
Siang ini, Nyonya Helen mencari Mia ke kamarnya.
"Ayo Mi!" ajak Nyonya Helen.
"Ma," ucap Mia.
Mia memang sudah siap. Tapi Mia ragu saat akan makan siang dengan Nyonya Helen. Pasalnya Dion sudah marah tidak jelas tadi pagi.
"Ada apa? Apa kamu sakit?" tanya Nyonya Helen.
Sakit? Apa aku pura-pura sakit saja ya biar gk jadi ikut makan siang? Ah, ide bagus nih. Eh tidak! Mama pasti bawa aku ke dokter. Mama akan cemas dan menghubungi Aa. Nanti Aa juga cemas. Semua pasti akan jadi rame. Jangan Mia. Bahaya.
"Tidak Ma," jawab Mia.
"Lalu kenapa? Kamu sudah siap kan?" tanya Nyonya Helen saat melihat Mia sudah menggunakan dress hamil warna pink.
Wajahnya sudah sangat cantik. Ketika ditambah dengan sentuhan makeup natural, membuat Mia tidak bosan untuk dipandang.
Kenapa? Apa ya alasannya? Apa Mia jujur saja sama Mama? Iya, sepertinya Mia harus jujur nih.
"Ma, A Dion marah kalau Mia keluar buat makan siang. Mia gak ikut ya!" ucap Mia memelas.
"Hah? Marah? Atas alasan apa?" tanya Nyonya Helen.
Mia menatap wajah Nyonya Helen lalu menggeleng. Mia sendiri tidak tahu alasan jelas kenapa Dion tidak menyukai itu. Hingga ia hanya bisa menjawabnya dengan gelengan kepala.
"Biar Mama yang telepon Dion!" ucap Nyonya Helen.
Mia mengangguk dan melihat ibu mertuanya mondar mandir menelepon Dion. Sepertinya tidak diangkat. Mungkin Dion tahu apa tujuan Nyonya Helen menghubunginya.
"Ish, kenapa gak diangkat sih Dion?" gumam Nyonya Helen.
Ucapan Nyonya Helen memang pelan, tapi Mia masih bisa mendengarnya. Ia merasa kalau semua ini harus diluruskan agar tidak terjadi salah faham.
"Mungkin Aa sibuk Ma," ucap Mia.
"Sesibuk-sibuknya Dion, harusnya ia menjawab telepon Mama. Benar-benar kelewatan kamu ya Dion," ucap Nyonya Helen kesal. "Tunggu sebentar! Nanti Mama ke sini lagi ya!" lanjut Nyonya Helen.
Merasa panggilannya diabaikan, Nyonya Helen keluar dari kamar Mia. Ia harus memastikn apa maksud Dion mengekang Mia seperti ini. Nyonya Helen mengetik sebuah pesan untuk anaknya.
'Angkat atau kau akan menjadi anak durhaka.'
Cukup lama, sekitar 5 menit Dion masih tidak membalasnya. Jangankan menjawab pesannya, dibaca pun tidak. Nyonya Helen semakin geram. Ia tidak tahu kalau di sana ada Dion yang sedang gelisah. Seperti dugaan Mia, Dion menghindar dari Nyonya Helen. Ia tahu apa yang akan dibicarakan oleh ibunya.
Saat Dion sedang bepikir untuk menyikapi ibunya, panggilan itu sudah masuk kembali. Dion memang belum membuka pesan itu. Namun Dion sudah tahu isi pesan dari ibunya.
Dion mengangkat lima jari kanannya lalu mulai bicara dalam hatinya.
Angkat, jangan, angkat, jangan, angkat.Nah loh, Katanya angkat. Angkat gak ya? Ah gak usah deh. Biar pura-pura sibuk aja. Tinggal bilang gak pegang hp, beres deh.
Dion meletakkan kembali ponselnya ke atas meja dan mulai meraih laptopnya. Baru saja jarinya mengetik keyboard, namun sebuah pesan sudah kembali masuk. Dengan penuh rasa penasaran, Dion segera meraih ponselnya dan melihat pesannya. Mata Dion membulat sempurna.
'Telepon Mama sekarang atau Mama kutuk kamu jadi batu.'
Dion mengusap dadanya. Ia merasa dirinya sedang tertekan lahir batin.
Mamaaaa, kebangetan.
Dengan wajah cemberut, Dion menelepon Nyonya Helen.
"Ma," sapa Dion.
"Dari mana saja kamu? Mama tahu sengaja tidak membalas pesan Mama. Iya kan? Rupanya kamu masih punya rasa takut juga ya!" ucap Nyonya Helen kesal.
"Ma, sabar dong. Baru aja aku angkat, Mama udah marah-marah. Mama gak tahu apa kalau aku lagi banyak banget kerjaan?" tanya Dion.
__ADS_1
"Alasan bilang banyak kerjaan. Kamu sebenarnya tahu kan alasan Mama telepon, makanya kmu gak angkat panggilan Mama. Karena takut dikutuk jadi batu, baru deh nelepon Mama. Dion kamu kenapa soh jadi kayak anak kecil gini?" tanya Nyonya Helen.
Hah? Anak kecil? Apa maksud Mama?
"Apa sih Ma? Aku lagi kerja ini," jawab Dion.
Mungkin pura-pura gak ngerti membuat Dion tidak dicerca oleh Nyonha Helen. Tapi tunggu dulu! Sepertinya tidak. Itu hanya harapan Dion. Karena pada kenyatannya, Nyonya Helen terus mendesak Dion.
"Cukup Dion! Telepon Mia dan suruh dia segera pergi dengan Mama. Kamu ini udah kayak ABG labil sjaa. Mau makan siang sama orang tua kamu sendiri juga repot banget sih. Pakai larang-larang Mia segala. Ada Mama dan Papa. Kita cuma bertiga. Ayo cepat telepon Mia!" ucap Nyonya Helen.
Kali ini Nyonya Helen tidak bisa mengalah. Kalau biasanya untuk meminta keputusan Mia, ia harus menunggu persetujuan Dion. Kali ini Nyonya Helen memaksa Dion untuk menyetujui keinginannya. Bukan untuk membuat Mia tampak membangkang pada suaminya, namun ia kasihan karena Mia sudah lama tidak leluar rumah.
Memang bukan hal besar untuk Mia, saat ia harus menghabiskan waktunya di rumah. Kini Mia mulai terbiasa dengan rutinitas yang membosankan itu.
Untuk kali ini, Nyonya Helen ingin membuat Mia bahagia di luar kamarnya, di luar rumahnya. Mia harus tahu indahnya dunia luar. Karena semenjak Mia hamil, menantunya itu jarang sekali ke luar rumah. Mungkin karena saat ini, Dion dan Mia sedang menjalani hubungan jarak jauh. Lagi pula alasan Nyonya Helen untuk mengajak Mia jalan-jalan adalah, untuk mengganti rasa bersalahnya pada Mia karena tidak membawa oleh-oleh.
Nyonya Helen merasa sangat bersalah saat pulang tanpa membawa buah tangan apapun untuk Mia. Pikir Nyonya Helen, ini adalah waktu yang tepat agar Mia juga bisa belanja sepuasnya setelah makan siang.
"Dion, Dion. Kok kamu diam saja?" tanya Nyonya Helen.
"Eh Ma," jawab Dion terkejut.
"Kamu kenapa sih melamun begitu? Kamu masih ragu kalau Mama dan Papa tidak bisa menjaga Mia dan calon cucu kembar kami?" tanya Mia.
"Bu-bukan seperti itu Ma. Ya sudah aku telepon Mia ya!" ucap Dion.
"Sekarang. Mama sama Mia mau makan siang. Kalau kelamaan nanti bisa jadi makan malam," ucap Nyonya Helen.
"Ya ampun Ma, sabar dong. Iya ini aku mau telepon Mia sekarang. Tapi gimana mau telepon Mia kalau Mama belum tutup teleponnya," ucap Dion.
"Loh kok Mama yang salah sih?" tanya Nyonya Helen.
"Bukan salah Ma. Maksud aku, Mama tutup dulu teleponnya. Kan aku harus telepon Mia," jawab Dion.
"Kamu itu ya nyuruh-nyuruh sama orang tua. Lagi pula, siapa yang nelepon? Kan kamu? Masa Mama yang tutup? Tutup sendiri lah," ucap Nyonya Helen.
"Ya sudah. Maaf ya Ma! Dadaaaah," ucap Dion sembari mengakhiri panggilannya.
Ternyata benar apa yang Dion takutkan. Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya beberapa saat setelah Dion mengakhiri panggilannya.
'Kamu itu tidak sopan ya! Main matikan saja teleponnya. Kamu kan bisa sambungkan teleponnya dengan Mia tanpa harus menutup sambungn telepon Mama. Awas kalau kamu melakukan hal itu lagi, Dion. Mama tidak suka.'
Dion mengusap dada setelah berat hati Dion menyetujui Mia untuk makan siang, kini Dion harus menepuk dahinya saat membaca pesan Nyonya Helen.
Padahal Mama yang minta. Tapi kok Mama yang marah sih? Ah gak tahu ah. Aku pusing. Wanita memang tidak pernah salah. Selalu saja aku yang salah.
Selain Dion sedang pusing dan uring-uringan dengan sikap Nyonya Helen, ia juga kesal sendiri dengan keputusannya menyuruh Mia untuk pergi makan siang di luar. Mia juga nampaknya merasa kurang nyaman saat pergi makan siang. Karena Mia tahu betul kalau Dion memang tidak menginginkannya pergi. Tapi apa boleh buat? Kalau Nyonya Helen yang minta, Dion bisa apa?
Layaknya anak kecil, Dion dan Nyonya Helen sering saling cemburu. Siapa yang menjadi bahan cemburunya kalau bukan Mia. Dion dan Nyonya Helen selalu cemburu jika melihat Mia selain dengan dirinya. Walaupun itu dengan suami atau dengan ibu mertuanya.
Ada hal berbeda terjadi saat ini. Saat Dion dan Mia tidak menginginkan acara makan siang ini, justru Nyonya Helen nampak sangat bahagia saat melihat Mia sudah siap dan menunggunya di ruang depan.
"Ayo sayang!" ajak Nyonya Helen sembari merangkul Mia.
Mia tersenyum dan mengangguk. Mengikuti langkah Nyonya Helen untuk pergi makan siang. Di sana Tuan Wira sudah menunggunya. Dan tersenyum lebar saat melihat kedatangan dua wanita hebat dalam hidupnya.
"Papa udah pesan makanan yang paling spesial. Tunggu ya! Mungkin sebentar lagi masakannya datang," ucap Tuan Wira.
Nyonya Helen sudah mengabari kabar yang tidak enak sebelum berangkat pada Tuan Wira. Nyonya Helen juga menyadari kalau Mia menyembunyikan ketidaknyamanannya. Hingga Tuan Wira tahu apa yang harus ia lakukan.
"Waaaah, ini Papa yang pesan?" tanya Mia.
Raut wajahnya langsung berubah. Mia sangat senang saat melihat masakan yanh dipesan Tuan Wira sudah datang. Bagaimana tidak, Tuan Wira memesan masakan sunda. Nasi liwet lengkap dengan lalapan jengkolnya.
"Kamu suka kan?" tanya Tuan Wira.
__ADS_1
Mia mengangguk dan terlihat sangat senang. Sementara Nyonya Helen menatap Tuan Wira. dengan wajah tidak percaya. Wanita yang sudah tidak muda lagi itu tahu kalau cafe dimana ia makan siang, tidak menyediakan makanan khas sunda seperti yang ada di meja.
Tuan Wira mengedipkan matanya pada Nyonya Helen. Sepertinya, istri pengusaha sukses itu tahu bagaimana Tuan Wira. Suaminya tahu bagaimana cara untuk menyenangakan orang yang ia sayang. Apapun caranya dan berapapun harganya, itu perkara mudah untuk Tuan Wira.
"Ayo makan Ma, Pa!" ajak Mia.
Sangat antusias. Mia dengan cepat menyiapkan piring untuk kedua orang tuanya. Mia sudah tidak sabar menikmati menu makan siang yang ada di hadapannya.
Ini makan siang terlahap bagi Mia selama dia hamil. Makan siang kali ini, menjadi pengobat rindu kala Mia sedang rindu masa lalunya bersama sang ibu. Menu ini yang selalu Bu Ningsih masak saat punya uang lebih. Hanya saja, tidak ada ayam goreng seperti saat ini. Makanya Mia tidak memakan ayam goreng yang tersedia di meja makan.
"Makan ayam gorengnya Mia. Biar kamu bergizi. Kasihan cucu kembar Mama," ucap Nyonya Helen.
"Mia izin makan ini dulu ya Ma. Nanti kan gizinya bisa di daat dari vitamin yang Mia minum. Nanti malam Mia makan makanan bergizi lagi kan?" ucap Mia.
"Biarin lah Ma, Mia kan juga butuh menikmati hidup. Benar kata Mia, di rumah kan makanannya sudah pasti bergizi. Sekarang biarlah Mia makan apa yang ia mau," ucap Tuan Wira.
Nyonya Helen mengangguk. Memang ia melihat Mia lebih lahap saat memakan masakan sederhana ini. Selama hamil, Nyonya Helen tidak pernah melihat Mia ngidam yang aneh-aneh. Eh tentu tidak, karena ngidam Mia yang aneh-aneh, itu hanya Dion yang tahu. Nyonya Helen tidak tahu kasus ubi yang berujung pertengkaran baru-baru ini.
Selesai makan siang, Tuan Wira mendapat panggilan dari rekan bisnisnya. Ia menginginkan Mia ikut terlibat dalam bisnis barunya ini. Mereka tertarik dengan kecerdasan Mia. Ternyata mereka sudah menelusuri kalau Mia bukanlah orang yang bekerja di perusahaan Tuan Wira. Alih-alih marah, mereka justru semakin tertarik. Mia tidak bekerja tapi berhasil menyajikan materi dalam berkas itu dengan begitu tertata dan apik.
"Saya minta waktu sebentar Tuan!" ucap Tuan Wira.
Setelah berdiskusi dengan Mia, Tuan Wira mengiyakan dan menerima ajakan rekannya itu untuk bertemu dengan Mia. Tuan Wira membawa Mia beserta Nyonya Helen untuk bertemu dengan rekannya di kantor Tuan Wira. Tidak jauh dari cafe itu, Tuan Wira beserta istri dan menantunya sudah kembali ke kantor. Hanya selang dua puluh menit, rekannya itu sampai.
Tuan Wira menyambut kedatangan mereka dengan sangat sopan. Ada tiga orang yang menemui Tuan Wira. Mereka yang sudah bertemu dengan Mia sebelumnya, langsung membahas proyek baru dalam perusahaannya.
"Kamu yakin jika Nyonya Dion terlibat, proyek ini akan semakin maju." Salah satu dari mereka mulai memuji Mia.
"Anda berlebihan Tuan," ucap Mia dengan sangat rendah hati.
"Tuan Wira, Nyonya Helen, kalian adalah orang tua yang sangat beruntung karena memiliki anak seperti Tuan Dion. Tuan Dion sangat pintar memilih istri yang berkualitas seperti Nyonya Mia," ucap rekan yang lain.
Pujian kedua dan selanjutnya terus membanjiri Mia. Namun Mia sama sekali tidak terbang melayang. Ia hanya senang dalam porsi batas. Ia tahu jika dalam berbisnis, hal seperti ini sudah sangat lazim. Mia tidak aneh dengan cara menjilat seperti ini.
"Terima kasih Tuan," ucap Mia.
"Anda juga tidak perlu khawatir dengan kehamilan Anda. Kami tidak akan meminta banyak waktu, namun ide cemerlang Anda yang lebih utama. Anda masih bisa bekerja dari rumah," ucap salah satu rekan.
"Baik, terima kasih Tuan." ucap Mia.
Setelah semuanya deal, ketiga orang itu izin pulang. Begitu juga dengan Mia dan Nyonya Helen. Sudah waktunya Mia beristirahat. Sementara Mia keluar dari geduh mewah milik Tuan Wira, Mia tidak tahu kalau banyak kamera wartawan yang mengintai Mia. Rupanya mencium kedatangan ketiga rekan Tuan Wira ke kantornya.
Mia menutupi keresahannya. Ia hanya bisa mengangguk dan tersenyum manis saat mendapat panggilan dari para wartawan yang memegang kamera itu.
Besoknya, wajah Mia yang cantik dengan perut besarnya sudah beredar di media massa.
"Apa lagi ini?" teriak Dion sembari melemparkan koran yang ada di tangannya.
Darahnya seolah mendidih, lagi-lagi wajah Mia kembali menghiasi halaman pertama koran yang Dion baca pagi ini. Pesona Mia tidak hanya di Jakarta. Bahkan wanita cantik yang tengah hamil besar itu menjadi buah bibir di kalangan pengusaha Surabaya.
Dengan cepat Dion mengambil ponselnya dan menelepon Mia. Belum juga ia memanggil menelepo Mia, matanya sudah tertuju pada berita yang sama di layar ponselnya. Wajah cantik istrinya lagi-lagi menghiasi kolom info terbaru seputar bisnis.
"Ini benar-benar tidak bisa dibiarkan. Wartawan, kalian jahat sekali. Kenapa istriku bisa kalian ekspose begitu saja? Kalian tidak tahu kalau perawatan istriku itu mahal? Kenapa kalian bisa seenaknya menyimpan foto istriku dimana-mana? Kesaaaal," gerutu Dion.
Perasaan dulu aku tidak sengetop ini deh Mi. Pesona kamu memang luar biasa bersinar Mia. Sepertinya aku kalah pesona dari kamu.
################
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
__ADS_1
Terima kasih..