
"Tuan, Tuan," panggil Mia saat melihat Dion tak ada di sampingnya.
Tak ada jawaban. Mia memijat kepalanya yang terasa agak berat. Melihat dinding kamarnya, jam delapan.
Hah? Sesiang ini?
Mia menyingkirkan selimutnya namun hanya beberapa detik saja, Mia kembali menutup tubuhnya dengan selimut. Mia mencengkram erat selimut yang ada di pelukannya. Wajahnya merah, ia malu sendiri saat tubuhnya terlihat polos.
Mia perlahan menuruni ranjangnya dan menyeret selimutnya hingga pintu kamar mandi. Menanggalkannya di sana dan berjalan pelan menuju kamar mandi.
Di bawah guyuran air, kepala Mia kembali mengingat kejadian malam yang membuat Mia kehilangan harta berharganya. Mia menyelesaikan mandinya dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.
Dion memang bukan pria yang ia cintai saat ini, namun ia bahagia karena memberikan harta berharganya pada pria yang berhak atas dirinya.
Mia keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk. Mia melihat lemari pakaian milik Dion. Membuka dan melihatnya, tak ada bajunya satupun. Mia mencari baju tidur doraemonnya.
"Kemana baju Mia yang semalam ya?" gumam Mia.
Mia duduk di tepi ranjangnya karena tak ada bajunya. Berpikir bagaimana caranya Mia keluar dari kamar Dion hanya dengan menggunakan handuk. Sementara untuk berjalan saja Mia merasa masih sedikit sakit.
Mia meraih ponselnya dan menghubungi Dion, tak ada jawaban.
Kemana dia? Apa jangan-jangan dia kabur setelah mendapat semuanya?
Pikiran Mia tiba-tiba menjadi sangat buruk. Mia berjalan pelan untuk kembali ke kamarnya. Namun langkahnya terhenti saat melihat kertas di atas meja rias. Mia meraih kertas itu dan matanya berkaca.
Bagaimana tidak? Kertas yang berisi surat perjanjian keduanya dirobek. Entah siapa yang merobeknya, namun Mia yakin ini adalah ulah Dion. Apa karena ia sudah mendapatkan apa yang dia mau jadi bisa bersikap seenaknya sendiri.
Tuan, Anda jahat sekali. Mia sudah menyerahkan semuanya tapi ini balasan Anda? Anda jahaaaat.
Jetreeeek
Mia segera menyeka sudut matanya saat mendengar pintu kamar terbuka.
"Mia, sudah bangun?" tanya Dion.
"Sudah, Tuan." jawab Mia.
"Berhentilah memanggilku, Tuan. Telingaku sangat tidak nyaman mendengarnya," ucap Dion.
"Maaf," jawab Mia.
Sejak kapan telingan Anda tidak nyaman dengan panggilan 'Tuan'? Bukankah dulu Anda yang meminta Mia untuk memanggil Anda dengan sebutan itu?
"Panggil aku yang benar," pinta Dion.
"Anda ingin dipanggil apa?" tanya Mia.
"Apa saja yang membuatmu nyaman. Bisa sayang, cinta juga boleh. Apa saja yang enak menurutmu," jawab Dion.
Hah? Sayang? Cinta? Enak menurut Mia? Bukankah itu enak di telinga Anda? Mia bisa-bisa sariawan kalau harus manggil sayang atau cinta. Bisa besar kepala Anda, Tuan.
"Kalau panggil mas, gimana?" tanya Mia.
Mia mencari alternatif lain yang bisa membuatnya aman dari panggilan alay itu. Sebenarnya Mia tidak keberatan saat memanggil suaminya dengan panggilan sayang atau cinta. Hanya saja, rasanya terlalu berlebihan kalau panggilan itu digunakan di depan umum.
"Yakin gak mau panggil sayang atau cinta saja?" tanya Dion.
"Mas, saja. Lebih bagus," jawab Mia.
"Ya sudah. Asal jangan memanggilku dengan sebutan Tuan," jawan Dion pasrah.
Mia mengangguk.
"Oh ya, kamu sudah mandi?" tanya Dion.
"Sudah, mas. Tapi gak ada baju ganti. Baju tidur Mia semalam mana ya?" tanya Mia.
"Aku bawa ke tempat cuci. Ada jejak kita semalam," jawan Dion sambil tersenyum lebar.
Kepalanya kembali mengingat kejadian semalam yang membuat Dion merasa menjadi manusia paling bahagia.
"Mia belum pakai baju. Mau keluar tapi malu kalau cuma pakai handuk," ucap Mia.
__ADS_1
"Oh iya aku belum memindahkan pakaianmu. Sebentar ya! Kamu tunggu di sini saja," ucap Dion.
Sebenarnya aku lebih suka melihatmu hanya memakai handuk seperti itu Mia. Ah, kenapa siang lama sekali? Aku ingin segera malam kembali. Hihi
Tak lama Dion membawa beberapa baju Mia dalam sebuah tas jinjingnya.
"Terima kasih, mas." ucap Mia.
"Kamu kenapa? Sakit?" tanya Dion saat melihat Mia berjalan pelan.
"Iya mas. Masih sakit sedikit," jawab Mia.
"Biar aku bawakan bajumu!" ucap Dion.
Dion memilih salah satu baju dan memberikannya pada Mia. Mia tersenyum dan pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Meskipun Dion sudah tahu semuanya, namun Mia masih merasa malu kalau harus berganti baju di depan Dion.
"Mi, maafin aku ya!" ucap Dion yang menghampiri Mia.
Dion membantu memapah Mia untuk duduk di sofa kamarnya.
"Maaf kenapa?" tanya Mia.
"Gara-gara aku, kamu jadi sakit begini. Tapi aku janji, nanti malam gak bakal sakit kok. Dicoba lagi nanti ya! Kita buktikan. Dijamin gak sakit kok," ucap Dion.
Dih, emang doyan sih kayaknya kamu mas. Bilang aja kamu ketagihan kan? Hehe
"Mas, aku boleh nanya gak?" tanya Mia mencoba mengalihkan pembahasan.
"Sebelum nanya, kamu makan dulu ya! Ini sudah jam sembilan. Kamu bahkan melewatkan sarapan. Kasihan bayi kita kalau kamu tidak sarapan," ucap Dion sambil mengusap perut Mia.
Hah? Bayi? Memangnya benar ya di perut Mia sudah ada bayinya?
"Memangnya di perut Mia sudah ada bayinya, mas?" tanya Mia.
"Kan malam aku sudah nabung, Mi. Berharap baik kan boleh," ucap Dion.
"Kalau ternyata belum ada bayinya?" tanya Mia.
Waw, pintar sekali kamu mas. Bisa banget seolah kamu tidak menginginkan Mia sama sekali. Terus aja gunakan mama kamu buat tumbal. Padahal kenyataannya kamu ketagihan, kan? Jujur saja lah. Dasar cowo gengsian.
"Iya mas," jawab Mia.
Percuma berdebat panjang lebar. Ujungnya akan tetap Dion yang menang. Mia yang sudah kehabisan energi, tak ingin menggunakan sisa energinya hanya untuk mendebat suaminya itu. Percuma, gengsinya di atas segala-galanya.
"Aaaa, buka mulutmu. Kamu harus makan, Mi." Dion mengangkat seseondok nasi di depan mulut Mia.
Mas Dion? Ini kamu? Sebegitu perhatiannya kamu sama Mia? Sampai kamu bawa makan ke dalam kamar dan menyuapi Mia. Mia benar-benar bahagia ini mas. Sumpah, Mia seneng banget Ini. Kalau gak malu, Mia mau jingkrak-jingkrak mas.
"Biar Mia makan sendiri mas," ucap Mia meraih sendok dari tangan Dion.
"Gak, aku saja. Kamu tinggal buka mulutmu dan kunyah makanannya," ucap Dion.
Lama Mia menatap wajah Dion. Pria tampan yang sering marah padanya itu, kini berubah menjadi wanita lembut dan sangat perhatian. Mia tidak pernah menyangka kalau Dion bisa bersikap seperti ini.
"Mia, kamu belum tuli kan?" ucap Dion.
Mia menggeleng dan segera membuka mulutnya. Mia mengunyah nasi yang diberikan oleh Dion. Entah mengapa air matanya tiba-tiba jatuh membasahi pipinya.
"Mia, kamu kenapa?" tanya Dion panik. "Apa makanannya tidak enak? Kamu mau makan apa?" lanjut Dion.
Mia menggeleng. "Terima kasih, mas." ucap Mia.
"Mia, jangan membuatku pusing. Kamu kenapa? Apa itumu sakit lagi?" Tanya Dion menunjuk wilayah pusat Mia.
Mia segera menutup wilayah pusatnya dan menggeleng dengan cepat. Akhirnya Mia jujur, kalau perlakuan Dion benar-benar menyentuh hati Mia. Mia merasa terharu dengan kelembutan dan perhatian dari Dion.
"Mia, aku suamimu. Sebisa mungkin aku akan memberikan yang terbaik sebisaku. Dan saat ini, hanya ini yang bisa aku lakukan untukmu. Kamu suka?" tanya Dion.
"Mia suka mas. Mia suka," jawab Mia yang tak bisa menyembunyikan semua perasaannya. Dengan refleks, Mia juga memeluk Dion dengan sangat erat.
Dion kembali memeluk Mia dan mencium kepala istrinya itu.
"Makan yang banyak ya! Kamu harus sehat, Mia." ucap Dion sambil melanjutkan suapan demi suapan untuk Mia.
__ADS_1
Selesai makan, Dion menagih janjinya untuk mencari tahu alasan Mia masih menjaga benteng pertahanannya meskipun setelah janda dua kali.
"Tapi sebelum aku jawab, mas jawab dulu pertanyaan Mia. Kenapa mas robek surat perjanjian kita?" tanya Mia sambil emmbawa surat perjanjian itu ke hadapan Dion.
"Apa menurutmu surat perjanjian itu masih penting?" tanya Dion.
Mia menatap Dion dengan wajah bingung. Rasa kesal pada Dion terjadi saat suaminya harus menjawab pertanyaan dengan pertanyaan yang lain.
"Maksudnya?" tanya Mia.
"Setelah aku mendapat kejutan darimu, aku tidak pernah berpikir kalau pernikahan kita butuh perjanjian yang tidak penting itu. Terima kasih karena kamu sudah memberikan hadiah yang tak ternilai untuk pernikahan kita. Aku sama sekali tidak pernah berpikir kalau aku adalah pria pertama yang mengambil harta berhargamu. Terima kasih Mia," ucap Dion sambil menggenggam tangan Mia dengan erat.
Mia menatap Dion. Benarkah Dion merasa senang? Apa maksudnya dengan kata tidak butuh perjanjian itu? Lalu nasib pernikahan mereka bagaimana?
"Mia gak ngerti mas," ucap Mia.
Bukan tidak mengerti. Mia hanya tidak ingin kesimpulannya salah. Mia tidak ingin menggantungkan harapannya terlalu tinggi pada Dion. Takut kecewa, mungkin itu yang ada di kepala Mia.
"Ah, kamu merusak suasana romantis deh Mia. Bikin kesel. Intinya aku mencintaimu dan tidak butuh perjanjian apapun itu. Aku hanya ingin kita saling mencintai dan menjalani rumah tangga layaknya sepasang suami istri secara normal. Masih gak ngerti?" tanya Dion kesal.
Ah apa? Mas Dion mencintai Mia? Mas, kamu lagi sadar kan? Kamu gak lagi oleng Kan?
"Ngerti mas," jawab Mia dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
Ah Mia, kenapa wajahmu seperti meledekku begitu sih? Dion apa yang sudah kamu katakan? Kamu bilang mencintai Mia? Bagaimana dengan harga dirimu? Ah tidak Dion. Lupakan masalah harga diri. Mia sudah memberikan segalanya untukmu. Jangan pernah berpikir tentang harga diri lagi di depan Mia. Dia istrimu sekarang.
"Bagus. Jadi aku minta maaf ya kalau aku merobeknya tanpa bilang dulu padamu. Semuanya berubah setelah aku merasa kamu istimewa. Aku benar-benar beruntung karena sudah menikahimu, Mia. Kamu janji ya jangan pernah meninggalkanku," pinta Dion.
"Mia yang seharusnya memohon agar mas tidak meninggalkan Mia. Jujur saja, Mia trauma dengan perceraian. Makanya dalam surat perjanjian itu, Mia tulis tidak mau diceriakan apapun yang terjadi. Mia mohon cintai kekurangan Mia. Terima Mia apa adanya," ucap Mia menggenggam erat tangan Dion.
Dion tersenyum lebar. Pelukan Dion kembali terasa hangat oleh Mia. Bagi Dion, Mia adalah pertama dan terakhir. Tidak terpikir di kepala Dion ketika ia harus berpisah dari Mia. Tanpa Mia minta pun, Dion tidak akan meninggalkan Mia.
"Kamu masih punya utang cerita padaku Mia. Kamu bisa kan jujur padaku tentang cerita masa lalumu? Kenapa kamu masih menjaga harta berhargamu? Masalah apa yang terjadi dalam pernikahanmu sebelumnya?" tanya Dion.
Mia menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang Dion lontarkan untuknya. Tanpa ada yang Mia sembunyikan, ia ceritakan semuanya pada Dion. Bukan untuk membuka aib mantan suaminya, tapi Mia merasa Dion berhak tahu tentang masa lalunya. Dion terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya. Merasa tidak percaya dengan cerita Mia yang masuk ke dalam telinganya.
Begitu kelam kah masa lalu Mia? Dion semakin yakin untuk selalu mencintai dan menjaga Mia hingga akhir nafasnya. Bagi Dion, Mia adalah berlian yang Tuhan titipkan dalam hidupnya untuk memberikan warna baru. Dion berharap hadirnya Mia akan akan membuat Dion semakin baik dan dewasa.
"Mi, terima kasih." ucap Dion sambil kembali memeluk Mia.
"Untuk apa lagi?" tanya Mia.
"Untuk pernikahan kita," jawab Dion.
"Mas, jangan begitu. Mia merasa tersindir. Harusnya Mia yang berterima kasih berulang-ulang begitu. Mia yang beruntung karena mas dan keluarga mas sudah menerima Mia dengan sangat baik. Mia merasa menjadi manusia paling beruntung bisa masuk dalam keluarga kalian," ucap Mia.
Banyak hal yang Dion dan Mia bicarakan. Dari mulai saling jujur tentang makanan favorit, hoby, harapan. Hal itu tentunya untuk saling mengerti satu sama lain. Maklum, pernikahan mereka tidak terjadi atas dasar saling mencintai. Keduanya tidak saling mengenal hingga setelah menikahpun, Mia dan Dion belum saling tahu satu sama lain.
"Sama-sama belajar ya Mi," ucap Dion.
"Iya mas. Bantu Mia ya! Bimbing Mia untuk menjadi istri yang baik buat mas," ucap Mia.
"Kamu juga bantu aku ya! Biar bisa jadi suami yang baik buat kamu. Jangan sungkan untuk mengingatkan aku ya!" ucap Dion.
Lagi, pagi ini bahagia menghiasi diri Mia. Mia benar-benar merasa kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan rasa bahagianya. Mia hanya bisa bersyukur atas nikmat Tuhan yang sudah ia rasakan.
Mia meyakini kalau setiap yang terjadi adalah yang terbaik. Mia sempat merasa kecewa saat harus menjadi janda untuk yang kedua kalinya. Tapi kini Mia sadar, kalau Mia tidak janda, tidak mungkin Mia bisa bersama dengan Dion. Mia tidak akan merasakan sebahagia ini jika ia masih dengan Danu.
Mungkin saat menikah, belum ada cinta di hati Mia untuk Dion. Namun saat ini, setelah mengetahui perasaan dan niat baik Dion, bukan hal sulit untuk Mia mencintai Dion. Tidak ada alasan Mia menolak perasaannya. Dion pria yang nyaris sempurna di mata Mia. Hanya mendengar, melihat, dan merasakan ketulusan Dion saat ini, Mia dengan mudah membuka hatinya untuk Dion.
Mia berjanji akan berusaha untuk menjadi yang terbaik untuk Dion. Apapun akan Mia lakukan untuk selalu membahagiakan Dion.
Mas Danu, seandainya Tuhan memberikan kesempatan untuk bertemu, Mia ingin berterima kasih sama mas Danu. Berkat keputusan mas Danu yang menyakitkan dan sempat menghancurkan hidup Mia, akhirnya Mia bertemu dengan pria terbaik yang sekarang ada di hadapan Mia.
#################
Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.
Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
Terima kasih..
__ADS_1