
Suatu tantangan sudah Mia selesaikan. Masalah hasil? Mia masih harap-harap cemas. Semuanya masih berjalan. Beberapa tanya jawab masih berlangsung. Mia yang hanya membaca berkas itu dua kali, berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan yang terbaik.
Seketika Mia merasa ada beban yang berat di pundaknya. Bagaimanapun, ini adalah harapan besar Tuan Wira. Mendapat kepercayaan atas perusahaan yang ia kembangkan sejak dulu.
Meeting ini berlangsung di Jakarta, namun jika Mia berhasil maka keuntungannya akan dirasakan juga oleh peruasahaan cabangnya di Surabaya. Mimpi itu perlahan menemukan titik nyata jika hasil meeting ini sesuai harapan.
"Terima kasih," ucap Mia.
Mia menutup pembicarannya. Beberapa detik hening, jantung Mia berdegup jauh lebih kencang dari biasanya. Keringat dingin mengucur pada pelipisnya.
Setelah Mia duduk. Seorang pria bertepuk tangan. Tak lama hampir semua yang menghadiri meeting itu ikut bertepuk tangan mengikutinya. Mia tersentak. Melihat satu per satu orang yang bertepuk tangan.
Apa maksudnya? Mia bahkan belum mengerti arti tepuk tangan itu.
"Saya tertarik dengan setiap kalimat anda. Deal!" ucap pria itu sembari mengulurkan tangannya.
Hah? Deal? Artinya?
Mia menerima uluran tangan itu dengan wajah bingung.
"Senang bisa bekerja sama dengan Anda, Nyonya!" ucap pria tadi. "Untuk kontrak kerja sama, akan kita urus dalam waktu cepat!" lanjutnya.
"Te-terima kasih Tuan," jawab Mia gugup.
Setelah pria itu berlalu, semua orang bergantian untuk mengucapkan selamat sebelum mereka keluar dari tempat meeting. Mia menyambut ucapan itu masih dengan perasaan tidak percaya.
"Selamat, Nyonya Dion!" ucap Tuan Ferdinan.
Nyonya Dion? Haruskah seformal itu? Sejak kapan Anda memanggil Mia dengan sebutan itu?
"Terima kasih, Tuan." Mia mengangguk hormat.
Saat bertemu dengan Tuan Ferdinan, Mia bingung harus bersikap seperti apa. Jujur saja, rasa kecewa itu masih tersimpan dalam hati Mia. Memang bukan salah Tuan Ferdinan sepenuhnya, tapi bagaimanapun seharusnya ia bisa mengendalikan istrinya.
Eh sadar Mia. Harusnya kamu bersyukur atas sikap Tuan Ferdinan. Kalau kamu tidak mengalami sakit hati, tidak mungkin kamu keluar dari keluarga itu. Kamu sudah menemukan kebahagiaanmu yang sesungguhnya.
"Saya bangga atas prestasi yang Anda raih saat ini. Saya menyadari kemampuan anda sejak dulu. Anda memang wanita kuat yang sangat berkompeten," ucap Tuan Ferdinan.
DEG
Tuan Ferdinan memuji Mia? Untuk apa? Untuk menyenangkan Mia? Maaf, tapi Mia tidak bisa kembali dalam kehidupan Mia yang sudah berlalu. Hidup ini harus terus berjalan maju.
Mia masih bingung mengartikan pujian dari mantan mertuanya itu. Atau mungkinkah Tuan Ferdinan menyindir Mia? Entahlah. Namun sampai saat ini, Mia berusaha untuk tetap tenang. Menyembunyikan semua rasa bingungnya sebisa mungkin.
"Terima kasih," jawab Mia singkat.
Ya, hanya ucapan terima kasih yang Mia katakan. Mia tidak ingin panjang lebar membahas hal yang tidak seharusnya mereka bahas. Menghindar, mungkin itu hal yang paling tepat.
"Nyonya Dion, saya minta maaf atas semua yang terjadi di masa lalu kita. Saya minta maaf," ucap Tuan Ferdinan.
"Tidak perlu minta maaf. Justru seharusnya Mia mengucapkan banyak-banyak terima kasih. Karena keputusan itu mengantarkan Mia pada kebahagiaan yang sesungguhnya. Maaf, Mia permisi." Mia mengangguk hormat sebelum akhirnya ia meninggalkan Tuan Ferdinan.
Jawaban menohok dari Mia berhasil membuat Tuan Ferdinan tidak bisa berkata apapun. Ia benar-benar tertampar dengan ucapan Mia. Terlebih ekspresi Mia yang terlihat jauh lebih tenang. Tanpa ada emosi atau kebencian. Mia bersikap seolah sangat cuek dan dingin. Sepertinya rasa bersalah dan penyesalan pada diri Tuan Ferdinan kian besar.
Mia memejamkan matanya saat ia sudah ada di dalam mobil.
"Nyonya, apakah Anda baik-baik saja?" tanya pelayan yang setia menemani Mia.
"Mia baik-baik saja Mba. Tenang saja. Hanya sedang menenangkan diri saja. Mungkin karena tadi tegang kali ya?" ucap Mia.
"Apakah Anda ingin ke rumah sakit? Tuan pasti tidak akan senang jika tahu Anda tegang seperti ini," ucap pelayan.
"Ah, jangan berlebihan. Mba seperti Dion saja," ucap Mia sambil tertawa.
Setelah tertawa, Mia menggenggam tangan pelayan yang ada di sampingnya. Namun tanpa Mia duga, pelayan itu menarik tangannya.
"Maaf, Nyonya." Dengan sopan pelayan itu menyatakan penolakan.
"Hanya karena status sosial?" tanya Mia.
"Bu-bukan seperti itu," ucap pelayan.
Mia segera memotong ucapan pelayan itu. Mia tahu arah bicara pelayan pasti muter ke sana lagi.
"Mia gak butuh pelayan. Yang Mia cari itu teman. Mia butuh teman. Ayolah jadi teman Mia," ucap Mia.
Mia memang wanita yang terkenal sangat rendah hati di keluarga Tuan Wira. Namun pelayan itu tidak menyangka jika Mia bisa berbuat seperti itu padanya. Teman? Seorang istri dari Dion menginginkannya menjadi teman?
"Mba, mau kan jadi teman Mia?" tanya Mia.
Tak ada jawaban. Namun setelah berkali-kali Mia bertanya hal yang sama, akhirnya Mia mendapat jawaban pelayan itu dengan anggukan kepalanya.
"Terima kasih Mba," ucap Mia.
__ADS_1
Mia dengan senang memeluk pelayan itu. Kali ini tanpa penolakan, karena Mia sudah menyebutkan persyaratan persahabatan mereka adalah dengan tidak membahas status sosial.
Rasa bahagia Mia karena mendapat sahabat baru mengalahkan rasa bangganya karena berhasil dalam meeting itu. Tidak memberi tahu mertua dan suaminya, bukan berarti mereka tidak tahu kalau Mia adalah pahlawan untuk perusahaannya.
Dering ponsel Mia, diabaikan karena sang empunya ponsel tengah terlelap. Dengan kepala menyandar di bahu pelayan, dan tangannya yang melingkar dipinggang pelayan.
Merasa khawatir karena Mia tidak menjawab panggilannya, Dion menghubungi sopir untuk menanyakan kabar Mia.
"Nyonya sedang tidur, Tuan." Sopir itu menjawab dengan penuh hormat.
"Kirimkan aku fotonya!" ucap Dion.
"Baik, Tuan." ucap sopir.
Sebuah foto Mia berhasil di kirim, tak lama ponsel sopir itu berdering kembali.
"Apa maksudnya semua ini?" tanya Dion dengan amarah.
"A-apa Tuan?" tanya sopir itu panik.
Ternyata Dion cemburu saat Mia tidur memeluk pelayannya. Rasa cinta dan rindunya pada Mia membuat Dion menjadi posesif dan kadang tidak ada logika. Bahkan pada seorang wanita saja bisa membuatnya cemburu.
Enak saja kamu peluk-peluk orang lain begitu. Harusnya cuma aku yang kamu peluk. Semenjak kita menikah, kamu tidak pernah seromantis itu padaku. Kenapa kamu romantis sekali sih sama dia?
Sopir itu menjelaskan apa yang ia dengar dari percakapan Mia dan pelayannya. Dion yang sempat marah, kini merasa iba. Ia merasa istrinya memang butuh teman. Mia benar-benar kesepian.
Terima kasih untuk kerja kerasmu Mia. Berkat kamu, aku bisa kembali dekat denganmu. Melihatmu dan bermanjaan denganmu, sebelum aku berangkat dan pulang kerja. Seperti saat itu. Saat kita masih tinggal di sini bersama.
Setelah Dion berhenti untuk menghubungi Mia, kini giliran Tuan Wira yang menghubunginya. Hal yang sama juga terjadi. Setelah merasa tenang melihat Mia sedang tidur, Tuan Wira hanya mengirim sebuah pesan untuk Mia.
"Nyonya, maaf. Sudah sampai," ucap pelayan sambil mengguncang tangan Mia.
Mia membuka matanya perlahan. Kepalanya masih terasa berat hingga ia butuh waktu agak lama untuk keluar dari dalam mobil.
Saat sudah masuk ke dalam kamarnya, Mia mandi dan berganti baju. Setelah merasa segar, Mia mulai memainkan ponselnya. Mia membuka matanya lebar-lebar saat melihat panggilan tidak terjawab dari Dion.
"Mba, ini A Dion kapan ya neleponnya ya? Kok Mia gak tahu?" tanya Mia.
"Maaf Nyonya, tadi Tuan menelepon ketika Anda sedang tidur. Tapi sopir sudah memberi tahu alasan Anda tidak menjawab panggilan Tuan," ucap pelayan.
"Ya ampun. Mba bisa keluar sebentar? Mia mau video call sama Aa," ucap Mia.
"Baik. Nanti setelah selesai, Nyonya panggil saya ya!" ucap pelayan.
"Sayaaaang," panggil Mia manja saat Dion mengangkat panggilan videonya.
"Kamu sudah bangun?" tanya Dion.
"Udah mandi dong. Aa lagi apa?" tanya Mia.
"Iya, masih basah. Tadinya lagi tidur, tapi lihat rambut kamu basah begitu kok aku langsung bangun ya?" ucap Dion.
"Mandi dong A. Biar segar," ucap Mia.
"Masa langsung mandi?" goda Dion.
"Loh, emangnya kenapa? Kan biar segar," ucap Mia.
"Emang kalau udah bangun langsung mandi? Ituan dulu dong," Goda Dion
Kedipan mata Dion membuat Mia tertawa keras. Mia bahkan tidak menyadari arti bangun itu bukan bangun dari tidur. Sudah lama Mia tidak membahas hal itu hingga Mia kurang peka saat suaminya membahas ke arah yang menjurus.
"Nanti ya aku kasih service full," ucap Mia.
Tak ingin kalah dari Dion, Mia mulai ikut menggoda suaminya. Dion yang sudah rindu pada Mia membuatnya semakin gelisah saat melihat Mia terus menatapnya melalui panggilan video.
"Mau berapa kali?" tanya Dion.
"Berkali-kali," jawab Mia.
Ah, kepala Dion sudah tidak bisa dikendalikan. Pikirannya sudah liar saat melihat wajah istrinya. Melihat perut Mia yang semakin membesar, Dion semakin rindu. Ia merasa itu adalah keberhasilan yang ia raih. Perut besar Mia adalah prestasi yang sesungguhnya. Pertempurannya selama ini akhirnya membuahkan hasil. Dion sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan kedua anak yang ada di dalam perut Mia.
"Aku tagih janjimu nanti ya!" ucap Dion.
"Siapa takut," tantang Mia.
Ah Tuhaaaaan, kenapa istriku selalu menggemaskan seperti ini sih? Aku sudah tidak sabar untuk menghabisi Mia. Aku akan mengalahkanmu Mia. Aku akan buat kamu melambaikan tangan ke kamera. Aku akan buat kamu kalah Mia. Tunggu tanggal mainnya ya!
Ah, hampir lupa. Dion segera membahas tentang hasil meeting yang sangat memuaskan itu.
"Mi, terima kasih ya!" ucap Dion.
"Untuk apa?" tanya Mia.
__ADS_1
Untuk apa? Bahkan Mia tidak menganggap apa yang sudah ia berikan untuk perusahaan itu sangat berharga? Tidakkah Mia menyadari kalau apa yang ia lakukan adalah hal yang sangat membanggakan? Sebegitu tuluskah hatimu Mia?
"Aku bangga padamu. Kamu bukan hanya menyelamatkan nama baik perusahaan, tapi kamu sudah sangat membantu kemajuan perusahaan. Kamu selalu membawa keberkahan untuk keluarga kami Mia," ucap Dion.
"Ya ampun A. Aku pikir kamu bahas apa. Jangan begitu A. Kan Mama dan Papa bilang kalau Mia sudah dianggap sebagai anak sendiri. Jadi kewajiban Mia juga dong membantu keluarga ini. Dengan cara apa? Ya dengan cara ini. Mia hanya bisa melakukan semua ini," ucap Mia.
Hanya? Mia, kenapa kamu tidak mengerti kalau semua yang kamu lakukan itu sangat luar biasa. Ah, makin kagum aku sama kerendahan hati kamu.
"Kamu hebat, aku acungkan jempol buat semua prestasi kamu sayang. Bahkan bukan cuma jempol, adek ini juga ikutan ngacung nih." Tawa Dion kembali membuat Mia ikut berpikir nakal.
"Ah, Aa jangan ngomingin itu terus. Aa kan masih lama pulangnya," ucap Mia.
"Mau lihat gak?" tanya Dion.
"Ih gak ah. Nanti aja langsung pegang," jawab Mia.
"Ya nanti dipegang. Sekarang lihat dulu ya!" ucap Dion.
"Gak ah," jawab Mia.
"Ayolah!" bujuk Dion.
"Dih, males A. Nanti aja kalau pulang," ucap Mia dengan wajah cemberut.
"Iya, becanda kali Mi. Serius banget sih? Masa iya aku mau panggilan video sambil nunjukin bemda pusaka ini. Bahaya, nanti bisa-bisa kamu screenshoot terus dipakai buat hiasan dinding," ucap Dion.
"Ya ampun, yang ada nanti di kamar mendadak banyak tikus betina," Ejek Mia.
"Kok bisa?" tanya Dion.
"Bisa lah. Nanti disangkanya gambar sosis makanya banyak tikus gadis yang melihat foto Aa," ucap Mia.
"Enak saja. Masa disamakan sama sosis sih?" tanya Dion.
"Kan memang mirip," jawab Mia.
"Tapi kan ukurannya beda," ucap Dion.
"Kan sosis juga ada yang jumbo A," ucap Mia.
"Tapi tetap beda. Coba deh kamu ingat-ingat lagi, apa ukurannya sama?Aku yakin sama sosis jumbo juga lebih besar benda pusaka ini deh," ucap Dion.
Ingat-ingat? Iya sih, meskipun memang sudah lama Mia gak lihat, tapi Mia masih ingat kok ukurannya. Ah, Mia sadarlah! Otakmu sudah mulai kotor.
"Ish Aa apaan sih ah. Ganti topik deh," ucap Mia.
"Haha, maafkan aku Mia. Aku hanya sedang merindukan kamu dan anak kita. Aku rindu kamu yang polos," ucap Dion.
"Iya, dulu Mia memang sangat polos. Tapi setelah menikah dengan Aa, sekarang Mia jadi polkadot. Otak Mia yang masih polos sudab diracuni sama Aa, ahahah" ucap Mia.
"Enak saja diracuni. Aku ngasih kamu edukasi Biar kamu semakin pintar," ucap Dion.
"Edukasi ya bun. Bahasanya berat. Saking udah pengen ya? Bahasannya jadi kemana-mana. Haha," ucap Mia.
Tidak ingin bahasan ini justru semakin menyudutkannya, akhirnya Dion yang memutuskan untuk ganti topik.
"Ganti topik ayo ah! Oh ya Mi, kamu sudah menelepon Papa?" tanya Dion.
Papa? Ya ampun Mia sampai lupa mengabari Papa.
"Oh ya tadi Mia lihat ada panggilan tidak terjawab dari papa. Tapi Mia belum sempat nelepon balik, karena tadi langsung nelepon Aa. Memangnya kenapa?" tanya Mia.
"Ya, Papa pasti bahagia sekali mendengar semua kabar ini. Terima kasih kamu sudah bantu kita semua Mi," ucap Dion.
Entah untuk yang keberapa kali, Dion berterima kasih padanya. Sebanyak itu pula Mia merasa tersanjung. Mia merasa dihargai dan hidupnya berguna bagi orang lain.
Mia yang selalu menganggap dirinya tidak berguna, seketika menjadi sangat bahagia saat orang yang paling ia cintai justru bangga akan dirinya.
#################
Readers maaf ya kemarin gak sempat up. Sampai sekarang juga jadwal up masih berantakan. Nanti kalau aku udah siap, mimin usahakan buat up yang banyak ya.
Terima kasih juga udah mampir dan komen positif di sini. Aleupyu readers.
Tapi jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.
Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
Terima kasih..
__ADS_1