
"Dion, dari mana kamu?" tanya Tuan Wira.
"Dari luar sebentar, Pa." Dengan wajah kesal Dion berusaha menangkan hatinya sendiri.
"Apa benar berita itu?" tanya Tuan Wira.
Saat kejadian dengan Nyonya Nathalie, Tuan Wira sedang ke kamar mandi. Hingga ia tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Tuan Wira baru tahu masalah Dion dan Nyonya Nathalie, saat Tuan Ferdinan meminta maaf atas sikap istrinya pada Dion.
"Sudahlah Pa. Aku sedang tidak mood membahas itu. Bukan aku yang salah. Dia yang memulai. Jadi jangan salahkan aku," jswab Dion.
"Tapi kamu harus tahu tempat juga Di. Apa lagi Nyonya Nathalie itu orang tua. Kamu juga punya Mama di rumah," ucap Tuan Wira.
Dion menatap Tuan Wira. Kata-katanya sama persis dengan apa yang sudah Mia ingatkan padanya, sebelum berangkat pesta.
"Tapi apa aku salah membela istriku sendiri? Lantas apa gunanya aku menikah jika aku masih membiarkan istriku dihina oleh orang lain? Bukankah tugasku sebagai suami melindungi istriku? Termasuk harga dirinya," jawab Dion dengan sangat kesal.
Tuan Wira menatap Dion. Ia tak menyangka kalau jawaban anaknya berhasil membuat hatiya bergetar. Benar! Hal yang sama juga akan dilakukan oleh setiap suami, mungkin Tuan Wira juga.
Tuan Wira menepuk bahu Dion.
"Kalau kamu mau pulang, pulang duluan saja. Papa bisa dijemput sama sopir," ucap Tuan Wira.
"Aku pulang sama Papa saja nanti," ucap Dion.
Setelah kejadian itu, Tuan Wira tidak meninggalkan Dion. Ia tetap mendampingi Dion selama pesta itu berlangsung hingga selesai.
"Pa," panggil Dion saat dalam perjalanan.
"Iya," jawab Tuan Wira.
"Aku minta maaf ya!" ucap Dion.
"Maaf?" tanya Tuan Wira.
"Aku udah bikin malu papa karena ulahku," jawab Dion lemah.
Saat ini Dion tengah kacau, rasa marah dan bersalah tengah beradu dalam dirinya.
"Jangan dipikirkan. Kamu melakukan hal yang seharusnya kamu lakukan. Selalu lindungi istrimu. Setelah menikah, istrimu adalah tanggung jawabmu." Tuan Wira tersenyum dan menepuk bahu Dion.
"Pah, terima kasih." Rasa haru menyelinap diantara marah dan bersalah itu. Membuat kedua rasa itu perlahan menyingkir, meski belum pergi sepenuhnya.
"Mas?" panggil Mia saat melihat Dion pulang dari pesta itu.
"Mi," ucap Dion sambil memeluk dan mencium Mia.
"Aku mau istirahat," ucap Dion.
Mia mengangguk dan mengikuti Dion yang menggandengnya untuk masuk ke dalam kamar. Dion membuka bajunya dan menyisakan kaos oblongnya. Duduk dengan sangat santai dengan kepala menengadah di atas sofa kamarnya. Dion berusaha menyingkirkan perasaan itu. Membuang semua bayangan buruk yang terjadi di pesta itu.
"Mas, kamu kenapa?" tanya Mia.
Sebagai wanita yang sudah hidup hampir tiga bulan bersama Dion, Mia masih bisa melihat perubahan sikap Dion meskipun Dion sudah berusaha menutupi semuanya. Dion menurunkan kepalanya dan mengusap wajahnya.
"Aku cape sayang," jawab Dion pelan.
"Kalau tidak mau cerita juga tidak apa-apa. Mia tahu kok kalau Mas punya alasan tersendiri untuk tidak bercerita sama Mia," ucap Mia.
Dion menatap wajah Mia. Apa maksudnya? Mungkin begitu pertanyaan yang ada di kepala pria itu. Ya, tentu Mia menyadari kalau Dion menutupi sesuatu padanya. Tidak pernah Mia melihat Dion selelah ini. Padahal Dion hanya pulang dari sebuah pesta. Apa yang menyebabkan Dion kelelahan? Sementara saat bekerja saja, Dion bisa bekerja hampir seharian. Bahkan Mia pernah melihat Dion bekerja sampai larut malam. Tidak pernah Mia lihat Dion selelah ini.
Melihat Dion menatapnya penuh kecurigaan, membuat Mia segera mengalihkan pembicaraannya.
"Mas beneran cape emang?" tanya Mia
"Aku mencintaimu dan akan selalu menjagamu Mia. Aku tidak akan membiarkan ada orang yang menyakiti dan merendahkanmu. Karena kamu adalah tanggung jawab aku," jawab Dion.
"Ah, mas waktu sekolah pasti pernah gak naik kelas. Ya kan?" tanya Mia.
Hah? Mia, jangan sampai kamu membuatku naim darah dengan pertanyaanmu itu. Aa hubungannya Mia? Aku sedang bicara serius denganmu. Tapi kamu malah bahas naik kelas. Sabar Dion, apapun yang terjadi dia itu istrimu.
"Enak saja, aku selalu juara kelas. Atas dasar apa kamu menuduhku seerti itu?" tanya Dion.
"Mas sih gak jelas. Ditanya apa jawabannya apa? Ibarat guru ngasih soal Matematika, mas jawab materi PKn. Pertanyaan kemana, jawab kemana. Gak nyambung mas," jawab Mia sambil cemberut.
"Hahaahah, Miaaa, Miaaa," ucap Dion sambil tertawa keras dan memeluk istrinta yang menggemaskan itu. "Kamu harus banyak belajar, biar ngerti pelajaran kelas berat." Dion melanjutkan ucapannya tanpa melepaskan pelukan itu.
"Ah, mas. Jangan ngejekin Mia dong," ucap Mia kesal.
Terima kasih sudah kembali menjadi mas Dion yang Mia kenal. Mia sayang sama Mas. Bahagia selalu mas.
Rupanya Dion salah jika menyangka Mia tidak mengerti dengan jawabannya. Karena Mia, hanya mencoba mengalihkan pikiran Dion. Dengan jawaban yang Dion berikan, Mia sangat tahu kalau Dion sudah berseteru dengan Nyonya Nathalie.
__ADS_1
Dari kata menyakiti dan merendahkan, Mia sudah tahu jelas apa penyebab perubahan sikap Dion. Mia hanya tidak ingin membuat Dion berlarut-larut dengan sikapnya itu. Berbeda dengan Dion yang belum terbiasa, Mia justru sudah mulai bisa lebih santai mengahadapi Nyonya Nathalie.
Mas, lain kali Mia ajarkan trik yang bisa membuat Nyonya Nathalie kesal ya! Kita harus bersatu untuk mengalahkan siapapun yang akan mengganggu rumah tangga kita. Tidak hanya Nyonya Nathalie, tapi siapapun.
Masih dalam rumah yang sama, namun dikamar yang berbeda. Pembahasan tentang hal yang sama pun sedang berlangsung. Berbeda dengan Mia yang berhasil meredam emosi Dion dan sudah kembali tenang, Nyonya Helen justru tengah membuat Tuan Wira semakin kesal.
"Papa kok malah diam saja? Kenapa Dion dibiarkan sendiri? Harusnya mama ikut. Kalay ada mama, gak akan mama biarkan dia pulang dengan selamat. Mama akan jambak dia, mama guyur pakai kuah sayur, mama buang sepatunya. Biar dia pulang kayak orng gila," ucap Nyonya Helen berapi-api.
Tuan Wira menggelengkan kepalanya dan menepuk dahinya.
Sepertinya aku salah langkah. Doraemon, minta kembali ke satu jam sebelumnya. Aku mau cabut ucapanku. Aku gak mau cerita tentang semua ini. Sudah pusing, tambah stres aku. Maaaaa, stoop Maaaa. Sudah cukup ya!
"Ya sudahlah Ma, kan semuanya juga sudah berlalu. Mama jangan marah-marah dong. Papa kan jadi tambah pusing," jawab Tuan Wira.
"Jangan salahin mama, salahin tuh si wewe gombel. Kalau dia gak cari masalah kan Mama juga gak bakalan marah-marah begini. Bikin emosi Mama naik aja," ucap Nyonya Helen.
"Ya sudah, mending tiduran yu! Biar Papa makin tenang dan senang," ucap Tuan Wira mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Gak bisa. Mama harus tahu keadaan Mia. Mama yakin Mia pasti lagi nangis, karena sedih dengan penghinaan si wewe gombel itu," ucap Nyonya Helen dengan kesal.
"Ma, jangan. Biarkan Dion yang menenangkan Mia. Kita jangan terlalu ikut campur ya!" ucap Tuan Wira menarik tangan istrinya.
"Papa lepasin," ucap Nyonya Helen.
Tuan Wira memburu Nyonya Helen dan menarik baju istrinya.
"Papa mau ngapain sih?" tanya Nyonya Helen.
"Mau lepasin baju Mama. Kan mama yang minta," ucap Tuan Wira.
"Ish, lepasin tangan papa bukan baju mama." Nyonya Helen cemberut.
"Oh, papa kira mau dilepasin yang lain. Mama sih gak jelas. Tapi nanti malam boleh ya papa lepasin?" goda Tuan Wira.
"Tergantung mood," jawab Nyonya Helen.
"Kalau papa kasih ini moodnya berubah gak?" tanya Tuan Wira memperlihatkan kotak merah berbentuk hati.
Mata Nyonya Helen terbelalak saat melihat sebuah cincin berlian yang ada di tangan Tuan Wira.
"Buat Mama?" tanya Nyonya Helen sembari mengambil kotak merah itu dari tangan suaminya.
"Iya dong. Masa buat tetangga," jawab Tuan Wira.
"Masih lebih cantik Mama kok," ucap Tuan Wira.
"Aaaah Papa bikin Mama terharu saja," ucap Nyonya Helen malu-malu.
"Jadi gimana? Masih badmood atau udah goodmood nih?" tanya Tuan Wira.
"Goodmood dong," jawab Nyonya Helen sambil tersenyum.
"Nanti malam boleh di lepasin ya?" goda Tuan Wira.
"Heem," jawab Nyonya Helen sambil mengangguk, sementara matanya masih fokus pada cincin berlian yang sudah dipasang di jarinya.
Emang rekeji Papa soleh. Padahal kemarin beli cincin itu karena gak enak saja temanku yang baru buka usaha berlian. Eh tahunya sangat bermanfaat. Berkat itu, aku bisa begini dan begitu. Hahaha
Saat makan malam, Mia merasa kurang nafsu. Ia hanya makan beberapa sendok saja. Dion yang memperhatikan sikap Mia langsung bertanya penyebabnya.
"Aku lagi gak enak aja mas kalau makan nasi," jawab Mia.
"Mia, masa ngidam itu sudah biasa. Atau kamu makan apa biar nafsu makan kamu bagus lagi?" tanya Nyonya Helen.
Mia menggeleng. "Ini saja," jawab Mia.
Ya Tuhan. Rujak? Aku lupa kalau Mia tadi pesan rujak.
Dion mengambil ponsel dari saku celananya. Melihat jam yang tertera pada layar ponselnya. Sudah jam tujuh malam.
Cari kemana ya rujak di jam segini? Mia kamu itu sangat baik, bahkan kamu gak marah walaupun aku lupa sama pesanan kamu. Aku janji akan membawakan rujak untukmu malam ini.
"Mi, selesai makan aku mau ke luar dulu ya!" ucap Dion.
"Mau kemana kamu Di?" tanya Nyonya Helen.
Kok mama yang respon sih? Mia justru lebih santai. Tapi baguslah, jadi Mia gak bakal curiga.
"Tadi Reza, teman aku udah nelepon Mi. Katanya lagi gak enak badan. Mau lihat dulu kondisinya. Gak lama kok," jawab Dion. "Boleh kan Mi?" lanjut Dion.
Mia mengangguk. "Cepat sembuh buat Reza ya!" ucap Mia.
__ADS_1
Dion mengangguk.
"Ayo kamu paksain dong makan, kasihan bayi kita. Dia pasti lapar," ucap Dion sambil mengusap perut Mia.
Mia menatap perutnya. Iya, dia sadar ada kehidupan baru di dalam perutnya. Rasanya tidak adil jika ia harus egois dengan dirinya sendiri. Meskipun terasa hambar, namun Mia terus menyuapkan nasi yang ada di atas piringnya.
Perlahan tapi pasti, akhirnya nasi itu habis. Dion mengantar Mia untuk istirahat ke kamar, lalu izin untuk keluar rumah pada Mia. Tidak sendiri, kali ini Dion keluar diantar sopir. Tubuhnya terasa lelah, hingga ia enggan menyetir. Apa lagi Dion sendiri tidak tahu akan kemana arah penjalannya. Karena ia hanya akan melaju dan terus melaju untuk mencari tukang rujak. Meskipun ia sendiri pesimis apakah akan menemukan tukang rujak atau tidak, di waktu yang sudah malam ini.
"Mau ke daerah mana lagi, Tuan?" tanya sopirnya.
Ini sudah tiga puluh menit perjalanan namun. mereka masih belum menemukan tukang rujak.
"Aku gak tahu. Yang penting kamu cari tukang rujak," jawab Dion.
"Maaf, Tuan. Sepertinya kalau sudah malam begini sudah sangat jarang tukang rujak yang masih berjualan. Kenapa tidak membuat sendiri saja Tuan? Mungkin Nyonya juga akan lebih merasa senang jika Tuan yang membuatkan rujaknya," ucap sopir itu.
Hah? Kenapa gak kepikiran dari tadi sih? Eh tapi, aku kan gak bisa bikin rujak.
"Aku gak bisa bikin rujak," ucap Dion.
"Tuan bisa belajar pada juru masak di rumah. Rujaknya juga bisa lebih bersih dan sehat kalau dibuat di rumah," ucap sopir itu.
Ah benar. Aku akan terlihat sangat berjuang jika membuat rujak itu sendiri. Mia pasti bilang Makasiiih mas, sambil cium aku. Ah, ini sopir mantap dah idenya.
"Ke supermarket, aku mau cari bahan rujak." pinta Dion.
"Siap Tuan," jawan sopir itu.
Setelah sampai, Dion berdiri mematung dan menatap rak buah-buahan yang terlihat sangat segar.
Buah yang dipakai buat rujak, buah apa aja ya? Ah, tanya google saja. Memangnya cuma Mia yang bisa belajar di google? Sekarang giliranku.
Sstelah mendapat jawaban, Dion memilih beberapa jenis buah-buahan yang segar. Setelah selesai Dion kembali ke rumahnya. Tidak langsung ke kamar, Dion justru langsung ke dapur. Menemui juru dapurnya. Dengan arahan dari si juru dapur, Dion mengulek sendiri bumbu rujaknya. Ini pertama kalinya dalam hidup Dion. Mungkin sangat tersiksa karena pekerjaan ini lebih sulit dari pada menyelesaikan sepuluh laporan keuangan.
Demi cintanya pada Mia, Dion melakukan semuanya walaupun bersusah payah. Melihat tampilannya, Dion menhadi ciut. Hasil yang ia kerjakan tidak sesuai dengan ekspektasinya.
"Mau saya selesaikan, Tuan? Anda tunggu saja di kamar, nanti rujaknya saya antar ke kamar." Juru dapur itu melihat raut kecewa pada wajah Dion.
"Tidak perlu. Biar aku lakukan sendiri saja," ucap Dion.
Kembali Dion berkutat dengan ulekan. Memperbaiki rujak buatannya, agar lebih enak di lihat. Akhirnya rujak itu selesai. Memang tidak sama seperti yang ia beli. Tapi ini hasil kerja kerasnya. Dion yakin kalau Mia pasti akan sangat senang saat menerimanya.
Dion membawa sendiri rujak buatannya. Dengan badan yang sudah cukup lelah, Dion harus kecewa saat melihat Mia sudah tidur.
"Mia?" ucap Dion pelan.
Dion mendekat dan menyimpan rujak itu di atas meja. Lalu mendekat pada istrinya dan menatapnya lekat. Mia nampak tertidur pulas. Lalu tatapannya beralih pada rujak yang ada di atas meja.
Beginikah balasan karena aku lupa pesanan Mia? Aku udah berusaha sampai ngulek-ngulek sendiri. Eh, Mia malah tidur. Mau dibangunin juga kasihan. Tapi rujaknya?
Dion kembali menatap rujak buatannya. Bayangannya dapat ciuman dan melihat wajah bahagia Mia kini kandas sudah. Tatapannya justru terpusat pada bagian dada Mia.
Mia kamu kalau mau tidur duluan kenapa harus pakai baju begitu sih? Kamu tidur, aku yang gak bisa tidur kalau begini urusannya. Si adek malah bangun ini. Gimana dong? Adoooh, masa iya harus tempur sendiri?
Dion menutup matanya untuk menenangkan hatinya.
Tidak Dion! Kamu sudah punya Mia. Jangan biarkan adek mu kalah sembarangan. Hanya Mia yang boleh mengalahkan si adek dalam medan pertempuran.
Dion mengabaikan rujak dan tidur di samping Mia. Tapi sayang, deru napas Mia membuat Dion semakin tertantang. Apalagi baju yang Mia pakai. Ah, Dion bangun dan mengacak rambutnya kasar.
"Tempur, gak, tempur, gak, tempur. Tuh kan katanya suruh tempur. Tapi kasihan Mia. Dia nyenyak banget. Kalau diganggu nanti bayinya juga keganggu. Ah, tempur sendiri aja deh," ucap Dion.
Dion turun dari ranjangnya dan segera masuk ke dalam kamar mandi. Tangannya menatap benda pusakanya yang masih terbungkus. Hatinya masih ragu. Haruskah? Tapi keputusan sudah ia ambil. Jawabannya adalah ya. Dengan segera Dion bersiap untuk pertempuran tunggal ini. Pertempuran yang sudah sangat lama tidak pernah ia lakukan.
maaf ya Mi. Aku tahu ini tugasmu tapi sepertinya aku sudah tidak kuat. Aku janji kali ini saja, gak lagi-lagi.
Hanya beberapa detik saja tangannya menyentuh benda pusaka miliknya, bola mata Dion terbuka sempurna.
Apa ini? Ah, panas sekali. Apa benar aku melupakan mencuci tanganku?
Dion segera mencuci tangannya dan benda pusakanya berkali-kali. Ia baru menyadari kalau setelah membuat bumbu rujak, tangannya tidak dicuci dengan sabun. Padahal Dion orang yang sangat bersih, namun saking semangatnya ia sampai lupa kalau tangannya sudah bergelut dengan cabai.
Miaaaa, maafkan aku. Aku janji tidak akan mengganggu hak mu. Padahal baru juga niat. Eh, udah dibayar kontan nih hukumannya. Ahh, panas.
#################
Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.
Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
__ADS_1
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
Terima kasih..