Janda Bersegel

Janda Bersegel
Daru


__ADS_3

Danu turun dari ranjangnya. Ia segera mencari Nyonya Nathalie.


"Mami, Mami," teriak Danu.


Danu mencari Nyonya Nathalie sampai ke kamarnya. Namun tidak ada sahutan dari dalam kamar. Sampai Danu membuka pintu kamarnya.


"Mami," ucap Danu.


Danu mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar ibunya.


Mami kemana sih?


Danu menutup kembali pintu kamarnya dan kembali ke ruangan lain. Mencari Nyonya Nathalie. Rasa penasarannya sangat menggebu.


"Mana Mami?" tanya Danu.


Ia bertanya pada pekerja di rumahnya setelah menyerah mencari ibunya.


"Nyonya keluar sejak pagi Tuan," jawab pekerjanya.


"Kenap gak bilang dari tadi? Aku sudah cape-cape ke sana ke sini," ucap Danu.


"Maaf Tuan," ucap pekerja itu.


Pekerja itu hanya bisa meminta maaf. Padahal hatinya menggerutu. Ia tidak memberi tahu karena Tuannya itu tidak bertanya.


"Kemana?" tanya Danu.


"Maaf Tuan, Nyonya tidak memberi tahu siapapun." Pekerja itu menunduk hormat.


"Sama Papi?" tanya Danu.


"Iya Tuan," jawab pekerja itu.


Danu pergi setelah mendengar jawaban dari pekerjanya. Ia kembali ke kamarnya dan menghubungi Nyonya Nathalie. Tidak ada jawaban. Danu mengacak rambut hitamnya dan mengusap kasar wajahnya.


"Mami kemana sih?" gumam Danu.


Danu menghubungi Tuan Ferdinan. Sama, ia tidak mendapat jawaban dari ayahnya.


"Ini pada kemana sih? Susah banget di hubunginya," ucap Danu kesal.


Danu melempar ponselnya pada kasur empuknya. Ia menggerutu kesal. Hingga akhirnya ia mandi untuk sedikit menenangkan hatinya. Pada saat mandi, samar-samar ia mendengar dering ponsel.


Danu mematikan showernya. Ia kembali menajamkan telinganya. Danu segera meraih handuk dan keluar dari kamar mandi setelah yakin jika itu nada panggilan dari ponselnya.


"Mami," panggil Dion dengan nada tinggi.


"Buka pesan Mama ya!" ucap Nyonya Nathalie.


Hanya itu, lalu panggilan dari Nyonya Nathalie berakhir. Danu mengernyitkan dahinya dan menatap layar ponselnya. Dengan rambut yang masih berbusa, Danu segera membuka pesan yang dimaksud oleh Nyonya Nathalie.


"Hah?" ucap Danu.


Ia terkejut saat melihat Nyonya Nathalie mengirimkan beberapa foto baju pengantin padanya.


'Mana yang kamu suka?'


Sebuah pertanyaan yang menggelitik baginya. Bagaimana mungkin ibunya sudah sibuk menyiapkan gaun pengantin sementara ia sendiri belum melamar Sindi secara resmi.


Danu menepuk dahinya pelan. Bibirnya tersenyum tipis. Antara kesal dan bahagia kini menyelimuti perasaannya. Sampai akhirnya Danu tersadar dari lamunannya setelah dering ponsel kembali terdengar di telinganya.


"Iya Mi," jawab Danu.


"Kamu kemana sih? Jangan-jangan kamu tidur lagi ya?" tuduh Nyonya Nathalie.


"Mami, ini maksudnya apaan sih?" tanya Danu.


Pura-pura tidak mengerti padahal jelas Danu sedang sangat bahagia.


"Cepetan pilih mau yang mana? Mami gak menerima pertanyaan," ucap Nyonya Nathalie.


Tanpa mendengar ucapan Danu yang hanya akan membuatnya kesal, panggilan itu sudah diakhiri oleh Nyonya Nathalie. Danu menggelengkan kepalanya. Ia kembali membuka pesan dari ibunya. Gambar gaun itu kembali dipandangi oleh Danu. Diamati satu per satu.


Semuanya bagus. Namun ia menjatuhkan pilihannya pada gaun putih yang menjuntai panjang. Gaun yang paling tertutup diantara semua gambar gaun yang dikirimkan oleh ibunya. Danu segera mengirimkan gambar gaun pilihannya.


Tidak ada balasan lagi dari Nyonya Nathalie. Danu segera ke kamar mandi setelah menyadari bahwa ia belum selesai mandi. Memandangi gaun-gaun cantik itu membuat Danu tidak sadar jika kepalanya masih berbusa. Bahkan busa itu sudah hampir mengering.


Sialnya, saat dalam kamar mandi bukan hanya gaun yang ada di kepalanya. Tapi tiba-tiba bayangan Sindi yang tengah mengenakan gaun itu terbayang begitu saja. Danu terkejut saat menyadari benda pusakanya kembali berdiri tegak.


Hatinya sangat bahagia. Bahkan hanya dengan membayangkan wajah cantik Sindi dengan gaun pengantin itu saja berhasil membuat Danu menegang.


"Sindi, tunggu aku. Aku siap gaspol nanti," gumamnya.


Selesai mandi Danu turun untuk makan. Ini sudah jam sebelas siang, tapi perutnya masih kosong.

__ADS_1


"Mau saya buatkan apa Tuan?" tanya salah seorang pekerja.


Biasanya jika Danu telat sarapan, ada hal yangs membuatnya tidak berselera. Hingga salah satu pelayan di sana menawarkan menu makanan yang akan ia buatkan khusus untuk Danu.


"Tidak usah. Ini saja sudah cukup," jawab Danu.


"Baik Tuan. Saya permisi," ucap pelayan itu.


Dengan perasaan yang masih bingung, pelayan itu meninggalkan Danu yang sudah bersiap dengan piringnya. Pelayan itu tidak tahu kalau Danu belum sarapan justru karena ada hal yang membahagiakan hatinya.


Belum selesai sarapannya, Danu menghentikan sarapannya karena melihat Nyonya Nathalie dan Tuan Ferdinan sudah pulang.


"Danuuuuu," teriak Nyonya Nathalie.


"Mami dari mana?" tanya Danu.


"Dari butik dong. Masa pilih gaun buat Sindi dari tanah abang," jawab Nyonya Nathalie.


"Mami kok gaunnya milih yang udah ada? Kenapa gak khusus desain buat Sindi? Padahal Mami nyuruh Merry ke rumah untuk mengukur Nyonya Helen dan Tuan Wira," ucap Danu.


"Kamu sudah tahu?" tanya Nyonya Nathalie.


"Sindi mengabari aku," jawab Danu.


"Baguslah kalau kamu sudah tahu. Tapi kamu jangan sirik begitu dong. Merry ke rumah Nyonya Helen itu persiapan buat acara akad. Kalau gaun yang Mami pilih buat Sindi kan cuma buat lamaran aja," ucap Nyonya Nathalie.


Hah? Akad? Bahkan ia dengan Sindi pun belum membicarakan tentang akad. Danu bingung sendiri dengan ibunya yang bergerak jauh lebih cepat dibanding dengan dirinya.


"Mami, jangan terburu-buru begitu." Danu khawatir.


"Kok jangan buru-buru? Hey, niat baik itu harus disegerakan tahu." Nyonya Nathalie berkacak pinggang.


"Bukannya begitu Mi. Tapi kan kita belum bicara serius dengan Sindi," ucap Danu.


"Ya makanya bicara secepatnya. Mami kan persiapan dulu. Biar nanti pas acara gak kelabakan," ucap Nyonya Nathalie.


"Mi, tapi kan--," ucapan Danu terhenti saat Nyonya Nathalie memotongnya.


"Ah kamu ini kebanyakan tapi-tapian. Mami mau istirahat ah. Cape," ucap Nyonya Nathalie.


Danu hanya diam saat melihat Nyonya Nathalie meninggalkannya begitu saja. Pandangannya beralih pada Tuan Ferdinan yang duduk lemas.


"Apa?" tanya Tuan Ferdinan kesal sembari mengambil segelas air.


"Pi, Mami kenapa sih?" tanya Danu.


"Papi ke butik masih pagi?" tanya Danu.


Danu sedikit tidak percaya karena butik tempat Merry bekerja baru buka jam sepuluh siang. Bahkan ia sering menyebutnya butik malas. Hanya saja memang barang yang dijual berkualitas bagus. Jadi meskipun butik itu bukanya siang, butik itu tidak pernah kekurangn orderan.


"Hemm," jawab Tuan Ferdinan.


"Jam berapa?" tanya Danu.


"Nih," jawab Tuan Ferdinan.


Danu membelalakkan matanya saat melihat Tuan Ferdinan mengangkat tujuh jari tangannya.


"Sejak kapan butik itu buka jam tujuh?" tanya Danu.


"Sejak hari ini. Papi malu banget. Papi datang lebih awal dari petugas butik," jawab Tuan Ferdinan.


"Si Merry?" tanya Danu.


"Pelayannya. Si Merry malah datang lebih siabg dari pelayannya," jawab Tuan Ferdinan sembari menggelengkan kepalanya.


"Kok bisa si Merry ke rumah Nyonya Helen?" tanya Danu.


"Mami kamu marah dan memerintah si Merry ke rumah Nyonya Helen biar dapat ukuran dan dikerjakan secepatnya. Bahkan si Merry gak sempat duduk. Kata Mami takut gak keburu. Memangnya kamu mau nikah kapan sih?" tanya Tuan Ferdinan.


"Mana aku tahu," jawab Danu.


"Jawaban macam apa itu?" tanya Tuan Ferdinan.


Keduanya sempat berdebat tentang pernikahan Danu yang memang belum dibicarakan dengan Sindi secara langsung.


"Jadi kamu PHP sama Mami?" tanya Tuan Ferdinan.


"Ya ampun Pi. Gak gitu maksud aku," jawab Danu.


"Papi gak mau tahu. Tentukan tanggalnya secepatnya. Papi gak mau Mami kecewa," ucap Tuan Ferdinan.


Nada penuh ancaman itu membuat Danu tercengang. Apalagi melihat Tuan Ferdinan yang pergi begitu saja setelah mengancamnya.


Papi sama Mami sama aja. Sama-sama aneh. Gak ngerti aku. Suruh nentuin tanggal seenaknya.

__ADS_1


Danu tidak menyelesaikan sarapannya yang dilakukan di jam makan siang itu. Selera makannya hilang setelah berdebat dengan Nyonya Nathalie dan Tuan Ferdinan. Danu kembali ke kamarnya untuk menghubungi Sindi.


Niat hati ingin mengajaknya bertemu namun Danu kecewa karena nomor Sindi sedang sibuk. Bahkan sudah tiga kali ia menghubungi Sindi, nomornya masih sibuk.


Sindi lagi nelepon sama siapa sih?


Seketika jiwa posesifnya muncul. Ia cemburu pada orang yang tidak jelas. Tanpa Danh tahu kalau Sindi sedang asyik bercerita dengan Rian. Seperti biasa, setiap kali ada hal yang membuatnya gelisah maka Rian adalah orang yang tepat untuk diajak bercerita.


Seperti saat ini, Sindi bercerita tantang pagi yang menegangkan baginya. Namun Rian malah tertawa geli saat mendengar kisah Merry. Bahkan Tuan Felix ikut tertawa saat ikut nimbrung dengan Rian.


"Jadi kapan?" tanya Tuan Felix.


"Apanya Tuan?" tanya Sindi.


"Pura-pura gak ngerti," goda Rian.


Sindi mengerucutkam bibirnya. Ia kesal saat Rian malah berkubu dengan Tuan Felix.


"Jangan sampai tidak mengabariku. Kabari dari jauh-jauh hari, biar aku bisa atur jadwal. Bagaimanapun aku ingin menjadi saksi di hari bahagiamu Sin," ucap Tuan Felix.


Tiba-tiba mata Sindi berlinang. Ia sedih saat mendengar ucapan Tuan Felix. Setidaknya, pernikahan itu bukan hanya dinantikan oleh dirinya. Tuan Felix pun menantikan hari itu tiba. Namun tiba-tiba Sindi sedih saat dirinya sendiri tidak tahu kapan hari itu tiba. Bahkan mungkin, tidak akan ada hari yang dinantikan itu.


"Sin," panggil Tuan Felix.


"Eh iya Tuan," jawab Sindi.


"Kamu lagi melamun ya?" tanya Tuan Felix.


"Gak kok," jawab Sindi.


"Udah gak usah dibayangin. Nanti juga datang waktunya. Kamu siap-siap aja. Kan mau jadi Nyonya Daru," ucap Tuan Felix.


"Danu, Tuan. Bukan Daru," ucap Sindi.


"Cieee, yang marah gara-gara salah panggil nama monster gantengnya." Rian kembali menggoda Sindi.


"Riaaaan," ucap Sindi.


Mereka pun masih terus bercerita satu sama lain. Tidak hanya membahas tentang pernikahannya dengan Danu, tapi Sindi juga membahas tentang pendidikan Rian. Sindi tertawa puas saat mendengar cerita Rian saat pertama kali sekolah di Jerman.


"Aku gak bisa bayangin pas kamu kayak orang bisu begitu," ejek Sindi.


"Itu kan dulu," ucap Rian.


"Sekarang?" tanya Sindi.


"Masih," jawab Rian sambil tertawa.


Sindi kembali tertawa dengan puas. Walaupun pada akhirnya ia menyemangati Rian untuk tetap semangat belajar. Sindi yakin Rian akan segera bisa berbaur. Rian anak pintar.


Hanya perlu waktu untuk Rian bisa belajar berbahasa dengan baik. Obrolan itu terhenti saat Mia mengetuk pintu kamar Sindi dan memanggil namanya.


"Rian, udah dulu ya! Ada Mia," ucap Sindi.


"Jangan dimatiin Kak. Aku mau ngobrol juga sama Kak Mia," pinta Rian.


Sindi mengikuti permintaan Rian. Ia membuka pintu dan mempersilahkan Mia masuk. Sementara tangannya masih memegang ponsel. Sambungan teleponnya masih aktif.


"Mi, Rian." Sindi menyerahkan ponselnya pada Mia.


Mia dengan senang mengambil ponsel itu dan mengobrol bersama Rian.


"Video call dong. Aku kangen," ucap Mia.


Tidak lama panggilan video itu masuk.


"Ya ampun Rian, kamu gemukan. Naik berapa kilo?" tanya Mia.


"Dua puluh kilo, Mi." Sindi menjawab sekenanya.


"Enak aja," jawab Rian.


"Terus yang bener naiknya berapa kilo?" tanya Mia.


"Setengahnya," ucap Sindi.


Mia menutup mulutnya saat melihat Rian mengangkat sepuluh jari tangannya. Sindi menunjuk Rian dan tertawa puas saat tahu kenaikan berat badan Rian setengah dari dugaannya. Padahal awalnya Sindi menduga kenaikan berat badan Rian dibawah angka sepuluh.


#####################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..

__ADS_1


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


__ADS_2