
Rasa lelah itu terbayar dengan acara yang berjalan lancar. Dion meminta Mia untuk tidur lebih awal, namun Mia malah memeluknya dari belakang.
"Aa, terima kasih ya!" ucap Mia.
"Buat apa?" tanya Dion bingung.
Tiba-tiba saja kepalanya dibuat mendidih dengan memikirkan apa yang terjadi tadi siang. Saat ia duduk satu meja dengan Danu.
"Buat semuanya," jawab Mia.
"Termasuk obrolan aku dengan mantan suami kamu itu? Semua ini gara-gara Reza," gerutu Dion
Mia mengernyitkan dahinya. Ia tidak menyangka jika hal romantis yang ia ciptakan ternyata malah membuat Dion marah.
"Sayang, maafin Mia ya! Mia sama sekali gak bermaksud ke situ kok," ucap Mia.
Belum usai Mia bicara, emosi Dion pun belum reda, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya.
"Kurang ajar si Reza ini maunya apa sih?" ucap Dion kesal sembari melempar ponselnya ke atas ranjang.
"Aa kenapa?" tanya Mia ketakutan.
Matanya sudah berlinang. Mia mundur perlahan. Ia tidak berani mendekati Dion yang tengah mengacak kasar rambutnya.
"Mia, maafin aku ya!" ucap Dion sembari memeluk Mia.
Ternyata Dion menyadari ketakutan Mia atas sikapnya. Ya, mungkin berlebihan. Ah tidak! Tidak ada istilah berlebihan jika berurusan dengan cinta. Lagi-lagi video kiriman Reza membuat rasa cemburunya mencuat kembali.
"Reza mengirimkan rekaman aku sama dia tadi," ucap Dion.
Mia memang tidak bertanya, tapi Dion harus menjelaskan apa yang sudah membuatnya marah hingga membuat Mia ketakutan.
"Terus kenapa Aa marah?" tanya Mia.
Dion melepaskan pelukannya dan menatap Mia lekat. Seolah ia sedang bertanya tentang arti pertanyaan Mia. Mia yang mengerti tatapan itu segera menjelaskan arti dari pertanyaannya. Ia tidak ingin Dion salah paham.
"Aa gak perlu marah. Gak ada yang salah sama video itu. Mungkin Reza cuma mau nunjukkin kalau Aa udah berani mengalahkan ego Aa. Dan itu hebat. Mia salut sama Aa. Mia bangga sama Aa. Bikin Mia makin cinta deh," ucap Mia kembali.
"Ah, yang ada si Reza cuma mau bandingin aku sama dia. Pasti dia pikir aku insecure sama dia," ucap Dion.
"Kalau pun itu alasan Reza, Aa tetap menang di hati Mia. Biarin Reza bilang insecure, karena bagi Mia Aa yang best. Mia gak mungkin berpaling sama yang lain," ucap Mia.
Kalimat yang sering Dion dengar. Bahkan Dion sudah hapal betul tiap kalimat itu. Namun entah kenapa sampai saat ini pun Dion masih merasa takut kehilangan Mia.
Tapi malam ini, Mia terus meyakinkan Dion jika tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari Danu. Alasan pertama karena Mia sudah tidak mencintai Danu lagi. Alasan kedua karena Danu juga sudah bahagia dengan Sindi. Masih banyak lagi alasan lain yang membuat Dion yakin jika Mia memang tidak akan berpaling darinya.
"Jadi kamu senang jika aku dekat dengan Danu?" tanya Dion.
Bahkan saat ini pun Dion sudah berani menyebut nama Danu. Padahal biasanya Dion sama sekali anti saat harus menyebut nama itu.
"Mia tidak meminta Aa dekat dengan Mas Danu. Mia cuma gak mau menimbulkan kesan Aa gak percaya sama Mia. Bersikap sewajarnya aja. Aa udah bisa ngobrol berdua di meja aja Mia udah bangga sama Aa," ucap Mia.
__ADS_1
"Aku janji akan berusaha mengurangi rasa cemburuku padanya. Tapi maafkan aku jika tidak bisa menjadi seperti yang kamu harapkan," ucap Dion.
Jujur saja Dion sudah lelah menghadapi rasa cemburunya. Namun sulit rasanya menyudahi semua itu.
"Jangan lakukan itu buat Mia, A. Lakukabbuat Aa sendiri. Jangan terpaksa, karena hanya akan membuat Aa tertekan." Mia mengingatkan Dion
"Sudah malam. Ayo tidur! Besok hari pertama kamu kerja," ucap Dion.
"Iya A," ucap Mia.
Mia merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya. Tidak perlu waktu lama, kini Mia sudah terlelap. Berbeda dengan Dion. Setelah melihat Mia tidur nyenyak, Dion bangun dan duduk di atas sofa kamarnya. Ia berniat untuk melihat kembali video yang dikirim Reza.
Ternyata ada pesan yang belum ia buka dari Reza. Ternyata tak lama setelah video itu, Reza mengirim foto Mia yang tengah tersenyum senang dibalik kecemasannya.
'Saat ego mulai turun, kamu bisa pastikan wanita yang sangat kamu cintai ini terlihat begitu bahagia.'
Dion kembali mengulang video itu. Perlahan ia mulai menurunkan egonya.
Kamu bener Za. Mia pasti akan jauh lebih bahagia kalau aku sama Danu bisa baikan. Terima kasih ya buat semua tanganganmu. Kalau gak begitu mana mau aku memulai semua ini. Maaf juga karena aku udah buruk sangka sama kamu.
Setelah tenang, Dion ikut merebahkan tubuhnya dan terlelap di samping Mia. Hingga ia terkejut saat pagi hari alarm berbunyi begitu keras di dekat telinganya.
"Ya ampun Mia. Apa ini?" tanya Dion sembari mengangkat ponsel Mia.
"Aduh A maaf. Mia pasang alarm. Takut kesiangan," ucap Mia.
Mia segera mengambil ponselnya dan mematikan alarmnya. Ia bergegas ke kamar mandi. Meninggalkan Dion yang masih mengusap-usap telinga dan dadanya bergantian.
Pagi keduanya sibuk bersiap. Tapi meskipun begitu Mia tidak lupa menyiapkan pakaian untuk Dion. Ia juga masih menyempatkan waktu untuk menyusui bayi kembarnya.
"Mana Mia dan Dion?" tanya Tuan Felix saat sudah menunggu untuk sarapan.
"Sepertinya masih di kamar si kembar," jawab Tuan Wira.
Tak lama keduanya datang dan bergabung di ruang makan. Memulai sarapan dengan menunya masing-masing.
"Ma, nanti siang ada undangan makan siang dari teman Papa. Mama mau dijemput?" tanya Tuan Wira.
"Siapa aja yang datang?" tanya Nyonya Helen.
"Banyak lah. Masa Papa harus absen satu-satu," jawab Tuan Wira.
"Ada dia gak?" tanya Nyonya Helen.
"Siapa?" tanya Tuan Wira.
"Pura-pura gak tahu. Bikin kesel," jawab Nyonya Helen.
"Ih, siapa sih?" tanya Tuan Wira.
"Itu, mertuanya Sindi." Dengan raut malas Nyonya Helen menjelaskan siapa orang yang ia maksud.
__ADS_1
"Oh, besan?" tanya Tuan Wira.
Nyonya Helen yakin jika Tuan Wira memang sudah tahu siapa orang yng dimaksud. Namun suaminya itu sengaja menggodanya.
"Iya. Besan Papa," jawab Nyonya Helen ketus.
"Udah dong Ma. Kemarin Papa lihat Mama udah akur. Nyonya Nathalie juga kan udah minta maaf ke Mama dan Mia. Mia juga udah gak marah kan sama dia?" tanya Tuan Wira pada Mia.
Tidak ingin terlibat terlalu jauh, Mia hanya mengangguk dan tersenyum lalu melanjutkan sarapannya.
"Iya Pah. Mama juga udah maafin dia kok," ucap Nyonya Helen.
"Nah gitu dong akur," jawab Tuan Wira.
"Ih kalau bukan karena Sindi, males banget Mama harus ngobrol-ngobrol sama dia. Semua Mama lakuin demi Sindi," ucap Nyonya Helen.
"Lagian Mama kenapa sih kayaknya dendam banget sama dia?" tanya Tuan Wira.
"Dia itu nyebelin banget. Dia selalu mau ngerebut apa yang Mama punya," ucap Nyonya Helen.
"Memangnya apa yang mau dia rebut?" tanya Tuan Wira.
"Pertama setelah dia tahu Mia menantu kesayangan Mama, dia jelek-jelekin Mia tapi ujung-ujungnya baik banget. Pasti dia berharap bisa merebut Mia lagi dari Mama. Kedua, setelah dia gagal merebut Mia, dia merebut Sindi. Bahkan sekarang dia berhasil. Sindi udah ninggalin Mama dan tinggal sama dia," ucap Nyonya Helen.
"Ya ampun Ma. Itu gak ngerebut. Memang karena Sindi jodohnya sama Danu," ucap Tuan Wira.
"Papa kenapa belain dia sih? Papa gak tahu kan kalau dulu dia juga udah ngerebut pacar Mama?" ucap Nyonya Helen.
"Oh, jadi gitu." Tuan Wira pura-pura santai.
"Tuan Ferdinan pacarnya Mama?" tanya Dion.
"Bu-bukan," jawab Nyonya Helen gugup.
Ia terkejut dengan ucapannya sendiri. Kini semua sedang menatapnya. Menunggu penjelasan atas apa yang sudah ia ucapkan.
"Terus pacar Mama yang mana yang direbut sama Nyonya Nathalie?" tanya Tuan Wira.
"Ketua kelas Mama dulu Pah," jawab Nyonya Helen.
"Si Hendrik? Mama pernah pacaran sama dia? Jadi selama ini pemicu pertengkaran kalian bukan karena Mia? Kalian ngerebutin si Hendrik?" tanya Tuan Wira yang mengetahui sosok Hendrik itu.
"Udah lah Pah. Itu kan masa lalu," jawab Nyonya Helen.
"Udah tahu masa lalu, kenapa musuhannya harus sampai sekarang? Udah gitu dia juga nikahnya sama orang lain. Ini berdua masih aja ribut-ribut," ucap Tuan Wira sambil menggelengkan kepalanya.
"Tapi Nathalie ngerebut dia pas Mama lagi sayang-sayangnya," ucap Nyonya Helen.
"Sayang? Makan tuh sayang. Kejar sana si Hendrik. Papa dengar sekarang dia jadi bos. Bos kardus bekas," ucap Tuan Wira sembari meninggalkan ruang makan.
"Pah, Pah. Itu kan cuma masa lalu. Mama cuma sayang sama Papa," ucap Nyonya Helen sembari mengejar Tuan Wira.
__ADS_1
Sementara Dion dan yang lain tertawa saat mendengar cerita Nyonya Helen. Apalagi diakhiri dengan drama kejar-kejaran pagi ini.