
"Di, mau pulang sekarang?" tanya Tuan Wira.
Tuan Wira yang terlihat cuek, ternyata diam-diam begitu perhatian pada Dion. Saat jam pulang sudah tiba tapi ia tidak melihat Dion mampir ke ruangannya, ia yang menemui Dion ke ruangannya.
"Masih banyak kerjaan Pah," jawab Dion.
"Ini udah jam pulang. Ayo pulang!" ajak Tuan Wira.
Semenjak Narendra dan Naura sudah lahir, Tuan Wira memang mengajarkan Dion untuk pulang setiap sudah waktunya. Lembur adalah hal yang paling harus dihindari. Kalaupun ada pekerjaan urgent, Dion bisa membawa pekerjaannya ke rumah.
Dalam rumah tangga, Tuan Wira selalu mengingatkan Dion kalau keluarga harus menjadi prioritas utama. Paling tidak, Mia dan kedua anak kembarnya tahu kalau Dion baik-baik saja. Setelah Dion bertemu dengan mereka, Dion boleh menghabiskan malamnya untuk mengerjakan semua pekerjaannya yang tertunda.
"Ayo Pah!" ucap Dion.
Dua berkas Dion bawa pulang. Tugas yang benar-benar harus selesai besok pagi. Dion juga tipe orang yang selalu memberi contoh. Bukan tipe penyuruh yang hanya menggunakan telunjuknya untuk ini dan itu.
Hal ini membuat Dion berhasil memimpin perusahan dengan baik. Perusahaannya sudah banyak kemajuan dari sebelumnya. Tidak dipungkiri jika Mia dan kedua anak kembarnya adalah faktor yang sangat berpengaruh dalam kinerja Dion.
"Di, gimana perkembangan perusahaan di Surabaya?" tanya Tuan Wira.
"Baik Pah. Semuanya berkat Reza," jawab Dion.
"Laporannya masih aktif?" tanya Tuan Wira.
"Aktif dong Pah. Reza masih sering komunikasi. Papa jangan khawatir. Oh iya Papa gak tahu kan waktu aku ke Singapura, Reza juga ke sana." Dion meyakinkan Tuan Wira.
"Buat apa? Memangnya ada undangan untuk cabang perusahaan di Surabaya?" tanya Tuan Wira.
"Gak kok Pah. Dia ke sana karena aku yang minta," ucap Dion.
"Buat apa?" tanya Tuan Wira.
"Buat bahas hasil meeting di sana. Jadi apa yang perusahaan kita dapat, bisa diterapkan juga di perusahaan Surabaya. Reza gercep kalau udah urusan kerjaan Pah," jawab Dion.
"Beneran nih?" tanya Tuan Wira tidak yakin.
"Nih buktinya!" ucap Dion.
Dion mengeluarkan ponselnya dan membuka galeri. Ada beberapa foto Reza saat di Singapura kemarin.
"Ya syukurlah kalau begitu," ucap Tuan Wira.
Wajar jika Tuan Wira ragu pada Reza. Ia tahu jika Reza memang cerdas. Tapi sayangnya ia juga tahu bagaimana sifat Reza saat itu.
"Pah udah lah. Setiap orang punya masa lalunya masing-masing. Tapi bukan berarti Reza gak bisa berubah kan?" ucap Dion.
Tuan Wira menganggukkan kepalanya. Ia yakin kalau seandainya Reza berubah. Itu semua berkat Maya. Maya yang bisa menjadikan Reza lebih baik dari sebelumnya.
"Gimana kabar istrinya?" tanya Tuan Wira.
"Baik. Maya lagi hamil Pah. Katanya nanti pas nikahan Sindi, mereka mau ke sini. Pasti seru ya Pah," ucap Dion.
"Udah kangen ya sama si Reza? Udah lama gak main PS bareng? Gila-gilaan bareng? Kemarin di Singapura gak macam-macam kan?" tanya Tuan Wira.
"Ya ampun Pah, gak lah. Aku sama Reza udah sama-sama tobat tahu," ucap Dion.
"Harus. Jangan sampai malu-maluin keluarga," ucap Tuan Wira.
"Siap 86 komandan," ucap Dion sembari mengangkat tangannya dan menghormat layaknya sedang upacara.
Obrolan itu terus berlangsung sampai akhirnya mereka menyudahi obrolan itu setelah mobil sampai ke halaman utama. Tuan Wira dan Dion masuk ke kamarnya masing-masing. Dimana biasanya sudah ada istri yang tengah menunggu mereka.
Namun kali ini mereka tidak menemui istrinya di dalam kamar. Masih dengan pakaian lengkap, mereka mencari istri masing-masing.
"Mau kemana Pah?" tanya Dion.
"Kamu mau kemana?" tanya Tuan Wira.
"Aku mau cari Mia," jawab Dion.
"Papa juga mau cari Mama," ucap Tuan Wira.
__ADS_1
Keduanya berjalan bersama menuju satu tempat. Kemana lagi kalau bukan ke kamar Narendra dan Naura.
"Tuh kan, kalian ada di sini." Tuan Wira menatap Dion saat membuka kamar Narendra dan Naura.
"Ngapain pada ke sini sih? Mandi dulu sana!" ucap Nyonya Helen.
"Baju ganti Aa juga udah Mia siapin kok di kamar," ucap Mia.
Sebegitu perhatiannya Mia, hingga ia menyiapkan baju ganti untuk Dion. Hal itu Mia lakukan hanya karena ia tidak akan menunggu Dion di kamarnya saat pulang kerja. Perhatian kecil ini yang selalu membuat Dion takut kehilangan sosok Mia.
Dion dan Tuan Wira kembali ke kamarnya dan mandi. Setelah selesai, mereka kembali ke ruangan Narendra dan Naura. Tidak lama, karena sudah masuk waktu makan malam. Semuanya berkumpul di ruang makan.
Tidak ada bahasan khusus saat di meja makan. Hingga setelah selesai makan, mereka semua bisa pergi berpencar sesuai keinginan dan kebutuhannya masing-masing.
Sindi kembali ke kamarnya karena Danu sudah meneleponnya. Tuan Wira dan Nyonya Helen pergi ke taman belakang untuk duduk santai menikmati angin malam. Sementara Mia dengan setia menemani Dion yang buru-buru ke ruangannya karena masih harus mengerjakan pekerjaan kantornya.
"Kamu istirahat aja Mi," ucap Dion.
"Nanti A. Mia nemenin Aa dulu," ucap Mia.
"Aku bisa sendiri. Kamu harus banyak istirahat sayang," ucap Dion.
"Dari tadi Mia tidur terus A. Mia sampai lupa ngingetin Aa buat makan siang," ucap Mia.
Dion tersenyum. Ia senang karena Mia bukan lupa, Mia hanya ketiduran. Melihat Mia yang ingin menemaninya, Dion memberikan kursi di sampingnya. Ia membiarkan Mia duduk di sampingnya.
"A, Mia ada kabar gembira. Aa mau tahu gak?" tanya Mia.
"Apaan?" tanya Dion.
"Tadi Mia udah video call sama Pak Haji. Udah bisa dadah-dadah loh A sama Mia," ucap Mia.
Baru kali ini Dion ikut bahagia saat Mia bahagia padahal istrinya sedang menceritakan pria lain. Mantan suaminya pula. Tapi entah mengapa tidak ada cemburu lagi pada Haji Hamid.
Mia tampak menganggap Haji Hamid itu ayahnya. Dari cerita Mia, pria yang bisa memberinya kasih sayang seorang ayah itu adalah Haji Hamid. Mungkin rasa percaya itu juga terjadi karena Dion tahu masa lalu Haji Hamid dan Dev.
"Terus dia bilang apa sama kamu?" tanya Dion.
"Dia gak banyak ngomong A. Cuma manggil nama Mia. Tapi segitu aja Mia udah seneng banget," ucap Mia
Dion terus menemani Mia bercerita sampai ia bingung bagaimana caranya untuk memulai pekerjaannya.
"Aku juga ikut seneng Mi," ucap Dion.
"Katanya besok mau ke Indonesia. Nanti kita jenguk ya A kalau Pak Haji udah ke sini," ucap Mia.
"Iya. Nanti ya!" ucap Dion penuh penekanan.
Mendengar nada Dion berubah, Mia baru menyadari kalau ia sudah mengganggu waktu bekerja Dion.
"Mia tunggu di luar ya!" ucap Mia sembari mengecup pipi Dion.
"Siap," ucap Dion mengangkat jempol tangannya.
Setelah Mia keluar dari ruangan kerjanya, Dion tersenyum sembari memegang pipinya. Mia memang selalu memberi kejutan seperti ini.
"Aku harus selesaikan semua pekerjaan ini sebelum terlalu larut. Mungkin ini adalah kode dari Mia. Mia pasti udah kangen sama aku. Siap Mia, tunggu aku ya!" ucap Dion sembari tersenyum penuh makna.
Dengan semangat Dion segera mengerjakan tugasnya. Ternyata Dion bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan lebih cepat dari prediksinya.
"Mia, aku datang." Dion menutup laptopnya dan segera ke kamar dengan bibir yang tersenyum lebar.
Senyumnya yang sudah mengembang itu perlahan berubah jadi cemberut saat menyaksikan Mia sudah tidur nyenyak. Dion menggelengkan kepala dan mengusap dadanya.
Sabar Dion, Mia harus istirahat. Aku sendiri yang memintanya untuk segera istirahat. Tapi istirahat kan bukan berarti tidur juga Mia. Kenapa sih kamu udah tidur? Padahal aku udah berjuang buat kerja lebih cepat dibanding seharusnya.
Tak tega membangunkan Mianyang terlihat begitu nyenyak, akhrinya Dion ikut berbaring di samping Mia. Sampai akhirnya pagi, ia mendapat kecupan kembali di pipinya.
"Bangun," ucap Mia.
Dion membuka matanya perlahan. Ia menggeliat dan menguap. Tangan Mia dengan cepat menutup mulut Dion yang terbuka cukup lebar.
__ADS_1
"Aa malam tidur jam berapa?" tanya Mia dengan begitu polos.
Dion yang sudah berusaha melupakan kekecewaannya kini menjadi kesal lagi.
"Jam satu," jawab Dion.
Dion segera bergegas mandi dan bersiap untuk pergi ke kantor. Mia yang tidak menyadari kesalahannya masih bersikap tenang.
"A, nanti pulangnya telat gak?" tanya Mia.
"Kayaknya sih gak Mi. Memangnya kenapa?" tanya Dion.
Dion sudah berharap jika Mia akan mengganti malam yang gagal tadi dengan malam nanti. Dan lagi-lagi Dion harus menelan kecewa.
"Kalau Aa gak pulang telat, katanya mau ada yang ngukur baju buat kita. Jadi bisa hari ini ya?" tanya Mia.
"Baju apa?" tanya Dion.
"Baju buat nikahan Sindi," jawab Danu.
"Sindi yang nikah kenapa kita yang buat baju?" tanya Dion kesal.
"Kan kita jadi pihak keluarga Sindi A. Jadi harus pakaian yang bagus juga," ucap Mia.
"Ya sudah terserah deh," ucap Dion.
Tidak mau berdebat lebih lama lagi, Dion hanya mengiyakan karena ia takut kekesalannya semakin meningkat jika dibiarkan.
Dion dan Mia pergi ke ruang makan. Sudah ada Nyonya Helen, Tuan Wira dan Sindi di sana. Mereka sarapan bersama tanpa bahasan apapun.
Setelah Dion dan Tuan Wira pergi ke kantor, Sindi meminta izin untuk menemui Nyonya Nathalie. Ada beberapa hal yang ingin dibahas. Meskipun Nyonya Helen kesal, tapi ia terpaksa mengizinkan dari pada Nyonya Nathalie yang harus ke rumahnya.
"Jangan lama-lama ya! Jangan sampai pulang malam lagi," ucap Nyonya Helen.
"Iya Nyonya, aku usahakan pulang lebih cepat." Sindi berjanji.
"Iya," jawab Sindi.
Nyonya Helen pergi meninggalkan ruang makan dengan wajah kesal.
"Jangan dipikirin ya Sin. Mama Helen cuma khawatir aja sama kamu," ucap Mia menenangkan Sindi.
Jujur saja dengan ekspresi Nyonya Helen yang seperti itu, Sindi sangat tidak nyaman. Ia tidak enak karena sudah dua kali keluar rumah untuk menemui keluarga Nyonya Nathalie. Tapi Sindi tidak bisa berbuat apa-apa.
"Hey, jangan melamun! Udah sana pergi," ucap Mia.
"Iya Mi. Aku gak lama kok," ucap Sindi.
Mia mengangguk.
Tanpa sepengetahuan Sindi, Nyonya Helen melihat kepergian Sindi. Matany berlinang.
Akhirnya kamu sudah menemukan kebahagiaan kamu Sin. Maafin aku kalau bikin kamu sedih. Aku cuma gak bisa ngontrol perasaan cemburuku. Aku takut saat nanti kamu sudah menikah, kamu justru melupakan aku. Dia adalah ibu dari pria yang kamu cintai. Sedangkan aku? Kamu bahkan bisa dengan mudah melupakan aku kapanpun kamu mau.
Setelah Sindi pergi, Nyonya Nathalie duduk di tepi ranjang. Ia mengeluarkan dua lembar foto dari laci nakasnya.
"Sekarang hanya kamu, Mi. Mama harap kamu tidak meninggalkan Mama seperti Sindi nanti," gumam Nyonya Helen.
Nyonya Helen mendekap kedua foto itu dan menangis.
"Terima kasih sudah hadir di keluarga ini, Sin. Kamu bisa ikut dengan mertuamu jika itu membuatmu bahagia. Aku sayang sama kamu," ucap Nyonya Helen.
#####################
Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
__ADS_1
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.