
Hari ini libur. Danu merindukan sosok Mia yang selalu membuatnya dongkol tapi menggemaskan. Wanita dengan status janda itu sudah membuat hari-harinya menjadi lebih berwarna.
"Temui Mia, tidak baik kau seperti itu. Senyum-senyum sendiri dari tadi," ucap Tuan Ferdinan.
Danu dan Nyonya Nathalie menatap Tuan Ferdinan dengan sangat bingung. Danu mengerutkan dahinya dan menatap ibunya. Benarkah apa yang ia dengar? Apakah Tuan Ferdinan tidak sedang mengigau?
"Ayo sayang! Kalau bisa, ajak Mia ke sini. Mami rindu padanya," ucap Nyonya Nathalie memperkuat ucapan Tuan Ferdinan.
"Jangan! Jangan bawa Mia ke sini. Aku sedang banyak pekerjaan," ucap Tuan Ferdinan.
"Apa hubungannya pekerjaanmu dengan Mia? Bukankah Mia justru bisa membantumu?" tanya Nyonya Nathalie.
"Anak itu selalu ada saja sikapnya. Aku bisa darah tinggi dan pekerjaanku bisa tidak selesai, sayang. Tolong mengertilah," ucap Tuan Ferdinan.
"Dia anak yang baik. Kau saja yang selalu membuatnya bertingkah. Jadi pusing sendiri kan?" ucap Nyonya Nathalie.
"Hey, kenapa kau membela Mia? Aku suamimu," ucap Tuan Ferdinan.
"Siapa yang bilang kau sopirku? Mia tidak harus dibela. Tapi kau yang harus sadar diri dengan kelakuanmu," ucap Nyonya Nathalie.
Entah mengapa, Nyonya Nathalie begitu menyayangi Mia meskipun baru pertama kali mereka bertemu. Mia memberikan kesan unik dan mampu menyentuh hatinya saat pertemuan mereka yang pertama. Tak butuh alasan untuk menyayangi seseorang. Karena rasa itu anugerah yang harus kita apresiasikan. Membela Mia dari Tuan Ferdinan adalah salah satu cara mengapresiasikan rsa sayang Nyonya Nathalie pada Mia.
"Sejak kapan kalian berani menentangku begini? Semua gara-gara Mi--," Tuan Ferdinan menghentikan ucapannya saat menyadari kalau Danu tidak ada di sana.
Saking asyiknya berdebat, Tuan Ferdinan dan Nyonya Nathalie tidak menyadari kepergian Danu. Sudah cukup lama Danu meninggalkan pertunjukan ambyar di pagi itu, dan kedua orang tuanya baru menyadari semua itu sekarang.
"Dasar anak itu! Menyesal aku menyuruhnya menemui Mia," ucap Tuan Ferdinan kesal dan meninggalkan istrinya ke ruang kerja.
Tuan Ferdinan adalah pria yang gila kerja. Baginya bekerja adalah napasnya. Tapi sayangnya, semua itu tidak turun ke anak semata wayangnya. Danu memang bekerja dan mengikuti arahan ayahnya untuk membantunya di kantor. Tapi Danu tidak terlalu bersemangat. Belum lagi di usianya yang ke 35 tahun ini, Danu tidak pernah mengenalkan wanita kepada orang tuanya.
Nyonya Nathalie juga bingung. Sering mendengar anaknya berganti-ganti wanita, tapi tak satupun yang dikenalkan padanya. Hanya Mia yang dibawa ke rumah. Makanya Nyonya Nathalie berusaha membuat Mia bertahan dengan Danu. Ada ketakutan dalam hati Nyonya Nathalie jika Mia meninggalkan Danu. Saat ini, hanya Mia harapan Nyonya Nathalie. Itulah sebabnya Nyonya Nathalie membela Mia habis-habisan di depan suaminya.
Danu tersenyum sendiri saat mengingat kedua orang tuanya berdebat.
"Mia, pesonamu meramaikan rumahku," gumamnya dengan tawa renyah.
Benar apa yang diucapkan Danu. Selama ini, rumahnya sepi. Hanya suara berat Tuan Ferdinan yang mendominasi rumah itu. Tapi semenjak ada Mia, baik dirinya ataupun ibunya selalu saja berani mengemukakan perasaannya. Sejak dulu, mana ada yang berani adu argumen dengan seorang Tuan Besar. Tak ada!
Mobil Danu sudah terparkir di kostan Mia. Nampak sangat sepi. Wahar saja sepi, kostan yang kumuh. Kumuh di mata Danu, karena bagi Mia kostannya sangat nyaman.
"Permisi," suara yang dikenali Mia terdengar oleh si penghuni kost.
"Tuan Muda?" ucap Mia saat membuka pintu kamarnya.
Danu masuk ke dalam kamar kost Mia tanpa dipersilahkan.
__ADS_1
"Tuan, jangan masuk. Di sana saja!" ucap Mia menunjuk ruang tamu. Ruangan yang khusus di siapkan oleh pemilik kost untuk menerima pengunjung.
Namun Danu sudah terlanjur masuk. Danu melihat ke setiap sudut kamar Mia. Sangat rapi. Danu tidak menyangka kalau kost yang terlihat kumuh dari luar, ternyata sangat tertata rapi di kamar Mia.
"Kau yang membereskannya?" tanya Danu.
Mia mengangguk dan mengerti arah pertanyaan Danu.
"Nanti kalau saya sedang santai, saya akan membereskan halaman depannya agar terlihat lebih cantik," ucap Mia.
"Baguslah. Supaya orang lain tahu kalau ada kehidupan di sini," ejek Danu.
Danu keluar dari kamar Mia dan melihat wanita itu cemberut. Danu yang gemas mencubit bibir Mia.
"Ish," Mia menepis tangan Danu yang mencubit bibirnya.
Danu dan Mia sudah duduk di ruang tamu. Segelas air putih dan biskuit roma kelapa di sajikan oleh Mia.
"Tak usah repot-repot. Duduklah! Aku ingin bicara denganmu," ucap Danu.
Mia duduk di kursi kayu yang berhadapan dengan Danu. Mia menatap Danu yang terlihat sangat serius.
"Mia, apa kau benar-benar mau menikah denganku?" tanya Danu.
"Apa alasanmu menikah denganku?" tanya Danu.
"Kau orang yang baik dan sudah mewujudkan impianku untuk bekerja di kantor," jawab Mia.
"Kenapa kau ingin menikah lagi? Tidak adakah trauma dalam hidupmu?" tanya Danu.
"Saya lebih trauma dengan status saya. Banyak orang di kampung yang melihat dengan sebelah mata, saat saya kerja di kota dengan status saya sekarang. Bukankah lebih baik jika ada suami yang melindungi dan menjaga? Saya rasa kodrat wanita itu ingin dilindungi," ucap Mia.
"Bagaimana kalau suamimu ternyata punya kekurangan yang fatal dan kamu menyesal saat menikah nanti?" tanya Danu.
"Setiap orang pasti punya kekurangan. Begitu juga dengan saya. Masalah fatal atau tidak, tergantung dari orang yang memandang kekurangan pasangannya. Menikah itu bukan mencari persamaan, tapi menyatukan perbedaan. Menikah itu jangan mencari yang sempurna, tapi cintailah pasangan kita dengan cara yang sempurna. Manusia itu tidak ada yang sempurna," ucap Mia.
Danu menatap Mia dengan bingung. Tak menyangka kalau wanita polos ini bisa mengucapkan kata-kata indah yang membuat hatinya begitu tenang. Danu sudah yakin dengan pilihannya. Mia adalah orang yang paling tepat untuk mendampinginya. Wanita yang akan setia dengan kekurangannya.
"Kalau kau sudah tahu ternyata aku punya kekurangan yang sangat fatal, dan ternyata ada pria lain yang hampir sempurna mendekatimu, apakah kau akan meninggalkanku?" tanya Danu.
"Aku paling tidak suka dengan pengkhianatan." Mia menjawab dengan sangat sinis.
Berarti Pak Haji itu? Tidak mungkin dia selingkuhannya. Ah, siapapun dia tak penting lagi bagi Danu. Yang Danu yakini kalau Mia akan menjadi istrinya ketika ayahnya sudah merestuinya.
Hari sudah sore, Danu sudah pulang. 5 menit dari kepulangan Danu, Haji Hamid menelepon Mia. Haji Hamid memang selalu datang di waktu yang tepat. Mia menceritakan apa yang sudah dibicarakan dengan Danu. Ya, tentang rencana pernikahan mereka. Haji Hamid sangat mendukung keputusan Mia. Haji Hamid memang sudah sembuh, tapi perasaannya terhadap Mia tidak berubah. Haji Hamid hanya menganggap Mia sahabat kecilnya saja. Bahkan cenderung menganggapnya sebagai anak. Perbedaan usia yang terpaut 30 tahun membuat Haji Hamid menyadari kalau Mia berhak bahagia dengan masa depannya.
__ADS_1
Saat mendengar cerita Mia tentang Danu, Haji Hamid merasa ingin bertemu dengan Danu. Berterima kasih dan menitipkan Mia agar selalu menjaga wanita baik itu. Seandainya Haji Hamid punya nyali besar untuk mengakui kekurangannya, mungkin Haji Hamid akan menceritakan semua cerita rumah tangganya. Mia belum pernah disentuhnya sebagai seorang istri, Danu akan sangat beruntung menikahi wanita cantik dan cerdas seperti Mia. Tapi Haji Hamid tak memiliki nyali sebesar itu, biarlah waktu yang akan menjawabnya.
Danu juga akan tahu kalau pernikahan mereka terjalin bagaikan lelucon. Menikah selama 5 tahun tapi tidak pernah sekalipun saling melengkapi secara batiniah. Wanita mana yang bisa bertahan hidup berumah tangga seperti Mia? Mia sanggup mengurus rumah tangganya selama 5 tahun dengan setia tanpa mengeluh sama sekali.
"Maaf ya Pak Haji, Mia jadi curhat begini." Mia jadi malu sendiri.
"Tak apa Mia. Kau boleh menceritakan apapun padaku. Anggap saja aku ayahmu, saudaramu, atau sahabatmu yang siap mendengarkan curhatanmu ya!" ucap Haji Hamid.
"Tapi kalau Mia nikah, Pak Haji datang ya! Mia kan tidak punya keluarga selain ibu dan Pak Haji," ucap Mia.
"Siap! Aku pasti datang." Haji Hamid berjanji jika waktunya tepat, maka ia akan datang di hari bahagia Mia.
Setelah sambungan telepon itu terputus, Haji Hamid tersenyum membayangkan wajah Mia. Tawa bahagianya tergambar jelas dalam ingatannya. Wanita yang polos itu kini akan mengakhiri masa jandanya.
"Berbahagialah Mia. Ini sudah waktunya. Aku hanya bisa mendoakanmu agar selalu bahagia," gumam Haji Hamid.
Sementara Danu yang pulang dengan raut bahagia, disambut baik oleh Nyonya Nathalie.
"Bagaimana sayang?" tanya Nyonya Nathalie saat melihat Danu sudah pulang.
"Apa sih Mi," ucap Danu malu-malu.
Nyonya Nathalie meyakinkan Danu agar bisa terbuka dengannya. Karena ibunya itu adalah pendukung hubungannya dengan Mia. Nyonya Natahlie berharap banyak dari wanita polos itu.
"Mama sudah ingin menggendong cucu, sayang. Ayolah!" ucap Nyonya Nathalie saat tahu respon positif dari Mia.
Cucu? Menikah saja belum, sudah membahas cucu. Danu bergidik menbayangkan semua itu.
"Aku ke kamar dulu ya Mi," teriak Danu yang berlari meninggal Nyonya Nathalie.
"Hey, jangan kabur. Kau jangan malu-malu sama Mami sayang. Cerita saja! Nanti Mami ajarin jurus jitu ya sayang," teriak Nyonya Nathalie.
"Jurus jitu apa?" tanya Tuan Ferdinan yang tiba-tiba muncul di belakang Nyonya Nathalie.
"Aiiiih,, Papi kepo." Nyonya Nathalie menjawab dengan jutek dan meninggalkan Tuan Ferdinan.
"Jurus jitu?" gumam Tuan Ferdinan dan Danu di tempat yang berbeda. Keduanya bergidik membayang jurus jitu yang belum jelas gerakannya seperti apa.
##################
Tap Like dan vote seikhalsnya kakak..
Mau kasih Koin? Boleh banget akak..ehehe...
Happy Reading ya..
__ADS_1