
Sindi kembali melamun setelah Dion dan keluarganya pergi dari ruang makan. Ia memilih untuk tetap bertahan di sana karena alasan susunya belum habis.
Kini kepalanya bukan hanya memikirkan kehilangan sahabat sebaik Rian, tapi juga ucapan Dion. Haruskah ia meminta Danu menikahinya? Itu pertanyaan besar yang ia pertanyakan pada hatinya. Namun logikanya jelas menolak.
Bagaimanapun harga dirinya lebih tinggi dari keinginannya. Percuma ia menikah jika hanya karena mengejar status saja. Apalagi jika ia yang harus memintanya pada Danu.
"Non," panggil Mba.
"Eh Mba," ucap Sindi terkejut.
"Jangan ngelamun. Nanti kesambet. Bahaya ah," ucap Mba.
"Ih amit-amit. Mba jangan nakut-nakutin aku gitu dong," ucap Sindi.
"Bukan nakut-nakutin, cuma ngingetin aja." Mba tersenyum sembari pergi meninggalkan Sindi sendirian.
Sindi menghabiskan susunya lalu kembali ke kamarnya. Ia duduk di tepi ranjangnya dan mengusap wajahnya. Merapikan rambutnya dan kembali mengikatnya.
Dering ponsel bertuliskan nama Danu membuat Sindi menghela napas panjang. Ia tidak menjawab panggilan itu. Hanya menatapnya, sementara kepalanya kembali pada ucapan Dion.
Mungkin Danu tidak benar-benar mencintaiku. Buktinya dia tidak mengajakku untuk menikah. Bisa saja dia mendekatiku karena hanya ingin menyenangkan perasaan Bu Nathalie. Sindi, berusahalah menjauh darinya. Kamu bisa. Cari suami, jangan mau di baperin terus ah.
Sampai akhirnya panggilan itu berulang-ulang, Sindi tidak pernah berniat menjawab panggilan dari Danu. Ia lebih memilih menggunakan mode getar agar telinganya tidak terganggu dengan panggilan dari Danu.
Maaf Mas, kayaknya aku gak mau baper lagi deh sama kamu.
Tidur adalah cara Sindi untuk berusaha melupakan semua beban dan kesedihannya saat ini. Tapi sayang semua bayangan bersama Danu tidak bisa hilang dari ingatannya.
Bahagia. Begitu perasaan Sindi saat bertemu dengan Danu. Bahkan sekedar menerima sebuah pesan atau panggilan di ponselnya saja, Sindi sudah bisa tersenyum seharian.
Sebesar itu pengaruh Danu dalam hidupnya. Sindi tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Ia sama sekali tidak bisa mengendalikan perasaannya.
Semalaman Sindi tidak tidur. Ia tidak semenitpun bisa nyenyak. Gelisah, ia tidak tahu keputusannya ini benar atau salah. Mendiamkan Danu tanpa penjelasan apapun. Berharap jika Danu mengerti tanpa harus dijelaskan panjang lebar.
Pagi hari Sindi sudah melakukan aktivitasnya seperti biasa. Mandi dan menunggu keluarga Dion di ruang makan. Tidak ada Rian, ia tidak bisa mencurahkan apa yang sedang ia rasakan.
"Non, masih jam berapa ini? Udah nunggu di sini aja. Tumben banget. Udah lapar ya?" tanya Mba.
Kepagian? Sindi segera melihat jam pada ponselnya.
"Astaga aku salah lihat jam," ucap Sindi.
"Non kenapa? Lagi ada masalah?" tanya Mba.
"Kok Mba nanya begitu? Aku gak ada apa-apa kok," jawab Sindi.
"Ini menurut pendapat saya aja nih. Setelah kepergian Den Rian, Non kok jadi banyak melamun sih?" tanya Mba.
"Ya mungkin karena aku kesepian aja kali ya?" tanya Sindi.
"Kalau alasannya kesepian, kan ada saya. Ada juga pekerja yang lain. Biasanya juga Non ngobrol sama kita. Tapi justru setelah Den Rian gak ada, Non malah jauh sama kita. Non lebih suka sendiri," ucap Mba.
Mba yang memang sudah cukup akrab dengan Sindi tahu betul perubahan yang terjadi pada Sindi. Ia hanya sedih saja kehilangan Sindi yang dulu. Sindi yang selalu ramah dan menyapa bahkan mengobrol dengan mereka.
__ADS_1
Sindi pun sebenarnya menyadari semua itu. Setelah kepergian Rian, momennya tepat dengan Dion yang mengingatkannya agar segera menikah. Mungkin itu yang membuat ia memilih untuk menyendiri. Mencerna masukan yang terasa bagai peringatan keras dari Dion untuknya.
"Ah, Mba bisa aja. Aku masih tetep begini kok. Cuma kalau buat sekarang, kayaknya aku memang lagi sedih-sedihnya kehilangan Rian deh," ucap Sindi.
"Den Rian pasti selalu menyempatkan waktu buat menghubungi Non kok setiap hari," ucap Mba.
"Semoga ya Mba," ucap Sindi.
Meskipun sebenarnya Sindi tidak begitu optimis dengan harapannya. Karena menurut Tuan Felix, ia akan mencetak Rian menjadi pengusaha muda dengan talenta yang ia miliki.
"Non kenapa ketawa sendirian begitu?" tanya Mba.
"Aku suka lucu kalau inget sama Rian. Padahal dia kan jago banget masak, kenapa gak jadi chef ya? Kok malah mau jadi arsitektur?" tanya Sindi.
"Karena selain masak, Den Rian juga suka banget gambar-gambar begitu Non. Gambarnya bagus-bagus," jawab Mba.
"Memangnya Mba pernah lihat?" tanya Sindi antusias.
"Ih, saya pernah lihat gambarnya. Nih kalau misal Den Rian gambar lagi masak opor di atas kompor, itu asapnya sampe kelihatan nyata banget. Mantep pokoknya Non," jawab Mba.
Sindi mengernyitkan dahinya. Ia senang mendengar jawaban dari Mba. Namun ada perasaan kesal karena ia sampai tidak tahu kemampuan luar biasa Rian itu.
"Aku tahunya Rian jago masak," ucap Sindi sedih.
"Itu juga salah satu keahlian Den Rian," ucap Mba.
Sedang asyik bercerita tentang Rian, obrolan harus terhenti saat Mba pergi dari ruang makan. Hal itu terjadi karena Dion dan kedua orang tuanya sudah menuju ruang makan.
"Tuan, Mia kemana?" tanya Sindi.
"Mia sedikit gak enak badan. Tadi udah nyusuin Narendra dan Naura dia tidur lagi," jawab Dion.
"Sakit?" tanya Nyonya Helen khawatir.
"Gak Ma. Mia cuma gak tidur aja semalam," jawab Dion.
Dion harus memperbaiki kalimatnya agar Nyonya Helen tidak terlalu khawatir.
"Tapi sarapannya udah dibawa ke kamar kan?" tanya Nyonya Helen.
"Udah Ma," jawab Dion.
Mia gak tidur semalaman? Kita sama Mi. Seandainya kita masih di Surabaya, kita pasti udah saling cerita dan begadang bareng-bareng.
"Sin, hari ini kamu mau kemana?" tanya Dion.
"Kemana?" tanya Sindi.
"Ya maksudnya kamu gak ada acara keluar rumah kan?" tanya Dion.
Pertanyaan Dion lagi-lagi tidak enak di telinganya. Hanya karena beberapa hari lalu Sindi izin untuk keluar rumah.
"Maaf ya Tuan, kalau selama saya tinggal di sini, saya membuat Tuan kesal dan jengkel. Saya janji gak akan mengulangi semua itu," ucap Sindi.
__ADS_1
Dion yang hendak memasukkan roti ke mulutnya menghentikan suapan itu. Ia menyimpan kembali roti itu ke atas piringnya. Sindi merasa nyawanya terancam dengan sikap Dion. Belum lagi Tuan Wira dan Nyonya Helen yang menatapnya penuh makna.
"Sindi kamu belajar bahasa Indonesia gak sih?" tanya Tuan Wira.
"Belajar bahasa Indonesia?" tanya Sindi dengan wajah bingung.
"Kamu kenapa Sindi? Dion nanya begitu kok jawabannya gak nyambung sih?" tanya Nyonya Helen.
Gak nyambung? Apa karena aku aja yang terlalu baper sama pertanyaan Tuan Dion? Tuhaaaan, kenapa ini?
"Ehehe, jadi harusnya aku jawab apa Nyonya?" tanya Sindi.
Kegugupan terlihat jelas, Sindi menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan berusaha menghindari kontak mata dengan siapapun yang berusaha menatapnya.
"Kamu lagi ada masalah?" tanya Dion.
Pertanyaan kedua yang ia dengar pagi ini. Benarkah semuanya tahu kalau ia tengah bermasalah dengan hatinya?
"Gak ada Tuan," jawab Sindi.
"Sin, kamu itu sudah menjadi bagian di keluarga ini. Jadi jamu jangan sungkan untuk bercerita tentang masalahmu," ucap Nyonya Helen.
"Aduh, aku jadi terharu Nyonya. Terima kasih untuk kebaikan Nyonya dan Tuan padaku," ucap Sindi.
"Jangan berterima kasih atas apa yang memang sudah seharusnya terjadi," ucap Nyonya Helen.
"Dia paling sering bengong karena gak diajak ke Jerman. Iri tuh dia sama Rian," ucap Tuan Wira yang berusaha mencairkan suasana.
"Gak begitu juga Tuan," ucap Sindi dengan tersenyum.
"Harusnya kamu besyukur bukan kamu yang dibawa ke sana," ucap Tuan Wira.
"Memangnya kenapa Pah?" tanya Dion.
"Kalau Rian kan dibawa ke sana buat disekolahkan, diajarkan bisnis. Kalau Mia yang dibawa, kamu pasti dijadiin istrinya dia. Bahaya, bisa jadi mertua kamu dia," jawab Tuan Wira.
Gelak tawa mulai terdengar di ruang makan. Akhirnya Tuan Wira berhasil membuat suasana cair. Tidak lagi kaku seperti sebelumnya.
Selesai sarapan, Tuan Wira dan Dion pergi ke kantor. Tapi sebelumnya Dion menitipkan Narendra dan Naura pada Nyonya Helen. Sedangkan Sindi, ia ditugaskan untuk menghibur Mia hari ini.
"Aku harap Mia bisa kembali ceria saat aku pulang kantor," ucap Dion penug harap.
"Aku usahakan ya Tuan. Tapi aku yakin Mia anak yang kuat kok," ucap Sindi.
"Ya aku juga tahu itu. Istriku memang best," ucap Dion.
######################
Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
__ADS_1
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.