Janda Bersegel

Janda Bersegel
Saya tidak angkuh


__ADS_3

Hari ini adalah hari pertama Mia pulang ke apartemennya sendiri. Mia masih tetap diantar oleh Kalin.


"Nanti malam aku ke sini lagi ya! Mungkin bersama Dev," uvap Kalin.


"Dev?" tanya Mia.


"Ya, tadi siang Dev sudah pulang." Kalin terus menatap jalan dengan fokus.


"Bukankah Mia dan Dev tidak boleh terlalu sering berinteraksi?" tanya Mia.


"Tidak begitu Mia. Aku memintamu untuk pindah dari rumahku, bukan untuk membuangmu begitu saja. Dev akan tetap berinteraksi denganmu, tapi tidak akan seintens jika kamu ada di rumah. Kamu mengerti?" tanya Kalin yang sempat melihat ke arah Mia.


Setelah melihat Mia mengangguk, Kalin kembali fokus ke depan.


"Sampai," ucap Kalin.


"Makasih banyak ya!" ucap Mia.


Setelah melihat Mia turun dari mobilnya dan melambaikan tangannya, Kalin memacu kembali mobilnya. Segera menuju rumahnya karena ingin bertemu dengan Dev. Dev harus secepatnya mengerti atas apa yang ia lakukan pada Mia.


Benar saja dugaan Kalin. Saat sampai ke rumah dan tak melihat Mia, Dev bertanya banyak hal tentang Mia. Andai saja Kalin tidak tahu cerita tentang Mia, tentu saat ini ia sedamg terbakar api cemburu.


"Sayang, dengarkan aku! Mia meminta untuk hidup mandiri. Ia menyewa apartemen yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah," ucap Kalin.


"Benarkah? Dari dulu ia memang wanita mandiri dan kuat. Sama sepertimu, dia wanita yang cerdas." ucap Dev.


"Lalu, apa perbedaan aku dan Mia?" tanya Kalin.


"Tak ada bedanya. Kalian sama-sama cantik, kuat, pintar, mandiri. Apalagi ya?" ucap Dev.


"Kau yakin tak ada perbesaan antara kami?" tanya Kalin.


"Tidak ada. Tapi ada satu hal yang harus kamu tahu. Perasaan untuk kalian berbeda. Aku mencintaimu sebagai sahabat dan istri, sedangkan untuk Mia, aku hanya menganggapnya sebagai sahabat." Dev memeluk Kalin setelah menyadari percikan api cemburu mulai terlihat.


Kalin menjelaskan tentang Mia yang ingin membelanjakan sisa uangnya untuk fashion. Bagaikan satu frekuensi, mereka sama-sama berpikir untuk membelikan baju baru untuk Mia. Kalin berbohong saat mengatakan kalau ada beberapa bajunya yang tidak terpakai untuk Mia. Pasalnya, Mia tentu akan merasa tidak enak kalau tahu Kalin sengaja membelikan baju baru untuknya.


"Mandi dan makan dulu ya sayang! Nanti kita langsung ke apartemen Mia," ucap Kalin.


"Mandi saja. Nanti kita makan di luar. Lagi pula, sudah lama kita tidak dinner romantis kan? Nanti setelah kau lelah belanja, kita makan ya!" ucap Dev.


"Dev," ucap Kalin dengan wajah memerah karena merasa Dev begitu romantis.


Dev memeluk dan mencium Kalin sebelum ia pergi ke kamar mandi.


"Aku mencintaimu Kalin," ucap Dev.


Kalin memegang pipinya yang dicium berkali-kali oleh Dev.


Keduanya bersiap untuk pergi ke mall. Setelah siap, mereka berangkat bersama. Tangan Kalin tidak pernah lepas dari genggaman Dev.


Masuk ke dalam sebuah toko dan memilih beberapa baju, sepatu dan tas untuk Mia. Beberapa make up juga Kalin ambil untuk menunjang kebutuhan Mia.


"Sudah?" tanya Dev.


Kalin melihat beberapa goodie bag yang ia tenteng. "Sepertinya sudah," ucap Kalin.


"Berarti sekarang kita makan ya!" ajak Dev.


Kalin mengangguk. Setelah Dev membawa goodie bag yang ada di tangan Kalin, Kalin kembali melingkarkan tangannya pada Dev. Kakinya mengikuti langah Dev, sedangkan kepalanya terbang karena bahagia yang ia rasakan atas perlakuan Dev padanya.


"Sayang, mau pesan apa?" tanya Dev.


Kalin tidak menjawab. Dev mengikuti arah mata Kalin. ia tengah menatap seseorang yang sedang menelepon.


"Sayang?" panggil Dev dengan melambaikan tangannya di depan wajah Mia yang sedang menatap kosong.


"Eh iya," jawab Kalin terkejut.


"Apa kau mengenalnya?" tanya Dev.


"Siapa?" tanya Kalin.


"Itu," tunjuk Dev pada seorang pria yang sedang menelepon. "Tadi aku lihat kau menatapnya begitu lama," lanjut Dev.


"Apa kau cemburu?" tanya Kalin sambil menahan tawanya.


"Apa aku harus cemburu padanya?" tanya Dev.


"Tidak. Tidak ada pria yang bisa mengisi ruang hatiku selain kamu," ucap Kalin sambil memegang tangan Dev.


"Lalu kenapa kau menatapnya begitu lama?" tanya Dev.


"Aku ingat Mia," jawab Kalin.


"Kenapa? Dia bukan mantan suami Mia," ucap Dev.


"Kau tahu mantan suami Mia?" tanya Kalin.

__ADS_1


Waw. Ini jebakan batman rupanya. Dev nyaris jatuh ke dalam perangkap yang ia buat sendiri. Dev memutar otak untuk mencari jawabam atas pertanyaan Kalin. Tentu tidak mungkin jika ia harus jujur pada Kalin. Kalin bisa saja marah dan kecewa jika tahu kalau Dev datang ke pernikahan Mia dengan Haji Hamid.


"Yang aku tahu, tidak ada orang mati bisa menelepon di mall," jawab Danu.


Kalin tertawa dan memukul tangan Danu saar mendengar jawaban suaminya itu.


"Tapi aku tidak yakin kalau mantan suami Mia sudah meninggal," ucap Kalin.


"Apa alasannya?" tanya Dev.


"Mia sudah mencarinya ke setiap pemakaman dan tidak ada makan Danu," jawab Kalin.


"Itu akan kita cari jawabannya," ucap Dev.


"Apa kau memikirkan apa yang ada di kepalaku?" tanya Kalin.


"Sepertinya begitu. Ayo makan dulu!" ajak Dev.


Setelah makan, Dev mengajak Kalin untuk segera ke apartemen Mia agar tidak terlalu malam. Namun Kalin menghentikan langkahnya saat melewati toko ponsel.


"Ada apa lagi?" tanya Dev.


"Mia tidak punya ponsel," jawab Kalin.


Dev paham, pantas saja tadi Kalin menatap seseorang yang sedang menelepon. Rupanya ia memikirkan Mia yang akan membutuhkan ponsel. Dev berhenti dan membeli sebuah ponsel untuk Mia.


"Sayang, ini gimana?" tanya Dev.


"Boleh. Itu bagus," jawab Kalin. "Sekalian beli kartunya," lanjut Kalin.


Setelah selesai, Danu dan Kalin pulang dan menuju apartemen Mia. Beberapa kali panggilan dari Kalin terabaikan oleh Mia. Setelah Dev dan Kalin hampir pulang, Mia membuka pintu dan menutup mulutnya yang sedang menguap.


"Ayo masuk!" ajak Mia.


"Kau sudah tidur?" tanya Dev yang melihat jam tangannya.


Masih jam sembilan. Kalin menyikut Dev. Memberi kode agar Dev tidak udah heran dengan kebiasaan Mia.


Selesai mencuci muka, Mia kembali sambil mengelap wajahnya dengan handuk.


"Ada apa malam-malam ke sini?" tanya Mia.


"Ini," ucap Kalin menyerahkan beberapa goodie bag hasil belanjaannya tadi.


"Apa ini?" tanya Mia yang terkejut melihat barang belanjaan begitu banyaknya.


"Wah, terima kasih banyak." Mia terlihat sangt senang.


"Dan ini," ucap Kalin menyerahkan sebuah ponsel untuk Mia.


"Buat Mia?" tanya Mia.


"Ya," jawab Kalin.


Kalin menjelaskan beberapa aplikasi dalam ponselnya. Aplikasi untuk memesan makanan dan memesan kendaraan. Ini akan lebih memudahkan Mia saat ia belum membeli mobil.


"Kau yakin aplikasi kendaraan seperti ini aman?" tanya Mia.


"Memangnya kenapa?" tanya Kalin.


"Mia takut diculik," jawab Mia.


Kalin menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya, sedangkan Dev menutup mulutnya yang sedang menahan tawa.


"Oh ya, tutorial make up juga sudah aku kirim ya! Aku ingin melihat hasilnya besok," lanjut Kalin, dengan mengabaikan pertanyaan Mia tentang culik menculik itu.


Mia mengangguk dan terlihat senang. Setelah semua selesai, Dev dan Kalin pamit untuk pulang.


Mia membuka barang bawaan dari Kalin dan Dev. Senyumnya merekah melihat semua barang yang sangat cantik. Kalin sudah membuat baju, sepatu dan tas itu menjadi satu paket. Hingga Mia tidak akan salah memadukan baju dan sepatu atau tasnya.


Mia juga membuka tas make up, kemudian membuka kiriman tutorial make up. Jam sepuluh malam Mia mempraktekkan hasil tutorialnya. Hasilnya tidak terlalu mengecewakan. Setelah puas, ia mencuci mukanya dan membereskan kembali barang belanjaannya.


"Kalin, Dev. Mia tahu ini bukan barang bekas, bukan juga barang yang tidak terpakai oleh Kalin. Tapi ini sengaja kalian beli untuk Mia. Mia tidak akan melupakan kebaikan kalian! Mia janji akan membalas semua ini. Mia tidak akan sekalipun melupakan tangan siapa saja yang menolong Mia saat terpuruk seperti ini," gumam Mia sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Pagi ini Kalin dibuat terkejut dengan penampilan Mia.


"Mia, kau cantik sekali." Kalin memperhatikan penampilan Mia dari atas hingga bawah.


"Bagus?" tanya Mia.


"Sangat bagus," jawab Kalin dengan mengangkat kedua jempol tangannya.


"Hari ini aku ada acara makan siang dengan beberapa mitra di sebuah resto dekat kantor. Aku ingin kau ikut denganku," ucap Kalin.


Melihat penampilan Mia yang berbeda, rasanya Kalin siap mempertemukan Mia dengan Tuan Ferdinan.


"Tapi Mia takut membuatmu malu," ucap Mia.

__ADS_1


"Aku percaya kau sudah bisa membaca situasi. Membedakan dengan siapa kamu duduk. Aku yakin kamu bisa, Mia." Kalin memegang kedua tangan Mia. Meyakinkan Mia kalau ia pasti akan bisa.


"Bantu Mia ya!" ucap Mia.


"Satu hal yang harus kamu tahu. Akan ada Tuan Ferdinan di sana," ucap Kalin.


"Benarkah? Kau tidak mau ikut denganmu," ucap Mia.


"Kenapa?" tanya Kalin.


"Aku takut dia memakiku di depan banyak orang," ucap Mia.


"Kau harus membuat mereka tidak berani bersikap seperti itu," ucap Kalin.


"Caranya?" tanya Mia.


"Hanya kau yang tahu jawabannya," jawab Kalin.


Antara yakin dan tidak, Mia akhirnya ikut menemani Kalin untuk makan siang itu. Sebenarnya Kalin bisa saja membiarkan Mia pergi sendiri, tapi ia harus memastikan kalau Mia bisa atau tidak. Kalin khawatir kalau Mia tidak bisa menghadapi mertuanya itu. Kalau hanya Tuan Ferdinan, mungkin Mia bisa. Tapi lain cerita jika Tuan Ferdinan membawa Nyonya Nathalie ke acara makan siang itu.


Kalin membawa Mia untuk menuju resto. Setibanya di sana, Kalin melihat Mia begitu gugup. Sebelum turun dari mobil, Kalin memegang tangan Mia.


"Ingat, jangan tatap Tuan Ferdinan. Buatlah dirimu sibuk dengan beberapa orang di sana, seolah kamu tidak melihat Tuan Ferdinan. Jangan sekalipun kamu menyapa mereka jika mereka tidak menyapamu. Jangan pernah membahas tentang Danu. Kau mengerti?" tanya Kalin.


"Kenapa?" tanya Mia.


"Aku hanya ingin memperlihatkanmu saja. Bukan untuk melihatmu dimaki di depan umum," jawab Kalin.


Meskipun tidak yakin, Mia mengangguk dan segera mengikuti Kalin untuk masuk ke dalam resto itu. Dengan jantung yang berdebar lebih cepat, Mia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan.


DEG. Jantungnya terasa berhenti saat matanya menemukan dua sosok yang dulu sangat baik padanya. Namun setelah berjalannya waktu, kini mereka berubah saat keinginannya tidak terpenuhi. Padahal semua itu bukan salah Mia.


Mia segera mengalihkan pandangnnya. Ia. belum siap jika harus beradu pandang. Mia mencari Kalin yang tiba-tiba saja menjauh dari pandangannya. Mia menangkap maksud Kalin. Mungkin Kalin ingin melihat Mia mengatasi semuanya sendirian. Tapi Mia tidak perlu khawatir, karena Kalin pasti akan membantunya jika terjadi sesuatu.


Seperti ucapan Kalin, Mia membuat dirinya begitu nampak percaya diri. Kakinya melangkah dengan sangat elegan, dan senyum yang mengembang. Mia yang mendapat perhatian dari beberapa orang, menyambutnya dengan sapaan dan perkenalan diri. Tak terkecuali dengan Tuan Ferdinan dan Nyonya Nathalie.


Dalam sela obrolannya dengan beberapa orang di sana, Mia melihat Tuan Ferdian dengan sudut matanya. Nampak sedang memperhatikan Mia. Namun Mia tetap saja acuh dan tidak menghiraukan keduanya.


Tiba saat makan, beberapa kali Mia melihat ke arah Kalin. Ia memperhatikan cara makan Kalin. Perlahan ia mengikuti bagaimana Kalin bisa terlihat sangat elegan dengan penampilannya. Meskipun Mia baru belajar, tapi ia berusaha semaksimal mungkin agar tidak terlihat gugup.


Sampai acara hampir selesai, Nyonya Nathalie dan Tuan Ferdinan menghampiri Mia. Mereka yang tidak bisa menahan rasa penasarannya, memastikan sendiri apakah itu Mia atau bukan. Mengapa Mia sampai bersikap biasa saja padahal ada Nyonya Nathalie dan Tuan Ferdinan di sana?


"Mia?" panggil Tuan Ferdinan.


"Ya," jawab Mia.


Mia menyembunyikan tangannya yang sudah berkeringat. Setelah kejadian itu, ini adalah pertemuan pertamanya dengan Tuan Ferdinan.


"Kamu Mia?" tanya Tuan Ferdinan.


"Ya, Tuan. Saya Mia. Senang sekali jika Anda masih mengenali saya," jawab Mia.


Keduanya tidak ada yang berani melanjutkan ucapannya, hanya mata yang menatapnya tajam yang membuat Mia harus segera pergi meninggalkan Mia.


"Tuan, saya permisi." Mia meninggalkan keduanya.


"Mia kau tidak melihat ada aku di sini?" tanya Nyonya Nathalie.


"Hai Nyonya. Tentu saya melihat Anda," jawab Mia.


"Apa yang membuatmu begitu angkuh seperti ini?" tanya Nyonya Nathalie.


"Angkuh? Saya tidak merasa angkuh sama sekali. Saya hanya menuruti apa mau Anda, untuk tidak mencari dan mengganggu keluarga Anda lagi. Seharusnya Anda senang, Nyonya. Mulai saat itu, saya memutuskan untuk tidak melibatkan Anda dalam hidup saya lagi. Terima kasih untuk pembelajaran hidup yang sangat berarti bagi saya," ucap Mia dengan sangat elegan.


Nyonya Nathalie menganga, ia tak percaya kalau Mia bisa berubah secepat itu. Bahkan disaat ia berpikir kalau Mia sudah menderita dengan kehilangan Danu, Mia justru muncul seolah terlahir kembali dengan Mia yang berbeda.


"Sudah kuduga, kau pasti akan dengan mudah melupakan anakku. Dasar wanita murahan," ucap Nyonya Nathalie.


Hampir saja Kalin turun tangan saat mendengar makian dari Nyonya Nathalie. Tapi Mia yang terlihat santai dan membalas makian Nyonya Natahlie dengan santai, membuat Kalin mengurungkan niatnya. Ia masih memantau apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Melupakan? Anda yang meminta saya untuk melakukan hal itu. Lagi pula, mas Danu sudah tidak perlu dicari, hanya doa yang mas Danu butuhkan saat ini. Dan itu masih selalu saya panjatkan untuk pria yang sangat saya cintai. Kecuali," ucap Mia menggantungakan ucapannya.


"Kecuali apa?" tanya Nyonya Nathalie.


"Kecuali jika mas Danu belum meninggal. Dan Anda menyembunyikannya dari saya," ucap Mia dengan sangat santai. "Saya permisi dulu, masih ada urusan." Mia melanjutkan ucapannya setelah melihat Nyonya Nathalie akan mendebatnya.


Mia tidak ingin menarik perhatian dari mitra yang lain jika berdebat terlalu lama. Setelah merasa cukup, Mia berlalu meninggalkan Nyonya Nathalie dan Tuan Ferdinan yang dipenuhi rasa kesal.


Mia menghampiri Kalin yang sudah menunggunya sambil mengangkat jempol tangannya dan tersenyum lebar. Kalin sangat senang dengan sikap Mia hari ini.


######################


Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.


Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.

__ADS_1


Terima kasih..


__ADS_2