Janda Bersegel

Janda Bersegel
Pertengkaran sengit


__ADS_3

Malam ini Dion sudah berencana untuk menjenguk anak kembarnya. Dua minggu di Surabaya membuat Dion merasa tidak bisa menunda lagi keinginannya.


"Mi, nanti malam aku jenguk dede kembar. Boleh ya?" bisik Dion.


"Boleh A," jawab Mia tanpa malu-malu.


Semakin lama menikah dengan Dion membuat Mia tidak merasa tidak ada rasa malu dan sungkan lagi pada suaminya.


"Dion, malam ini papa ada undangan makan malam dari teman papa. Kalau kamu gak cape, kamu ikut ya! Papa rasa ini kesempatan yang bagus karena akan berengaruh pada bisnis kita yang di Surabaya," ucap Tuan Wira.


Aduh, gangguan apa lagi ini? Padahal baru niat ya Tuhaaaaan. Masa iya harus gagal sih?


Dion tidak memberi jawaban. Ia hanya melihat ke arah Mia. Mia mengerti maksud suaminya dan segera memberi tanggapan.


"Berangkat saja A. Mau Mia temenin?" tanya Mia.


Rasa malas itu seketika hilang. Mendengar tawaran Mia yang akan menemaninya, membuat Dion langsung semangat dan mengiyakan ajakan Tuan Wira.


"Mi, tapi kalau nanti kamu merasa gak nyaman di pestanya kamu bilang saja. Kita bisa pulamg lebih awal," ucap Tuan Wira.


Bukan, bukan tidak nyaman karena pestanya. Mungkin lebih tepat, tidak nyaman dengan pengunjung pestanya. Karena setahu Tuan Wira, Tuan Ferdinan dan Danu juga akan menghadiri pesta itu. Tuan Wira sebenarnya ingin sekali melarang Mia untuk ikut, ia takut kalau keadaan di sana akan pengaruhi mood menantu kesayangannya itu. Lagi pula, Tuan Wira takut kalau kejadian seperti saat itu terulang kembali.


"Papa tenang aja. Aku akan selalu membuat Mia nyaman di pesta itu," ucap Dion.


Setelah mendengar jawaban Dion, Tuan Wira semakin yakin kalau keputusan Mia untuk menemani Dion tidak bisa dibatalkan.


"A, nanti mau pakai baju apa?" tanya Mia.


Mau pakai baju apa? Mia ini baru jam empat sore. Kamu kok semangat banget sih? Apa karena kamu gak mau aku menjenguk anak kembar kita ya?


"Yang mana saja," jawab Dion.


"Kok begitu sih jawabnya?" tanya Mia.


"Aku lagi gak mood aja Mi," jawab Dion.


"Memangnya kenapa?" tanya Mia.


"Aku mencium ada aroma kegagalan dalam jenguk bayi kembar nanti malam," Jawab Dion.


"Kan jenguknya bisa kalau udah pulang acara. Kita kan cuma mau makan malam, bukan mau berkemah A. Jadi gak akan gagal deh di jamin," ucap Mia.


Jawaban Mia membuat mood Dion berubah seratus delapan puluh derajat. Benar kata Mia, jenguk bayi kembarnya bisa nanti kalau pulang acara makan malam.


"Mama mana?" tanya Dion.


"Iniiii," teriak Nyonya Helen. "Ahh Mia kamu cantik sekali," lanjut Nyonya Helen.


"Aku pikir Mama gak ikut," ucap Dion.


"Ya kalau Mia ikut, Mama harus ikut. Mama kan harus jagain cucu Mama," ucap Nyonya Helen.


Setibanya di pesta, mata Dion mengedar ke setiap sudut ruangan. Jaga-jaga kalau ada Nyonya Nathalie di sana. Dion memang sudah tahu rumus untuk mengalahkan Nyonya Nathalie, tapi selama ia bisa menghindar, kenapa tidak? Bukan takut kalah, namun Dion merasa tidak enak karena bagaimanapun Nyonya Nathalie itu lebih tua dibanding dirinya.


Kadang Dion juga berniat untuk mengalah. Saat berdebat dengan Nyonya Nathalie, bayang Nyonya Helen juga selalu mengisi kepalanya. Dion membayangkan kalau wanita yang ada di hadapannya itu adalah ibunya sendiri. Tapi ya begitulah Nyonya Nathalie, selalu saja bisa memancing emosinm Dion.


"Ayo A. Jangan ngelamun terus. Tenang aja, urusan jenguk bayi kembar sih gampang." Bibir Mia tersenyum lebar.


"Siap, siap. Ayo!" ucap Dion.


Dion menggenggam tangan Mia, sementara di depan Tuan Wira dan Nyonya Helen sudah berjalan lebih dulu. Beberapa kali langkahnya terhenti saat mereka berpapasan dengan sesama tamu undangan. Dari yang sekedar mengucapkan selamat malam, hingga basa basi ke sana ke sini.


"Mia?" panggil seseorang.


Mia menoleh saat namanya dipanggil oleh seseorang.


"Kaliiiin," ucap Mia.


Wajah bahagaianya tidak lagi bisa disembunyikan. Kalin dan Mia memang sering berkomunikasi melalui ponsel, namun ini adalah pertemuannya secara langsung. Tentu Mia bahagia, karena ia merasa akhirnya bisa punya teman ngobrol selain Dion. Lagi pula Dion harus ngobrol dengan rekan-rekannya yang lain. Nyonya Helen juga sudah sering meninggalkan Mia untuk menyapa sahabat-sahabat sosialitanya.


"Mia, maaf ya! Tadi Mama ketemu dulu sama teman Mama," ucap Nyonya Helen.


"Gak apa-apa Ma, Mia juga ada Kalin sama Aa kok. Mama gabung saja sama teman Mama," ucap Mia.


"Aduh, beneran nih?" tanya Nyonya Helen.


Ini yang Nyonya Helen harapkan. Ia ingin sekali menghabiskan malam ini untuk bergosip dengan ibu-ibu sosialita yang lainnya. Karena kalau sampai tidak ikut, bisa jadi Nyonya Helen yang akan menjadi bahan gosip malam itu.


"Iya Ma," jawab Mia.


"Kalin, titip Mia ya!" ucap Nyonya Helen.


"Siap Nyonya. Tenang saja," jawab Kalin.


"Jangan panggil Nyonya, kamu kan temannya Mia. Panggil tante aja. Mau panggil Mama juga boleh," ucap Nyonya Helen.


"Eh, iya tante." Kalin merasa sangat canggung.

__ADS_1


Lambaian tangan Nyonya Helen dengan senyum lebarnya, menandakan kalaun calon nenek itu sedang sangat bahagia. Mia dan Kalin juga bercerita banyak hal. Dion juga mulai meninggalkan Mia karena harus bergabung dengan beberapa relasinya. Namun mata Dion tetap memperhatikan istrinya. Melihat ketulusan Kalin, Dion merasa aman saat meninggalkan Mia dengan sahabatnya itu.


Tapi tidak saat melihat satu per satu orang lain datang dan bergabung dengan Mia dan Kalin. Terlihat sangat asyik, Dion menjadi tidak nyaman. Ada rasa cemburu saat melihat ada beberapa pria melihat istrinya.


"Permisi, saya suami Mia." Dengan lantangnya Dion memperkenalkan diri dan duduk di samping Mia.


Semua yang ada di meja itu melihat ke arah Dion, termasuk Mia dan Kalin. Mia tahu apa yang dirasakan suaminya. Dengan bangga pula Mia menceritakan tentang suaminya.


"Wah, hebat ya Mi. Sekarang sudah jadi Nyonya Bos. Mana Tuan Dion ganteng banget lagi," ucap salah seorang teman Mia.


Tentu saja pujian itu membuat Dion bahagia, tapi tidak dengan Mia. Mia tidak suka saat mendengar ada orang yang mengatakan suaminya tampan. Baginya, cukup dirinya yang menikmati ketampanan Dion.


"Tapi kemarin A Dion bisulan loh," ucap Mia.


"Hah? Masa sih sultan bisulan?" tanya salah satu teman wanita Mia.


"Iya, bisulnya gedeeee banget. Banyak lagi," ucap Mia.


"Aduh, kok gak elit banget sih sakitnya?" sambung yang lainnya.


Mia nampak tersenyum lebar dengan penuh kemenangan. Menatap puas bola mata Dion membulat sempurna, sementara Kalin yang sudah tahu rasa cemburu Mia, hanya menahan tawanya saja.


Mia, bisa-bisanya kamu membeberkan rahasiaku tentang bisul itu. Lagi pula kamu sok tahu banget sih pakai bilang bisulku banyak dan besar. Kamu kan gak lihat bisulku. Cuma satu dan gak gede-gede banget. Ini nih alasan aku gak mau cerita tentang si bisul. Semua gara-gara Mama juga sih. Mia, urusan kita belum selesai, nanti aku pastikan akan menghukummu. Akan aku buat kamu kelelahan sampai tak ada energi untuk mengungkapkan hal receh seperti itu. Lihat saja nanti.


Melihat Dion yang sudah tidak nyaman dengan celetukan-celetukan sahabatnya, Kalin dengan cepat mengalihkan pembicaraan.


"Oh ya mumpung ada Tuan Dion, bisa dong kita sharing tentang masalah kantor. Kebetulan kan kantor kita bekerja di bidang yang sama," ucap Kalin.


Ya, ucapan Kalin membuat Dion merasa lebih nyaman dibandingkan dengan membahas bisul. Dion dan yang lainnya mulai berdiskusi. Dion tidak menganggap mereka saingan, tapi justru saling berbagi ilmu. Termasuk Mia, Dion bahkan mendapat ilmu baru dari Mia. Padahal di rumahnya, mereka sama sekali tidak pernah membahas tentang itu.


Bagi Dion, Mia adalah istrinya dan calon ibu dari anaknya. Nampaknya Dion melupakan kenyataan kalau Mia adalah wanita cerdas, yang bisa membantu menyelesaikan masalah pekerjaannya.


"Mia memang hebat ya! Padahal sudah lama tidak masuk kantor, tapi ilmunya masih saja nempel. Keren deh," puji salah satu teman Mia.


Kini, giliran Dion yang merasa cemburu. Ia sedang berpikir bagaimana caranya agar temannya itu tidak memuji Mia lagi. Pasalnya, teman yang memuji Mia itu adalah pria. Dan perlu diakui, walaupun ia bukan seseorang yang berpengaruh namun memiliki wajah yang tampan.


Tapi masih kalah jauh sih sama aku.


Baru saja Dion akan melancarkan aksinya, kegiatan inti segera dimulai. Dimana semua orang fokus pada seorang pria yang berdiri di depan. Ucapan terima kasih dan basa basi lainnya dibahas, hingga Dion tidak bisa melanjutkan aksi julid pada istrinya.


"Sayang, masih kuat? Atau mau pulang sekarang?" tanya Dion.


Mia terlihat gelisah. Dari cara duduknya, Mia nampak sudah tidak nyaman.


"Gak A. Mia cuma pegal saja," ucap Mia mengusap pinggangnya.


"Ayo pulang!" ajak Dion.


Dion mengajak Mia untuk bergeser dan duduk d in belakang. Dion menjauhkan kursinya dan menarik kaki Mia. Ia menyimpan kaki Mia di atas pangkuannya.


"A, jangan begini." Mia berusaha menarik kakinya.


"Kakinya di luruskan aja Mi. Aku tahu kamu pasti gak nyaman kan?" tanya Dion.


Meskipun di belakang, namun nyatanya ada beberapa pasang mata yang melihat kejadian itu. Bagaimana dengan tulusnya Dion mminat lembut kaki Mia yang ada di pangkuannya.


"Nyonya Nathalie?" ucap Mia pelan.


Ya, tidak salah lagi. Ada Nyonya Nathalie di pesta yang sama. Namun ada yang berbeda dengannya malam ini. Wanita yang sangat membenci Mia dan selalu berusaha memancing keributan itu, tidak bertindak seperti biasanya. Ia cenderung menghindar dan seolah-olah tidak melihat kehadiran Mia dan Dion.


"Aku juga tahu ada dia. Tapi sepertinya dia baru minum obat. Makanya masih bisa dikendalikan," bisik Dion di telinga Mia.


Mia masih penasaran dengan sikap Nyonya Nathalie malam itu. Ia masih menunggu, mungkin setelah acara selesai Nyonya Nathalie akan mengganggunya lagi. Namun sepertinya prediksi Mia salah. Hingga acara selesai, Nyonya Nathalie bahkan tidak sekalipun menyapa Mia. Mantan mertuanya itu pergi begitu saja tanpa mengucapkan apapun.


"A?" tanya Mia.


"Dosis obatnya tinggi. Jadi masih aman sampai acara selesai," jawab Dion.


"Ish, Aa nih ada-ada saja." Mia memukul tangan Dion.


Selama dalam perjalanan pulang, Mia tak berhenti memikirkan sikap Nyonya Nathalie yang berbeda dari biasanya.


"Eh, Mia tahu gak tadi Mama ketemu sama wewe gombel loh. Tapi dia kayaknya kurang vitamin deh," ucap Nyonya Helen.


Seolah merasa pertanyaannya disambut hangat, Mia segera merespon ucapan ibu mertuanya.


"Iya Ma. Tadi juga Mia ketemu, tapi gak kayak biasanya ya?" tanya Mia.


Kemungkinan-kemungkinan yang keluar dari kepala Mia dan Nyonya Helen membuat Tuan Wira geleng-geleng kepala. Belum lagi Dion yang ikut menyambar dan membuat dua Wnit itu semakin heboh.


"Di, kamu ngapain sih pakai acara ikutan segala? Udah kayak emak-emak aja ikutan gosip. Diam lah, malu sama jas." Tuan Wora menarik ujung jas Dion.


Seketika Dion bungkam, sedangkan Nyonya Helen dan Mia tertawa lepas mendengar ejekan Tuan Wira pada Dion. Akhirnya Dion hanya jadi pendengar saat istri dan ibunya sibuk bergosip. Gosip itupun terhenti saat mobil sudah sampai di depan rumah.


"Mia, belum ngantuk kan?" tanya Dion saat Mia sedang melepas bajunya.


Mia tahu arah pertanyaan itu. Seperti janjinya, Mia akan membiarkan Dion menjenguk anak kembarnya selesai acara makan malam itu.

__ADS_1


"Gak A. Mau sekarang?" tanya Mia.


"Sekarang aja! Gak usah ditunda lama-lama. Takut basi," ucap Dion.


"Enak aja. Ini tuh gak pake formalin tapi tetap awet. Gak bakal basi," ucap Mia.


"Iya memang awet. Baunya awet. Eh kamu tahu gak aku kalau di Surabaya kangen loh sama yang awet-awet itu," ucap Dion.


"Dih, mana ada bau. Gak dong," ucap Mia.


"Ya kamu bayangin aja. Tiap hari kamu cuci, tapi gak pernah kamu jemur. Gimana gak bau?" ucap Dion sambil menahan tawanya.


"Aa, mana ada bau. Gak bau sama sekali. Masa iya harus Mia jemur sih?" ucap Mia kesal.


"Hahaha, udah dong jangan ngambek. Iya, iya wangi kok. Aku kan cuma bilang baunya khas. Dan aku tuh kangen sama aromanya," ucap Dion sambil mencubit gemas pipi Mia.


"Nah itu bisa pakai kata aroma. Lebih enak di dengarnya, dari pada pakai kata bau. Lain kali, pilih kata yang lebih enak masuk ke telinga ya!" ucap Mia.


"Iya lain kali aku cari kata yang enak masuk ke telinga. Tapi sekarang aku mau kasih kamu yang enak masuk ke...," ucap Dion.


"Apaan sih Aa?" ucap Mia malu-malu.


"Siap ya?" tanya Dion.


Mia mengangguk. Gerak cepat. Lebih cepat dari biasanya, Dion menggulung dirinya dan Mia dengan selimut putih tebal yang ada di atas ranjangnya. Tak lama, Dion membuka selimut itu dengan nafas terengah-engah.


"Maaf ya A," ucap Mia.


Mia menyeringai dari balik selimut.


"Mia, kamu itu merusak suasana saja. Heran deh," ucap Dion kesal.


"Kan gak sengaja A. Udah gak tahan," ucap Mia.


"Ya kalau kamu mau kentut bilang dong. Udah tahu kita dalam selimut," ucap Dion.


"Kan bibir Mia ketutup bibir Aa," ucap Mia.


Dion sangat kesal saat mencium bau kentut ketika sedang menjiwai adegan romantis di bawah selimut. Namun benar kata Mia, bagaimana Mia bisa bilang kalau bibirnya terkunci oleh bibir Dion.


Tidak! Tapi kan dia bisa melepaskanya. Tetap Mia yang salah.


"Mulai lagi yuk A!" ajak Mia.


Ajakan Mia membuat Dion berusaha melupakan kejadian konyol yang merusak suasana itu. Dion mulai membuat fantasi baru dengan Mia. Kali ini tidak di bawah selimut. Trauma itu masih membekas di kepala Dion.


Fantasi yang terbentuk kali ini semakin panas. Hingga membuat tubuhnya panas meskipun AC sudah menyala sejak tadi. Namun, tragedi itu kembali terjadi.


"Ya Tuhaaaan, Mia kamu kentut lagi?" ucap Dion kesal.


"Maaf, A." Mia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Mia, aku tidak melarangmu untuk kentut. Tapi ya tolonglah kamu tahu situasi. Kamu bisa kan kentutnya nanti saja kalau kita sudah beres?" tanya Dion.


"Mana bisa kentut direncana begitu. Ini juga Mia udah tahan, tapi Kenyataanny gas itu terus terdorong dan Mia cuma bisa pasrah." Mia membela diri.


"Pasrah, pasrah, parah sih ini namanya. Belum juga jenguk bayi kembar, udah kena gas beracun dua kali. Kamu gak lihat nih? Dia sampai langsung pingsan begini," ucap Dion menunjuk benda pusakanya.


Mia menahan tawanya.


"Ya jangan salahin Mia. Aa yang salah," ucap Mia.


"Loh kok aku?" tanya Dion.


"Suruh siapa bawa ubi cilembu? Ini tuh efek dari ubi cilembu tahu," ucap Mia.


"Hah? Suruh siapa? Kan kamu yang mau," ucap Dion.


"Ya kan Aa bisa aja gak bawa ubi cilembunya. Kalau Aa bawa berarti Aa udah siap dong sama konsekuensinya. Gimana sih? Begitu aja gak ngerti. Heran deh," ucap Mia.


Eh gimana? Kamu gak ngerti? Heran? Aku. Aku yang harusnya ngomong begitu. Pakai bilng siapa suruh, bisa aja gak bawa. Ubinya ketinggalan di mobil aja, aura muka udah gak sedap. Apalagi kalau gak bawa, bisa amuk-amukan kayak yang kesurupan kan?


"Aku bawa karena aku gak mau si kembar sampai ngeces gara-gara keinginannya gak terpenuhi. Kurang ngerti apa coba?" ucap Dion.


"Oooh, jadi cuma karena bayi kembar aja? Bukan karena aku? Aa udah berubah ya sekarang? Aa udah gak sayang lagi sama Mia," ucap Mia dengan mata yang berkaca-kaca.


Ya Tuhaaaaan, salah lagi aku. Kamu kenapa sih Mi? Kamu bilang aku gak sayang lagi sama kamu? Terus itu ubi sebelum masuk ke perut kamu, lewatnya kemana? Masa iya ke kerongkongan aku dulu? Kan lewat kerongkongan kamu Mia. Kamu yang gak ngerti. Pusing aku.


Pertengkaran sengit antara Mia dan Dion pun masih terus berlangsung hingga akhirnya mereka lupa kalau lapak untuk bertempur sudah tersedia.


#################


Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.


Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍

__ADS_1


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


Terima kasih..


__ADS_2