Tangannya memintal ujung bajunya.
Mia yang menyadari ketakutan Sindi segera memeluk sahabatnya itu.
"Sin, kamu jangan takut. A Dion gak marah kok. Iya kan A?" tanya Mia.
Nada bicara penuh penekanan ia ucapkan pada Dion. Seolah tersirat suatu permintaan untuk mengiyakan apa yang ia ucapkan.
"Apa alasanku marah padamu Sindi? Lebih baik kamu lanjtkan istirahatmu di kamarmu," ucap Dion.
Perlahan Sindi mengangkat wajahnya. Memastikan kalau apa yang ia dengar itu memang benar adanya. Dion tidak marah atas sikapnya yang terlalu berani tidur di kamarnya.
Setelah Mia memintanya untuk pergi ke kamarnya, dengan penuh hormat Sindi segera pergi. Dalam kamarnya ia memegang dadanya.
Ya Tuhaaaan, deg-degan banget. Rasanya mau copot aja jantung ini.
Namun rasa tegangnya selesai sudah saat ia mendapati sebuah panggilan dari Rian. Dengan antusias Sindi menjawab panggilan itu. Banyak hal yang mereka bahas. Dari mulai rasa rindu mereka hingga rencana yang akan mereka lakukan saat bertemu nanti.
Sindi harus kembali bersedih saat Rian menyudahi panggilannya. Namun sesaat dahinya berkerut setelah menerima sebuah pesan dari Rian. Baru saja Rian mengakhiri panggilannya, tiba-tiba Rian sudah mengiriminya sebuah pesan.
'Aku punya kenangan buat kak Sindi. Buka laci lemari Kakak dan ambil kertas itu. Semoga suka.'
Selesai membaca pesan itu Sindi segera menyimpan ponselnya dan mencari kertas apa yang Rian maksud. Sindi membuka mata dan mulutnya selebar mungkin. Ia terkejut dengan kertas yang ada dalam laci lemarinya.
"Riaaaaan," gumam Sindi.
Kertas itu masih di tangannya. Asa senyum yang ia tahan. Ada bahagia yang ia coba untuk sembunyikan meskipun pada dirinya sendiri.
Sebuah lukisan sederhana namun tampak luar biasa. Danu. Bagaimana mungkin Rian bisa menggambar Danu sedetil itu. Benar kata Mba jika Danu memiliki kemampuan menggambar yang luar biasa.
"Danu," gumam Sindi.
Tidak terasa bibir Sindi mengembang sempurna saat mengingat nama itu. Rian berhasil memberikan kenangan istimewa sebelum ia pergi meninggalkannya.
'Suka?'
Sebuah pesan kembali masuk ke ponsel Sindi. Seolah Rian tahu kalau saat ini Sindi tengah bahagia dengan apa yang sudah diberikannya.
Bukan Sindi namanya jika bisa mengiyakan. Ia segera menghubungi Rian dan menyangkal tuduhannya. Teleponnya terhenti saat ketukan pintu terdengar sangat nyaring.
"Mi, sebentar!" ucap Sindi.
"Kamu gak kenapa-kenapa kan?" tanya Mia.
"Aku? Kenapa-kenapa?" tanya Sindi.
Rasa bahagia yang berlebih tentang Danu membuat Sindi seketika melupakan kejadian dengan Dion.
"Iya, aku pikir kamu takut sama A Dion. Tadi A Dion udah cerita kok kalau dia gak marah. Asal aku bahagia, kamu gak apa-apa tidur di kamarku." Mia menuturkan apa yang disampaikan oleh Dion.
"Oh, soal itu. Aku sebenarnya bukan takut Mi. Tapi lebih ke gak enak aja. Kesannya aku kurang ajar gitu," ucap Sindi.
"Sin, kamu jangan ngomong begitu ah. Kita ini kan sahabat," ucap Mia.
"Iya Mi. Tapi aku sampai gak tahu diri kalau sampai ketiduran di kamar kamu. Kamu kan udah punya suami. Kalau kamu mau, kapan-kapan kamu tidur di sini aja ya!" ucap Sindi.
Mia memandang Sindi tidak enak. Tapi memang Sindi benar, kalaupun ia ada di posisi Sindi maka hal yang sama akan ia rasakan.
__ADS_1
"Oh, ya apa itu?" tanya Mia.
Telunjuk Mia menunjuk kertas yang tengah dipegang oleh Sindi. Sindi yang terkejut langsung menyembunyikan kertas itu ke belakang tubuhnya.
"Ah, bukan apa-apa Mi. Ini cuma catatan bulanan aja. Biasa kalau ke warung suka lupa," ucap Sindi.
"Warung?" tanya Mia.
"Eh, supermarket maksudku." Sindi masih berusaha meyakinkan Mia.
"Oh," jawab Mia.
Meskipun Mia menyimpan rasa curiga untuk Sindi, namun Mia memberikan privasi untuk sahabatnya itu. Bagi Mia, Sindi berhak untuk menyembunyikan apapun darinya. Walaupun sebenarnya ia tidak menginginkannya.
Selepas Mia pergi, Sindi memegang dadanya. Ia terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Hampir saja semua rahasianya terbongkar.
"Maaf Mi, tapi aku rasa ini bukan sesuatu yang harus kamu ketahui." Gumam Sindi.
Tak lama, sebuah pesan ia terima dari Danu. Isinya membuat Sindi menganga. Ia tidak percaya jika Danu memintanya untuk bertemu. Setelah beberapa hari Sindi tidak menjawab panggilannya dan membalas pesannya, akhirnya Danu tidak menyerah.
'Maaf aku tidak bisa.'
Sebuah pesan Sindi kirimkan untuk Danu. Berharap kalau ia akan berhenti membuatnya berharap terlalu jauh. Karena sejauh ini, Danu tidak pernah sekalipun menyinggung tentang pernikahan.
'Kamu tunggu saja di sana. Nanti aku jemput.'
"Hah?" ucap Sindi terkejut.
Danu memang tidak tahu tempat tinggalnya, tapi Sindi harus tahu siapa Danu. Bukal hal yang sulit bagi Danu jika memang benar-benar ingin mencarinya.
Akhirnya Sindi mengalah. Jam 10 siang di cafe X sudah disepakati oleh keduanya. Meskipun Sindi tidak tahu bagaimana caranya meminta izin pada Mia, namun ia lebih takut kalau seandainya Danu datang ke rumah itu.
Sindi masih bersikap normal. Menunggu semuanya pergi dari ruang makan. Basa basi sudah Sindi lancarkan saat di sana hanya tersisa Mia dan dirinya.
"Aku boleh keluar sebentar gak Mi?" tanya Sindi.
Akhirnya ia memberanikan diri untuk membahas apa yang menjadi ketakutannya.
"Mau kemana?" tanya Mia.
"Mau beli kebutuhan pribadi aja," jawab Sindi.
"Padahal kalau kamu mau, kamu tinggal tulis semua kebutuhan kamu. Nanti ada orang yang menyiapkan semuanya," ucap Mia.
"Ah gak apa-apa biar aku aja. Lagian cuma sebentar kok," bujuk Sindi.
"Ya sudah diantar sopir ya!" ucap Mia.
"Janganlah! Aku gak biasa diantar-antar begitu. Nanti orang nyangkanya sopir itu pacar aku Mi," ucap Sindi.
Mia tertawa mendengar alasan yang menurutnya tidak masuk akal itu. Namun setelah Sindi melakukan banyak usaha untuk membujuknya, Mia mengiyakan. Membiarkan Sindi sedikit bebas mungkin akan membuatnya senang.
Sindi bersorak dalam hati karena akhirnya Mia bisa mengizinkannya. Keberuntungan tengah berpihak padanya karena ia hanya perlu izin pada Mia. Pasalnya, Nyonya Helen tidak sedang di rumah hari ini.
"Tapi jangan bilang sama Tuan Dion ya," pinta Sindi.
"Kenapa?" tanya Mia.
"Aku takut Tuan Dion akan marah," jawab Sindi.
__ADS_1
"Suamiku orang baik. Kamu gak perlu khawatir Sin," ucap Mia.
"Mi, please. Jangan ya! Aku janji akan pulang sebelum Tuan Dion pulang. Gak lama kok Mi," ucap Sindi memohon.
Akhirnya Mia mengiyakan setelah Sindi membujuknya habis-habisan dengan alasan yang macam-macam. Setelah mendapat izin, Sindi kembali ke kamarnya. Ia bersiap dan menggunakan pakaian terbaiknya. Sedikit memoles wajahnya agar Danu tidak mengejeknya lagi.
"Mi, aku berangkat ya!" ucap Sindi.
Mia mengernyitkan dahinya. Ia melihat jam, masih jam sembilan kurang sepuluh menit. Pakaian dan dandanan Sindi yang tidak biasa membuat Mia bertanya-tanya.
"Berangkat sekarang?" tanya Mia.
"Iya. Takut macet," jawab Sindi.
"Ya ampun, santai aja Sin. Kamu kan bukan mau meeting. Telat kan wajar," ucap Mia.
"Kan biar pulangnya lebih cepat," ucap Sindi.
Akhirnya Sindi berangkat. Meninggalkan rumah itu dan menuju cafe X. Tempat yang sudah disepakati keduanya. Setibanya di sana, cafe masih sepi. Entah karena ia kepagian atau hanya karena ini masih jam kerja.
Mata Sindi mengedar. Ia tidak menemukan sosok Danu. Tidak ada. Ia melihat jam tangannya. Memang belum jam sepuluh. Sindi menunggu di sana. Perasaannya tidak menentu. Antara takut, malu, dan salah tingkah.
Sindi asyik memainkan ponselnya sembari sesekali menyedot es jeruk yang ada di hadapannya. Namun setelah sepuluh menit, degup jantungnya sudah tidak bisa ia kuasai. Suara bariton Danu membuat Sindi menegang.
"Sudah lama?" tanya Danu.
"Be-belum," jawab Sindi gugup.
"Gak usah tegang begitu. Bukannya kamu tidak tertarik dengan pria sepertiku? Aku bukan tipe kamu kan?" ucap Danu.
Sindi tidak menjawab. Ia tengah membuat dirinya tetap berada dalam kewarasannya. Bicara sedekat ini dan hanya berdua dengan Danu, membuat Sindi tidak karuan.
"Kamu mau makan apa?" tanya Danu.
Danu hanya bisa menahan tawanya saat melihat wajah pucat Sindi dan sikapnya yang nampak salah tingkah.
"Apa aja," jawab Sindi.
"Aku mau menu ini, kamu?" tanya Danu setelah menunjuk salah satu menu.
"Ikut aja," jawab Sindi.
"Jangan ikut-ikut! Aku bukan imammu. Kecuali kalau kamu," ucap Danu menggantungkan ucapannya.
Sindi menelan salivanya dengan sulit dan memalingkan wajahnya. Ia bahkan tidak percaya dengan apa yang sudah Danu ucapkan.
Jangan terlalu percaya diri kamu Sin. Ini cuma pendengaran kamu saja yang salah. Tenanglah Sin. Kamu jangan sampai terbuai.
Sindi berusaha meyakinkan dirinya jika semua itu hanya gombalan Danu saja.
######################
Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
__ADS_1
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.