
Dalam sebuah ruangan berukuran besar dengan nuansa yang sangat mewah dan serba modern, Mia duduk di atas ranjang besarnya. Ia menangis. Entah apa yang terjadi dengan dirinya. Namun ia masih belum bisa menerima semua kenyataan ini.
Hal ini terjadin terus menerus. Sampai Mia masih tetap menyimpan rahasia ini dari Tuan Felix. Ingin rasanya Mia mengakhiri semuanya, tapi ia justru takut keadaan akan semakin buruk.
Mia hanya sedang berusaha untuk membuat hatinya sembuh. Menerima segala kemungkinan buruk jika memang kabar tentang kabar miring itu benar adanya.
Hari-hari Mia habiskan dengan sedikit demi sedikit mengobati luka itu. Melihat perkembangan Tuan Felix yang semakin membaik. Dengan bantuan Sindi, Mia bisa mengetahui semua perkembangan ayah kandungnya itu tanpa kecuali.
"Terima kasih ya Sin buat semua infonya. Aku titip Tuan Felix. Tolong rawat dia," ucap Mia.
Sindi melihat Mia yang menurutnya semakin melunak. Tanpa Mia sadari, sebenarnya Mia sudah menerima kehadiran Tuan Felix. Perhatiannya yang tidak ditunjukkan secara langsung membuat Sindi ikut senang. Kini Mia sudah lebih menerima, meskipun belum secara terang-terangan mengakui semua itu.
Tak jarang Mia mengingatkan agar obat Tuan Felix jangan sampai telat. Sampai akhirnya Sindi melihat Mia diam-diam menangis saat melihat Tuan Felix saat melihat ia berjalan tanpa bantuan kursi roda lagi.
"Sin," panggil Mia.
"Kenapa Mi?" tanya Sindi.
"Kamu lagi apa?" tanya Mia.
"Buatin nasi goreng buat Tuan Bule," jawab Sindi.
"Kenapa sama kamu? Kan ada Mba," ucap Mia.
"Tuan Bule maunya buatan aku, Mi. Kamu kayak gak tahu aja kalau nasi goreng aku paling mantap sejagat raya," ucap Sindi sembari mengaduk-aduk nasi dalam wajan.
"Oh gitu ya?" ucap Mia pelan.
Tuan Felix gak tahu kalau Mia juga bisa masak. Bahkan Mia bisa masak lebih enak dari Sindi.
Sindi mengecilkan api kompor, ia menyempatkan melihat ekspresi Mia yang nampak sedih.
"Kamu masih belum mau cerita sama Tuan Bule, Mi?" tanya Sindi.
Sindi juga termasuk orang yang selalu berusaha membujuk Mia agar bisa segera jujur atas kenyataan ini. Namun sampai saat ini, Sindi belum berhasil. Ia masih harus membujuk Mia. Menyentuh hatinya dalam waktu yang tepat. Karena sebenarnya hati Mia kian melunak.
"Mia takut," jawab Mia.
"Mi, kamu gak bakal tahu semua kenyataan yang terjadi. Karena kamu gak memberi kesempatan Tuan Bule buat cerita tentang masa lalunya dengan ibumu. Coba kamu bicara dari hati ke hati," ucap Sindi.
"Mungkin nunggu waktu yang pas," jawab Mia.
Sindi menyelesaikan nasi goreng untuk Tuan Felix. Sementara Mia masih ada di belakangnya dan terua mengajaknya berbicara.
"Mau sampai kapan Mi? Sampai semuanya terlambat? Sampai Tuan Bule balik ke Jerman? Kamu tahu kan kalau sekarang Tuan Bule udah bisa jalan sendiri?" tanya Sindi.
"Iya. Mia ikut seneng buat perubahan Tuan Felix," ucap Mia.
"Mi, pilihan ada di tangan kamu. Terserah kamu mau berdamai atau membiarkan semuanya terlambat. Aku cuma gak mau kamu menyesal saat semuanya terlambat," ucap Sindi.
Mia nampak semakin gelisah. Ia memainkan ujung kukunya. Sesekali ia menggivit kukunya. Ini bukan Mia yang Sindi kenal. Tapi percuma, Mia tidak boleh dipaksa. Sindi hanya memberikan sedikit sentuhan-sentuhan yang bisa membuat Mia semakin terbuka atas perasaannya.
"Mi, aku mau nganter nasi gorengnya dulu buat Tuan Bule ya!" ucap Sindi.
__ADS_1
Apa yang Sindi sampaikan membuat Mia tesadar dari lamunannya. Ia hanya mengangguk dan membiarkan Sindi semakin menjauh darinya.
Tapi sepertinya Mia masih penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Sindi. Ia mengikuti Sindi, berharap bisa tahu apa yang akan dibicarakan oleh keduanya.
Merasa diikuti oleh Mia, Sindi sengaja membuka pintu kamar Tuan Felix. Ia ingin Mia tahu banyak tentang ayah kandungnya. Kali ini, Sindi yang akan menjebak Tuan Felix agar bercerita tentang masa lalunya dengan Bu Ningsih.
"Tuan," sapa Mia saat masuk ke kamar Tuan Felix.
"Sin, mana Rian?" tanya Tuan Felix.
"Rian ke kamarnya dulu, Tuan. Apa Anda ada perlu pada Rian?" tanya Sindi.
"Oh tidak. Aku hanya khawatir kalau saja tidak melihat Rian. Takut dia kenapa-kenapa," jawab Tuan Felix.
"Wah, Tuan sangat perhatian pada Rian. Aku gak bisa bayangin gimana Tuan sayang sama anaknya, pancing Sindi.
Tuan Felix tersenyum dan memejamkan matanya sebentar. Mungkin pria itu sedang membayangkan jika saja ia memiliki seorang anak.
"Tuan, apa Anda baik-baik saja?" tanya Sindi.
Tuan Felix membuka matanya dan menyembunyikam senyumnya.
"Duduk!" ucap Tuan Felix menepuk kursi yang ada di hadapannya.
Sindi merasa mendapat sinyal bagus. Ia segera mendekat dan duduk di tempat yang disediakan oleh Tuan Felix.
"Aku tidak punya anak," jawab Tuan Felix.
Tidak punya anak? Berarti Mia bukan anak Tuan Felix. Gak mungkin, hasil test DNA itu akurat.
"Anda tidak pernah menikah?" tanya Sindi.
Tuan Felix merasa butuh teman, dan saat ini Sindi memposisikan dirinya sebagai seorang teman. Hingga Tuan Felix dengan mudahnya menceritakan semua yang dialaminya saat ini.
"Aku pernah menikah, tapi diselingkuhi dengan teman dekatku sendiri." Tuan Felix mulai mengingat kembali kisah pahit itu.
Sindi yang merasa penasaran, terus mencari tahu tentang kehidupan Tuan Felix di masa lalu. Karena ia yakin kalau Mia ada di luar. Sindi tahu Mia membutuhkan semua informasi ini.
Tuan Felix mulai menceritakan kehidupannya di masa lalu. Dimana ia pernah menikah dan dikhianati istrinya sendiri. Disaat ia sedang terluka, datanglah Bu Ningsih sebagai TKW yang bekerja di rumahnya. Cara Bu Ningsih memperlakukan Tuan Felix, disalah artikan olehnya.
Ketulusan Bu Ningsih membuat Tuan Felix jatuh cinta. Kesederhanaan dan kelembutannya membuat Bu Ningsih berbeda dari setiap wanita yang Tuan Felix temui. Lama tinggal bersama membuatnya semakin jatuh cinta pada wanita keturunan Indonesia asli itu.
Benih cinta itu tidak direspon sama sekali oleh Bu Ningsih. Karena memang Bu Ningsih trauma dengan pernikahan.
"Jadi saat wanita itu bekerja bersama Tuan, dia tidak mempunyai suami?" tanya Sindi antusias.
Tuan Felix menggeleng. Sebenarnya, saat itu Bu Ningsih bekerja di sana dengan status sebagai seorang istri. Namun saat bekerja di Jerman, entah apa alasannya, mereka bercerai.
"Hebatnya dia, tidak pernah merubah cara kerjanya meskipun ia sedang ada masalah seberat itu," ucap Tuan Felix.
Sindi mengangguk-angguk. Ia masih sangat antusias menyimak penuturan Tuan Felix. Ceritanya semakin seru saat cerita itu kembali dilanjutkan.
Suatu hari saat pesta ulang tahun Tuan Felix, teman-temannya juga tertarik saat melihat Bu Ningsih. Mereka memberikan serbuk ajaib agar Bu Ningsih bisa tidur dengan mereka.
__ADS_1
Bu Ningsih yang selalu menjaga jarak dengan pria, membuat sahabat Tuan Felix merasa tertantang. Hingga mereka berniat jahat. Beruntung Tuan Felix mengetahui obat itu. Dengan cepat Tuan Felix mengusir semua teman-temannya.
Tidak berhenti sampai disitu, upaya menyelamatkan Bu Ningsih dilakukan dengan mencoba membawa wanita yang ia sukai ke dokter. Namun terlambat, obat itu sudah bereaksi. Membuat Bu Ningsih menginginkan Tuan Felix dalam keadaan tidak sadar.
Sebagai pria normal yang memang mencintai wanita itu, Tuan Felix tidak bisa menahan diri. Mereka pun terjebak dalam kesalahan besar malam itu. Hingga pagi hari, Bu Ningsih bangun dan menyadari kalau dirinya bersama Tuan Felix diatas ranjang yang sama tanpa sehelai kainpun.
Tuduhan pemerkosaan dilayangkan Bu Ningsih pada Tuan Felix, karena saat itu ia tidak ingat apa yang terjadi padanya. Permintaan maaf dan penjelasan Tuan Felix tidak berarti lagi bagi Bu Ningsih. Sampai akhirnya wanita itu hamil dan memutuskan untuk kembali ke Indonesia.
"Setelah itu?" tanya Sindi.
"Aku hilanh kontak sampai saat ini," jawab Tuan Felix dengan mata yang berkaca.
"Apa Tuan punya foto wanita itu?" tanya Sindi.
Tuan Felix menggeleng. Ponsel yang berisi banyak foto Bu Ningsih hilang karena ponselnya hilang.
"Tapi aku ingat wajahnya. Dan kamu tahu?" tanya Tuan Felix.
"Apa?" tanya Sindi penasaran.
"Dia mirip sekali dengan Mia," jawan Tuan Felix sembari tersenyun dan menyandarkan tubuhnya agar duduk lebih santai.
"Siapa namanya?" tanya Sindi.
"Tidak perlu aku sebut. Kamu tidak akan tahu," jawab Tuan Felix.
"Tuan, ayolah. Aku mau tahu siapa namanya," bujuk Sindi.
"Buat apa?" tanya Tuan Felix.
"Buat aku bikin novel," jawab Sindi sekenanya.
"Kamu ini ada-ada saja," ucap Tuan Felix.
"Aku serius," jawab Sindi.
Melihat Tuan Felix tidak mau menyebutkan nama wanita itu, Sindi terus membujuknya sampai akhirnya nama Ningsih keluar dari mulut Tuan Felix.
"Bu Ningsih?" tanya Sindi terkejut.
"Kenapa?" tanya Tuan Felix.
"Ah, tidak Tuan." Sindi menelan salivanya setelah tahu cerita sebenarnya.
Yang harus Sindi cari tahu, apa alasan Bu Ningsih menikah lagi dengan Pak Baskoro setelah hamil anak Tuan Felix. Dan itu menjadi PR bagi Sindi. Ia harus mencari tahu semuanya sampai tuntas.
######################
Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
__ADS_1
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.