Janda Bersegel

Janda Bersegel
Bertemu Danu


__ADS_3

Pagi buta Haji Hamid sudah siap dengan kopernya yang disiapkan dari jauh-jauh hari. Tak ada yang bawa. Hanya beberapa stel pakaian saja. Semua yang Haji Hamid miliki, mutlak menjadi milik Mia. Diiringi derai tangis dari Mia, Haji Hamid melambaikan tangan dengan mobilnya. Bu Ningsih selalu berada di samping Mia. Berusaha menguatkan Mia. Namun air mata itu tak bisa ia bendung lagi.


Melewati hari-hari yang berat membuat Mia kurang memperhatikan asupan makanannya. Mia hanya menangis hingga akhirnya Mia tidur karena kelelahan. Bu Ningsih prihatin atas apa yang terjadi pada anaknya itu. Untaian doa selalu terucap dari bibir ajaib sang ibu, berharap Mia bisa mendapat kebahagiaan yang lain.


Status janda yang sangat Mia takutkan memang jadi kenyataan. Meskipun sebagian ada yang prihatin, namun sebagian ada juga yang mencemooh statusnya. Rasa sakit itu kian dalam saat menuding Mia tidak bisa merawat Haji Hamid hingga Haji Hamid menikah lagi.


Haji Hamid memang memberi tahukan pada sebagian warga alasan mereka bercerai. Haji Hamid yang tidak ingin Mia disalahkan, membuat alasan bahwa perceraian itu terjadi karena Haji Hamid memiliki istri baru. Namun nyatanya, pengorbanan Haji Hamid itu tidak berjalan mulus. Bagi orang-orang yang membenci dan sirik pada Mia, masih terus saja menganggap Mia penyebabnya.


Mia tersenyum ketir saat mendengar ucapan ibu rumpi tentang dirinya. Benar kata Haji Hamid, mungkin Mia harus ke kota untuk mencari pekerjaan sesuai dengan ijazah yang dimilikinya. Mia juga memegang 2 buah kartu ATM dari Haji Hamid. Yang satu jumlahnya mencapai puluhan juta rupihah, yang satu lagi Mia tidak tahu berapa nominal yang tersimpan dalam kartu ATM itu. Mia tidak pernah mengeceknya dan tidak berniat mengambilnya sementara ini.


Mia berniat untuk pergi ke kota, mencari pekerjaan agar hidupnya bisa layak. Ah, tidak! Bukan karena sekarang merka tidak layak. Saat ini mereka hidup dengan sangat mewah. Namun itu adalah harta peninggalan Haji Hamid. Mia tidak ingin mengganggunya. Mia ingin hidup layak dengan hasil keringatnya.


Jiwa mandiri yang sudah Mia bangun sejak dulu, membuat Mia tidak bisa seenaknya menggunakan semua yang Haji Hamid berikan padanya.


Setelah seminggu kepergian Haji Hamid dari rumah itu, Mia memutuskan untuk pergi juga dari rumah itu. Dengan izin dari Bu Ningsih, Mia pamit untuk mencari pekerjaan. Sebenarnya Bu Ningsih tidak mau melepas Mia untuk pergi sendiri. Namun Bu Ningsih paham, saat ini Mia bukan hanya ingin bekerja. Tapi Mia juga ingin menghindari ibunya. Mia ingin menumpahkan semua rasa sakitnya sendirian. Mia tidak mau melihat Bu Ningsih ikut bersedih karena kesedihannya.


Tiba di Jakarta, kota metropolitan dengan segala kemewahan. Mia berdiri menatap bangunan-bangunan tinggi di sana. Rasa ragu dan minder membuat Mia mengurungkan niatnya yang sudah bulat. Mia lebih memilih untuk mencari dulu tempat tinggal. Dengan bekal kartu ATM, Mia menggunakannya untuk membiayai hidupnya sebelum bekerja. Namun Mia berjanji, nanti Mia akan menggantinya setelah Mia mendapatkan kerja.


Mia memilih kost yang sederhana. Cukup murah dibandingkan yang lain. Meskipun Mia sempat tercengang dengan harganya. Kalau di kampung bayar kost seharga itu bisa dapat sewa rumah besar. Tapi di Jakarja, Mia hanya dapat sebuah kamar saja. Kejamnya hidup di kota membuat Mia harus ekstra menghemat.


Hari-hari Mia jalani dengan membawa ijazah dan surat lamaran. Masuk dari kantor satu ke kantor yang lain. Hasilnya masih nihil. Tidak seperti yang Mia bayangkan. Mia pikir dengan ijazah dan kemampuan yang Mia miliki, mencari kerja tidak akan sesulit itu. Mia sempat putus asa dan akan kembali ke Jakarta. Tapi Tuhan belum mengizinkan, sampai akhirnya Mia bertemu dengan seorang pria muda yang terkapar di sebuah taman. Saat itu Mia hendak berjalan-jalan mengelilingi kota Jakarta sebelum pulang ke Bandung.


Mia berteriak meminta bantuan agar membantu pria itu dan membawanya ke rumah sakit. Di sana, pihak rumah sakit meminta seorang penjamin untuk pasien, semua orang mundur. Mia bingung karena tidak ada keluarga yang bisa dihubungi. Dengan banyak pertimbangan, Mia menjamin pengobatan pria itu.

__ADS_1


"Pak Haji, maafin Mia ya! Mia pinjam dulu uang Pak Haji. Suatu saat Mia janji mau ganti uang Pak Haji. Mia janji. Suerr deh," gumam Mia.


"Maaf mba, apa?" tanya pihak administrasi.


"Eh, tidak.. Tidak.." ucap Mia gugup.


Selesai membayar administrasi, Mia menemui pria tadi. Memastikan kalau pria itu baik-baik saja dan bisa segera kembali ke rumahnya.


"Permisi," ucap Mia membuka pintu kamar rawat inap pria itu.


"Kau yang menolongku?" tanya pria itu.


"Iya," jawab Mia mengangguk. "Bagaimana keadaanmu?" lanjut Mia.


"Sudah membaik," ucap pria tadi.


"Alhamdulilah, terima kasih ya mas." Mia tersenyum bahagia saat mendengat ucapan pria itu. Hatinya berbunga karena Mia tak perlu mengganti uang Haji Hamid. Pria itu akan membayarnya sendiri.


Pria itu menatapnya bingung. Ternyata di ibu kota masih saja ada gadis polos dan apa adanya. Tidak jaim sama sekali. "Oh ya, namaku Danu. Siapa namamu?" tanya Danu yang mengulurkan tangannya.


Mia membalas uluran tangannya dengan senyum cantiknya. "Mia," Jawabny singkat.


Danu tersenyum melihat Mia. Wanita ini cantik, namun terlihat lebih kampungan. Pakaiannya dan gaya rambutnya yang dikepang terlihat sangat norak. Danu berpikir bahwa gadis ini sari desa. Benar saja! Saat Mja menyebutnya dari Bandung pelosok, Danu menahan senyumnnya.

__ADS_1


"Mia kenapa kamu membantuku? Padahal kita tidak kenal sama sekali," selidik Danu.


"Kan membantu orang itu tidak harus kenal. Bagaimana caranya aku kenalan kalau masnya pingsan?" ucap Mia.


Danu tertawa, namun Mia justru terlihat sangat bingung. Danu segera mengalihkan fokus Mia.


"Kau tinggal dimana dan apa pekerjaanmu?" tanya Danu.


Mia menjawab semuanya dengan segala kejujurannya. Tidak ada yang ia tutupi. Begitulah Mia. Selalu berbaik sangka pada setiap orang. Danu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sepertinya sebuah ide cemerlang muncul di kepalanya. Meskipun mungkin akan gagal, tapi kemungkinan berhasilnya bisa mencapai 90 persen.


Danu adalah anak tunggal dari seorang CEO di perusahaan XYZ yang bergerak di bidang batu bara. Harta yang dimiliki Danu sudah tidak bisa diragukan lagi. Namun permintaan konyol ayahnya membuat Danu stres dan hampir setiap hari mabuk-mabukan.


Ayahnya meminta Danu segera menikah. Usianya yang sudah 35 tahun dirasa sudah sangat cukup untuk memiliki seorang anak. Calon pewaris di perusahaannya kelak. Wajah tampan Danu dan harta yang dimilikinya, tidak akan membuat Danu kesusahan untuk memilih salah satu wanita untuk dijadikan pendamping. Namun nyatanya, Danu tidak pernah melakukan itu semua.


Penekanan dari ayahnya membuat Danu berpikir keras bagaimana mendapat istri yang bisa menerima kekurangan yang orang lain tidak tahu tentang dirinya. Dan ketika melihat Mia, Danu merasa kalau wanita ini bisa membantunya.


Danu sengaja meminta waktu untuk membicarakan beberapa hal dengan Mia. Dari mulai kebiasaannya, hingga kemampuan yang dimilikinya. Betapa terkejutnya Danu saat mendengar wanita yang terlihat kampungan itu, ternyata terbiasa msngerjakan semua pekerjaan rumah sendiri. Padahal Mia memiliki ijazah S1 di bidang akuntansi dengan nilai memuaskan.


Danu berdecak Kagum. Berbeda dengan wanita lain yang akan cari perhatian padanya, namun Mia justru terlihat sangat cuek dan santai saat Danu memujinya habis-habisan.


Danu tersenyum puas. Wanita ini kalau diajak susah tidak akan menyusahkan, diajak hidup mewah juga tidak akan boros. Hanya saja mungkin sedikit memalukan karena sikap dan gaya kampungannya. Tapi sikap tulus Mia bisa membuat Danu yakin pada pilihannya. Soal sikap dan gayanya, semua akan Danu ubah seiring berjalannya waktu.


################

__ADS_1


Like dan vote jangan lupa kakak...


Terima kasih...


__ADS_2