
Sindi memang sudah aku anggap anakku sendiri, tapi kalau harus besanan sama si wewe gombel sih males banget. Sindi, kamu kenapa sih harus pacaran sama dia? Dunia ini kenapa sempit banget sih?
Nyonya Helen nampak cemberut setelah Tuan Wira meninggalkan dirinya sendiri. Ia beberapa kali berpikir tentang hubungan Sindi dan Danu. Ia sama sekali tidak habis pikir jika keduanya bisa saling mengenal bahkan sampai pacaran.
Hanya karena jawaban Danu saat itu yang menyebut Sindi adalah calon istrinya, Nyonya Helen percaya jika Danu dan Sindi pacaran. Padahal sampai saat ini, keduanya sama sekali belum memiliki hubungan yang jelas.
Bahkan Sindi sendiri tidak tahu jika Danu mengakuinya sebagai calon istri di hadapan Nyonya Helen. Seperti saat ini, saat Sindi baru sampai dan merebahkan tubuhnya di rumah kontrakannya, Sindi harus kembali bangun dan membuka pintu.
"Permisi," ucap pria bertubuh tinggi besar di depan pintu kontrakannya.
Sindi menatap bingung pria itu karena ia tak mengenalnya sama sekali.
"Mau cari siapa?" tanya Sindi.
"Nyonya Sindi?" tanya pria itu.
"Saya Sindi. Jangan panggil Nyonya. Sindi saja. Anda siapa?" tanya Sindi.
"Ini untuk Anda," ucap pria itu.
Tanpa menjawab pertanyaan Sindi, pria itu hanya menyerahkan selembar kertas dan pergi saat Sindi sudah menerima apa yang ia berikan.
"Hey, Anda siapa? Mau kemana?" teriak Sindi.
Lagi, tanpa jawaban pria itu hanya pergi tanpa menoleh kembali.
"Dasar orang aneh," gerutu Sindi.
Sindi masuk dan menutup kembali pintu kontrakannya. Ia duduk di salah satu kursi kecil dan membuka kertas itu.
'Aku tunggu di taman X.'
Sindi mengangkat salah satu sudut bibirnya dan menggelengkan kepalanya saat melihat tulisan di sudut bawah pada kertas itu.
'Salam sayang, calon suamimu.'
"Calon suami dari mana? Ini siapa sih iseng banget," ucap Sindi sembari meremas kertas itu dan melemparnya ke sembarang arah.
Sindi kembali ke dalam kamarnya dan merebahkan tubuhnya kembali. Ia tidak menghiraukan surat itu sama sekali. Badannya yang terasa sakit, membuatnya tidur nyenyak.
Kamarnya memang sangat sederhana. Jauh dari mewah seperti kamar yang ada di rumah Mia. Namun tempat itu nyatanya masih bisa membuat Sindi lupa masalah yang ia hadapi sementara waktu.
"Sindiiii, Sindiiii," teriak seseorang dengan menggedor pintu rumah kontrakannya.
Rumah kontrakannya yang berukuran tidak terlalu luas membuat teriakan dari luar terdengar sangat nyaring. Padahal Sindi berada di dalam kamar.
"Siapa sih?" gerutu Sindi.
Sindi mengucek kedua matanya. Tak lama ia menutup mulutnya saat mulai menguap begitu lebar. Ia turun dari ranjangnya.
"Sebentaaaaar. Sabar dong. Orang sabar disayang Tuhaaaan," teriak Sindi saat gedoran pintu dan teriakan pria itu tak kunjung berhenti.
Sindi terkejut saat ia sedang berjalan sambil mengikat rambutnya namun pintu sudah terbuka secara paksa.
"Ya ampuun, pintu kontrakan rusak. Kamu ini--," ucapan Sindi terhenti saat si perusak pintu mengangkat kepalanya.
"Apa? Mau minta ganti rugi?" tanya Danu.
Danu memegang tangannya yang sakit karena mendobrak pintu.
"Ya iya lah ganti rugi. Kalau ganti rugi, bisa-bisa aku diusir dari kontrakan ini," jawab Sindi.
__ADS_1
"Perhitungan banget sih," jawab Danu.
Ia kesal saat Sindi tidak merespon walaupun sudah memberi kode. Berharap Sindi perhatian padanya. Namun Sindi malah sibuk memperhatikan pintunya yang rusak.
"Kamu kenapa sih ngerusak pintu? Memangnya gak bisa apa bertamu secara baik-baik?" tanya Sindi.
"Baik-baik? Aku memanggil kamu dari tadi, gak dijawab-jawab. Kamu pikir aku gak pegel berdiri di sini sambil ngetuk-ngetuk pintu?" ucap Danu kesal.
"Kamu gak denger aku bilang iya, iya, dari tadi. Bilang tunggu sebentar. Jadi orang kok gak sabaran sih," gerutu Sindi.
"Kamu bisa gak sih kalau gak usah mikirin pintu dulu?" tanya Danu.
Sindi menjauh dari pintunya yang rusak dan duduk di samping Danu yang sudah duduk lebih dulu.
"Belum juga dipersilahkan, udah duduk duluan." Sindi menyindir Danu.
"Kelamaan. Keburu asam uratku kambuh," ucap Danu.
"Susah kalau sama orang tua. Penyakit udah mulai pada kumpul," ejek Sindi.
"Apa?" tanya Danu kesal.
"Gak," jawab Sindi.
"Mana minumnya?" tanya Danu.
"Di warung," jawab Sindi singkat.
"Di rumah ini gak ada minum?" tanya Danu.
"Ada. Tapi udah lama gak diganti. Mau?" ucap Sindi.
"Paling aku bantu doa aja," jawab Sindi menahan tawanya.
"Kalau kamu senyum-senyum begitu kelihatan makin cantik." Danu memandang wajah Sindi dengan lekat.
Sindi jadi salah tingkah saat Danu terus menatapnya. Beberapa kali tatapan mereka beradu pandang namun ia selalu mengalihkan pandangannya. Ia tidak bisa melihat Danu terus menatapnya dalam jarak dekat.
"Mau apa ke sini?" tanya Sindi.
Pertanyaan yang sempat ia lupakan sebelumnya.
"Mau jemput calon istri," jawab Danu.
"Hah?" tanya Sindi.
"Kenapa kamu gak datang?" tanya Danu.
"Kemana?" tanya Sindi.
"Kemana? Surat itu gak sampe?" tanya Danu.
"Surat? Jadi surat itu dari kamu?" tanya Sindi.
"Memangnya kamu berharap dari siapa?" tanya Danu.
Mendadak tubuh Sindi bergetar. Dadanya berdebar tak karuan. Keringat dingin mulai membasahi kedua telapak tangannya.
"Sindi, aku tidak bisa basa basi. Aku hanya ingin kamu kembali ke Jakarta. Menikah denganku. Mami pasti senang," ucap Danu.
Bahagia Sindi seketika hancur, saat Sindi menarik kesimpulannya sendiri.
__ADS_1
"Kamu gak mau?" tanya Danu.
Danu mulai cemas saat melihat Sindi hanya diam dan tidak menjawab ucapannya.
"Kamu menikah karena ingin membuat ibumu bahagia?" tanya Sindi kecewa.
"Tentu. Orang tua mana yang tidak bahagia jika anaknya menikah," jawab Danu.
Saat menjawab, Danu tidak melepaskan pandangannya dari Sindi. Ia mengamati raut wajah Sindi yang bisa berubah begitu cepat. Seperti saat ini, saat Sindi mengangkat salah satu sudut bibirnya. Wajah sinisnya begitu nyata apalagi saat Sindi memalingkan wajahnya sembari berdecak kesal.
"Kamu kenapa sih?" tanya Danu.
"Cari saja wanita lain jika tujuan kamu menikah hanya itu," jawab Sindi.
"Hanya itu?" tanya Danu bingung.
"Iya. Maaf, aku bukan orang yang tepat." Sindi masih menunjukkan wajah tidak sukanya.
"Kamu nolak aku?" tanya Danu.
Wajahnya kian lama kian mendekat pada Sindi. Membuat Sindi harus mundur menjauh.
"Aku gak mau nikah sama orang yang tidak mencintaiku," jawab Sindi.
Sindi mendorong dada Danu agar menjauh. Namun diluar dugaan, tangan Sindi malah di genggam erat oleh Danu. Wajah mereka yang hanya berjarak beberapa senti saja berhasil membuat Sindi berdebar tak karuan. Hambusan napas Danu yang bisa ia rasakan dengan nyata pada wajahnya membuat wajah Sindi memucat.
"Siapa yang tidak mencintaimu? Siapa?" tanya Danu.
Sindi hanya berusaha memalingkan wajahnya saat Danu terus menarik tangannya hingga mereka semakin dekat. Hal itu membuat Danu melepaskan tangan Sindi dan meraih wajah cantik itu dengan kedua tangannya. Membuat wajah itu kembali harus berhadapan dengan Danu dalam jarak semakin dekat.
"Lepasin," ucap Sindi sembari melepaskan tangan Danu dari wajahnya.
Danu membiarkan Sindi menjauh darinya. Ia pergi ke kamar dan menangis.
Sindi kenapa sih? Diajak nikah kok malah nangis?
"Sin," panggil Danu dari balik gorden kamarnya.
Kamar Sindi tidak ada pintunya. Hanya tertutup kain gorden. Karena tidak mendengar jawaban dari Sindi, Danu membuka gorden itu. Ia melihat Sindi tengah menangis. Wajahnya ditutup bantal, berusaha agar isak tangisnya tidak bisa didengar oleh Danu.
"Sin, kok kamu nangis sih? Kalau kamu gak mau nikah sama aku gak apa-apa. Aku bisa pergi kok. Harusnya aku yang nangis karena kamu tolak. Kok jadi malah kamu yang nangis sih?" tanya Danu.
Danu itu gak peka banget sih. Jadi dia gak ngerti kenapa aku nangis? Bener-bener keterlaluan.
"Sindi, ke sini! Aku masih mau ngobrol sama kamu. Ya walaupun kamu nolak aku, setidaknya kamu hargai perjuangan aku dong. Aku kan jauh-jauh dari Jakarta sengaja ke sini buat nyusul kamu," ucap Danu.
Sindi mengusap kedua pipinya. Benar apa ynh diucapkan Danu. Lagipula sebenarnya ia juga masih ingin ngobrol dengan Danu. Hanya saja ia kesal saat Danu tidak peka padanya.
Ada hal yang membuat Sindi kagum pada Danu. Danu tidak masuk ke kamarnya. Padahal kamarnya tidak memiliki pintu, tapi Danu hanya diam menununggunya sembari memegang gorden kamarnya.
######################
Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
__ADS_1