
"May, selamat ya!" teriak Mia saat ia sudah sampai ke ruangan Maya.
Maya yang kedua tangannya masih di infus nampak begitu senang saat melihat kedatangan Mia dan keluarga Dion.
"Terima kasih ya Mi," ucap Maya.
"Mana bayinya?" tanya Mia.
"Masih di ruangan bayi. Mungkin sebentar lagi ke sini," jawab Maya.
"Satu atau dua?" tanya Mia.
"Satu," jawab Maya dengan senyumnya.
"Kamu kalau nanya itu laki-laki atau perempuan? Ini kok nanya satu atau dua," ucap Dion.
"Eh iya maaf ya May. Soalnya Mia pas lahiran langsung dua. Oh ya baby boy atau baby girl?" tanya Mia.
"Baby boy," jawab Maya.
"Wah, akhirnya punya jagoan juga," ucap Mia.
"Iya dong Mi. Kan Reza junior," ucap Reza.
"Asal jangan sampai nurun kayak bapaknya ya!" ucap Dion.
"Eh, anak Reza ya titisan Reza lah. Pasti lucu dan menggemaskan kayak aku," jawab Reza.
Mia dan Maya tertawa saat melihat keduanya mulai berdebat.
Dion dan Reza keluar ruangan. Mereka membiarkan Maya dan Mia bicara berdua. Reza tahu saat ini Maya sedang sedih. Bahkan saat Maya lahiran pun, keluarga Reza tidak ada yang menjenguknya. Padahal ia sudah mengabari keluarganya.
"Kamu jangan sedih May. Nanti ngaruh sama ASI loh," ucap Mia menenangkan.
"Iya Mi. Aku berusaha untuk selalu kuat. Tapi kenyataannya aku gak bisa. Sesalah itukah dengan statusku yang janda saat menikah dengan Mas Reza?" tanya Maya.
"May, gak ada yang salah dengan status janda. Gak ada yang mau berada di posisi itu. Mereka saja yang tidak mengerti," jawab Mia.
"Kadang aku menyesal udah menikah dengan Mas Reza," ucap Maya.
"Hussst, kamu ngomong apaan sih. Jangan begitu May," ucap Mia.
"Serius Mi. Kalau aku tahu akan seperti ini, aku gak mau egois untuk tetap menikah dengan Mas Reza. Padahal Mas Reza udah nunjukin prestasinya. Waktu di Surabaya, dia dapat penghargaan karena potensinya. Udah pindah ke Jakarta, baru beberapa bulan Tuan Wira bilang kalau perusahaan bisa terus berkembang. Artinya Mas Reza bisa dibanggakan Mi," ucap Maya.
"Iya, Mia juga tahu itu. Reza memang pekerja keras. Tapi mungkin mereka sibuk. Kita positif thinking aja," ucap Mia yang berusaha menenangkan Maya.
"Iya Mi. Terima kasih ya!" ucap Maya.
Mia tidak tahu jika mereka pernah menemui keluarga Reza namun tidak ditanggapi sama sekali. Padahal saat itu Maya sedang hamil besar.
"Sayang, lihat siapa yang datang!" ucap Reza yang tiba-tiba masuk dengan senyum lebar.
"Maya," sapa ibunya Reza.
__ADS_1
"Nyonya," sapa Maya.
"Panggil Mama. Mana cucuku?" tanya ibunya Reza.
Mama? Mia yang menyadari kehadiran keluarga Reza segera pamit. Ia menunggu di luar bersama Dion. Belum sempat menemui bayi Maya, tiba-tiba Nyonya Helen mendapat kabar bahwa Sindi masuk rumah sakit.
"Ma, tenang Ma. Rumah sakit mana?" tanya Dion.
"Rumah sakit ini, Di. Ayo cari Sindi," ajak Nyonya Helen sembari panik.
"Ayo Ma," ucap Dion.
"Ya ampun Sin, kamu kenapa sih? Semalam kit teleponan kamu baik-baik aja," ucap Mia sembari berjalan mengikuti Dion dan Nyonya Helen.
Saat sampai di ruangnnya, nampak Danu tengah duduk di bangku tunggu. Sementara Nyonya Nathalie memeluk Nyonya Helen.
"Maafin aku gak bisa jaga Sindi. Aku juga gak tahu kenapa Sindi tiba-tiba pingsan," ucap Nyonya Nathalie yang merasa bersalah pada Nyonya Helen.
"Terus keadaan Sindi sekarang gimana?" tanya Nyonya Helen.
"Dokter masih memeriksanya," jawab Nyonya Nathalie.
"Mi, lihat. Dulu aja rebutan pacar. Sekarang akur banget," bisik Tuan Wira pada Mia.
Tanpa menatap ayah mertuanya, Mia hanya menahan tawanya. Ia tak habis pikir jika pada saat seperti ini, Tuan Wira masih bisa berpikir seperti itu.
"Gimana dok?" tanya Nyonya Nathalie dan Nyonya Helen bersamaan setelah dokter keluar dari ruangan.
"Selamat ya! Nyonya Sindi sedang mengandung," ucap Dokter.
"Apa?" tanya Nyonya Helen dan Nyonya Nathalie bersamaan.
Mereka benar-benar tidak menyangka jika Sindi sedang mengandung. Selama hampir tiga bulan menikah, Sindi sama sekali tidak menunjukkan seperti sedang mengandung. Nyonya Nathalie dan Nyonya Helen pun tidak bertanya tentang kehamilan, karena mereka tahu riwayat penyakit Danu.
"Danu kamu mau kemana? Mama dulu yang masuk.
Nyonya Nathalie kesal saat melihat Danu yang tiba-tiba masuk lebih dulu. Dengan cepat ia menyusul Danu. Namun Nyonya Helen menariknya.
"Hey, kamu mau kemana? Aku duluan yang masuk," ucap Nyonya Helen.
"Enak saja. Aku dulu," ucap Nyonya Nathalie yang kembali menarik tangan Nyonya Helen.
"Baru aja Papa puji mereka bisa akur. Eh udah ribut lagi. Cape deh," ucap Tuan Wira.
"Ma, biarin dulu Mas Danu yang bicara dengan Sindi. Beri mereka waktu buat ngungkapin rasa bahagianya," ucap Mia.
"Iya Ma, jangan ribut di sini. Malu," ucap Dion.
Dengan cemberut, mereka menunggu hingga Danu keluar dari ruangan. Namun rasa tidak sabar mendorong keduanya untuk saling berebut masuk ke dalam ruangan. Mia yang tidak bisa menahan keduanya hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Udah biarin aja. Nanti juga diusir satpam kalau mereka sampai ribut lagi," ucap Tuan Wira.
"Papa mau kemana?" tanya Mia.
__ADS_1
"Cari kopi, pusing." Tuan Wira terus melangkah pergi meninggalkan ruangan Sindi.
Bohong! Padahal ia hanya terharu. Ia yang juga sudah menganggap Sindi seperti anak kandungnya sangat bahagia mendengar kabar ini. Ia sengaja mencari tempat dan cara lain untuk mengekspresikan rasa bahagianya.
"A, temenin Papa ya! Biar Mia yang masuk," ucap Mia.
"Ya udah aku ke sana dulu ya!" ucap Dion.
Di dalam ruangan itu, Mia menyaksikan Sindi dikelilingi oleh orang-orang yang benar-benar menyayanginya dengan tulus.
Kamu benar dengan ucapanmu. Bahkan kamu membuktikannya sendiri. Dulu kamu selalu bilang sama Mia kalau orang baik akan selalu dikelilingi orang baik. Lakukan semuanya dengan tulus, maka semua ketulusan akan ada di sekitarmu. Selamat ya Sin. Mia tahu kamu pasti bahagia banget.
"Mi," sapa Sindi.
"Hey Sin," sapa Mia.
Mia segera mendekat dan memberikan ucapan selamat pada Sindi dan Danu.
"Mana Dion?" tanya Danu.
"Ke kantin Mas. Katanya cari kopi," ucap Mia.
"Sayang, aku ke kantin dulu ya! Kamu sama Mami, Mama dan Mia dulu gak apa-apa kan?" tanya Danu.
"Iya, gak apa-apa." Sindi tersenyum.
Mia melihat ketulusan dari Danu untuk Sindi. Cara Danu memperlakukan Sindi terlihat begitu baik. Wanita akan diperlakukan bagai seorang ratu jika jatuh ke pelukan pria yang tepat. Dan Mia percaya itu. Ia melihat sendiri. Ia juga merasakannya sendiri. Danu dan Dion adalah pria yang sangat mencintai dan menghargai wanitanya.
"Oh ya, kok kalian cepat banget sih sampai ke sininya?" tanya Nyonya Nathalie.
"Kebetulan pas nerima kabar Sindi masuk rumah sakit, kita memang lagi di sini," jawab Nyonya Helen.
"Ngapain?" tanya Nyonya Nathalie.
"Maya istrinya Reza lahiran," jawab Nyony Helen.
"Lahiran? Kapan?" tanya Sindi.
"Barusan. Padahal kita janjian mau makan malam. Tapi Reza gak datang. Tahunya Maya lahiran. Padahal masih dua minggu dari HPL," jawab Mia.
"Aduh, aku jadi gak sabar buat lahiran. Oh ya anak Maya perempuan atau laki-laki?" tanya Sindi.
"Pemuda harapan bangsa," jawab Mia.
"Aduh, nanti kalau aku lahiran semoga perempuan ya biar bisa besanan." Sindi mengusap perutnya yang masih rata.
"Besanan sama Maya?" tanya Mia.
"Sama kamu," jawab Sindi.
"Nanti Naura nikahan sama anaknya Maya ya. Biar Mia juga besanan sama Maya. Jadi kita tetep satu keluarga," ucap Mia.
"Bener Mi," ucap Sindi.
__ADS_1